Senin, 24 Agustus 2020

TATEBASAN PAMAHAYU SOT MIWAH MELIK

Kaketus saking lontar "Lawar Capung Ki Dalang Tangsub, Griya Agung Bangkasa"

Olih: I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S., M.Pd


TATEBASAN PAMAHAYU SOT MIWAH MELIK :

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin beras aperapata, base tampelan, benang atukel, jinah 225, duwur nyane susunin antuk nasi maklongkong 1, duwur nasine medaging tulung urip 1 medaging nasi ulam taluh bekasem, kawangen 11 siki, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, sangku medaging toya anyar, penyeneng alit (tahenan) 1, Pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan, Sesayut puniki munggah Sanggar Kamulan.


Tebasan Semaya Pati 

Tumpeng kapurancak asiki, ayam binanda, Yan wong Lanang ayam muani yan wong istri ayam luh, ayam bang suku dara, benang bang linamasan, sekul winaranta sinisir, kacang alimas, pinang atakep timun asiki, kacang ambungan, buah bancangan, woh-wohan jangkep, tamas, kulit sayut, raka, tumpeng besar, 4 sau petik berisi ; nasi saur, nasi saur, uyah, pesucian, sampyan jit goak, carunia ring ring sanggar Astawa sedahan semaya Pati, Hyang kala Pati. 


BAYUH OTON SANAN EMPEG

Umat hindu di Bali mempercayai bahwa, kelahiran seorang anak dan dalam kehidupan selanjutnya (semasa hidupnya) tiada terhindar oleh keadaan yang dalam urutan keluarganya memiliki kakak dan adik yang telah meninggal dunia, wajib melaksanakan upacara Sanan Empeg dengan mengitari berbagai sesaji atau banten searah jarum jam sebanyak tiga kali. 

"Sanan Empeg ini bermakna, di mana orang yang terlahir dan memiliki kakak atau adik yang sudah meninggal dunia, dikhawatirkan kehidupannya tidak seimbang” dan patut ditebus/dibayuh/diruwat.  Pustaka “Kembangrampe Lawarcapung” karangan Ki Dalang Tangsub, disebutkan bahwa:

“Iti ngaran pinahayu sanan empeg, maka pangilanganing papa pataka nira sang kari mahuripa, wus tininggalana de kakang arinia nguni, teka katekang papa gati sangsara ning pancering kakang arinia lawan kawitan ira. Mangkana pwa ya mapan wus kaparisudha dening rsinggana makabehan. Gunaning pamahayu sanan empeg kaweruhaken denta anakku, ika marmania angentasaken sakwehing lara rogha ring raganta”. 

Artinya: 

Ini namanya usaha pengentasan (bayuh/ruwatan) Sanan Empeg, sebagai sarana menghilangkan dan melenyapkan segala dosa dan kemalangan orang yang masih hidup, setelah ditinggalkan (mati) oleh saudaranya (yaitu kakak dan adknya) duluan, sampai dengan lima bentuk inti kesengsaraan yang ditinggalkan/diakibatkan oleh kakak dan aknya (yang telah mati) beserta leluhurnya. Demikianlah pahalanya oleh karena telah disucikan oleh para Rsi/Pandita seluruhnya. Gunanya Bayuh Sanan Empeg, ketahuilah olehmu anakku, itu adalah untuk mengentaskan/membebaskan segala kesengsaraan dalam dirimu.

Untuk menyeimbangkan itu, Sang mabayuh "Sanan Empeg" diwajibkan memiluk sejaji dengan "sanan" (alat pikulan berupa sebilah bambu), di mana beban di bagian depan dan belakang harus seimbang. Dengan beban yang seimbang itu mereka kemudian berjalan berputar mengitari tumpukan "banten" yang telah disiapkan. Sanan dimaksud melambangkan keseimbangan kehidupan. 

Anak yang demikian wajib untuk dibayuh sesuai pawetuannya, juga ditambahkan dengan tatanan sebagai berikut :


UPAKARANYA :

Surya: Dewa-Dewi dan di bawahnya Gelarsangha serta dilengkapi dengan ganjaran agung, mapenjor tiying gading apasang.

Kamulan: Pejati asoroh, Suci dan Canang Buratwangi saha nunas Wangsuhpada.

Pemedalan (kori): Bakar tujuh bungkul tempurung kelapa (nyuh maadan), usahakan apinya tidak boleh padam selama prosesi upacara berlangsung di Mrajan (matur piuning dijaga oleh orang yang di pandang bisa menggelar dan dipercaya)

Kutipan Sastra:

“Mapugpug madudus ring arepang lebuhing lawang, Upakarania: daksina pras ajuman 1, mabe sato biying, nasi wong-wongan bang, kepelan bang, getih matah atakir, segehan cacah, kepelan mancawarna, be bawang jahe. Saranania audus: gumpeng ketang, injin, padi, menyan, cendana, kayu sakti, welilang, trosi, mejakani, mejameju, mejakeling, samparwantu. Laluhunia: luhun pasar, pateluan, sema, pamuhunan, pempatan lan luhun margha agung”.

Bale: Ayaban minimal Tumpeng solas meBebangkit.

Tegen-tegenan: Tipat Nganten, Takilan, sarwa Pala Bungkal, Pala Gantung lan Pala Rambat.

Upakara Bayuh Oton jangkep nganut dina pawetuan sang pinayuhen. Wewehin bebayuhania:

“Sesayut pulingga adulang, sorohan guling bebangkit, suci 5 soroh, katutuan 1 soroh, sarwa genep sapretekaning bebangkit. Guling ika matatakin ngiyu anyar rinajah ‘Yama Mahakala’ segha sawakul, segha wakulan apasang, makakecer 1, tebu cemeng 5 keleng, jrimpen nyinggal apasang, jrimpen tunggul apasang, tumpeng putih kuning, raka genep, iwak sato putih siyungan mapanggang, belayag galahan, bungkak 5 warna, itik ginuling, pencok kacang, lalampad, sarwa pisang, sampiyan plawus, jangan sakawali, sukla pawitra, keraras biyu mas, daksina pras ajengan 2 soroh, artha 5555, lis gadang, lis gde, padudusan agung jangkep, isuh-isuh, panyeneng, kampuh gringsing, benang tatebus tri datu, sasagi genep. Malih beras 5 catu, lawe bang 5 tukel, belayag 50, sato bang pinanggang, tadah pawitra, nasi sokan sapanjang, grih baranak, mabe putih siyungan mapanggang, jinah 777, pisang sawarnania pada 7 bulih, bayuhan nganut dina.”.

(Buku Widhi Sastra)


PROSESI UPACARA :

Bersamaan dengan upacara bayuh oton digelar oleh Sang Sulinggih, Sang Pinayuh Sanan Empeg matur piuning di Kemulan – Taksu, diikuti dengan membakar Kawu Bulu pitung bungkul dan tidak boleh padam apinya selama prosesi.

Selesai matur piuning, kemudian sang pinayuhen di dudus dengan sarana mapugpug madudus setelah itu buka pakaian dan “Ampiggan” di atas bara api kawu bulu selanjutnya bersalin dengan pakaian lainnya.

Sang Sulinggih melakukan penglukatan terhadap anak yang di bayuh. Sang Pinayuh saat melukat menghadapi segan agung serta menggunakan selembar kain Gringsing Sanan Empeg.

Setelah itu Sang Pinayuh diajak adyus di lebuh dengan menggunakan berbagai mata air/pancuran (sesuai bayuh otonya).

Geringsing Sanan Empeg fungsinya hanya sebagai sarana upacara keagamaan dan adat, yaitu sebagai pelengkap sesajian bagi anak yang melakukan prosesi bayuh/ruwatan kelahiran. Kain Gringsing Sanan Empeg ini terkenal di masyarakat Tenganan Pegeringsingan. Serta kain ini juga bagi masyarakat Bali di luar desa Tenganan dipergunakan sebagai penutup bantal/alas kepala orang melaksanakan upacara manusa yadnya potong gigi. Ciri khas dan motif Sanan Empeg adalah adanya tiga bentuk kotak-kotak/poleng berwarna merah dan hitam

Perlu diketahui bahwa pada semua kain Geringsing (double ikat) pasti ada “telupuhnya” (motif pinggirnya) dan juga “penekek” (bagian paling pinggir). Serta proses pembuatannya pun sangat sakral. Kadang-kadang diisi pula tambang, “tetubahan” semacam hiasan kreasi di pinggir kain sesuai selera pembuat.

Rentetannya adalah sebagai berikut : setelah proses pembuatan dimulai, diawali dengan mencelupkan benang kedalam minyak lilin (minyak kemiri/malem) dan air serbuk kayu dalam wadah yang terbuat dan tanah liat (jeding) kemudian ditutup dengan kain putih hitam (gotia) guna menghindari adanya pengaruh roh jahat (leak).

Setelah ikatan pertama disimpulkan disertai dengan yadnya kecil yang terdiri dan : kembang sepatu, dauh sirih gulung, kapur sirih dan 2 set uang kepeng 11, pada lubangnya digantungkan benang katun yang diikat 2 kendi. Ikatan terakhir pada bahan hanya dapat diikat oleh wanita yang lewat masa menapouse.

Setelah berganti pakaian dengan tetap memakai kain Gringsing Sanan Empeg, Si anak yang di ruwat/bayuh menghaapi upakara lanjut mengitari berbagai sesaji atau banten searah jarum jam sebanyak tiga kali dengan sambil memikul Tegen-tegenan yang diakhiri dengan memakan Takilan dan apa yang bisa dinikmati.

Setelah makan pala bungkah, pala gantung dan pala rambat di tanam pada Lebuh kiri, kanan dan batas rumah.

Selanjutnya semuan pakaian yang digunakan dalam prosesi ruatan/mabayuh (melukat) dibakar di jalan dan abunya dimasukan ke dalam klungah nyuh sudamala lalu dianyut (lengkapi dengan pejati asoroh). Kemudian kenakan pakaian Sembahnyang.

Si anak yang di ruwat/bayuh menghadapi banten tataban Oton.

Prosesi diakhiri dengan Muspa dan Majaya-jaya.

Dengan dilakukannya Bayuh/ruwatan (pembebasan atau pelepasan) Sanan Empeg ini diharapkan anak yang diruwat yang hidupnya hina dan sengsara dapat berubah kemudian hidupnya lebih mulia dan bahagia.


JENIS UPAKARA BAYUH TAMPEL BOLONG ANUT PAWUKUAN

Dari berbagai jenis ruwatan yang ada di Bali jenis upakaranya memang telah dibakukan dan harus diselesaikan oleh seorang Pinandita, Bhawati dan Sulinggih yang ahli ruwat serta harus disertai dengan berbagai jenis sarana upakara saji. Adapun jenis upakara saji yang diperlukan antara lain : gecok, mentah mateng, lele sejoda, tumpeng pucuk mas, ingkung, opor, abon-abon, sega golong, panggang ingkung, tukon pasa pisang pulut, benang (merah, putih, kuning, hitam, baro-baro, pliringan, kalangan), pondok tetel, tumpeng janganan, tumpeng robyong, ambeng asahan, rasukan sapengadeg, mori, cencengan pitik sejoda, gagar, mayang, cerik poleng, gadung mlati, pandan binetot, bangun tulak, sindur tumbar pecah, cara apmil gading.


Banten Bayuh Dewasa Ala

Caru  ring paturon;

Suci dene genep adanan, muwang caru ring natar, luwirnia sega 11 (solas), gelar sanga jangan sakewali, rumbah gile, sasak mentah (nasi atangkih berisi darah mentah), muwah sekul mawadah wakul, iwak pejagalan, wiwidean anut sasih, sekul segegem iwaknia amel-amel, muah seselambunan, wawidehan olah dene sangkep, sajeng aguci, pancakolika, langsub sapere  karania, payascite suci asoroh, segeh timbanan sakulak panci, iwak sate brumbun muwang sate wiring pinanggang, sahe raka sarwa galahan, genep sapere karania.

Senin, 17 Agustus 2020

PESAN LEWAT MIMPI

PESAN LEWAT MIMPI
De........ingatlah.....!
Satu pohon dapat membuat jutaan batang korek api,Tapi satu batang korek api juga dapat membakar jutaan pohon. Jadi, satu pikiran negatif dapat membakar semua pikiran positif. Korek api mempunyai kepala, tetapi tidak mempunyai otak, oleh karena itu setiap kali ada gesekan kecil, sang korek api langsung terbakar. De... mempunyai kepala, dan juga otak, jadi de..... tidak perlu terbakar amarah hanya karena gesekan kecil. 
 
Ingatlah juga......!
Ketika burung hidup, ia makan lalat, Ketika burung mati, lalat makan burung. Waktu terus berputar sepanjang zaman. Siklus kehidupan terus berlanjut. Jangan merendahkan siapapun dalam hidup, bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapa diri kamu... De.... 
 
Gede....... mungkin berkuasa tapi WAKTU lebih berkuasa daripada dirimu.... Waktu kita sedang jaya, kita merasa banyak teman di sekeliling kita.Waktu kita sakit, kita baru tahu bahwa sehat itu sangat penting, jauh melebihi HARTA. Ketika kita tua, kita baru tahu kalau masih banyak yang belum dikerjakan. Dan, setelah di ambang ajal, kita baru tahu ternyata begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia. 
 
Kengetakna.........!
Hidup tidaklah lama, sudah saatnya kita bersama-sama membuat HIDUP LEBIH BERHARGA.Saling menghargai, Saling membantu dan memberi, juga saling mendukung. Jadilah teman perjalanan hidup yg tanpa pamrih dan syarat. Apa yang ditabur, itulah yang akan gede...... tuai...!!! 
ITU ADALAH HUKUM PASTI... Hanya Waktunya yang belum PASTI...!!!

#tubaba//Om tat zat, Om Rahayu#

APA SIAPA DAN BAGAIMANA SEORANG WALAKA, EKA JATI, DWI JATI SERTA TRI JATI ITU

APA SIAPA DAN BAGAIMANA SEORANG WALAKA, EKA JATI, DWI JATI SERTA TRI JATI ITU

Oleh: I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S., M.Pd

Kerohanian

Kerohanian adalah hal-hal yang berkaitan dengan penyucian diri secara lahir batin untuk dapat menghubungkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam ajaran dan golongan kerohanian menurut Hindu Dharma disebutkan sebagai berikut :
  • Ajaran kerohanian merupakan ajaran yang berkaitan dengan ketentraman jiwa.
  • Proses Penyucian untuk Golongan kerohaniawan dapat dilakukan dengan cara :
    • Mewinten yang bertujuan untuk  pembersihan diri secara lahir batin.
    • Dwijati yaitu melalui proses tata upacara diksa yang mempunyai wewenang luas dan lengkap dalam pelaksanaan ”Loka Pala Sraya” untuk memimpin atau menyelesaikan berbagai yajña termasuk dalam memberikan Air Suci (Tirtha).
    • Tri Jati sebagai proses penyucian untuk para Nabe dan Dang Hyang.
    • Dan sebagai upaya pelestarian seni budaya dalam lagu-lagu suci kerohanian yang dalam beberapa contoh Dharma Gita, biasanya setiap slokanya juga akan dapat membentuk budhi nurani yang suci.
    Dan setiap yang beragama Hindu disebutkan bahwa wajib menyucikan diri untuk dapat menghubungkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui proses penyucian.

    Walaka

    Walaka memiliki arti dalam kelas nomina atau kata benda sehingga walaka dapat menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan.

    Jadi Walaka adalah kelahiran sebagai seorang manusia yang tanpa melakukan kerohanian atau hal-hal yang berkaitan dengan penyucian diri secara lahir batin.


    Ekajati

    Ekajati atau (Eka Jati) adalah tingkatan pertama dari kesucian seorang sulinggih sebagai pemangku pura atau pinandita dengan cirinya menggunakan udeng "mebongkos nangka", yang mempunyai tugas dan kewajiban dalam hubungan kemasyarakatan sebagai seorang walaka.

    Proses upacara ekajati yang dilaksanakan dengan cara mewinten sebagaimana disebutkan dalam syarat - syarat menjadi pemangku, ekajati berasal dari bahasa sanskerta eka dan jati. 
    • Eka berarti satu
    • Jati seperti berasal dari akar kata ja yang berarti lahir. 
    Jadi Ekajati berarti lahir sekali, yakni lahir hanya dari ibu kandungnya sendiri. Rokhaniawan yang tergolong dalam kelompok Ekajati antara lain :
    • Pemangku atau Jero Mangku,
    • Bhawati
    • Jero Gede atau 
    • sebutan lain sesuai dengan desa kala patra dan tingkat kepemangkuannya

    Golongan Eka Jati

    Golongan Eka Jati adalah orang suci yang melakukan pembersihan diri tahap awal yang disebut Mawinten. Setelah melewati tahap mawinten, golongan Eka Jati dapat memimpin upacara keagamaan yang bersifat Yadnya. Orang suci yang termasuk kelompok Eka Jati, yaitu pemangku pinandita, balian, dalang, dukun, wasi, dan sebagainya.

    Dalam Maha Sabha II tahun 1968 Parisada Hindu Dharma, tujuan ekajati ini dilaksanakan agar seorang ekajati dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan dapat meningkatkan kesulinggihannya pada tingkatan Dwi Jati untuk dapat mendalami ajaran Weda selengkapnya.

    Dwi Jati

    Dwi Jati ("Dwijati") berasal dari dua suku kata yaitu "Dwi & Jati", Dwi = 2 sedangkan Jati berasal dari akar kata "Ja" yang berarti lahir sehingga,

    Dwi Jati adalah lahir untuk kedua kalinya (reinkarnasisebagaimana disebutkan sesana pinandita sebagai seorang sulinggih
    1. Lahir yang pertama sebagai bayi dari kandungan ibu (disebut welaka)
    2. Lahir yang kedua dari guru suci nabe melalui upacara mediksa
    Dalam Lontar Siwa Sasana disebutkan bahwa ”sejak seseorang mendapat diksa dalam upacara penyucian ini, mereka dikenal sebagai Dwijati dan dari padanya diharapkan mulai mematuhi segala peraturan kebrahmanaan”.

    Rohaniawan/pandita dan pinandita yang melalui proses tata upacara diksa inilah yang mempunyai wewenang luas dan lengkap dalam pelaksanaan Loka Pala Sraya itu yakni wewenang dalam memimpin atau menyelesaikan berbagai yajña termasuk dalam memberikan Air Suci (Tirtha).

    Seorang Dwijati disebutkan sulinggih. Yang disebut dengan Sulinggih / Pendeta antara lain :
    1.     Padanda
    2.     Bhagawan
    3.     Rsi
    4.     Bujangga
    5.     Pandita
    6.     Empu
    7.     Dukuh

    Seorang Dwijati yang sudah berubah dibanding ketika masih “walaka” yaitu:
    1. Amari Sesana, artinya perubahan kebiasan dan disiplin kehidupan,
    2. Amari Aran, artinya perubahan nama (Bhiseka),
    3. Amari Wesa, artinya perubahan tata berpakaian.
    Sehingga beliau yang telah melaksanakan upacara “dwijati” ini, yang dalam siwa buddha disebutkan mereka yang telah dapat menjalankan dharma “Kabrahmanan”.

    Tri Jati

    Tri Jati ("Trijati") berasal dari dua suku kata yaitu "Tri & Jati", Tri = 3 sedangkan Jati berasal dari akar kata "Ja" yang berarti lahir sehingga,

    Tri Jati adalah lahir untuk ketiga kalinya sebagai seorang Nabe, Dhang Guru, Sinuhun sebagaimana disebutkan sesana pinandita sebagai seorang sulinggih

    Golongan Rohaniawan yang di Tri Jati
    1. Ida Sinuhun adalah golongan Trijati, karena beliau telah memikiki kumpi, kompiyang dharma.

    2. Guru Nabe | yang bertindak sebagai seorang guru utama dalam proses pendidikan & pembelajaran khusus dalam tradisi aguron-guron yang bertujuan untuk dapat memantapkan dan mengabdikan hidup sepenuhnya dibidang kebenaran dan kesucian.

    3. Dang Hyang.

    #tubaba@griyangbang#

    Atma Tatwa

    Atma Tatwa 
    Om awignam astu.

    Nihan pari kramaning Atma Tatwa, ngaran tingkahing wang mati lan kena winulatan sawania sawangsania, yaning brahmana, ksatria, wesia, sudra, aywa ta sira angadegana dening rontal, ala dahat.
    Tekaning upakarania tan prasida, ila estu palania, winastu dening Sang Hyang Prajapati, apan sira mancaning ala ayu, aywa murug linging sastra iki. Muang maka wenangnia, yening Brahmana, Ksatria, Wesia, ilalang juga, utamania, kang maka pengawak dening kuasa, galihana dening cendana merik, sarwa sandinia alaning pering gading, maka ulunia kalungah nyuh gading, rambutania dening lawe ireng, kulitania dening daluang kayu, surati sastra, Pancaksara, gelari padma, ri dadaning lalang, mesi sastra Dasaksara, Ong Kara mula, Rwa Bhineda, ikang lalang, idepna ngke ning wang wati, dulurane upakara mati sekrama mangkana tingkah sang utama.
    Muwah yaning Sudra, wenang ngawe awak-wakan dening majagawu, tiningkah kadi nguni, gawanin saupakarania kading lagi, yan wus puput, emban maring sastra, ulapin atman sang mati, kinon mulih ring dudungania nguni duking kari hurip, irika prasida sang atma pratista, mangkana tingkahnia, telas.

    Iti Sastra  Pitra Tattwa Rajiya, ngaran, indik sekramaning wang mati mapendem, yan setahun, duang tahun, tigang tahun, muah selawase tan maprateka. Yan wawu setahun maprateka, tan ana wignan sang hyang atma, nanging wange mati bener, yan liwur setahun, atmania matemahan Dete, Tonyan setra mahas ring desa-desa, ngawe agering, mangkana alania.
    Muah wang mati mapendem, yang tan maprateka, taulaning wangke ika : muah ana pawarah Bhatara Yama mungguing sastra, ling Bhatara Yama, uduh sang pandita ring jana loka, yan ana wang mati, sumuruping kesiti darani, aja sira mreteka marep taulaning wangke ika, palania tan prasida ilang letuhing atma, tan prasida kang prateka, apan wangke ika satmulih ring jeroning garban Sang Hyang Ibu Pritiwi, waluya sampun mageseng, mawak tanah, saletuhing pertiwi rumaket ring wangke ika, teka wenang sang pandita ngarcana ayu atman sang prateka. 

    Mangke wenang sang pandita nugraha ring manusa loka, maka awak-awakan sang mati, sida mulih atmania ring biomantra siwa, wus amanggih rahayu, telas letuhing atma tekaning wangke nia. ning gawenin manik, maka maka pengawak sang mati, yan wangsa Brahmana, Satriya, Wesya, candana merik anggen awak-awakan sang mati, panjangnia selangkat ring semusti, melarnia petang nyari mesi sastra Pancaksara, Dasaksara, Triaksara, Ongkara Mula, Rwa Bhineda, muah wong-wongan, idep wongkening wang mati ika, duluran upakara mati sakrama, ring desa wenang upakaranin, ika tan ana salah.
    Muwah wangke mapendem, ika wenang ngendag ring dina pabresihan kala esuk, sawa kersian ika, masuk ring we kumkuman, muah toyan kalungah nyuh sasih, gawenin kuwu, wehana dahar kasturi, suci, manik pengawak adegan sang mati, imbaning ring sastra, ulapin atman sang mati kinon mulih dudungania duk kari maurip, irika sang atma kapratista mawak candana merik. tekaning petiwa-petiwa, tumut geseng, sawa kersian ika satmaka awak-awakan sang mati, aywa maprateka tulang juga, sang mati matanem, idep maprateka I Buta Cuwil, aran tulang ika, atmane tan keni prateka, mangkana kajaring sastra iki.

    Muah yan wang sudra mati matanem majagau wenang ngangge awak-awakan sang mati, karana tunggal kadi nguni. yan mara mangkana, kena upadrawa sang mangentas De Hyang Praja Pati, muang sang ngarepi sawa, sang pitara kang inentas, wawu lumaris ring tan jaran santun, kapanggih ring widyadara widyadari, atma rauh marupa Cuwil, mehambu apek apengit, melayu para watek Apasari duleg angadek ambuning atma, kang wawu rawuh inatur-atur ring Bhatara guru, atma letuh iki rawuh, raris tinundung angimbi dwara wesi, kinan mungwing wara, ring jurang ajerem, meserira Dete mengerih, ngadakang gering merana sebumi, angrusak sang wiku ngerusak desa-desa muang sarwa pasu, amati-mati wwang, amanasi gumi angawe agering tan pegatan, ngpus gumigel ngelem puyeng, uyang paling tan wenang tinambanan. muah sang pandita makadi sang ratu ring madya loka, aywa murug Ling nging sastra iki, palania rusak ikang sabumi nira............

    SABDA IDA BHATARA SINUHUN SIWA PUTRA PARAMA DAKSA MANUABA

    SABDA IDA BHATARA SINUHUN SIWA PUTRA PARAMA DAKSA MANUABA.

    "Anakku sang para pandita mpu mwah wiku sadaya, sang mahyun tuwa janna, luputing sangsara papa, kramanya sang kumingkin akarya ngalem drwya, mwang kumutug kaliiranging wwang utama, awya mangambekang krodha mwang ujar gangsul, ujar menak juga kawedar denira"
    "mangkana kramaning sang ngarepang karya, awya simpanging budhi mwang krodha; yan kadya mangkana patut pagawenya, sawidhi widananya, tekeng ataledanya mwang ring sesayutnya, meraga dewa sami, tkeng wawangunan sami"
    maksudnya:

    anaku para pandita mpu dan sulinggih semua yang melaksanakan kewajiban sebagai orang tua/dituakan (serta berkeinginan) terbebas dari kesengsaraan dan penderitaan (papa), tata cara orang yang bersiap-siap akan melaksanakan upacara yadnya, pikiran yang senanglah (ikhlas) yang menjadi baik. janganlah terlalu menyianyiakan milik (harta benda) serta patut mengikat sikap prilaku, orang yang utama janganlah hendaknya berlaku marah serta mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh, hendaknya berkata yang baik dan santun diucapkan oleh pelaku yadnya.
    demikianlah prilakunya orang yang melaksanakan yadnya janganlah menyimpang dari budhi dan prilaku marah, bila (yang) demikian keadaannya dapat dilaksanakan, semua persembahan kehadapan Tuhan, hingga alas upacaranya serta sesayutnya akan diterima oleh Beliau sampai pada bangunan (upacara) semuanya.
    "kayatnakna awya saulah-ulah lumaku, ngulah subal, yan tan hana bener anut linging haji. nirgawe pwaranya, kawalik purihnya ika, amrih ayu byakta atemahan ala"
    "mangkanawenang ika kaparatyaksa de sang anukangi, sang andiksani, ika katiga wenang atunggalan panglaksana nira among saraja karya. awya kasingsal, apan ring yadnya tan wenang kacacaban, kacampuhan manah weci, ambek branta, sabda parusya. ikang manah stithi jati nirmala juga maka sidhaningkarya, margining amanggih sadya rahayu, kasidhaning panuju mangkana kangetakna. estu phalanya"
    maksudnya:
    hendaknya waspada dan hati-hati, jangan sembarangan berbuat/melaksanakan (yadnya) asal jalan saja. bila tidak sesuai, benar dengan ketentuan ajaran sastra agama, sia-sialah hasilnya, sebaliknya yang akan diperoleh mengharapkan kebaikan pasti tidak baiklah hasilnya.
    demikianlah sepatutnya diwaspadai oleh para tukang banten, sang andiksani (sulinggih pamuput/pemangku) serta yang memiliki yadnya. ketiganya itu patut menyatukan pandangan dan langkahnya dalam melaksanakan yadnya. jangan saling bertetangan/berselisih sebab dalam pelaksanaan yadnya tidak boleh dipengaruhi dan dinodai oleh pikiran kotor, pikiran bimbang, kata-kata kotor yang tidak pantas dan kasar. pikiran suci dan hening serta senantiasa terpusat, dilandasi rasa bhakti-lah yang akan mengantarkan kepada keberhasilan yadnya yang dilaksanakan. sebagai jalan menuju kebahagiaan serta keberhasilan tujuan yang diharapkan. hendaknya selalu diingat, semoga berhasil.

    Rabu, 12 Agustus 2020

    TRI SADAKA adalah gagelaran yang di gunakan oleh Sarwa PANDITA di Bali

    TRI SADAKA adalah gagelaran yang di gunakan oleh Sarwa PANDITA di Bali
     
    Oleh: I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S., M.Pd
    Meskipun ada umat yang menganggap Dewa–Dewi merupakan Tuhan tersendiri, namun umat Hindu memandangnya sebagai cara pemujaan yang salah. Dalam kitab suci mereka, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda: 

    ye ‘py anya-devatā-bhaktā yajante śraddhayānvitāḥ, te ‘pi mām eva kaunteya yajanty avidhi-pūrvakam (Bhagawadgita, IX:23) 

    Arti: 
    Orang-orang yang menyembah Dewa-Dewa dengan penuh keyakinannya, sesungguhnya hanya menyembah-Ku, tetapi mereka melakukannya dengan cara yang keliru, wahai putera Kunti (Arjuna)

    Dalam agama Hindu, Sampradaya (IAST: sampradāya) dapat diterjemahkan sebagai "tradisi" atau "sistem religius". Sampradaya berhubungan dengan pelayanan berturut-turut yang disiplin sebagai jalan spiritual dan mengandung jaringan hubungan yang rumit yang membuat stabilitas identitas religius menjadi jelas saat jaringan tersebut menjadi tidak stabil. Perbedaan utamanya adalah sebuah garis keturunan guru tertentu disebut parampara. Maka dari itu konsep sampradaya terkait erat dengan realitas yang konkrit dari guru-parampara - garis keturunan guru spiritual sebagai pembawa dan pemancar tradisi. Diksa (pelantikan) adalah sarana untuk dapat menjadi anggota suatu sampradaya, itu merupakan prosedur ritual.

    Penganut Hindu di India sejak berabad-abad telah berkelompok-kelompok menjadi ratusan sekta antara lain: Siwa Sidanta, Pasupata, Linggayat Bhagawata, Waisnawa, Indra, Saura, dan lain-lain.

    Maharesi Agastya seorang pemimpin sekta Siwa Sidanta menyebarkan pahamnya ke Indonesia pada abad ke-8, selanjutnya masuk ke Bali pada abad ke-10 kemudian disempurnakan oleh Mpu Kuturan pada abad ke-11 dan Danghyang Nirarta pada abad ke-14.

    Sekta Siwa Sidanta menekankan pemujaan Lingga dengan tokoh Trimurti (Brahma, Wisnu, Siwa) dan Tripurusa (Siwa, Sadasiwa, Paramasiwa) sebagai inti.

    Kitab suci Weda yang digunakan disebut Weda Sirah (pokok-pokok Weda). Setelah kedatangan Mpu Kuturan dan Danghyang Nirarta, mayoritas penduduk Bali adalah Sekta Siwa Sidanta.

    Dr. I Made Titib dalam bukunya: Ketuhanan dalam Weda, Pustaka Manik Geni, 1994 di halaman 78 menyatakan bahwa sampradaya adalah sekta. Cuplikan kalimatnya sebagai berikut:

    … Kitab-kitab seni sastra dalam bentuk puisi Sanskerta semakin banyak lagi setelah berkembangnya gerakan Bhakti melalui Sampradaya-sampradaya atau sekta-sekta yang berkembang pada masa sesudahnya …

    Dictionary of American English, Longman, 95 Church Street, White Plains, NY 10601, 1983 menyatakan arti kata sekta sebagai berikut: Sect, agroup of people, sometimes within a larger group, having a special set of (esp. religious) beliefs.

    Sampradaya-sampradaya yang ada di Bali dewasa ini dapat dikatakan suatu sekta baru (baca: lain dari Sekta Siwa Sidanta) jika mempunyai “special set of religious beliefs” yang berbeda dengan Sekta Siwa Sidanta, terutama yang menyangkut Tattwa, Susila, dan Upacara.

    Sejak 1999 di Bali muncul istilah Sarwa Sadaka atau Sarwa Pandita sebagai cetusan keinginan kelompok-kelompok warga mendudukkan Sulinggih mereka sejajar dengan Pedanda (yang lebih populer sebagai Pendeta sejak zaman Dalem Waturenggong di abad ke-15). Kelompok ini menggunakan istilah Sarwa Sadaka/Sarwa Pandita sebagai counter Trisadaka pada jaman dahulu. 

    Istilah Trisadaka sejak berabad-abad telah ditafsirkan keliru, jika mengacu pada Lontar Eka Pratama yang menyatakan bahwa tiga kelompok Sadaka adalah: Sadaka yang berpaham Siwa, Sadaka yang berpaham Bauddha (Boddha), dan Sadaka yang berpaham Mahabrahmana (Bujangga).

    Kekeliruan tafsir itu terjadi karena Sadaka yang berpaham Siwa dan Bauddha terlanjur diterjemahkan sebagai Pedanda Siwa-Boddha. Keterlanjuran itu membuat gerah para sisia Pandita Mpu, Rsi, Bhagawan, Dukuh, dll. yang juga disyahkan sebagai Sulinggih yang berpaham Siwa. Yang dimaksud dengan berpaham Siwa adalah penganut Sekta Siwa Sidanta.
    Menurut IDA SINUHUN SIWA PUTRA PRAMA DAKSA MANUABA, Griya Agung Bangkasa, Jalan Tangsub No.4 Banjar Pengembungan, Desa Bongkasa, Abiansemal-Badung; menegaskan bahwa Trisadaka itu merupakan agem-ageman atau gagelaran sulinggih pada saat muput upacara.

    IDA SINUHUN SIWA PUTRA PRAMA DAKSA MANUABA (keturunan langsung yang 8 dari Ki Dalang Tangsub), mebeberkan secara lugas tetang Tri Sadaka itu; menurut beliau Tri Sedaka itu sujatinya merupakan agem-ageman/tata lungguh, yaitu;
    1. Sang sulinggih itu disebut menggunakan gagelaran BHUJANGGA saat beliau mulai mempersiapkan alat-alat pemujaan (siwaupakarana), membersihkan badan, tempat duduk, memakai wastra kuwuban, santog, lamak dan siap menghadapi upakara serta ngutpeti-stiti toya ring suambha, nedunan bhatara tirtha, mesirat ring angga ping tiga, ngremekin bija/bhasma dan menggunakan bija. Gagelaran BHUJANGGA=MUJA ANGGA/membersihkan/mensucikan diri.
    2. Sulinggih disebut menggunakan agem-ageman Bodha saat beliau mulai  menggunakan sirowista, ngurip gentha, ngaksama bajra, waranugraha, apsudewa, pancaksaram stawa, gangga sindhu stawa, gangga dewi stawa, ngurip tirtha, sembah kuta mantra, ngastawa panca gangga panca dewata, nglukat banten, tirtha byakawon, tirtha durmangala, tirtha prayascita, tirtha pangulapan. Wawu sang sulinggih nganggen genitri, sirat bahu, anting-anting dan guduha, dilanjutkan pangastawan penuwuran bhatara bhatari. Gagelaran Bodha=ngargha tirtha
    3. Sang Sulinggih disebut nganggen agem-ageman Siwa, setelah beliau ngelinggihang CATUR DASA SIWA RING ANGGA dan menggunakan BHAWA sampai upacara selesai.

    Penggunaan istilah Sarwa Sadaka/Sarwa Pandita sebagai counter Trisadaka (tiga kelompok pedanda di masa lalu) dalam upaya menunjukkan eksistensi Pandita Mpu, Rsi, Bhagawan, Dukuh, dan lain-lain.
    Sebenarnya kurang tepat, karena pengertian Sarwa Sadaka dapat dirumuskan sebagai Semua Pendeta dari berbagai Sekta, kecuali kalau memang ada terkandung maksud di kemudian hari bila Sampradaya eksis sebagai Sekta, maka para Pendetanya mempunyai legitimasi yang sama dengan Sulinggih/ Sadaka yang ada sekarang.

    Jika tidak demikian, istilah Sarwa Sadaka sebaiknya tidak digunakan, cukup dengan penegasan PHDI dalam bentuk bisama, bahwa yang dimaksud dengan Sarwa Sadaka adalah Sarwa Pandita/Sulinggih yang menggunakan tiga agem-ageman Bujangga, Boda dan Siwa setiap menyelesaiakan upacara di Bali.

    Sehingga setelah sang sulinggih menggunakan ketiga gagelaran/agem-ageman (Bujangga, Boda dan Siwa) tersebut maka barulah sebuah upacara yang digelar dapat disebut selesai/puput kapuput olih sang meraga siwa.

    #Tubaba@griya agung bangkasa#
    #I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S., M.Pd#

    Upakara Ngerapuh Carik atau sawah

    Upakara Ngerapuh Carik atau sawah

    Mengenai membuat merajan, maka sesuai dengan petunjuk lontar Niti Gama Tirta Pawitra, maka minimal ada tiga pelinggih yang disebut Tri Lingga, yaitu Kemulan Rong Tiga, Ratu Anglurah dan Taksu, ini disebut Merajan Alit Tri Lingga, dan ini sudah cukup untuk tingkat rumah tangga. Andaikata lahan memungkinkan maka bisa membuat Panca Lingga yang mana dari Tri Lingga tadi ditambahkan Pelinggih Parahyangan dan Padma. Jika melebihi Panca Lingga maka itu sudah masuk kategori Merajan Gede. Namun jika lahan tidak memungkinkan untuk Tri Lingga sekalipun, maka sesuai dengan keputusan Parisada Hindu Bali tahun 1999, cukup dibuatkan Padmasari saja, jadi membangun Padmasari dan pelinggih penunggun karang sudah cukup.

    Kalau ada umat berkeinginan atau berencana mengganti fungsional atau mengalih fungsikan sawah, kebun, belukar menjadi perumahan atau tempat usaha, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, baik areal bekas milik sendiri atau karena membeli membeli seperti konsep diatas ada beberapa upakara yang patut dilaksanakan antara lain :

    Membangun sanggar tutwan di pojok antara utara dan timur dari batas tanah yang akan dialihfungsikan tersebut, lalu naikkan upakara :

    1. Upacara pejati 3 soroh, haturan kepada Ida Bhatara Surya, Luhuring Akasa, Pretiwi.
    2. Tebasan Sidha Sampurna 1, isinya, nasi ditelompok, ayam putih dipanggang, buah-buahan dan jajan lengkap, dibuat diatas wanci, dialasi kulit tebasan.
    3. Pengambeyan 1, dagingnya bebek diguling buah-buahan dan jajan lengkap.
    4. Pabresian
    5. Pras penyeneng
    6. Segawu tepung tawar, lis.
    7. Daksina 1
    8. Katipat kelanan, ajuman putih kuning, canang genteng 1 tanding, segehan 2 tanding.
    9. Tetabuhan tuak arak berem.
    10. Nuhur tirtha di Pura Pengulun carik.
    11. Canang tapakan atau linggih yang akan di kembalikan ke Pura Pangulun Carik nantinya.
    12. Carang dapdap penuntunan, berisi benang tukelan, juga uang bolong 225 keteng.
    13. Santun soroh pat sebagai pemogpog di bawah sanggar tutwan, ditambahkan pras diatas santun, uang kepeng 225.

    Ini lagi upakara ngehed sawah atau tegalan, antara lain sebagai berikut :

    1. Pras Penyeneng
    2. Rayunan Putih Kuning.
    3. Bubur mawadah suyuk 5 tanding.
    4. Katipat kelanan
    5. Pras Ajengan.
    6. Sasantun 1 dengan sesari 727 keteng.

    Sedangkan caru di areal tanah bekas sawah, tegalan, atau belukar itu antara lain :

    Itik hitam jadikan caru, diolah menjadi sate lembat dan asem sebanyak 5 tanding, dengan ketengan 33 keteng, semua membawa sengkui, kulitnya dipakai layang-layang, sasantun 1. Lalu parisudha dengan tirtha dalam sangku tembaga, sirat ke arah kiri 3 kali dengan mantra :

    Ong Nini Pamali Wates tan hana jurang pangkung, aku Ibu Pritiwi angelebur saluiring mala, Ong Bhuta sih, Kala sih, Dewa purna, Ong Sa Ba Ta A I.

    Ehedan Upakara antara lain sebagai berikut :

    1. Ngastawa upakara Pejati yang ada di sanggar tutwan, sraya memohon tirta kakuluh yang dipakai untuk memarisudha tempat tersebut.
    2. Upakara di Surya terlebih dahulu, meminta upasaksi kepada Hyang Siwa Raditya, lalu upasaksi ke Pengulun Carik, luhur akasa, pretiwi, dan kayangan-kayangan yang ada.
    3. Memuja caru diatas, atau caru tambahan yang disiapkan oleh umat, karena yang tertulis diatas adalah caru uttama, dan bila dirasa perlu bisa ditambah dengan caru Panca Sata, atau yang lebih tinggi, dengan pujanya masing-masing.Layang-layang caru itu ditanam di tengah-tengah areal, bersama dengan upacaranya sekalian.
    4. Yang memiliki tanah kemudian dilukat, lalu bersiap-siap muspa, matirta dan memakai bija.
    5. Lalu acara mengembalikan linggih Ida Bhatara Sri ke Penguluning carik, kalau tanah tegalan, mengembalikan Sang Hyang Tegal ke pura Sang Hyang Hyang Tegal yang terdekat.
    6. Selesai upacara ngerapuh carik tersebut.

    Upakara Ngawit mekarya Wewangunan

    Dasar Bambang

    Tumpeng duang bungkul, mareruntutan jaje raka-raka magenepan, bene siap biying mapanggang, sampian tangge, banten punika maaled kulit peras.

    Canang Pendeman

    Canang burat wangi, canang pagerawos, canang tubungan, pasucian suang-suang atanding Kuangi, keraras, misi pipis solas (11) keteng, kuangene merajah ongkara merta.
    Dipuncakne, dagingin kwangen, misi pipis telung dasa telu (33) keteng.
    Sampian banten pendemane, mewadah bungkak nyuh gading sane matulis antuk ongkara, rarsi kaput antuk kasa, tegul antuk benar catur warna, luwire: putih, barak, kuning, selem.

    Caru Pengeruak dan Mantra

    Ngaturang banten durmanggala, banten parascita, katur ring Sang Buta buana. Segeh agung ring Sang Buta dengen.

    Pakulun sang kale amangkurat, sang kala taun, sang kala bedawang jenar sang kala dumerane, sang kala wisese, mekadi sire rah nini betari durge, den suke anadah, caru aturanne sami, Ong sampurna ya namah swahe.

    Banten Pengeruak dan Mantra

    Canang wangi, daksina abesik, maruntutan tetebasan jage satru abesik, segeh agung abesik, tatebasan sapuhan abesik, muah nasi kojongan abesik, katur ring pemali agung, satmaka manggen nyiluran jiwan sang nyapuh ring pretiwi, mali penek abesik, mabe bawang jae, kuangen misi padang lepas merurub kase.
    Ong Sang Hyang pertiwi jati, makadi Sang Hyang akasa, Sang Hyang candra, Raditie, lintang trenggana mekadi sang Hyang dewata, ulun akerta nugraha, ring padanira pakulun, manusanire angadegaken, wewangunan, arca meru arcane, pangi Hyang-Hyang ire Sang Hyang tari sandie, maka pangulaning jane pade.
    Ong Sang Bang Tang Ang Ing Nang Mang sang Wang Yang.

    Sarana dan mantra

    saranane dasare sane medaging bate, merajah padme, medaging tulisan dasaksare, se be te a i na ma si we ye.
    Batu bulitan hitam, dagingin tulisan merajah, tri aksara, Ang Ung, Mang.
    Bate megambar Bedawang nale, ditundune medaging tulisan Angkare. Yan tan wenten bate paras wenang (sesuaikan dengan situasi dan kondisi).

    Mantram pengurup pasupati.
    Ong Ang Ung mang Brahme Wisnu perame
    saktiem raja pale loke nate murti saktiem,
    Gane teke parayo janem, Ong Ah rah patastreye yanamah,
    Ang Ah Ah, Ang Ang sidi bane ya namah suahe.

    Upakara dan Mantra Mengukur (nyikut) Karang

    Daksina, katipat kelanan, canang tubungan marerep, peras penyeneng, sodayan, asep menyan, segaan takep api.
    Kita sang kala bumi, sang kala desa muka,
    Sang kala agung, kewasa sire mangane ringulun,
    Rungenen, pemastun ningulun, tule manuk tiga kali ucap (3x)
    Nyikut, karang, tegal, umah duk nyumunin
    Ong Ang Ung Mang dewa sikse, Sang Hyang gune,
    Karunganire Hyang Perama wisesa, wicet suahe.

    Pangimpas Buta
    Ong Ang bute siksa ayu werdi sarwe mingmang
    gune wisic wine siniem

    Nunas Tirta Suci.
    Ong padme sane ya namah,
    Ong i be sat a he,
    Ong ye na ma si we,
    Mang Ang Ung namah,
    Ong Aum dewe paretiste ya namah.

    Ong sa ba ta he i,
    Ong name siwe ye,
    Ang Ung Mang namah.

    Ong gangge saressuati sindu, wipase kausiki nadi,
    Samune mahe saresta sarayu ca maha Nadi,
    Ong gangga dewe maha punie, gangge sahe serame dini,
    Gangge terangge same yukti, gangge dewi,
    tadu name merthamjiwani,
    Ongkaresare buana pada mertha manahare,
    Ong utpatike sure sance utpetiwe garasce,
    utpeti sarwe itance, utpetiwe sari wahinan.

    Piteges Sesajen

    Banten pengambean mapiteges = pemanggilan atas atma (urip)
    Banten sambutan mapiteges = mapekukuh sang hyang atma.
    Banten janganan mapiteges = pasuguh nyama catur.

    #tubaba@griyangbang#