Sabtu, 17 April 2021

SESANA SANG DIKSA DWIJATI

SESANA SANG DIKSA DWIJATI


Diksa Dvijati utawi Wiku / Pandita / Sulinggih ring agama Hindu ring Bali pinaka rohaniawan sane dahat kasuciyang linggihnyane, dwaning kasinanggeh sampun maraga suci. 

Ngulati Kawikon punika, nenten wantah kedasarin antuk pengetahuan miwah kasulukan pikahyun utawi sangkaning pinunas sisya kemanten, nanging patut kategepin antuk sila-sila sane nyihnayang sang calon diksha patut sehat/waras jati mula/lahir bathin miwah nenten cedangga, patutbmeparilaksana sane becik, selantur ipun taler pacang ketatasan malih olih para janane / masyarakat sami. 

Sila utawi kasusilan punika wantah marupa dasar sane pinih utama, tur kategepin antuk sesana, tata susila, silakrama, keanggehang sakeng kahuripane sane serahina-rahina pinaka untengnyane. Puniki sane dados dharma tetimbang sakeng calon Guru Nabe, sadurung jagi nyuciang calon nanak utawi sisya dados dwijati. 

Ring sajeroning sesana kawikon paiketan sisya kelawan nabe wenten sesana silakrama aguron-guron sane nenten dados kepasahanang manut kecap: "swargan sisya – swargan nabe, nerakan sisya – nerakan nabe”. 

Artosnyane tan patut utawi piwal (jele / melah) pidabdab sisya, jagi mekantenan tan taler patut ring linggih nabe. 

Paiketan “paguron-guron (kapurusan miwah garis parampara) ” inggih punika bratha (disiplin) lan kepatuhan sisya punika nenten wantah ring nabe kemawon, taler patut ring Guru Patni (Istri nabe), Guru Putra (putra nabe), Guru Wesi (cucu nabe) miwah Sanak Sandekan (Semeton ring dharma nabe / para wiku seperguruan).

Padiksan punika pinaka lanturan acara Rsi Yajna sekadi : mawinten (ngadegang pemangku / ekajati); pawintenan munggah bhawati (memasuki dunia brahmana); lantur madiksa upacara madvijati (sakeng walaka dados wiku / panditha / sulinggih); ngawangun parhyangan / kusala, madana punya ring sulinggih, tegep ring ajaran-ajaran sang acharya / para sulinggih utawi calon sulinggih).

#tubaba@griyangbang#

Kamis, 15 April 2021

PINANDITA WIWA

PINANDITA WIWA ADALAH PANGGILAN HATI NGANUTIN SESANA


PINANDITA
Kata pinandita bearasal kata dasar pandita kemudian mendapat sisipan “in” yang artinya di. Sehingga pinandita adalah rohaniawan hindu yang bertugas selaku pembantu mewakili pendeta, yang upacar penyuciannya tingkat ekajati atau lebih dikenal dengan istilah mewinten. Dalam masyarakat istilah pinandita lebih lazim disebut dengan sebutan  pemangku. Kata Pemangku berasal dari kata “Pangku” yang disamakan artinya dengan “nampa” , “menyangga” atau “memikul beban” atau “memikul tanggung jawab”. Dalam hal ini memikul beban atau tanggungjawab sebagai pelayan atau perantara antara manusia dengan Sang Pencipta (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) atau dengan kata lain, tannggung jawab sebagai pelayan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus sebagai pelayan masyarakat itu dinamakan Pemangku.
Sebagai seorang pinandita hendaknya mampu bekerja tanpa pamrih atau Niskama Karma dan keyakinannya dinyalakan oleh api pengetahuan atau Jnana Agni, dalam arti seorang pinandita hendaknya mampu mbersikap bijaksana dengan dicerahkan oleh api pengetahuannya. Hal ini terkait dengan sloka dalam Bhagavadgita IV.19 (Suhardana, 2008:13), yang menyatakan:
Yasyasarve samarambhah kamasamkalpa varjitah
Jnanagni dagdha karmanam tam ahuh panditam budhha

Artinya
Orang yang melakukan pekerjaan tanpa pamrih, yang kegiatannya dibakar oleh api ilmu pengetahuan dinamakan orang yang arif sebagai pendeta yang budiman.

Dalam hal ini pinandita sebagai rohaniawan hindu diartikan juga sebagai orang yang mencapai kebebasab jiwa, sedangkan kegiatannya dibakar oleh api ilmu pengetahuan, artinya semua pekerjaannya terbebas dari ikatan keduniawian untuk menuju kelepasan.
Pinandita atau pemangku berhak untuk memimpin upacara yadnya karena telah melakukan pawintenan tingkat ekajati. Kata pawintenan itu sendiri berasal dari kata winten, yang dapat diartikan dengan inten (berlian), permata bercahaya. Pawintenan atau mawinten mengandung arti melaksanakan suatu upacara untuk mendapatkan sinar (cahaya) terang dari Sang Hyang Widhi Wasa, supaya dapat mengerti, mengetahui, serta menghayati ajaran pustaka suci Veda tanpa aral melintang. Makna dari pawintenan di sini tidak lain mohon waranugraha Sang Hyang Widhi Wasa dalam prabawanya sebagai Sanghyang Guru, yang memberi tuntunan, Sanghyang Gana memberikan perlindungan dan membebaskan segala bentuk rintangan, dan Sanghyang Saraswati sebagai pemberi anugerah ilmu pengetahuan suci Veda.

Di dalam beberapa lontar dan juga keputusan dari jawatan agama Propinsi Bali No. 85/Dh.B/SK/U-15/1970 tanggal 20 April 1970 serta keputusan seminar aspek-aspek Agama Hindu di Amlapura Bali menyebutkan bahwa ada beberapa tingkatan pewintenan, antara lain :
a. Pewintenan Saraswati (Mulai Mempelajari Agama)
b.Pewintenan Bunga (Pewintenan setelah berumah tangga)
c. Pewintenan Sari (Mulai mempelajari kitab Suci Veda atau cakepan Lontar)
d. Pewintenan Gede (Menjadi pemangku atau Jro Mangku yang lazim disebut Pinandita).
e. Pinandita Wiwa (Pawintenan Putusing Kepemangkuan) 

WIWA
Sifat dan karakter Pinandita Wiwa

Pinandita Wiwa ini harus mampu bersifat sangat karismatik. Makna kata Wiwa mengandung arti menyenangi gaya, mengasihi, dan menjadi pencinta ulung.
Karakter kata Wiwa ini susah dikenali tapi layak dikenal dan bisa dipercaya dengan rahasia apapun dalam hidup. Seyogyanya Pinandita Wiwa mampu menyuarakan isi hatinya dan tidak dengan sengaja menutup-nutupi sesuatu.

Kata "Wiwa" memang tidak mencerminkan kualitas pribadinya, namun setelah melaksanakan Pawintenan Wiwa, seseorang harus mampu membantu seseorang menjadi lebih percaya diri, dan lebih bersemangat untuk menjadi pribadi yang positif, serta selalu berusaha agar hidupnya dapat bermanfaat untuk banyak orang.

Kepribadian Pinandita Wiwa

Kata "Wiwa" mempunyai jumlah angka:
W = 23
I = 9
W = 23
A = 1
Jumlah angka untuk kara "Wiwa" adalah 56

Kata "Wiwa" mempunyai kepribadian Tingkat spiritual tinggi, intuitif, tercerahkan, idealis, pemimpi.

Sekali lagi kepribadian di atas adalah hasil studi cocoklogi, yang pastinya bukanlah penentu kepribadian Pinandita Wiwa sebenarnya. 

JADI MENJADI SEORANG PINANDITA WIWA ITU MURNI PANGGILAN HATI NGANUTING SESANA UNTUK MAMPU MENGABDI PADA WITING PANUWA YANG ADA DALAM SANG DIRI

#tubaba@griyangbang#

Rabu, 14 April 2021

MAMA BAYI

Nama adalah jati diri seseorang, yang akan dia bawa hingga akhir hayat. Tentunya kita tidak mau anak merasa malu dengan nama yang disandangnya, karena itu, memberi nama anak tidak bisa dilakukan dengan asal-asalan.

  1. Meylan : Lahir di bulan Mei dengan selamat
  2. Meydita : Lahir di bulan Mei dengan selamat dan diberi keberuntungan
  3. Meyrisa : Anak perempuan berhati lembut yang lahir dengan selamat di bulan Mei
  4. May : Nama bunga berwarna putih dan berduri yang mekar di bulan Mei
  5. Meida : Nama Sunda untuk bayi perempuan yang lahir di bulan Mei
  6. Maia : Nama dewi Yunani yang merupakan inkarnasi dari Dewi Bumi. Dalam bahasa Yunani, Maia juga berarti ibu.
  7. Maya : Maya dalam bahasa Ibrani bermakna air.
  8. Verna : Musim semi, musim bunga
  9. Esmeralda : Batu zamrud berwarna hijau, yang merupakan batu lahir bagi bayi yang lahir di bulan Mei. Esmeralda adalah nama Spanyol yang cocok bagi bayi perempuan yang lahir di bulan Mei.
  10. Amarilis : Nama bunga
  11. Aviva : Sesuatu yang segar seperti embun
  12. Meisya : Hidup yang tenang dan menjadi penyejuk
  13. Meidi : Seorang wanita suci yang diharapkan dapat selalu berperilaku baik dengan menjaga kehormatannya
  14. Meidina : Kota Suci
  15. Armeira : Anak perempuan dapat kuat dan mandiri sehingga dapat melindungi diri sendiri dan juga keluarganya
  16. Meymey : Anak perempuan yang lahir di bulan Mei dengan selamat
  17. Meylani : Anak perempuan yang lahir di bulan Mei dengan selamat
  18. Valmai : Elang di bulan Mei
  19. Menik : Lahir di bulan Mei dengan selamat
  20. Meydita Ataya Shafana : Seorang perempuan yang lahir bulan mei yang diberi keselamatan, kebaikan, dan memiliki sifat yang jujur.

41. Maitreya: ramah dan bersahabat.

42. Mahanta: pria perkasa.

43. Mahawira: yang paling pemberani di antara para pria.

44. Mahesa: pemimpin hebat.

45. Mahabala: kekuatan.

46. Manendra: lelaki paling cerdas.

47. Meidiawan: menempuh jalan yang benar.

48. Nakula: semanis mangga, satria keempat Pandawa.

49. Nalesha: pria berbau harum.

50. Nandana: pembawa keceriaan.

51. Narasimha: sekuat singa.

52. Narayana: jalan kebenaran, nama lain Krisna.53. Narendra: pemimpin manusia.

54. Nawasena: masa depan yang cerah.

55. Nirankara: keagungan Tuhan.

56. Omkara: suara terindah.

57. Palguna: lahir di musim dingin.

58. Paramananda: karunia utama.

59. Paramarta: yang memihak kebenaran.

60. Parikesit: tabah menghadapi cobaan.

61. Partha: nama lain Arjuna.


  1. Navin : Memiliki arti ‘baru’ dalam bahasa Hindi
  2. Nouvel : Dalam bahasa Perancis memiliki makna ‘baru’
  3. Verdi : Hijau
  4. Zelenka : Dalam bahasa Ceko bermakna hijau, baru, dan segar
  5. Denver : Lembah hijau 
  6. Aiden, Aidan : Dari bahasa Irlandia, yang bermakna api kecil atau terlahir dari api.
  7. Meidi : Anak laki-laki yang lahir di bulan Mei
  8. Elroy : Di Inggris, Amerika, Perancis dan Irlandia, nama ini bermakna Sang Raja
  9. Alarik : Bermakna pemimpin yang agung, pemimpin yang terhormat
  10. Meindaro : Anak laki-laki yang lahir di bulan Mei yang hidup makmur
  11. Candra Ponce : Anak yang lahir pada bulan kelima
  12. Annar : Kelima
  13. Qiansi : Kelima
  14. Pontius : Yang kelima
  15. Mike : Bulan kelima
  16. Warsono : Bulan
  17. Meidiawan : Jalan benar yang diharapkan sang anak dapat selalu menjadi anak yang patuh dan dituntun ke jalan yang benar
  18. Primeiro : Anak yang lahir pertama
  19. Jomei : Anak laki-laki yang menjadi harapan untuk keluarga dan sekitarnya
  20. Jibran dzaka warsono : Seorang anak laki laki yang dilahirkan di bulan Mei dan sangat jenius serta terkenal


Kamis, 08 April 2021

Tata Lungguh Ngaturang Upacara Pangerebuan

#Pinandita Tubaba//Griya Agung Bangkasa#
#Upakaranya ( dalam kwantitas utama)
Munggah di Kemulan
-          Pejati lengkap asoroh
-          Banten  suci alit asoroh
-          Banten danan, penyeneng,pesucian. 
Upakara Ayaban
-          Banten ayaban  tumpeng 21 bungkul
-          Rayunan meulam  guling babi
-          Rayuna meulam  guling itik putih
-          Rayuna meulam  guling  ayam putih
-          Prayascita, bayekawonan
Upakara  Pengerebuan
-          Peras  tulung  sayut  dengan nasi untek 5 bungkul  di  alas dengan sebuah ceper, lengkap dengan raka-raka, porosan, mempergunakan sampian pusung, diatas tetandingan  tadi di tumpuk dengan olahan ayam  brumbun  rateng (mateng)  lengkap tetandingan  ulam ini di isi  sebuah canang sari, kemudian diikat menjadi satu ( pesel dadiang  besik). Mengenai banyaknya  membuat tergantung  dari banyaknya bangunan  suci dan bangunan rumah, sampai kepintu  gerbang.

#Upakara dalam Kwantitas Madya
-          Pejati asoroh
-          Suci alit asoroh
-          Canang pesucian
Upakara Ayabannya
-          Banten  ayaban  tumpeng 7 bungkul
-          Rayunan meulam  guling  itik  putih
-          Rayunan ulam  guling  ayam putih
·          Upakara  sama seperti  diatas.
·          Banten  prayascita  banyekawonan

#Upakara dalam Kwantitas  Kanista.
Munggah di Kemulan
-          Pejati  lengkap  asoroh, penyeneng
-          Canang  pesucian
Upakara ayabannya
-          Banten ayaban tumpeng 5 bungkul
-          Rayunan guling itik/ayam putih.
-           Banten prayacista, bayekkawonan
Upacara  pengerebuan
-          Banten  sama  seperti diatas.

#Tata Cara Pelaksanaannya
Mengenai  tata   cara pelaksanaanya sama seperti  pelaksanaan hari Suci yang  lain hanya  Dewa  yang diastawa  saja yang berbeda. Pada  pelaksanaan  upacara ini yang diastawa adalah sebagai berikut:
#Tatalungguh Jangkep
#Pengastawa  kehadapan  Sang Hyang  Siwa  Raditya
#Pengastawa  Kehadapan Hyang  guru
#Pengastawa kehadapan sang Hyang Tri murti

#Sesonteng :
      Nastuti pukulun Bethara sang Hyang Siwa Raditya, Sang Hyang Wulanl Lintang Tranggana, mekadi Sang Hyang Trio Dasa Saksi, Bethara Hyang Guru, Mua Bethara Sang Hyang Tri Purusa, Saksinin pangubhaktin pinakemulun, anga turaken tada saji pawitra saprekaranin daksina, aruntutana saji pererebuan, asung kerta anungeraha paduka bethara, menugeraha tirtha pengnglukatan pebersihan, amelukat sarwa mala papa petaka. Sebel kandel maring bhuwana muah parihyangan kabeh metemahan sudha nirmala yenamah suaha. Ong Sriyambawantu, Purnam Bhawantu, Sukham a bhawantu, Ong Hrang  Hring Syah Parama Siwa Ditya yenama suaha.

#Setelah selesai mengucapkan mantra pengastawa, selanjutnya menghaturkan kesucian, dengan memercikan tirtha bayekawonan, tirtha prayasita dan ayabayan penyeneng kepelinggi kemulan, setelah itu ketempat bangunan suci lainya, kebangunan rumah, dan kepintu gerbang (lebuh).
    
#Setelah pelaksanaan penyucian selesai, dilanjutkan dengan menghaturkan ayaban, dengan mengucapkan mantra yang sama seperti didepan.
   
#Kemudian sang pengantep, menghaturkan upakara pererebuana dengan mengucapkan mantra sebagai berikut.

Mang, Ung, Ang, Wem Ong, Padma Sana Yenamah Sa, Ba, Ta,  A, I, Sarwa Bhuta YenamahSwadha Ndah T Kita sang Bhuta bucari, Sang Kala bucari, Muah Sang Durga Bhucari, Mari Sira Mona, Ajakan Kala Wadwan Sira Kabeh, ingsun Paweh Sira Tadah Saji sanggraha, sega Untek, Maiwak Ayam Brumbun Ingolah Rikan Cana, Iki Tadah Sajinira, Sama Suka Sama Lolia Sira Pilih Kabelanira Suang-suang, Wus Sira Anadah Saji Ingsung Aminta Kesidhin Ta, Aja Sira kari Angadakaken Drewala-drewali, Lara Loga Kegeringan, Sebel Kandel Ring Bhuwana Agung Muah Bhuawana Alit, Angadakaken Sira Urip Waras Dirga Yusa Jagate, NgerarisSira Amukti Sari, Sumurup Sira Menadi Dewa-Dewi, Pemantuk Sira Ring Dangkahyangan Suang-suang, Pasang Sarga Sira Ring Bethara Siwa, Ong Ing Namah.

#Setelah itu dilanjutkan mengucapkan mantra pabuktyan bhuta yaitu:
Ong, Bhuktyantu Durga katara Bhuktiantu Kala Mewaca Bhukyantu Sarwa Bhutanam Ang, Ah, Amertha Bhuta Yenamah Swada. Ang, Ung, Mang, Siwa Mertha yenamah Swaha.

#Sesudah selesai mengucapkan mantra pabuktyannya dilanjutkan dengan mengucapkan mantra penyomia, atau pemerelina bhuta, yaitu:
A, Ta, Sa, Ba, I, sarwa Bhuta, Kala Durga Murswah Wesat, Ah......Ang.

#Sesudah itu melaksanakan bersembahyangan, dilanjutkan metirha dan memakai biji (sebelumnya memercikkan tirtha bayekawonan dan prayascita pada diri sendiri).
 
#Setelah semuah kegiatan nganteb selesai, maka dilanjutkan dengan meletakkan banten pererebuan tadih dihadapan bangunanp-baangunan, baik rumah, sampai ke lebuh  (pintu gerbang), diletakkan ibawah serta  metetabuhan aarak berem. Karena pelaksanaan ini bersifat pralina (nyomia), makaa tetabuhannya memiliki ethika, dengan menyiratkan araknya dahulu kemudian baru beremnya (karena arak sebagai simbul biji mantra Ah  dan beremnya sebagai simbul biji mantra Ang). 

#Sugian JaBa//Jawa-Bali#

Selasa, 06 April 2021

Mantra Galungan

Mantram Galungan

GALUNGAN
(Banten : Byakaon, Prayascita, Galungan, Pekideh)

A. Setelah persiapan upacara selesai , lalu manggala upacara mulai mengambil / mengatur sikap dengan cara sebagai berikut:

1. Cuci tangan
Mantra : Om Hrah phat astra ya namah
2. Berkumur
Mantra : Om Ung phat astra ya namah
3. Asana (sikap bersila)
Mantra : Om prasada sthiti sarira ciwa suci nirmala ya namah
4. Pranayama (mengatur pernafasan)
a. Puraka : Om Ang namah
b. Kumbaka : Om Ung namah
c. Recaka : Om Mang namah
5. Karasodana
Tangan kanan diatas menengadah : Om sudhamam swaha
Tangan kiri diatas : Om Ati sudhamam swaha
Mencucikan mulut : Om waktra sudhamam swaha
6. Membakar dupa
Mantra : Om Ang dhupa dipa astra ya namah
7. Menghirup asap dupa dengan cara tangan diasapi lalu dihirup berulang-ulang tiga kali
Mantra : Om Ang Brahmamrtha dipa ya namah
Om Ung Wisnumrtha dipa ya namah
Om Mang Iswaramrtha dipa ya namah
8. Mensucikan bija :
Mantra : Om Puspa danta ya namah
Om Kum kumara vija ya namah
Om Sri gandaswari amrtha bhyo ya namah swaha
9. Menuntun Atma dengan sikap tangan mudra didepan dada
Mantra : Om Ang hrdhaya ya namah
Om Rah phat astra ya namah
Om Hrang Hring sah parama siwamrtha ya namah
10. Mohon Panugrahan Ciwa - Budha
Om nama Siwa ya, namo Budha ya,
nugrahi mami nirmala, sarwa sastra suksma sidhi,
Om Saraswati prama siddhi ya namah,
sarwa karya sudha nirmala,ya namah swaha
Om siwa sadha siwa parama siwa budha
Dharma sanggya ghana dipatya ya nama swaha

11. Dilanjutkan dengan mengambil kembang terlebih dahulu diasapi dengan dupa
Mantra : Om puspa dantha ya namah swaha
Dilanjutkan dengan ASTRA MANTRA
Om Ung hrah phat astra ya namah
Om Atma tatwatma sudhamam swaha
Om Om ksama sampurna ya namah
Om Sri pasupati ung phat
Om Sriambawantu ya namah
Om Sukhambawantu ya namah
Om Purnam bhawantu ya namah swaha
(Bunga dimasukkan dalam sangku)
B. PENGAKSAMA :
1. Selanjutnya kita dahului dengan memohon maaf kehadapan Sang Hyang Widhi beserta manifestasinya.
Mantra : --Om Ksama swamam Maha Dewa
Sarwa prani hitan karah
Mam mocca sarwa papebhyah
Palayaswa sada siwa
--Om Papoham papa karmaham
Papatma papa sambawah
Trahinam sarwa papebpyah
Kanacinmam ca raksantu
--Om Ksantawyah kayika dosah
Ksantawya wacika mama
Ksantawyah manasa dosah
Tat prasiddha ksamaswa mam

C. MEMOHON TIRTA
1. Tirta pebersihan
a. Om hrang hring sah prama siva
gangga amertha ya namah swaha
Om siva amertha
Om sada siwa amrtha
Om parama siva amrtha ya namah swaha
b. Apsu Dewa
--Om Apsu dewa pavitrani
Gangga devi namo stute
Sarwa kleca vinasanam
Toyana Pari Chudhyate
--Om sarwa papa vinacini
Sarwa roga vimocane
Sarva kleca vinacanam
Sarva bhogam avap nuyat
c. Pancaksara
--Om pancaksaram maha tirtam
Pavitra papa nacanam
Papo koti sahas ranam
Agadam bhavet sagaram
--Om pranayama baskara devam
Sarva klesa winasanam
Pranamia ditya siwartam
Bukti mukti warapradam
---Om gangga Saraswathi Sindhu
Vipaca kociki nadhi
Yamuna mahati crsthah
Sarayucca maha nadi
2. Mohon tirta untuk diri sendiri dengan sikap amustikarane
Om idhep bhatara panca tatagata, mwang bhatara ratna traya
umandali bhajradaka ya namah swaha.
Om Gangga sindhu Saraswati ,Wipase kosiki nadi
Yamuna mahati trostah, Serayunca mahanadi
Om bhur bwah swah tirta maha pawitra yanamah swaha
(Perciki Tirta untuk Penganteb)

3. Pabersihan diri sendiri :
Mantram : Om bhatara guru angresiki, angrakih, anepung tawari, anglisah dyus kamaligi, sarwa Dewa Camani ya, umilangaken sarwa Dewa Camani ya, umilangaken sarwa mala papa kang leteh pateletehing sariran nira. Om sama sampurna ya namah swaha

D. 1. Ambil genta, asapi dengan dupa dan ngastawa.
Mantra : -Om kara sadhasiwa stham
Jagatnatha hitangkarah
Abiwada wada niyam
Genta sabda prakasiate
-Om ganta sabda maha sretam
Ongkarem parikirtitam
Chandra nada windu nadakam
Spulingga siwa tatwamca
-Om gantayur pujyate Dewa
Abawa-bawa karmesu
Warada labde sandeyah
Waram siddhi nirsangsayam
2. Sesudah ngastawa genta pentil palit genta sebanyak tiga mantra :
Om – Om – Om
Mantra : Om ang kang kasolkaya yanamah0
(Lakukan Petanganan Astra Mantra)
E Memohon tirta pengelukatan
1. Mantra : --Om Sang Bang Tang Ang Ing
Nang Mang Sing Wang Yang
Om Hrang Hring Sah parama Siwa
Gangga amerta yanamah swaha
--Om sarwa belikam prthiwi
Brahma Wisnu Maheswara
Anaking Dewa Putra Sarada
Sarvanastu ya namah swaha
--Om Sam Prajanam sarveda suddhamala
Suddharogah suddhadanda patakah
Suddhavignam suddha sakala
Dasa mala suddhadanda upata
--Om vasuputra tubyam namah swaha
Om siddhi guru srong sarasat sarva wighnam ya namah
Sarva klesa sarva roga sarva satru
Sarva papa vinasaya namah svaha
--Om Gangga sindhu Saraswati
Suyumuna gudawari narmada
Kaweri sarayu mahendra tanaya
Carmanwathi winukam
Bhadra netravati maha suranadi
Khyantan ca ya gandaki
Punya purna jalah samudra
Sahitah kurvantu te manggalam
(Bunga masukkan disangku)
2. Gangga Muncar mantram :
--Om gangga muncar saking wetan, tinghalin telaga hojanira, jambanganira selaka, tinanceban tunjung putih, padyusan Bhatara Iswara,
--Om gangga muncar saking kidul tinghalin telaga hojanira, jambangannira tembaga, tinanceban tunjung bang, padyusan Bhatara Brahma,
--Om gangga muncar saking kulon, tingalin telaga hojanira, jambanganira mas, tinanceban tunjung kuning, padyusan Bhatara mahadewa,
--Om gangga muncar saking lor , tinghalin telaga hojanira, jambangan wesi, tinanceban tunjung hireng, padyusanira Bhatara Wisnu,
--Om gangga muncar saking tengah , tinghalin telaga mumbul, ring sapta petala, muncar ring luhur, tinghalin telaga hojanira, jambangan nira amanca warna, tinanceban tunjung amanca warna , padyusanira Bhatara Siwa,

3. Ginawe panglukatan bebanten, wenang Bhatara Siwa anglukat, anglebur dasa mala, hinambelan dening wong campur, kaletehan dening hodak, keraraban dening roma kahiberan dening ayam, kelangkahan dening sona, menawita keraraban, katuku ring pasar, keprayascitha denira Sang Hyang Tigamurti Hyang, Sang Hyang Eka Jnyanasurya, Sang Hyang suci nirmala,menadyang luwiring bebanten, Om sri ya we ya namah.

4. Om dirga hayu tat astu, astu
Om awignam astu tat astu, astu
Om subham astu tat astu, astu
Om sriyam bawantu tat astu , astu
Om sukam bhawantu tat astu , astu
Om purnam bhawantu tat astu , astu
Om sapta werdi astu tat astu, astu ya namah swaha
(Bunga masukkan di sangku, bikin tirta selesai kita metirta seperti biasa)

F. Menghaturkan pensucian (buhu-buhu,tepung tawar, tetebus, kekosok, )
1. Buhu-buhu
Mantra : --Om sweta tirtanca nityam, pawitram papa Nasanam,
Sarwa rogasca nagasca, sarwa kali kalasu wina sanam
--Om Rakta tirtanca, Om kresna tirtanca, Om sarwa tirtanca
ya we namo namah swaha
2. Tepung tawar , segau
Mantra : Om Sanjna asta sastra empu sarining wisesa
Tepung tawar amunahaken, segau angeluaraken
Sakuehing sebel kandel lara roga baktanmu
3. Kekosok
Mantra : Om Tresna taru lata kebaretan kalinusan dening angin angampuhang mala wigna
Om Sidhirastu ya namah swaha
4. Tetebus
Mantra : Om raga wetan angapusaken balung pila pilu
Angapusaken otot pilu, den kadi langenging Sang Hyang Surya mangkana langgenging angapusaken kang tinebus-tebas, Om Sampurna ya namah

5. Daksina, Sesantun (untuk pemangku):
Om Bhatara Wisnu malingga ring sasantun, Bhatara Guru asung pinugraha ring awak sariranku, salwirring winangun mwang salwiring pinuja den ingsun, purna jati tan pamiruda, ring awak sariranku, sidhirastu ya namah.

G.1. Byakaon
Mantra : Om kaki bhuta panampik mala
Kaki bhuta panampik lara
Kaki bhuta panampik klesa
Undurakena bhaya kalaning
Manusaning hulun
--Om ksama sampurnaya namah
2. Isuh-isuh
Mantra : Om Sang Hyang taya tan panetra, tan pa cangkem, tanpa karna, sang jati sukla nirmala, sira mangisuh-isuhing sarwa dewata, angilangaken sarwa bhuta dengen kala ring pada bhatara kabeh, Byah ta kita saking kulit ring balung ring sumsum, Mantuk ta kita maring jipang sabrang melayu
Om mam nama siwa va swaha

3. Mantram telur pada isuh-isuh :
Mantra : Om antiganing sawung, pangawaking Sang Hyang Gala Candu sagilingan Kalisakana lara rogha mala pataka kabeh, Om sah osat namah, om Bam Bhamadewa ya, Bhatara angiberaken lara rogha papa klesa mala wighnane, sarwa dewa dewi ne kabeh. Om sri ya we namo namu namah swaha

4. Mantra Byakala :
Om Sang Kala Kali , sira angruwak kala kali, sadaya kajenengana den ira Sang Purusangkara, makadi Sang Hyang TriyoDasa Saksi, manusnira angaturaken pabyakaonan, angilaken dasamala, Om Siwa sampurna ya namah swaha.
5. Mantram memerciki Tirtha Byakala :
Pukulun bhatara Hyang Kali, Bhatara Hyang Sakti, Sang Kala Putih, Sang Kala Bang, Sang Kala Pita, Sang Kala Ireng, Sang kala amanca warna, Sang kala anggapati, Sang kala karogan-rogan, sang kala pepedan, sang kali sari, sang kala pati, sang kala sedahan kala, aja sira anyengkalen manusannira ngastuti Hyang Dewa bhatara ring Parhyangan Sakti, reh ingsun angaturaken, tadah sajinira, bhatara kala puniki bhuktinen mudanira.
Om kala kali , byo bhuktaya namah, Om ksama sampurna ya namah, Om sarwa kala laksana ksamam ya namah swaha.

H. Prayascita
1. Memercikkan tirtha dengan list
Mantra : --Om Sang Janur kuning pangadegan ira turun Bhatara Ciwa kabaktaning janma manusa kabeh
--Om sama sampurna ya namah
Lalu diperciki tirtha dengan mantra :
Om jreng jreng sabuh angadeng nagilang akna sarwa kalan ira sang linislisan
Om sabur sweta, sabur rakta, sabur pitha
sabur krsna, sabur manca warna sarwa karya prayascita
ya suci nirmala ya namo namah swaha

2. Mantra Lis prayascita
Om ngadeg sira janur kuning, puput ngelisin, puput nyupat sidhi rastu ya namah
Om ngadeg sira janur kuning, tumurun utusan dewa batara, kala betaning sarwa dewatha , hilangaken dasamala, papa petaka, mala wigna. Om sidirastu ya namah

3. Prayascita
Mantra : --Om prayascita kare yegi
Catur warna wicintayet
Catur wawtranca puspadyam
Ang greng reng bya stawa samam
--Om agni rahasia mukam mungguh bungkahing hati angeseng saluwiring dasa mala, teka geseng, geseng, geseng
--Om prayascita subagiyamastu

I.1. Semua sesaji yang dipersembahkan diperciki dengan tirtha penglukatan (dari tempat duduk)
Mantra : Om om sampurna ya namah
Om sudha, sudha, sudha, sudha, parisudha ya namah
Om sudha akasa, sudha bumi, sudha wighna, sudha mala
sudha papa klesa , Kasudha dening Sang Hyang Trilokanatha
Om sidhirastu tat astu svaha
Om pretama sudha , dwitya sudha, tritya sudha, caturty sudha ,Sudha sudham wariastu

2 Dengan Puja Wisnu Mantra :
Mantra : Om ung Wisnu rahada Triada
Sri Wisnu perajapati kesetra
Wiraha kalpa pertama kertayuga
Kalama sekala titha
Yuga natastra nitaya
Wedakti palem kamayuga
Sarwa dewa prayascitam kirisiyami
sobagian astu ya namah swaha

J.Menghaturkan sesayut, peras, pengambean

1. Peras daksina ke luhur :
Om Ekawara, dwi wara, caturwara, pancawara, purwa prasidha sidhi rastu namah swaha.
Om pancawara bawet brahma, wisnu saptawara waca, sadwara swara dewasca, astawara siwajnanah, omkara musciate sarwa pras. Om pancawara, triwara, dwiwara, purna kaprasidha sidhi rastu, pras, pras, pras

2. Tipat kelanan (di daksina)
Om bhogantu sarwa ta Dewa, bhogantu sarwa Dewanca, bhogantu dewa astutyam, Om para phat astra namah swaha.

3. Ajuman , rayunan, prangkatan soda, sodan , ajengan ( pekideh)
Om bhuktiantu sarwanto dewa, bhuktiantu sri lokanatha, sadnanah sapari warah , swarga sada sidhasa

4. Menghaturkan sesajen (banten dihaturkan kesowang-sowang pelinggih).
Menghaturkan sesajen dalam bentuk pejati
Mantra : --Om Siwa sutram yadnya pawitram
Paramam pawitram prajapati jyogayusyam
Balamastu tejo paramam
Gohyanam triganam triganatmakam
--Om Namaste bhagawan agni
Namaste bhagavan ari
Namaste bhagawan isa`
Sarwa baksa utasanam

5. Untuk Sesaji dalam bentuk canang dengan Tri bhawana
Mantram : --Om paramah ciwa twam gohyah
Civa tatva parayanah
Civasya pranoto nityam
Candisaya namo stute
--Om nevadam Brahma Visnucca
Bhoktra deva mahecvaram
Sarva vya din alabhati
Sarva karyanta siddhantam
--Om jayarti jayam apunyat
Ya cakti yacam apnoti
Ciddhi sakalam apunyat
Parama Ciwa labhati
--Om bhoktra laksana yanamo Namah swaha

6. Ayu wreddhi
Mantra : --Om ayu vreddhi yaca vreddhi
Vreddhi prajna sukha criyam
Dharma santana vreddhin syat
Santute sapta vreddhayah
--Om yavan meru stitho devah
Yavad gangga mahitale
Candrarko gagana yavat
Tavad va vijayi bhavet
--Om dirghayur astu tad astu-astu svaha

K. Mensucikan sesajen .
1. Sesudah itu sesajen disucikan dengan ,
Mantra : Om Sang Hyang Tiga Murti Hyang
Sang Hyang Ekajnana cuntaka
Sang Hyang Suci Nirmalajnana
Makadi bhatara malingga ring
babanten kararaban, karampwan
denamel dening wang campur
kararaban roma , Kwaltikaning Cone
kaparodan ing wak , kapryascita den ira
Sang Hyang Tiga Murti Hyang
Sang Hyang Ekajnana cuntaka
Sang Hyang Suci Nirmalajnana
--Om criyo wai ya namo namah swaha

2. Selanjutnya muktiang sesajen kepada Sang Hyang widhi , para Deva dan Bhatara
(ngayabang samian)
Mantra : --Om deva buktam maha sukam
Bojonam parama samertam
Deva baksia maha tustam
Bokte laksana karanam
--Om bhuktiantu sarwata dewa
Bhktiantu tri lokanam
Saganah sapari warah
Sawarga sadasi dasah
--Om deva boktra laksana ya namah
Om deva trapti laksana ya namah
Om treptia parameswara ya namah swaha

3. Ngayabang banten sor (segehan)
Mantra : --Om Ang Kang kasolkaya isana wosat
Om swasti-swasti sarwa bhuta kala
Suka ya namah swaha
Sonteng : Riwus sira amuktiaken segehan
muliha sira ring pasenetan nira sowang-sowang
Haywa ngrubeda , anyengkalen bhatara dewa ring kayangan sakti
Dilanjutkan dengan metetabuhan (arak berem)
Mantra : Om ebek segara, ebek danu, ebek banyu pramananing hulun

4. Pesaksi dengan Surya stawa
Mantra : Om Surya seloka nata sya, warada sya swarcanam
Sarwantah tasya sidantam, suda naya santyasam.
Om asita mandala mertyu, sitala satru nasanam,
kawi wisya rakta teja, sarwa bawa bawet bawat

5. Pesaksi dengan Pertiwi stawa :
Mantram : Om pertiwi sariram dewi, catur dewa mahadewi,
catur asrama batari, siwa bumi mahasidhi
Om ring purwa ksiti Basundari, siwa patni putra yoni,
Uma durga gangga dewi, brahma betari wisnawi
Om mahe swari hyang kumari, gayatri berawi gauri,
Arsa sidhi maha, Indra Nicambuni dewi
Om akasa siwa tattwa ya namah swaha
Om pertiwi dewi tattwa ya namah swaha

6. Memohon Sang Hyang Widhi agar berstana di Padmasana dengan sikap ambil kembang dan bija lalu diasapi dan dipegang dengan sikap mudra ditaruh didepan dada.

Mantra : Om Om anantasana ya namah
Om rm dharma singa rupaya svetha varna ya namah
Om rm jnana singa rupaya rakta varna ya namah
Om rm viragya singa rupaya pita varna ya namah
Om rm Iswara singa rupaya kresna varna ya namah swaha
Om Om padmasana ya namah swaha
Om I Ba Sa Ta A
Om Ya Na Ma Si Va
Om Mam Um Am namah
Om Om Dewa pratista ya namah
Om Sa Ba Ta A I
Om Na Ma Si Va Ya
Om Ang Ung Mang Namah
Selesai mengucapkan mantra bunga ditaburkan kedepan

7. Kemudian menghayat Sang Hyang Ciwa Raditya , Bhatara dan Dewa Maheswara memakai kembang dengan sikap Amustikarana
Mantra : Om Om anantasana ya namah
Om Om padmasana ya namah
Om padma pratistha ya namah
Om Om dewa pratistha ya namah
Om hrang hring sah parama siwaditya ya namah swaha
Mantra : Om Sang Bang Tang Ang Ing
Nang Mang Sing Wang Yang
Om Ang Ung Mang namah swaha
Om Mang Ung Ang
Om sri guru bhio namah

8.Siwa sutram astawa (betara-betari ) luhuring akasa (selaku pesaksi)
Mantra: --Om sah osat maha yapiyam guhyam
Paramam sidakam siwangam
Iti uktam maha petakam nasanam
--Om surya sutram yahino pawitram
Peramem pawitram, perajapati yoga yusiam,
balamastu teja param guhayanem
Triganam triganatmakam
--Om hari , om koti surya prekasam
Candra koti herdayam iti, wedha mantra gayatri
Mantra-mantra sad aksara, sarwa dewa pitha suyambu
bargo dewa siya dimahi

9. Ngadegang bhatara -bhatari ring wangi kabeh, dengan puja tri bhuana astawa :
-Om parama siwa tanggohyam
Siwa tattwa parayanah
Siwasya pranata nityam
Candisaye namostute
-Om niwidyam brahma winusca
Bhoktam dewa maheswaram
Sarwa wyadi nalabate
Sarwa karyanta sidantam
-Om jayarte jayamapunyat
Ya sakti yasa mapnoti
Sidhi sakala mapunyat
Parama siwa labhate
(Siratang ke awang-awang)

10. Menghaturkan sembah kepada Sang Hyang Siwa Raditya
Mantra : -Om Adityasia paramjyotih
Rakta teja namustute
Sivageni teja mayance
Siva Dewa wisiantakem
-Om padma lingganca pratista
Astadewa prakirtitam
Siwagraha sangyuktam
Ganaksaram sadasiwa
-Om Sa Ba Ta A I
Na Ma Si Va Ya
Ang Ung Mang
11. Menyambut para Dewa , Batara, ambil kembang dengan sikap Amustikarana
Mantra : Om pranamia sang linggam
Dewa linggam maheswara
Sarwa dewati dewanam
Tasme lingga ya we namah
12.Mantra-mantra saluiring sesayut/tebasan :
Mantra: Ong asato ma yotir sad gamaya
Temaso ma yotir gamaya
Metyor amertham ma yotir gamaya

13. Ngayaban keluhur :
Mantra : Om dewa boktam maha sukam
Bojanem peramem semertham
Dewa baksiyam maha tustam
Boktra laksana kerana ya namah suaha
Om sarwa dewa -dewi , suka pradana
Suasti-suasti ya namah suaha

14. Mantra babanten muah pegadangan Galungan
Mantra (sonteng) :
Pakulun paduka batara sarining Galungan , manusanira kinawruhaken sarining Galungan , ingsun wruh sarining Galungan , angisep sari raina wengi, angisep sarining bhuwana , angisep sarwa sari , angisep sarining bhuwana kabeh, dadi ngulun bhuwana iwih , akadang ratu, suka sugih, sariraning ulun kedep anak-anak, aputu, abuyut, tumus tekeng anak putu buyut ringulun, Sang Hyang Trayodasa saksi anak sini ngulun.

15. Mantra babanten Galungan
Mantra (sonteng) :
Ong sang tabe ya pukulun sang kadali puspa, sarining ngamanah, angastuti bhatara siwa tata gata, mwang Bhatara Dharma , mwang bhatara budha, sarwa dewa dewi sama daya kajenengan denira Sang Hyang Tripurusa , kesaksenan de nira Sang Hyang Trayodasa saksi, awas sasajinira, itung warna kabeh, winugra hanipun angganing janma makadi sarwa tinandur, amurah kang sarwa tinuku, dirgha hayu rastu tatastu astu ya namah.

16. Untuk Pura Ulun Danu (Sri Astawa):
Mantram :
Om Indra giri putri wiryam, sri gangga uma dewisca, saraswati wirya dewyam, amerta bumi suda jiwanama.
Om narmada bhoga mapnuyad, amertha warsa nugrahakem, surya nadi swarga tana , sarwa dewam namo myaham.
Om amertha kamandalu nityam, perastitam tu sarwa jiwam, uma dewi laba bakti, amartha bumi sudatmakam.
Om sri gangga dewi pratista, jagra bhawa suda wiryam, nirmala amertha jiwitam, sarwa roga winasanam.
Om gangga gori maha wiryam, sarwa papa winasanam, roga pati durga dewi, gangga dewi sariranam.
Om sarwa jagat suddha nityam, amertha bumi nugrahakam, sarwa kali paraharanam, sarwa dukka wimoksanam.
Om sidirastu ya namah swaha.
L.1. Menghaturkan asep kepada para Dewa dan Batara
Mantra : Om Ang Brahma sandhya namo namah
Om Ung Wisnu sandhya namo namah
Om Mang Iswara sandhya namo namah
Sidirastu yanamah suaha

2. Puja Tehenan
Mantra : Om kaki penyeneng nini penyeneng
Om Brahma, Wisnu,Iswara
Surya candra lintang terenggana
Om awang-awang-uwung-uwung
Sidirastu yanamah suaha
3. Puja Jagatnata
Mantra : Om Ang Brahma Perajapati sretah
Suyambu weradem guru
Om brahma sekayam usiyatha
Om rang ring sah Brahma praja pati Ya nama namah swaha
4. Pengaksma Jagatnatha
Mantra : Om ksamaswamam Jagatnatha
Sarwa papa nirantaram
Sarwa karya minda dehi
Prenamya misora isanam
--Om ksama swamam maha yasta
Yastha surya gunatmakam
Winasaya sesatem papem
Sarwa seloka darpayana
--Om gring dewa arcanaya ya namah swaha
Om gring dewa tarpana ya namah swaha
M. Dilanjutkan dengan persembahyangan bersama .
1. Puja Tri Sandhya
2. Muspa Panca Sembah
a. Sembah tangan kosong
Mantra : Om Rah phat Astra ya namah swaha
Om Atma Tatwatma sudhamam swaha
b. Sembah memakai kembang kepada Ciwa Raditya
Mantra : --Om Aditya sya paramjyotir
Rakta teja namustute
Sweta pangkaja madhyasta
Basjkaraya namustute
--Om Pranamya baskara dewam
Sarwa klesa winasanam
Pranamya ditya siwartham
Bukti mukti warapradam
--Om Hrang hring sah parama ciwa ditya ya namah swaha
c. Sembah memakai kembang/ kewangen ke Dewa Samodaya
Mantra :--Om Namo Dewaya adhisthanaya
Sarwa wyapinesiwaya
Padmasanaya ekaprathisthaya
Ardanareswarya ya namah swaha
--Om giri pati maha wiryam
Maha dewa pratista linggam
Sarwa dewa pranamiam
Sarwa jagat pratistanam
Om giri pati dipatayanamah

d. Sembah memakai kewangen untuk memohon waranugraha
Mantra :--Om Anugraha manoharam
Dewa datha nugrahakam
Hyarcanam sarwa pujanam
Namah sarwa nugrahakam
--Om Dewa dewi maha sidhi
Yajnanga nirmalatmaka
Laksmi sidhisca dirgayuh
Nirwighna suka wreditah
--Om Ghring anugraha arcanaya namo namah swaha
Om Ghring anugraha manuharaya namo namah swaha

e. Sembah tangan kosong
Mantra : Om Dewa suksma Paramecintya ya namah swaha
Om Santhi Santhi Santhi Om

N.1. Memohon tirta Wangsuhpada
-- Om Namaste bagawan gangga, namaste sita lambwapi,
salilam wimalam toyam, swambu tirtha bojanam
---Om subeksa asta asteya, dosa kilbi sana sane
pawitram semaha tirtha, gangga tirtha maha nadhi
---Om bajra reni maha tirtha, papa soka wina sanam
Nadi puspa laya nityam, nadi tirtha ya praya
---Om tirtha nadi kumbasca, warna dewa mahatmanam
Muninam manggala sumcaya, wiyapica dewa akasah
---Om sarwa wigena winasantu , sarwa klesa winasantu
sarwa papa winasaya, sarwa roga winasanam
2. Metirtha
Dilanjutkan dengan matirtha dan mabija
a. Matirtha ( dipercikan tiga kali di kepala)
Mantra : Om Budha pawitra ya namah
Om Dharma maha tirtha ya namah
Om Sanggya maha toya ya namah

b. Diminum tiga kali
Mantra : Om Brahma pawaka ya namah
Om Wisnu amertha ya namah
Om Iswara jnana ya namah
c. Diraup tiga kali di kepala
Mantra : Om Sampurna ya namah
Om Sadhasiwa paripurna ya namah
Om Paramasiwa sukma ya namah
d. Memakai kembang ditelinga
Mantra : Om Sri asmara ya namah
e. Mabija
Mantra : Om Wija -wija kara ya namah
N.1.. Penutup
--Om Hinaksaram hina padam
Hina mantram tathaiwaca
Hina bhaktim hina wrdhim
Sada ciwa namo stute
--Om mantra hinam kriya hinam
Bhakti hinam Maheswara
Yat pujitam Mahadewa
Pari purnam tad astume
2. Puja Pralina
1. Kalau rangkaian upacara itu sudah selesai dilanjutkan dengan Puja Pralina
Mantra : Om A Ta Sa Ba I
Om Na Ma Si Wa Ya
Om Ang Ksama sampurna ya namah swaha
3. Rangkaian upacara oleh Manggala ditutup dengan parama santhi

Tradisi

Tradisi atau kebiasaan 

Latintraditio, "diteruskan" adalah sebuah bentuk perbuatan yang dilakukan berulang-ulang dengan cara yang sama. Hal ini juga menunjukkan bahwa orang tersebut menyukai perbuatan itu. Kebiasaan yang diulang-ulang ini dilakukan secara terus menerus karena dinilai bermanfaat bagi sekelompok orang, sehingga sekelompok orang tersebut melestarikannya. Kata "Tradisi" diambil dari bahasa latin "Tradere" yang bermakna mentransmisikan dari satu tangan ke tangan lain untuk dilestarikan. Tradisi secara umum dikenal sebagai suatu bentuk kebiasaan yang memiliki rangkaian peristiwa sejarah kuno. Setiap tradisi dikembangkan untuk beberapa tujuan, seperti tujuan politis atau tujuan budaya dalam beberapa masa.

Jika kebiasaan sudah diterima oleh masyarakat dan dilakukan secara berulang, maka segala tindakan yang bertentangan dengan kebiasaan akan dirasakan sebagai perbuatan yang melanggar hukum.

Jumat, 02 April 2021

TATA LUNGGUH MEMIMPIN UPACARA WIWAHA

TATA LUNGGUH
MEMIMPIN UPACARA WIWAHA

1. Dane Pemangku melaksanakan tata lungguh penyucian diri (tatingkes muja angga)
2. Dane Pemangku ngajum tirta
3. Ngastawa tirta
    #Pabersihan
    #Penglukatan
1. Ngelukat banten arepan
2. Puja banten
    #Byakaon
    #Durmanggala
    #Prayascita
    #Pengulap
    #Tepung Tawar, Tebus,Toya tabah
    #Lis

1. Ngemargiang pengresik
2. Puja ista dewata
    #Surya stawa
    #Brahma stawa
    #Wisnu Stawa
    #Siwa Stawa
    #Tiga guru Stawa
    #Smara ratih stawa
    #Pertiwi stawa

1. Ngaturang pebersihan ring dewa (Undahkanyali gandaksata jangkep)
2. Pujangelinggihang dewa
3. Ngaturang pekeling pekalan kalan
4. Upesaksi (pekeling Upasaksi)
5. Naturang tebasan byakala (pedengen dngenan)
6. Puja banten (Nganteb banten)
7. Muktyang banten ke dewa
8. Ngayab banten wiwaha
9. Muktyang banten ke buta
10. Muktyang peras
11. Jagat nata
12. Anugraha
13. Ngilenin manusa


Semara Ratih,
Om predhana purusa samyiogaya, 
windu  dewa bhoktraya namah
Dewa-dewi sayogaya, 
paramasiwa ya namo namah swaha.

Om ananggah kamini patni, 
puspesu mandhani tata 
kamo danawati patni, 
madhana-madhani tata

Om manobawa sobanica, 
srimagi makaradwajah
kadarpa somawatisca, 
sri jayanti ca manmatah.

Om kamadewa ratih patni, 
swetari semara ewaca
atanur nandini patni 
manasijasca tarini.

Om kamadewa ca tarini, 
Om Om kamadewa ca ratiye namah swaha.

Om purwa semara sweta, 
uma dewi semara dewi
Sarwa beda semara sweta, 
kamasudha pratistanam.

Om daksina semara rakta, 
saraswati dewi semara dewi
Sarwa beda semara rakta, 
kama suda pratistanam.

Om pascima semara pita, 
sasi dewi semara dewi
Sarwa beda semara pita, 
kama sudha pratistanam.

Om utara semara kresna, 
sri dewi semara dewi
Sarwa beda semara kresna, 
kama sudha pratistanam.

Om madya semara wiswa, 
gana dewi semara dewi.
Sarwa beda semara wiswa, 
kama sudha pratistanam.

Om prenamyia sanghyang semara pribadi asta kamasta.
Om hrang hring syah prama siwa aditya 
candra semara ratih ya namah swaha.

#lanjut ngastawa bhatara kawitan.
#lanjut ngastawa sang hyang tiga wisesa.

PUJA PELUKATAN NGANTEN
Om idem toyem wimalem dewem, 
sarwa kaluse, perama namah swaha.

Toyem siwem teyah, 
ye wayem perama sayem, 
brahma wisnu swamem mayem

Toya siwa murti dewam, 
siwangga siwa sayem, 
sarwa mukti suka makem

Om sanghyang kamajaya kama ratih,  
sire te maka uriping carmaning ulun,
Yan sire angawe manusa, 
aja sire amiruda, amarisakiti, wehana panglukatan, ring lara, roga, wignan ipun, sanut sangkala, sebel kandel ring awak sariran ipun.

Om sidir astu, Om sri sriambawane, sarwa roga winesanem, sarwa klesa winasana ye namah swaha.

Atur pekeling pakalan-kalan pawiwahan.
Om pakulun sanghyang predana purusa, sanghyang akasa, sanghyang ibu pertiwi, sanghyang surya candra lintang tranggana, maka sira sanghyang trio dasa saksi, manusa nira handa sih kerta warenugrahan pakulun, manusan ira anemu jatu karman ipun, wit tinuduh denira sanghyang kama jaya kamaratih, maka tuntungin jadma padha, hamangguhaken rasaning, rasaning dumadi janma, manusannira handa tirta amerta, pengeleburan pangilanganing sarwa leteh, sebel kandel malaning kamajaya, kamaratih, moga batara hasung nugraha, enaking alaki rabianutukaken kaman ipun, ngawhredyaken kadirgayusan, tan kahalangan tan kebencanadening sarwa buta kala dengenlawan sakriyopayaning wong hala, apan sampun paduka batara hangadeg hanyaksinin, Om sidir astu tat astu ya namah swaha.

Upasaksi yadnya
Om pakulun paduka batara siwa,sada siwa, parama siwa, mekadi  sang hyang tiga guru wisesa, sang hyang akasa muang ibu pertiwi, sanghyang surya candra lintang tranggana mekadi sanghyang trio dasa saksi  kaki begawan penyarikan, nini begawan penyarikan, kaki citra gotra, nini citra gotra, kaki samantara, nini samantara, kaki penyeneng nini penyeneng, kajenenga den nira sanghyang tiga wisesa, kasaksinin dening sanghyang trio dasa saksi, kawarunugraha dening sanghyang wesrawana manusannira handa sih warunugraha, manusanniran hanembah angadakaken yadnya pekalan-kalan sang apawiwahan ri paduka batara, pada kenak hyun paduka batara anodya, hanyaksinin, hamuputaken saturan manusanira akedik kang sun hangaturaken, gung pamilakunya, hamilaku kadirgayusan, ledang paduka batara wehana warunugraha, dumugi tan kena hila-hila muang upadrawa denira sanghyang sinuhun, Om sidirastu ya namah swaha.

NATAB BANTEN WIWAHA
Om nama siwaya nama budaya, aditya dipataya yenama namah swaha, pukulun paduka batara, paduka batari, jagat pati panguluning buwana, manusanireangatur aken bakti pangubaktyan ipun katur ring dewa pinuja, anyenengana paduka batara ring sanggar pamujan, dening upekaraning daksina manusanira, anyaksiaken puja kertin ipun anede sih kerta wara nugraha paduka batara, pua hulun amener aken asing luput aman suda,asing kamelan camah muang campuh letuh ing sapakaran ipun katur ring dewa pinuja dening pua hulun, om yang namah swaha.

NGATURAN TEBANASAN BYA KALA/BANTEN PEDENGEN-DENGENAN.
Om kruna raksasa rupanca,  
baibatsyam ya caya puniah
Somya rupam awapnopati, 
twam wanda waradam amum,

Om pukulun sang kala kali sadaya, sire reke pakulun angeluaraken sakuwehing kala kali hana ring awak sariran ipun manusan ira, puniki pabyakalan ipun katur ring sang kala–kali sadaya, sira angeluaraken sakuwehing kala kacarik, kala pati kala kapekpek, kala kapengpeng, kala cangkingan, kala durbala durbali, kala brahma, muah sakuwhing kala kali hana ring awak sariran nira sang apawiwahan, sang alakirabi, wruh pwa sira hyang-hyanganing awak sariranya, kajenenganira sanghyang purusangkara, kasaksinin dening sanghyang triodasa saksi, lah maruwaten te sire mundure te sire sang kala-kali, maring awak sariran nira amangguhaken dirga yusa.
Om sidir astu tat astu ya namah.

NGAYAB BENTEN WIWAHA
Pukulun ingsun ingsun anuwur para watek dewata nawa sanga, minakadi ida sanghyang trio dasa saksi, pertiwi, apah, teja, bayu, agi,surya, candra lintang tranggana, muang sanghyang embun, iswara,  maha guru, brahma, ludra, maha dewa, sangkara, wisnu, sambu, siwa guru, muang samudaya presama anyaksinin dening pua hulun, iki manusanira si................ ipun angaturaken karyawiwaha anemu aken jatukarman ipun uptita sira aminta asung kerta warunugraha ri paduka baatara kabeh, tirta maha tirta, pangilanganing sebel kandel, lara roga wigna, pangilanganing kama jaya kama ratih, riwus asung nugraha enak  alaki rabi anutugang tuwuh ipun, muang angewredi putra listu ayu, tan kahalangan tan kebencana buta dengen luirnia wong wong ala.

NGAYAB CERU PEKALAN-KALAN
Om buktyantu buta tangkaram, 
buktyantu maweca.
buktyantu bhuta butanam, 
buktyantu pisaca sanggyam.

Om ang kang kasolkaya swasti-swasti kala buta predana purusa boktaya namah swaha

PUJA MATANJUNG SAMBUK
Ih kora kosianu anyentula baye pakeweh, 
risalahku seluanira tutta dulur alaki rabi, 
anyentula bagia, sadia rahayu angamluge pala boga, wibogasidirastu ye namah swaha

PUJA TIKEH DADAKAN
Ong idepku anigat sgulune satru musuhku ne pada musnah hilang,

PENGILEN MANUSA
I. Pangilenin ring tengah natah:
a. Mabya kala, tepung tawar, tebus dll
b. Malukat antuk kuskusan, api dan  benang

Mantra pengelukatan :
Om sanghyang kama jaya-kama ratih, sire maka uriping carmaning ngulun, yang sire angawe manuse, aja sire amirude amarisakiti, wehana pengelukatan lupute ring lara roga, sanut sangkala, sebel kandel, ring awak sariran ipun, 
Om sidir astu, Om sri sriambawane, sarwa roga winasaye, sarwa papa winesanem, sarwa klese winesaye namah.

c. Natab banten bya kaon
d. Natab banten durmanggala
e. Natab banten prayascita
f. Pengulap
g. Natab banten pedengen dengenan, mantra:
Ong batara kala-batara kali, bhatara hyang sakti, sang kala putih, sang kala bang, sang kala pita, sang kala ireng, sang kala amanca warna, sang kala angga pati, sang kala karogan-rogan, sang kala pepedan, sang kala sri, sang kala pati, sang kala sedahan kala, aja sire anyengkalen, apan manusante ngastuti hyang dewa ring priyangan sakti, reh ingsun hangaturaken tadah sajinnire ring batara kala-batara kali, puniki buktin rodannire kabeh. Ong kala-kali byoh boktaye ye namah, Ong ksama sampurna ye namah, Ong sarwa kala laksana keswamem ye namah swaha.

h. Natab peras
i. Jual beli, merobek tikar dadakan, memutuskan benang yang ada di carang dapdap

Mantram Tiker Dadakan:
Om anigat sgulunesatru musuhkune pada musnah ilang.

Mantra payuk kakrumpungan
Pang pung pang, pulunia bhatari paran, isine prungpung sunia, sanghyang suci nirmala ngaranya, sire angadakaken sanghyang tri nireti, ngarang sanghyang upasadana,  nuwahana manik dotagine, nuwuhana pala bungkah pala gantung, anada ta ya pala boga ngadakaken catur kahuripan, rupa keting raga walunaning ulun, ong ye namah swaha.

Menanam pohon kunir di areal pelinggih kemulan atau pelinggih natah/sang hyang siwa reka

II. Upacara di sanggah kemulan:
1. Mejaya-jaya
2. Pungu-pungu
3. Pakai karo wista
4. Mebakti (Panca sembah)
5. Natab banten pesaksi
6. Natab baye
7. Natab sayut
8. Nunas tirta wangsuh

#tubaba@griyangbang//pujawiwah#