Kamis, 02 Januari 2020

PINANDITA WIWA/JRO MANGKU GDE wenang nganggen petanganan

Pawintenan Pinandita Wiwa
(oleh: Tubaba) 

Masyarakat Hindu di Bali sangat antusias melaksanakan tradisi maupun ritual yang tidak terlepas dari peranan aksara. Salah satu tradisi tersebut ialah Pawintenan Wiwa. 
Pawintenan jenis ini merupakan Pawintenan untuk meningkatkan status Pemangku dengan title Dane Pinandita Wiwa/Jero Mangku Gde yang setatusnya tan keneng kacuntakan dan wenang nganggen petanganan. 

Pawintenan Wiwa adalah pawintenan yang dilaksanakan sebelum seseorang naik menjadi pandita Bhawati. Ida Sinuhun Siwa Putra Prama Daksa Manuaba sebagai Guru Nabe atau Panglingsir Griya Agung Bangkasa melaksanakan Pawintenan Wiwa ini. Pawintenan Wiwa di dalam pelaksanaannya menggunakan aksara Bali, yaitu) (1) Bentuk aksara Bali yang dirajah pada tubuh (angga Sarira), berdasarkan bentuknya aksara Bali dibawah adalah termasuk aksara-aksara yang tergolong aksara Wijaksara (aksara Swalalita yang diberi pangangge atau busana) dan aksara Modre. 

Dalam pawintenan ini banyak ditemukan berbagai bentuk salah satunya aksara Wijaksara yang terdiri dari eka aksara, dwi aksara, tri aksara, panca aksara, dasa aksara, catur dasa aksara dan sodasa aksara. Aksara yang digunakan dalam rarajahanrurub serta aksara Bali dirajah pada tubuh menggunakan aksara-aksara yang konotasinya melambangkan simbol-simbol dewa pada tubuh manusia dan lebih banyak menggunakan aksara Wijaksara serta aksara Modre tentunya dipercaya memiliki kekutan religius magis berbeda dengan aksara Bali lumbrah menggunakan aksara Wreastra; Ragam aksara Bali yang digunakan berdasarkan daerah artikulator adalah guttural (kerongkongan), palatal (langit-langit), cerebral (lidah), dental (gigi), serta labial (bibir). Lebih spesifik lagi yakni dalam ranah tradisional, penyebutan daerah artikulasi tersebut dinamakan dengan kantia, talawia, murdania, dantia, dan ostia. (2) Fungsi aksara Bali pada Pawintenan Wiwa adalah Fungsi Referensial, Fungsi Religius, Fungsi Magis. (3) Makna Aksara Bali Pada Pawintenan Wiwa adalah Makna Sosial Budaya, dan Makna.

Upacara pawintenan ini wajib dilakukan oleh  ida sulinggih yang sudah mempunyai wewenang untuk melaksanakan Loka Palasraya Pandita atau yang disebut juga Sang Yogi Swara selaku Panabean (Guru Pengajian).


Sebelum Upacara Pawintenan dilaksanakan, maka calon Pinandita Wiwa/Jero Mangku Gede terlebih dahulu harus mencari Pandita – Nabe sebagai Guru, dimana yang bersangkutan akan melaksanakan apa yang disebut maguron-guron. 
Pandita – Nabe itulah yang secara langsung membina dan mendidik sang calon dengan Dharma Pawikuan sesuai dengan beban fungsi dan jabatan yang akan dipangkunya.

Upacara Pawintenan Pinandita Wiwa ini harus disaksikan oleh para Prajuru Merajan, Manggala Desa, maupun yang terkait.

Seorang Pinandita Wiwa dengan julukan Jero Gede, jika telah memenuhi persyaratan tertentu dan dipandang sudah cukup memenuhi persyaratan untuk meningkatkan kesucian rokhani maupun jasmaninya, dikemudian hari dapat melakukan penyucian diri yang sifatnya lebih tinggi yang disebut Mapudgala Dwijati.

DANE PINANDITA WIWA WENANG MAGENTHA! 

Om swastyastu, 
Om awighnam astu namo siddyam, 
Om siddir rastu tad astu swaha, namo Siwa ya namo Buddha ya,…….

Masyarakat Hindu di Bali sangat antusias melaksanakan tradisi maupun ritual yang tidak terlepas dari peranan aksara. Salah satu tradisi tersebut ialah Pawintenan Wiwa. 

Pawintenan jenis ini merupakan Pawintenan untuk meningkatkan status Pemangku dengan title Dane Pinandita Wiwa/Jero Mangku Gde yang setatusnya tan keneng kacuntakan dan wenang nganggen petanganan. 
Pada suatu malam saya sempat ditanya seperti ini:
“ow nggih pak, bapak pemangku atau napi? 
Soalnya pakaian bapak sunghuh beda dan apa boleh pakai gentha sembahyangnya?” 
kurang lebih begitulah pertanyaannya,..

Saya jelaskan seperti ini,.. 
mungkin yang lebih tahu bisa menambahkan apabila kurang berkenan yang saya ulas mohon untuk ditambahkan,
“Genta atau bajra itu benda sakral dianggap suci, kalau anda sudah disucikan kenapa tidak boleh ,..!!! dalam sastra sudah jelas tertuang bahwa genta dan bajra itu adalah sebuah penuntun untuk menghanturkan sebuah mantra.., krn menggunakan genta atau bajra itu  membutuhkan keseimbangan bukan hanya skill tapi  juga bakat dan kesungguhan hati,.. apabila digunakan dengan ngawur tanpa pembingbing justru akan mengganggu karena tidak menimbulkan aura yang magis dan suara yg manis dan harmonis,...   maka kalau mencari ketenangan justru  akan menimbulkan kegaduhan,. Karena memakai genta/bajra itu adalah keseimbangan antara tangan kiri memegang genta/bajra terus tangan  kanan memegang bunga atau untuk memakai perlengkapan upacara seperti sesirat, dipa, dan lain-lainnya, belum lagi mantra doa pelafalannya dan harmonisasi lagu mantra,…….” 
Kalau ada orang biasa udah mampu memakai genta dengan bagus tingkatkanlah , tapi janganlah  itu merupakan suatu kebanggaan berlebihan apalagi sikap arogan menganggap lebih dirinya lebih diantara yang lain,.. ada kata begini “bisa dadi” atau sebaliknya “dadi bisa” , anda dianggap mampu sudahkah pantaskah memakai  dan diperbolehkan oleh pembimbing/guru spiritual atau sulinggih/ pendeta untuk menggunakannya,……maka dari itu bagi mereka yang ingin memakai genta atau bajra sepatutnyalah anda menyucikan diri dengan mawinten (mensucikan diri) dan genta yang anda pakai adalah genta/bajra yang sudah dipasupati oleh guru pembingbing/ guru spiritual atau sulinggih/penndeta,…….kata mawinten itu mawit dan  enten, mulai mengingatkan diri tuk malakukan kesucian, secara pikiran perkataan dan perbuatan,… bukanlah anda mangku secara pandangan sempit, tetapi menimal mangku untuk diri anda sendiri,…   dan apabila memang anda ingin memakai bunyi-bunyian seperti sejenis itu,…maka pakailah bell menyerupai itu tetapi tidak sama seperti genta/bajra,….. benda itu sangat sacral bagi kita orang Bali janganlah anda melakukan tindakan yang akan menimbulkan polemik padahal maksud anda tidak menimbul konplik,.. berlakulah santhi jangan menyakiti perasaan orang disekitar anda karena meskipun anda mampu tetapi belumlah dianggap pantas untuk menggunakan,… 
Cobalah maknailah mantra genta/ bajra seperti dibawah ini 
Om Bajra, Bayu Bajra, Maha Bajra                                                                                  Om Mang Iswara Dipate ya namah swaha
Om Gentayur maha wiryam, 

Iswaranca swetha hredayam,  
Sarwa klesa winasanam, 
Tri Purusa suddha nityam, 
Sarwa jagat jiwatmanam,     
      
Om Ung Mang namah 
Omkara Sada Siwa stah, 
Jagat natah hitangkarah, 
Abiwada wadan niyah, 

Genta sabda parakasyate,
Genta sabda maha sretah, 
Omkara parikirtitah                                                   Chandra nada bindu nandantam,

Spulingga Siwa tatwan ca 
Om, Gentayur pujyate dewah, 
Abawiya-bawiya karmasu, 
Wara dah labda sandeyah , 
wara siddhi nih sansayam, 

Om Ang Ung Mang ( kleneng ) 
Om, Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa ring bayu sabda idep ( kleneng ) 
Om, Ang Khang Kasolkaya Iswara ya Namah swaha ( kleneng )

Om  Ang Ung Mang.  
Genta Sabda Prakasam Angelurah Agung tengerang Paduka Bhatara tumurun kang Genta. 
Om  siddhir rastu ya namah swaha. 
Om pinaka usapi ulun mrebuk harum kang bhuwana anerus tekening sapta petala neher susila abener, angundang Sang Hyang Anantaboga, tumedun  paduka Bhatara kesanggra dening puspa wangi. 
Om Sri yawe ya  namo namah swaha. 
Yang artinya kurang lebih seperti ini saya simpulkan,.. bahwa Sang Hyang Iswara adalah dewanya bajra yang merupakan manifestasikan Bayu Yang Maha Agung ,… suara Genta itu sangat ampuh melambangkan kesucian dari Hyang Iswara untuk melenyapkan segala bentuk halangan dan mensucikan tiga manifestsi Beliau yang merasuk ke seluruh jagat yang diperlambangkan dengan Ung Mang,..
Pranawa Om adalah tempat bersemayamnya Siwa,…Penguasa Agung yang menciptakan alam yang menjelma menjadi alunan suara genta,…..,…              
Dentingan suara genta yg merupakan Pranawa Om,,.melambangkan ardha Candra , bindu, nada dan nandanta,...nada adalah percikan api suci Siwa yg juga Siwa sendiri,…. Bunyi genta dipuja seperti Siwa karena memuja Siwa dalam mengerjakan apapun besar pahala yg didapat oleh mereka yang melakukan tanpa keraguan,…

Menurut mantra diatas sangat jelas bahwa siapa yang layak menggunakan itu, atau pakailah  logika anda sebelum melakukan sesuatu yang menurut  anda pantaskah atau tidak,…?  

#tubaba@suksma, salam rahayu
#tubaba@aksara Bali pada Upacara Pawintenan Wiwa di Griya Agung Bangkasa#

USADA BUDUH

USADA BUDUH
Pengobatan Alternatif
Sakit Gila


Di dalam lontar Usada Buduh sering ditulis terganggunya kondisi pikiran seseorang disebut dengan buduh, dan banyak jenis buduh yang dinuraikan oleh lontar tersebut di antaranya adalah, buduh wangke, buduh guna, buduh raung dan jika gangguan pikiran setengah gila ditulis dengan nama penyakit "Ila" [ setengah gila ] misalnya "ila dewa" seseorang seolah berbicara dengan roh atau dewa, sehingga sering murung dan suka sembahyang kemana² dan tak jelas tujuan dan maksdnya. Jikapun dia mengatakan sesuatu datangnya dari petunjuk dewa maka tetap tidak ada bukti secara kongkrit.
Namun secara ilmu kedokteran jiwa ada pandangan yang mirip sekali Ila dewa dengan "skizofrenia"

Gangguan psikotik

Gangguan psikotik merupakan gangguan jiwa parah yang menyebabkan munculnya pemikiran dan persepsi yang tidak normal, misalnya penyakit skizofrenia. Ciri-ciri dari gangguan psikotik adalah mendengar, melihat, atau merasakan sesuatu yang tidak ada (halusinasi) serta memercayai hal-hal yang sebenarnya tidak terjadi (delusi).

Beda tipis orang sakti dan orang gila.
Dalam lontar tersebut di tulis seperti ini, "hendaknya jangan terlalu mempercayai kata orang ila, sebab orang ila sangat mirip dengan orang sakti namun yang mempunyai ila tidak mampu membuktikan secara benar dan nalar "
Ketika orang sakti mengatakan bahwa dalam 1 jam lagi akan terjadi gempa hebat, dan hujan sangat lebat maka hal itu pasti terjadi, namun orang ila jika dia mengatakan demikian pasti sampai seminggu juga ga akan terjadi apa² [ skizofrenia efect].

BELAJAR SPIRITUAL RENTAN TERKENA ILA.


Jika seseorang spiritual [ ngelmu] menekuni ilmu yang salah artinya antara tujuan dan prakteknya tidak sejalan maka cepat atau lambat akan mengalami delusi, kenapa demikian, ambil contoh sederhana?

"Jika dalam meditasi anda di suruh membayangkan salah satu dewa atau apapun maka hal ini harus anda kaji dengan tepat, sebab tidak ada manusia yang mampu membayangkan objek secara konsisten atau menetap tanpa berubah selama 1 menit. Bahkan pikiran akan sangat mudah sekali liar dalam beberapa detik, lalu bagaimana lantas bisa membayangkan objek 1 menit. [ what do you think?.
Jika hal itu di paksakan maka lambat laun pikiran akan stress dan bisa membuat ilusi buatan.

Ada satu kalimat yang selalu membuat saya tergelitik yaitu, Bahkan di jalan Tuhanpun berpeluang gila jika tidak belajar dengan tepat dan terperinci dengan baik, berapa banyak yang anda temui seperti itu?....

#tubaba@lontarusadabuduh#


Babad Bendesa Manik Mas

Terjemahan Babad Bendesa Manik Mas

Ya Tuhan semoga hamba tiada mendapatkan halangan.

Ya Tuhan yang berwujud dewa Surya yang hamba hormati, lahir bathin mendapatkan kesucian, dunia menjadi selamat, demikian juga keturunan hamba mendapatkan kebahagiaan. Ya Tuhan, anugrahilah kami ketenangan, demikian juga agar para dewi memberikan anugrah, hamba memuja Tuhan, dan semuanya agar mendapatkan anugrah.

Ya Tuhan, maafkanlah hamba, utamanya kepada paduka Danghyang, Beliau yang mengadakan hamba semuanya, semoga kami tiada mendapatkan kutukan, terhindar dari mala pataka.

011914_0348_BabadBendes1.jpg

Ya Tuhan, semoga kami selamat, permohonan maaf hamba kepada Hyang Trayo Dasa Saksi, terutama bintang bersinar cemerlang, sekarang hamba akan menceritrakan, seluruh keturunan I Gde Bandesa Mas, yang tinggal di Jembrana, di Banjar Wani Tegeh, asalnya dari Majapahit, ada keturunannya yang tinggal di Pujungan, namanya I Gde Tobya, hana di Bratan, bernama I Gde Jagra, mendapatkan anugrah utama oleh Ida Ayu Swabhawa, yang berstana di Pulaki, yang disungsung oleh orang Sumedang (orang halus), serta telah memahami tentang ajaran Dasa Sirna (kelepasan), keluarga yang ada di desa Pujungan, yang ada di Bratan, bagaikan Brahmana Pendeta suci, serta banyak mempunyai keturunan, diberikan mantra yang utama, seperti : Canting Mas, Siwer Mas, Weda Sulambanggeni, Pasupati Rancana, semuanya itu dijadikan pegangan oleh I Gde Bandesa Mas, termasuk semua keturunannya, yang sekarang berada di pulau Bali, adalah anugrah beliau Bhatara di Pulaki, terutama beliau Danghyang Dwijendra, yang dipuja di sana, semoga yang memegang Wre Sastra ini, seketurunan I Gde Bandesa Mas, mendapatkan kebahagiaan di mana mereka berada, mendapatkan keselamatan, terhindar dari semua bahaya, berhasil dan berkembang mereka, demikian juga berkembang dalam keluarganya, tiada mendapatkan halangan, jika ada keturunannya I Gde Bandesa Mas, paham terhadap sastra ini dan dapat melaksanakannya, jika ada yang lupa kepada Kawitan dan kurang percaya terhadap sastra ini : “Semoga engkau semua, seketurunan I Gde Bandesa Mas, tidak mendapatkan keselamatan, seperjalanan hidupnya bagaikan orang gila, sakit-sakitan, selalu mendapatkan rintangan, tak henti-hentinya tertipa penyakit, hancur keluarganya, retak bersaudara, demikian isi bhisamanya, demikianlah sabda Beliau kepada Sira Mpu Mas”.

Sekarang diceritrakan perjalanan beliau Danghyang Dwijendra ke Gelgel, bersama dengan Ki Gde Bandesa Mas, untuk menghadap Ida Dalem, tak terceritrakan perjalanan beliau Danghyang Dwijendra.

Diceritrakan beliau Ida Ayu Swabhawa, berada tidur/menginap di Jembrana di Banjar Wani Tegeh, di rumah Ki Gde Bandesa Mas, karena lama beliau ditinggal oleh ayahnya, di sana beliau bingung, yang diemban oleh keluarga Ki Gde Bandesa Mas, saat itu beliau mendapatkan kadurmanggalan (bahaya). Lalu beliau menyebutkan, daerah di sebelah utara Rambutsiwi, yang berpenduduk semuanya 8000, dipralina/dilebut semuanya, beliau yang memimpin di sana, beliau berwujud niskala dan beliau berstana di Pura Pulaki, yang disungsung oleh orang yang tidak kelihatan (orang-orang halus), yang dipralina oleh beliau, disebut Wong Sumedang. Oleh karena amat hormatnya keturunan I Gde Bandesa Mas, kepada Ida Ayu Swabhawa, serta memohon kehadapan beliau, tidak melanjutkan kemarahannya, agar mau menunggu kedatangan Danghyang Dwijendra dari Gelgel, Ida Ayu tiada berkenan, tetapi beliau memberikan anugrah sastra utama, seperti :

merupakan pegangan hidup mati, namanya Canting Mas, Siwer Mas, luar biasa utamanya hakekat sastra itu,                , bagi yang memegang/memahami sastra ini menjadi keheran-heranan, seketurunan Ki Gde Bandesa Mas, demikian juga termasuk semua keturunannya, jhah tasmat, semoga demikian, mendapatkan keselamatan, sehat tidak mendapatkan penyakit dari ilmu-ilmu hitam, semua bentuk halangan musnah olehnya, oleh kekuatan sastra seperti tersebut di atas, semuanya disucikan oleh kesaktian ilmu tersebut, yakni Sanghyang Sastra ini; mampu menguasai mantra dan melaksanakannya, seperti : ada yang disebut Wresastra, itu yang akan menjadi bahasa, ada yang disebut Mudra, untuk menuju kalepasan, ada Swalalita yang menjadi mantra hidup, demikian halnya, itu 20 (dua puluh jumlahnya), itulah asal mula sastra yang dianugrahi oleh beliau Ida Ayu Swabhawa.

Demikianlah bhisama/pesan beliau Ida Ayu Swabhawa, diamkanlah sebentar keadaan Ida Ayu Swabhawa.

Sekarang marilah ceritrakan keturunan I Gde Bandesa Mas, sekarang hamba akan menceritrakan keberadaan Ki Gde Bandesa Mas, setelah berada di Baliaga, ada keturunan beliau beserta sanak saudaranya, Mas Sepuh, Mas Wilis, Mas Mega, beliau bertempat tinggal di daerah kekuasaan Maharaja Mangu, beliau ini berkuasa di Blambangan, ada keturunan beliau di pulau Jawa, beliau itulah yang menggantikannya, Si Tan Kober bertempat tinggal di desa Mas, Si Tan Kawur di desa Gobleg, Si Tan Mundur di desa Gadhingwani, beliau itu keturunan Wang Bang namanya, Satria Pasuruhan yang datang ke Bali, beliau Mas Ireng, Mas Warna, tetap tinggal di pulau Jawa.

Marilah ceritrakan keadaan di Swecalinggapura, yakni Ida Dalem yang memerintah di pulau Bali Tengah, ketika itu beliau keluar menuju balai persidangan, berpakaian kebesaran, bagaikan penjelmaan Wisnu beliau Sri Kapakisan, beliau berdiri, berprilaku yang amat sempurna, sebagai pertanda ksatria utama, anyungklit keris dan menganugrahkan gading (taring gajah) kepada Mpu Mas, kepenuhan mas permata yang utama, Kelihan Mas ada di belakang beliau Sri Aji Kresna Kapakisan, lengkap dengan para punggawa, manca dan parajuru yang lainnya dan para Mpu, Danghyang Siwa Buddha Bhujangga, bercakap-cakaplah beliau, yakni prihal yang dibicarakan dalam rapat, dulu ada utusan beliau Sri Kresna Kapakisam, untuk menyerang pulau Jawa, yakni Aji Pasuruhan, dan utusan beliau sudah berangkat ke pulau Jawa, mereka itu adalah pemuka-pemuka Bali Madya, beliau Arya Kutawaringin, Arya Mangori,, Arya Dalancang, Arya Budha, utamanya Sira Arya Pinatih. Beliau Arya Ularan, ada juga pangabih/pembantu beliau, Sira Pangeran Gde Bandesa Mas, demikian juga Pangeran Pasek Gelgel, dari dahulu mereka itulah para Tri Manggala Yuddha Sri Aji Kresna Kapakisan, mereka itu datang ke Baliaga, merupakan prajurit Majapahit, maka itulah mereka tidak menolak untuk menghadap Sri Kresna Kapaikisan penguasa Swecalinggarsapura.

Tersebut datanglah Patih Ularan, termasuk ke dua Pangeran itu I Gde Bandesa, I Gde Pasek Gelgel, beserta dengan para prajurit-prajuritnya, setelah menyerang Pasuruhan, semua daerah dan rakyatnya telah dikuasai/dikalahkan, banyak rakyatnya yang mati yakni orang-orang Pasuruhan yang terlibat dalam peperangan, tida terhingga kehebatan perang itu, bagaikan laron yang jatuh ke api, diterbangkan angin dan banyak lagi, itulah yang disampaikan kepada Sri Kresna Kapakisan, lengkap dengan harta benda yang utama, dipersembahkan kepada Sri Aji Bali, itu semua merupakan ciri kemenangan. Lalu beliau memperhatikan semua yang datang menghadap, yakni : Rakryan Ularan, Pangeran Gde Bandesa Mas dan Pangeran Pasek Gelgel. Ketika itu Arya Ularan dan Pangeran Ki Gde Bandesa Mas, berkata : “Ya Tuanku Sri Aji, kami telah berhasil sesuai dengan perintah Tuanku, mengalahkan daerah Pasuruhan dan termasuk para penguasanya, terutama Sang Raja telah hamba potong kepalanya raja Pasuruhan dan berhasil menguasai daerahnya, telah berhasil kami kalahkan para penguasa itu yakni Sri Aji Pasuruhan, lalu dilanjutkan oleh Pangeran I Gde Bandesa Mas, daulat Tuanku Sri Aji Bali, hamba telah berhasil memotong pucak gelung korinya Sri Aji Pasuruhan, pucak gopura istana Kakak Tuanku Sri Aji Pasuruhan itu penuh dengan hiasan mas permata, semuanya itu telah hamba ambil, sebagai pertanda kemenangan”, demikianlah atur dari Pangeran Ularan dan Pangeran I Gede Bandesa Mas. Terdiamlah Sri Aji Kresna Kapakisan, bagaikan kejatuhan gunung rasanya, mendengarkan atur orang yang datang itu, menyala-nyala matanya, bagaikan api yang berkobar, luar biasa marah beliau, lalu turun dari Bale Persidangan (Bale Gajah), diam juga, lalu beliau masuk ke dalam Gedong Puri dan menutup pintu, lalu beliau bersabda dari dalam Gedong. “Ai engkau Ularan, ada bhisamaku padamu, mulai saat ini engkau tidak boleh bertemu dan menghadap padaku, karena dosamu luar biasa, yakni membunuh kakakku Sri Aji Pasuruhan, tetapi ada anugrahku padamu, rakyat 200, sawah tegal winih 200, namun pergilah kamu sekarang ini, namun aku memberimu tempat, yaitu menjadi penguasa di Patemon, jangan engkau menghadap padaku lagi, demikianlah bhisama Sri Aji Bali kepada Rakryan Ularan

Engkau Gde Bandesa Mas, ada bhisamaku padamu, karena kemenanganmu, dengan memotong pucak gopura yang bertahtahkan mas permata, mulai sekarang dan seluruh keturunanmu selanjutnya, terutama kamu mulai saat ini aku beri nama I Pangeran Gde Bandesa Manik Mas, mulai saat ini dan selanjutnya dan ada juga anugrahku padamu, rakyat 100, tanah dengan ukuran 100 dan seketurunanmu nantinya, tidak kena iuran/pajak, bebas dari hukuman mati, ada pengurangan hukuman, kalau dapat hukuman mati, hanya diusir, jika kesalahannya hanya menengah diusir dan dimaafkan; demikian juga engkau Pasek Gelgel ada anugrahku sampai seketurunanmu, sama anugrahku padamu Pasek Gelgel, demikian bhisama Sri Aji Kresna Kapakisan“.

Boleh bertemu dengan keluarga I Gde Bandesa manik Mas, akhirnya mereka membuat rumah di Swecalinggapura, yakni di sebelah utara Jro Kuta Puri Agung, mereka dapat bagian 200 orang, mereka I Gde Bandesa Manik Mas, yang menjadi Bandesa ring Gelgel, atas anugrah Sri Aji Bali, banyak keturunannya, dapat merapalkan mantra-mantra dan menyatu dengan prajuru-prajuru yang lain, terutama atas anugrah Sri Aji, seperti : I Gusti Agung, I Gusti Jelantik, I Gusti Natih, I Gusti Dawuh, I Gusti Lanang Jungutan, I Gusti Tapalare, I Gusti Kaler, I Gusti Lot, I Gusti Pangiasan, I Gusti Salotan, itulah para Arya yang ada di Gelgel dan para Pangeran, seperti :

I Pangeran Pasek Gelgel, I Gde Bandesa Manik Mas, I Gde Dangka, I Gde Dawuh, I Gde Gaduh, I Gde Tangkas Agung Durian, I Gde Kabayan, I Gde Pameregan, I Gde Abiantubuh, dan ada juga Pangeran dari pradhana Sri Aji Kresna Kapakisan, semua mendapatkan anugrah yang sama, boleh saling ambil mengambil, saling sembah, atas anugrah Sri Aji Bali, adapun orang-orang yang dianggap kelahiran utama : I Gde Bala Pulasari, I Gde Bandem, I Gde salahin, I Gde Kamoning, I Gde Suruh, demikian banyaknya keturunan Pangeran, para pembesar, berapat di Kahyangan Bali, di Dasar Bhuwana Gelgel, semua orang-orang Bali.

Marilah kita ceritrakan keturunan I Pangeran Pasek Gelgel, brputra 8 orang, yang sulung Pangeran Gelgel, Pangeran Abiantubuh, Pangeran Selat, Pangeran Sibetan, Pangeran Dangan, Pangeran Batur, Pangeran Anyaran, Pangeran Kubayan, itu semuanya warga Pasek. Ada juga keturunan Bali Mula, yaitu : Pasek Kedisan, Pasek Sukawana, Pasek taro, Pasek Celagi, berasal dari Pasek Kayu Selem, bersama-sama tinggal di Bali Madya.

Ceritrakan I Gde Bandesa Gelgel, berputra 2 orang, yang sulung Bandesa Gelgel, yang ke dua I Gde Bandesa Manikan, semuanya mempunyai keturunan. Pangeran berputra 3 orang, yaitu : I Gde Rantubuh, I Gde Selat, I Gde Samping, demikian keberadaannya. Pangeran Manikan, berputra 2 orang, yaitu : I Gde Manik Mas, I Gde Pasar Badung, semua tinggal di Gelgel, sebagai pembantu pimpinan di Gelgel.

Berganti ceritra sekarang, ceritrakan keturunan I Gde Bandesa Manik Mas, asal-muasalnya dahulu, tatkala mereka dianugrahi oleh Ida danghyang Dwijendra, semua keturunannya I Gde Bandesa Manik Mas, dapat mempelajari dan melaksanakan sastra-satra utama, yakni untuk menjaga kehidupannya dalam keadaan suka maupun duka, hendaknya tetap berpegang teguh pada dharma susila, boleh menjadi Sulinggih, menggunakan Weda Suksma Adyatmika, berpegang teguh kepada tapa brata yoga dan samadhi, selalu ingat melaksanakan pranayama, itulah hah-hal yang utama anugrah Ida Padanda Sakti Wawurawuh, Ida Danghyang Dwijendra, kepada keturunan Ki Pangeran Gde Bandesa Manik Mas, seperti : Weda Sulambanggeni, Pasupati Rancana, Canting Mas, Siwer Mas, Aji Wekasing Pati, hendaknya selalu memegang teguh sekala dan niskala, oleh seketurunan I Gde Bandesa Manik Mas, mulai sekarang dan selanjutnya. Ada lagi anugrah Ida Danghyang Dwijendra Padanda sakti Wawurawuh, kepada Ki Pangeran Manik Mas, menjadi orang utama, melaksanakan Dharma Silayukti dan kemampuan OM-kara, semua pemuka-pemuka orang Bali Madhya, hormat dan bhakti kepadanya sekala niskala kepada mereka I Gde Bandesa manik Mas, karena memahami aksara utama.

Demikian pula halnya terhadap Linggih Bhatara (Pura), mereka astiti bhakti sekala niskala, karena telah memahami pengetahuan utama. Sebagai tanda bhakti kepada Padanda Sakti Wawurawuh Danghyang Dwijendra, lalu Ki Bandesa Manik Mas mempersembahkan anaknya kepada beliau, lalu diambil dijadikan istri, lalu berputra Ida Bhatara Bukcabe. Putra beliau Ida Bukcabe ada 3 orang, yang paling sulung tinggal di desa Mas, bernama Ida Kacangpawos, yang ke dua tinggal di Abiansemal, berada di Geria Tegeh, diiring oleh Arya Dawuh, bernama Ida Bukian dan yang paling bungsu pergi ke Padhang Jerak, bersama rakyat (wadwa) 40 orang, di Tanah Beluangan, pindah dari Beluangan lalu tinggah di Tanah Sanur, bersama Arya Pacung, bernama Ida Kidul, itu sebabnya adanya Brahmana Mas, karena ibunya berasal dari I Gde Bandesa Manik Mas, dari dulu sampai sekarang. Lalu beliau Ida Padanda berkeinginan membuat Pura panyungsungan Ida Sang Brahmana di desa Mas, namanya Pura Pule, di pinggir sebelah timur dan Pura pemujaan Ida Bukcabe, pada akhirnya keturunan keturunan Ki Bandesa Manik Mas, membuat lagi Pura di desa Mas, namanya Pura Bukcabe, dapat dijadikan penyungsungan Brahmana semua dan juga disiwi oleh seketurunan Ki Bandesa Gde Manik Mas, jika ada yang lupa tidak ikut nyungsung di Taman Pule dan di Pura Bukcabe, semoga mereka semuanya, seketurunan I Gde Bandesa Manik Mas, jika berprilaku demikian, semoga mereka tidak menjelma menjadi manusia, tidak mendapatkan keselamatan, demikian kutukan bhisama beliau, hilang kemampuannya, pendek umur, salah jalan, gila, selalu bertengkar dalam keluarganya, cekcok dengan saudara, selalu mendapatkan halangan, demikianlah keturunan I Gde Bandesa manik Mas, sampai kepada seluruh keturunannya, janganlah lupa terhadap Pura itu, anugrah Danghyang Dwijendra Padanda Sakti Wawurawuh, disaksikan oleh alam dan gunung semuanya.

Demikianlah anugrah Ida Padanda sakti Wawurawuh kepada Ki Pangeran I Gde Bandesa manik Mas dan ada lagi anugrah beliau yang lain, jika ada yang meninggal, boleh menggunakan Bade, tumpang 7, magunung pitu, matrilaksana, munggah palih, kapas warna 9, makarang liman, mabhoma makampid/bersayap, mapadau, mapring, rurub kajang utama, mahulon Citya Reka, genap dengan segalamacam upakara, kajang salaka, tekeng patra kemul, demikian upakara kematiannya, segala macam mantra engkau boleh, Nyawa Wedhana, Mapangentas, nista madia uttama, yang uttama berharga 8000, yang madhya berharga 4000, yang nista/kecil 1700, yang paling kecil 1100, itulah yang engkau boleh gunakan.

Inilah yang disebut Manusa Yadnya, tempat mayadnya memakai ancak saji, kalau matatah boleh menggunakan Bale Gadhing, mapulagembal, memakai gender wayang, mapadamelan boleh, hendaknya engkau memahami, barulah dapat disebut I Pangeran Gde Bandesa Manik Mas, dan jika engkau tidak memahami hal itu disebut orang Bali Bisulara, semuanya menjadi gelap dan hancur dalam keluarga, tidak menjumpai keselamatan, segalanya bertengkar, tidak mengenal prilaku, demikianlah keturunan I Pangeran Gde Bandesa Manik Mas, janganlah lupa terhadap nasehatku, dari anugrah beliau Padanda sakti Wawurawuh, yang berstana di Pura Taman Pule.

Prasasti ini selesai ditulis dan kapasupati pada hari Anggara Kliwon Julungwangi, pang. 4 sasih Karo, warsaning loka Windhu Bhuwana Dwaraning Wang, 1930 Saka, rah o, tenggek 3, windhu 9, yuga 1.

Selesai.

Copas

FUNGSI PURA KAHYANGAN DHARMA SMRTI IDA BHATARA SINUHUN

FUNGSI PURA KAHYANGAN DHARMA SMRTI IDA BHATARA SINUHUN.
(oleh:tubaba griyangbang)


Keberadaan Kahyangan (tempat suci) bagi masyarakat Bali menjadi sangat penting. Hal ini erat kaitannya dengan konsep Tri Hita Karana yang diyakini oleh masyarakat Bali merupakan bentuk harmonisasi hubungan manusia dengan Tuhan, dengan alam dan sesamanya yang bisa membawa mereka pada kesejahteraan lahir bathin. Tri Hita Karana sendiri diartikan 3 penyebab kesejahteraan. Untuk membangun harmonisasi hubungan manusia dengan Tuhan dan alam, maka keberadaan Kahyangan (pura) menjadi sangat penting sebagai media pemujaan terhadap Tuhan dan alam semesta.
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa dalam mengharmonisasikan hubungan dengan Tuhan dan semesta masyarakat Bali pada masih menekankan pada ritual pemujaan. Memang alangkah lebih baik bila kedekatan terhadap Tuhan dalam segala fungsi manifestasiNya terutama yang erat kaitannya dengan alam, hendaknya juga diimbangi dengan perilaku yang bersahabat juga dengan alam sekitar. Hal ini dapat dilakukan dengan menjaga kelestarian alam sekitar kita dalam keseharian interaksi kita dan bukan hanya mengaturkan banten persembahan pada hari-hari tertentu saja untuk kemudian kita eksploitasi secara berlebihan.
Pemujaan terhadap Tuhan dalam berbagai manifestasiNya biasanya dilakukan pada Rahina (hari berdasarkan penaggalan Bali) dan di pura tertentu yang disesuaikan dengan manifestasi dan kewisesaan Tuhan.
Rahina/rainan atau piodalan maupun perayaan untuk upacara persembahyangan biasanya ditentukan berdasarkan sistim kalendar Bali yang menggabungkan sistim Pawukon (lunar system) dan sistim kalendar Saka (solar system).


Bali yang dikenal juga dengan sebutan Pulau Seribu Pura memang pada nyatanya mempunyai ribuan jumlah pura. Dari sekian banyak pura tentu saja tidak semuanya sama oleh karena itu ada pengelompokan pura didasarkan atas 2 unsur utama yaitu berdasarkan fungsi dan berdasarkan karakteristiknya. Berdasarkan fungsinya, pura dikelompokan pada 2 kelompok yaitu:
1). Pura yang berfungsi sebagai tempat untuk memuja Hyang Widhi, para dewata/manifestasi Tuhan
2). Pura yang berfungsi sebagai tempat untuk memuja dewa pitara yaitu roh suci leluhur.
Pura Kahyangan Dharma Smrti Ida Bhatara Sinuhun berfungsi ganda yaitu selain untuk memuja Hyang Widhi/dewa juga untuk memuja dewa pitara. Hal ini tidak terlepas dari keunikan agama Hindu Bali yang mengkombinasikan filosofi keyakinan agama Hindu yang bersumber dari India dengan keyakinan/pemujaan terhadap leluhur dimana diyakini bahwa setelah melalui upacara penyucian, roh leluhur tesebut telah mencapai alam dewata dan menjadi dewa/bhatara pitara. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari Dharma Ida Bhatara Sinuhun Siwa Putra Parama Daksa Manuaba selama hidup beliau mampu mempersatukan umat Hindu senusantara khususnya semeton pasek ring madyaning utama pura panataran agung catur parhyangan ratu pasek linggih ida mpu gana dan menguak tabir I Pasek dan Ida Bagus bahkan menyatukan semua warih Pretisentana sapta pandita dan panca pandita di Utamaning Utama Pura pura pundukdawa. Ida Sinuhun juga telah mampu mengembangkan agama Hindu dan Pandita/sulinggih Hindu sampai ke matahari terbit (jepang) serta beliau menyatukan semua golongan, trah, dan atau kelompok melalui sebuah wadah organisasi yang bernama PDDS (paiketan Daksa Dharma Sadhu). Namun umumnya sejelek apapun tingkah laku seseorang selama hidupnya bagi beberapa orang yang tidak sepaham dengan beliau, maka setelah meninggal beliau layak/wajib mendapat penghormatan yang sama terutama oleh para keturunan keluarganya bahkan masyarakat/umat yang tetap bhakti pada beliau.
Berdasarkan atas karakteristik atau sifat khasnya maka Pura Kahyangan Dharna Smerti Ida Bhatara Sinuhun dikelompokan sebagai Pura Umum.
Pura Kahyangan Dharma Smrti mempunyai ciri umum sebagai tempat pemujaan Hyang Widhi dengan segala manifestasinya (dewa). Pura yang tergolong umum ini dipuja oleh seluruh umat Hindu, sehingga bisa disebut Kahyangan Jagat Bali.
Selai itu Pura Kahyangan Dharma Smrti Ida Bhatara Sinuhun berfungsi sebagai tempat pemujaan untuk memuja kebesaran jasa seorang pandita guru suci atau Dang Guru (IDA SINUHUN), yang dikenal sebagai pura Dang Kahyangan. Jadi Pura ini patut dipuja oleh seluruh umat Hindu, karena pada hakekatnya semua umat Hindu merasa berhutang jasa kepada Ida Sinuhun dalam Dharmayatra beliau menguatkan keimanan masyarakat Bali.



#tubaba.swasti warsa 2020#

Minggu, 29 Desember 2019

Hari Raya Pagerwesi

Makna dan Renungan dalam Hari Raya Pagerwesi


Inputbali,- Pagerwesi artinya pagar dari besi. Yang melambangkan suatu perlindungan yang kuat. Hari raya Pagerwesi sering diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri yang dalam bahasa Bali disebut magehang awak.

Hari Raya Pagerwesi  jatuh pada Buda (Rabu), Kliwon, Sinta. Jika diperhatikan dengan seksama, ada kaitan langsung dengan Hari Raya Saraswati yang jatuh pada Saniscara (Sabtu), Umanis, Watugunung. Dalam sistim kalender wuku yang berlaku di Bali, wuku Watugunung adalah urutan wuku yang terakhir dari 30 wuku yang ada, sedangkan wuku Sinta adalah wuku dalam urutan pertama atau awal dari suatu siklus wuku.

Makna Pagerwesi

Sebagaimana telah disebutkan dalam lontar Sundarigama, Pagerwesi yang jatuh pada Budha Kliwon Shinta merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sangga. Hal ini mengundang makna bahwa Hyang Premesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai guru sejati. Makna yang lebih dalam terkandung pada kemahakuasaan Sanghyang Widhi sebagai pencipta, pemelihara, dan pemusnah, atau dikenal dengan Uttpti, Stiti, dan Pralina atau dalam aksara suci disebut: Ang, Ung, Mang.

Saraswati yang jatuh pada hari terakhir dari wuku terakhir diperingati dan dirayakan sebagai anugerah Sanghyang Widhi kepada umat manusia dalam bentuk ilmu pengetahuan dan teknologi, diartikan sebagai pembekalan yang tak ternilai harganya bagi umat manusia untuk kehidupan baru pada era berikutnya yang dimulai pada wuku Sinta.

Oleh karena itu rangkaian hari-hari dari Saraswati ke Pagerwesi, mengandung makna sebagai berikut:

  1. Setelah Saraswati, esoknya hari Minggu, adalah hari Banyupinaruh, di mana pada hari itu umat Hindu di Bali melakukan pensucian diri dengan mandi di laut atau di kolam mata air. Pada saat ini dipanjatkan permohonan semoga ilmu pengetahuan yang sudah dianugerahkan oleh Sanghyang Widhi dapat digunakan untuk tujuan-tujuan mulia bagi kesejahteraan umat manusia di dunia dan terjalinnya keharmonisan Trihita Karana, yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam semesta.
  2. Kemudian esoknya, hari Senin disebut hari Somaribek, yang dimaknai sebagai hari di mana Sanghyang Widhi melimpahkan anugerah berupa kesuburan tanah dan hasil panen yang cukup untuk menunjang kehidupan manusia.
  3. Selanjutnya, hari Selasa, disebut Sabuh Mas, yang juga tidak lepas kaitannya dengan Saraswati, di mana umat manusia akan menerima pahala dan rezeki berupa pemenuhan kebutuhan hidup lainnya, bila mampu menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi di jalan dharma. Pada hari itu umat Hindu di Bali memuja Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Mahadewa.
  4. Hari raya Pagerwesi di hari Rabu, yang dapat diartikan sebagai suatu pegangan hidup yang kuat bagaikan suatu pagar dari besi yang menjaga agar ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah digunakan dalam fungsi kesucian, dapat dipelihara, dan dijaga agar selalu menjadi pedoman bagi kehidupan umat manusia selamanya.

Renungan Dalam Pagerwesi

Pada hari raya Pagerwesi adalah hari yang paling baik mendekatkan Atman kepada Brahman sebagai guru sejati . Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya merupakan “pager besi” untuk melindungi hidup kita di dunia ini.  Inti dari perayaan Pagerwesi itu adalah memuja Tuhan sebagai guru yang sejati. Memuja berarti menyerahkan diri, menghormati, memohon, memuji dan memusatkan diri. Ini berarti kita harus menyerahkan kebodohan kita pada Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat mengisi kita dengan kesucian dan pengetahuan sejati.

Banten Dalam Pagerwesi

Yadnya (Banten) yang paling utama disebutkan pada hari raya Pagerwesi yaitu :
  • Untuk Para Pendeta (Purohita) adalah “Sesayut Panca Lingga” sedangkan perlengkapan  tetandingan bantennya :
  • Daksina,
  • Suci Pras penyeneng, dan
  • Banten Penek.
  • Meskipun hakikat hari raya Pagerwesi sebagai pemujaan (yoga samadhi) bagi para Pendeta (Purohita) namun umat kebanyakan pun wajib ikut merayakan sesuai dengan kemampuan.
  • Dan Bagi umat kebanyakan yadnya (banten) disebutkan adalah;
    • natab Sesayut Pagehurip,
    • Prayascita,
    • Dapetan.
    • Tentunya dilengkapi Daksina,
    • Canang, dan
    • Sodan.
    • Dalam hal upacara, ada dua hal banten pokok yaitu
      • Sesayut Panca Lingga untuk upacara para pendeta,
      • dan Sesayut Pageh Urip bagi umat kebanyakan.

Semoga pemaparan dalam artikel ini tentang Hari Raya Pagerwesi dapat bermanfaat bagi semeton.Suksma…

Copas : input bali

(sumber:stitidharma,wedahindu,sejarahharirayahindu)

(foto:kfk.kompas.com)

Pura Pulaki

Pura Pulaki

  •  Dinas Kebudayaan
  •  29 Mei 2017

 

PURA PULAKI

Pura Pulaki terletak di pesisir pantai Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgrak, di tepi jalan Singaraja- Gilimanuk sekitar 53,5 Km dari kota Singaraja. Kondisi jalan cukup baik. Fauna pendukung terkenal yang sangat menarik ialah kelompok kera dan jalak putih.Pura Pulaki terletak di lereng pegunungan berbatu dan bersemak belukar.

Kisah berdirinya Pura Pulaki tidak terlepas dari sejarah perjalanan Dang Hyang Nirartha dari Blambangan (Jawa Timur) ke Dalem Gelgel (Bali), pada masa pemerintahan Dalem Cri Waturenggong (1460-1550 M). Pura Pulaki merupakan Pura Kahyangan Jagat yang dipuja (disungsung) oleh seluruh umat Hindu di Bali. Sejak pemugaran besar-besaran yang dimulai tahun 1984, kini Pura Pulaki  sudah tampak megah dan luas serta memungkinkan umat Hindu melakukan persembahyangan bersama dengan leluasa. Pura Pulaki sebenarnya merupakan pusat dari serangkaian pura sekitarnya, yaitu  Pura Kerta Kawat pada Km 51 dari Singaraja (sekitar 750 M di sebelah selatan jalan raya), Pura Melanting, Pura Pabean, dan Pura Pemuteran. Urut- urutan upacara yang diadakan pada piodalan yang jatuh pada Purnamaning Kapat dimulai dari Pura Pulaki, kemudian Pura Melanting dan Kerta Kawat, lalu di Pura Pemutaran dan terakhir di Pura Pabean. Letaknya yang strategis di tepi jalan raya sehingga tidaklah mengherankan  sangat banyak mendapat kunjungan dari wisatawan asing ataupun domestik. Sudah terdapat tempat yang sangat baik untuk beristirahat dan tempat parkir yang sangat luas.Di kawasan Pura Pulaki, di sekitar Pura Melanting, sekitar 1987 ditemukan beberapa alat perkakas yang dibuat dari batu , antara lain: berbentuk batu picisan, berbentuk kapak dan alat-alat dari batu lainnya. Berdasarkan  hal itu dan jika dilihat dari tata letak maupun struktur pura, maka dapat diduga latar belakang pendirian Pura Pulaki awalnya berkaitaan dengan sarana pemujaan masyarakat prasejarah yang berbentuk bangunan berundak.

Di sisi lain, dilihat dari letak Pura Pulaki yang terletak di Teluk Pulaki dan memiliki banyak sumber mata air tawar, maka kawasan ini diduga sudah didatangi manusia sejak berabad-abad yang lalu. Kawasan Pulaki menjadi cukup ramai dikunjungi oleh perahu dagang yang memerlukan air sebagai bahan yang dibutuhkan dalam pelayaran menuju ke Jawa maupun ke Maluku. Bahkan kemungkinannya pada waktu itu sudah terjadi perdagangan dalam bentuk barter. Barang yang kemungkinan dihasilkan dari kawasan Pulaki adalah gula dari nira lontar. Ini didasarkan bukti dengan ditemukannya tananam lontar di sepanjang pantai dari Gilimanuk ke timur, termasuk Pulaki.

Dari uraian itu, dapat diduga Pulaki sudah ada sejak zaman prasejarah, baik berhubungan dengan tempat suci, maupun sebagai tempat aktivitas lainnya. Hal ini berlanjut sampai dengan  peristiwa penyerangan Bali oleh Majapahit tahun 1343 Masehi. Dalam buku ekspedisi Gajah Mada ke Bali yang disusun Ketut Ginarsa tertulis bahwa pasukan Gajah Mada turun di Jembrana lalu berbaris menuju desa-desa pedalaman, seperti Pegametan, Pulaki, dan Wangaya.

Pulaki juga pernah dijadikan pusat pengembangan Agama Hindu sekte Waisnawa sekitar 1380 Masehi seperti tertera dalam buku “Bhuwana Tatwa Maharesi Markadeya” yang disusun  Ketut Ginarsa. Kisah tentang Pulaki terdapat juga dalam buku “Dwijendra Tatwa” yang ditulis I Gusti Bagus Sugriwa. Di situ terdapat uraian seperti: “Baiklah adikku, diam di sini saja, bersama-sama dengan putri kita Ni Swabawa. Ia sudah suci menjadi Batara Dalem Melanting dan adinda boleh menjadi Batara Dalem Ketut yang akan dijunjung dan disembah orang-orang di sini yang akan kanda pralinakan agar tak kelihatan oleh manusia biasa. Semua menjadi orang halus. Daerah desa ini kemudian bernama Pulaki”.

Keberadaan Pura Pulaki sebagai suatu tempat suci sudah ada sejak zaman prasejarah dan menghilang setelah kehadiran Dang Hyang Nirartha dengan peristiwa dipralinakannya Pura Pulaki tanpa penghuni secara sekala berlangsung cukup lama. Jadi, Pura Pulaki menghilang dari penglihatan sekala dan daerah ini praktis kosong sejak tahun 1489 sampai sekitar tahun 1920 atau selama sekitar 431 tahun. Namun sebelum itu, sejak zaman prasejarah sampai dengan kehadiran  Ida Betara Dang Hyang Nirarta 1489, Pura Pulaki masih tetap sebagai tempat pemujaan, baik yang dilaksanakan orang prasejarah, orang Baliaga  maupun Sekte Waisnawa yang dikembangkan Rsi Markandeya dan orang pengikut Tri Sakti dengan simbol tiga kuntum bunga teratai yang berwarna merah, hitam, dan putih yang dipetik Dang Hyang Nirarta dari kolam yang diperoleh dalam perut naga di Pulaki.

Suatu daerah yang tak dihuni selama ini, sudah pasti menjadi hutan belantara dan hanya dihuni binatang buas, babi hutan, hariamau, banteng dan lain-lainnya. Kendati begitu, menurut Simba, masyarakat Desa Kalisada dan beberapa desa di sekitarnya masih tetap setia ngaturang bhakti kepada Betara di Pulaki dengan naik perahu dari pantai Kalisada. Namun saat itu, Pura itu sudah tak ada lagi, sehingga pemujaannya dilakukan pada tumpukan batu yang ada di sekitar Pura Pulaki yang lokasinya berada pada tempat sekarang ini.

Untuk itu, Simba menduga Pura Pulaki sebenarnya berada di dalam hutan, bukan di tempat yang sekarang ini. Lokasi pura yang sekarang diperkirakan sebagai tempat pengayatan (pemujaan dari jarak jauh) karena warga tak berani masuk ke dalam hutan mengingat tempat ini sudah dihuni binatang buas, sehingga tak mungkin ada orang yang berani masuk  ke pedalaman.

Tahun 1920 Pulaki mulai dibuka yang ditandai dengan disewakannya tempat ini oleh pemerintah Kolonial Belanda kepada orang Cina bernama Ang Tek What. Kawasan ini kemudian dikembalikan sekitar tahun 1950 yang selanjutnya dilakukan pemugaran-pemugaran terhadap tempat suci di kawasan itu.Pemugaran Pura Pulaki dan pesanakannya dilakukan setelah tahun 1950.

Menurut Simba, Pura Pulaki dan pesanakan, seperti Pura Pabean, Pura Kerta Kawat, Pura Melanting, Pura Belatung, Pura Puncak Manik, dan Pura Pemuteran tidak bisa dipisahkan. Dilihat dari lokasi sejumlah pura tersebut dan sesuai konsep Hindu Bali itu termasuk konsep sapta loka, yakni konsep tentang sapta patala atau 7 lapisan alam semesta.

Jadi, Pura Pulaki yang dibangun atas dasar  perpaduan antara daerah pegunungan dan laut atau teluk sehingga tata letak, struktur dan lingkungan Pura Pulaki ini ditemukan unsur segara dan gunung yang menyatu.

Untuk sekadar tambahan, bahwa dalam sejarah Pura Pulaki ditanyakan bahwa Dang Hyang Nirartha datang ke Bali memiliki tujuan antara lain melantik Dalem Watu Renggong yang memerintah di Bali tahun 1460-1550 M. Perjalanan beliau ke Klungkung dilakukan dari Desa Gading Wani. Anak-anaknya ditinggalkan di Desa Gading Wani. Beliau berjanji akan segera kembali setelah acara di Klungkung berakhir. Tetapi ternyata, Dang Hyang Nirartha tidak datang dalam jangka waktu yang lama. Putri beliau, Ida Ayu Swabhawa akhirnya sangat gusar. Penduduk desa-desa di sekitarnya yang berjumlah 8.000 orang dikutuk menjadi wong samar. Semua menjadi wong samar termasuk dirinya. Ida Ayu Swabhawa dengan ribuan pengiringnya tinggal di bawah pohon-pohon besar.Pohon-pohon itu memiliki sulur-sulur tempat bergelayut (ngelanting dalam Bahasa Bali).Di areal pohon itulah Ida Ayu Swabhawa dibuatkan pelinggih yang disebut Pura Melanting.

Beliau dengan wong samar itulah yang menjadi penguasa pasar. Barang siapa yang melakukan transaksi jual-beli pagi tidak sesuai dengan etika moral dharma akan diganggu hidupnya oleh Dewi Melanting dengan anak buahnya. Kalau kegiatan di pasar mengikuti dharma maka Dewi Melanting itulah yang akan melindunginya.

Di samping distanakan di Pura Melanting ada juga stana beliau yang disebut Pura Tedung Jagat. Pura inilah yang kemudian disebut Pura Pulaki dan juga distanakan roh suci Dang Hyang Nirarhta. Karena itu, Pura Melanting dan Pura Pulaki merupakan lambang predana-

purusa sebagai tempat pemujaan untuk memohon kemakmuran ekonomi. Pura Pulaki disungsung  subak-subak di sekitar Pulaki. Selain itu, Pura Pabean merupakan tempat pemujaan bagi para nelayan dan para pedagang antarpulau. Mungkin identik dengan Pura Ratu Subandar di Pura Batur dan Besakih. Pura Kertha Kawat juga termasuk kompleks Pura Pulaki sebagai stana Tuhan untuk memohon tegaknya moral etika dan hukuman dalam berbisnis. Di pura ini disebut stana Bhatara Kertaningjagat. Pura Gunung Gondol terletak 3 Km dari pusat Pura Pulaki sebagai stana untuk memuja Dewa Mentang Yudha yaitu Tuhan dalam fungsinya sebagai pelindung dari segala bahaya seperti Dewa Ganesha.

Kamis, 10 Oktober 2019

KODE ETIK BAGI PENDETA (SULINGGIH).

KODE ETIK BAGI PENDETA (SULINGGIH).

Sulinggih berarti ia yang berkedudukan (linggih) mulia (su), yang setiap perbuatan, perkataan serta pemikirannya demikian ketat diatur dalam "Sesana" yang berlaku. Sulinggih juga memiliki tugas yang sangat berat secara "niskala", bukan sebatas menyelesaikan ritual, namun memastikan ritual tersebut berhasil mendatangkan manfaat yang ingin dicapai. Karena tugas berat itulah maka masyarakat Bali sangat menghormati sulinggih.

Seorang Sulinggih tidak boleh lagi melakukan hal-hal selayaknya kebanyakan orang lakukan, dan jika Sulinggih bersangkutan 'melanggar' maka ada beberapa kutukan, temah dan pastu yang ditujukan padanya. Sebagaimana dikutip dari Lontar Rajapati Gondala [dalam Buku Shastra Wangsa] berikut:

ASU AMUNDUNG:
Asu Amundung adalah satu istilah yang ditujukan kepada seorang pendeta yang bertengkar di tengah pasar. Menurut shastranya, pendeta ini harus diupacarai prayascita ulang. Apabila ada pendeta yang bertengkar di depan rumah guru nabhenya, menurut shastranya jaman dahulu harus didenda sebesar lima ribu uang kepeng bolong. Demikianlah seorang pendeta yang bertengkar disamakan derajatnya dengan anjing atau asu.

ASU ANGLULU RING LONGAN:
Asu Anglulu ring Longan adalah istilah yang ditujukan kepada pendeta yang membantu seseorang melarikan seorang gadis. Menurut shastranya jaman dulu, pendeta ini harus dihukum denda lima puluh kepeng, dan diupacarai prayascita ulang. Demikianlah, seorang pendeta yang terlibat dalam melarikan gadis disamakan derajatnya dengan anjing di bawah kolong. [RPG]

ASU BAMARONG:
Asu Bamarong adalah sebutan yang ditujukan kepada seorang pendeta yang ketahuan berselingkuh dengan istri orang lain, walaupun perselingkuhan itu dilakukannya secara sembunyi-sembunyi. Menurut shastranya jaman dahulu, pendeta seperti ini harus didenda sebesar sepuluh Suku. Perselingkuhan itu bisa menurunkan derajat seorang pendeta yang disamakan dengan seekor anjing. [RPG]
Asu Jembut nganting karang:
/ sisya melupakan nabhe /
Asu Jembut nganting karang adalah sebutan yang ditujukan kepada seorang murid (sisya) yang melupakan guru (nabhe). [RPG]

ASU MAKUMKUP:
Asu Makumkup adalah istilah yang ditujukan kepada seorang pendeta yang mengawini pembantu atau kawula sendiri. Menurut shastranya jaman dahulu, pendeta seperti ini dibuang di dalam sumur sekalian dengan kawula yang sudah menjadi istrinya itu. Perilaku pendeta ini disamakan dengan seekor anjing. [RPG]

ASU MANAHUT IKUT:
Asu Manahut Ikut adalah sebutan untuk pendeta yang terbukti memperkosa seorang perempuan yang sedang mandi di tengah perkebunan atau pun di hutan. Pendeta pemerkosa ini menurut shastranya jaman dahulu harus ditangkap, diikat tangan dan kakinya, kemudian ditaruh di kuburan untuk selama-lamanya. Demikianlah, pendeta pemerkosa gadis disamakan derajatnya dengan seekor anjing. [RPG]

ASU MANGKET BALUNG
Asu Mangket Balung adalah istilah yang ditujukan kepada pendeta yang kedapatan sedang makan di tengah pasar atau di warung. Menurut shastranya, pendeta seperti ini harus diupacarai prayascita ulang. Kalau tidak akan semakin merosot kesuciannya. Perilaku pendeta seperti ini disamakan dengan seekor anjing. [RPG]

ASU MEREBUT TAI
Asu Marebut Tai adalah istilah yang ditujukan kepada seorang pendeta yang senang bertaruh-taruh di dalam arena perjudian. Menurut shastranya, pendeta seperti ini harus di-prayascita ulang. Demikianlah, pendeta penjudi disamakan derajatnya dengan anjing pemakan kotoran. [RPG]

*******************
Dikutip dari Buku Shastra Wangsa Hlm 110-112. Banyak lagi materi-materi penting dibahas dalam buku ini, terkait pusaka, pustaka dan manusia Bali.