Minggu, 14 Juni 2020

Puisi ulang tahun SMP Negeri 4 Abiansemal.

Puisi ulang tahun SMP Negeri 4 Abiansemal.

Oleh: I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S. M.Pd

Sekolah SMP Negeri 4 Abiansemal adalah tempat orang melakukan aktivitas belajarnya. Perkembangan zaman dan teknologi juga merubah sistem dan ruang lingkup sekolah. Sekolah SMP Negeri 4 Abiansemal adalah lembaga pembelajaran bagi manusia untuk menuntut ilmu dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Puisi yang titiang persembahkan ini akan memberikan sensasi seolah kembali lagi ke sekolah dan ingin kembali ke sekolah seperti dulu.

Perkembangan budaya, sosial, dan seluruh aspek kehidupan dipengaruhi oleh sekolah. oleh sebab itu kisah-kisah di sekolah juga dipengaruhi jenjang dan aspek tersebut. Kisah itu berbeda-beda mulai dari Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Lanjut Tingkat Pertama, Dan Sekolah Lanjut Tingkat Akhir.

Pengalaman orang tentang sekolah juga bermacam ragam, mulai dari yang menyenangkan, menyedihkan, berarti, sampai kepada pengalaman yang memilukan juga ada. Mengapa demikian karena sekolah adalah tempat berkumpulnya dari berbagai heterogenitas manusia untuk belajar. Untuk itu titiang persembahkan puisi ini di hari jadi SMP Negeri 4 Abiansemal yang ke 34, 14 juni 2020
Cahaya ilmu,
Berbagai tunas bangsa kau cerdaskan,
Bermacam kebodohan pula kau hapuskan,
Kau lah sumber cahaya ilmu abadi,
Sampai kapanpun takkan  pernah mati,
Sekolahku SMP Negeri 4 Abiansemal, 
Kau kan ku rangkai dilubuk hati,
Menjaga nama baikmu adalah janji suci,
Terang cahayamu ku telusuri walau jalan berduri,
Tetesan ilmumu membentuk kepribadian yang hakiki,
Lentera hati mendo’akan pengapdianmu
Menembuskan cakrawala kehidupan tanpa batas,
Semoga langkahmu semakin lebih baik,
Sebuah ucapan ulang tahun ku persembahkan untuk sekolahku SMP Negeri 4 Abiansemal,

“Om Dirgayurastu Tad Astu Astu Svaha”.


Jumat, 12 Juni 2020

EMBUSAN KEMATIAN DAN KOTAK KEHIDUPAN

EMBUSAN KEMATIAN DAN
KOTAK KEHIDUPAN

Oleh Tubaba
Merindukan Pencerahan Hidup Melalui Dalam Keheningan Menulis&sebuah kutipan atau petikan;___________________________ 
Saat berkarya, kau adalah seruling yang melalui hatinya bisikan waktu terjelma menjadi musik...dan berkarya dengan cinta kasih: apakah itu? Itu adalah menemun kain dengan benang yang berasal dari hatimu, bahkan seperti buah hatimu yang akan memakai kain itu.

Janganlah pernah mengatakan bahwa kita hanya akan bertobat dan menjadi orang baik ketika sudah tua. Ingatlah bahwa ada begitu banyak tubuh muda yang terbaring di dalam kuburan yang sunyi.

Kehidupan ini seperti embun pagi, dalam sekejap sudah entah ke mana pergi. Waktu demikian berharga, sehingga tidak boleh berlalu dengan sia-sia.

Hal yang terbaik untuk dijalani adalah saat ini. Tiada penyesalan bila tak ada kesempatan lagi. Menangis di alam kubur pun, hanya menambah kepedihan hati.

Hanya demi kesenangan, betapa ruginya hidup ini. Tidak mengerti hakekat sejati kehidupan. Menganggap perkara mudah kehidupan setelah mati.

Untuk mengerti, maka temukanlah jalan. Mengetuk pintu untuk membukakan nurani sebagai pusaka kehidupan. Pusat kesadaran menuju keabadian di antara kedua mata.

Bahwa kehidupan adalah kematian dan kematian pun menuju kepada kehidupan.
Tetapi hidup jangan hanya untuk mencari mati dan mati bukan untuk hidup lagi.

Pada hakekatnya manusia hidup harus ada artinya. Berarti bagi sesamanya. Ketika mati pun tidak sia-sia. Meninggalkan catatan sejarah yang berguna.

#tubaba@griyang bang#

Kamis, 11 Juni 2020

NEW NORMAL LIFE

NEW NORMAL LIFE
Oleh: I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S. M.Pd

Sejak kemunculannya di akhir tahun 2019, kini virus corona masih saja menyebar di hampir seluruh dunia.

Saat ini (11/06/2020), sudah banyak negara dan wilayah yang terinfeksi Covid-19.

Walaupun beberapa negara sudah mulau pulih dari virus ini, namun sejumlah ahli memprediksi pandemi virus corona Covid-19 bisa berlangsung lama.

Hal ini berkaitan dengan belum ditemukannya vaksin atau obat untuk virus corona.

Meskipun demikian, tentu enggak bisa selamanya masyarakat hidup dalam masa karantina.

Ada ketentuan dimana sebuah negara bisa membuka kuncian physical distancing atau karantina tersebut.

Meskipun nantinya waktu karantina bisa diakhiri, namun sampai vaksin atau obat virus corona Covid-19 bisa ditemukan, maka pola pencegahan seperti yang dilakukan saat ini harus terus dilakukan.

Sejumlah ahli menyebut kondisi tersebut dengan new normal life.

Hal itu tentu saja juga berlaku di Indonesia, dan enggak akan kembali ke fase atau situasi sebelum Covid-19 muncul.

Berbicara mengenai new normal, masih banyak yang bertanya-tanya mengenai definisi dari new normal itu sendiri.

Lalu, apa definisi new normal sendiri?

"Kehidupan kita sudah pasti berubah untuk mengatasi risiko wabah ini. Itu keniscayaan. Itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai new normal atau tatanan kehidupan baru."

Pada masa pandemi masyarakat Indonesia diharuskan hidup dengan tatanan hidup baru yang dapat 'berdamai' dengan Covid-19. Adapun yang dimaksud dengan new normal adalah suatu tindakan atau perilaku yang dilakukan oleh masyarakat dan semua institusi yang ada diwilayah tersebut untuk melakukan pola harian atau pola kerja atau pola hidup baru yang berbeda dengan sebelumnya. Bila hal ini tidak dilakukan akan terjadi risiko penularan.

Tujuan dari new normal adalah agar masyarakat tetap produktif dan aman dari Covid-19 dimasa pandemi. Selanjutnya agar new normal lebih mudah diinternalisasikan oleh masyarakat maka “new normal” dinarasikan menjadi 'Adaptasi Kebiasaan Baru'. Maksud dari Adaptasi Kebiasaan Baru adalah agar kita bisa bekerja, belajar dan beraktivitas dengan produktif di era Pandemi Covid-19.

Memulai Kebiasaan Baru
Apakah kita mau terus hidup dengan pembatasan? Tinggal di rumah terus? Sudah pasti jawabannya tidak. Tentunya  kita ingin kembali bisa bekerja, belajar, dan bersosialisasi atau aktivitas lainnya agar dapat produktif di era pandemi. 

Hal ini bisa dilakukan kalau kita beradaptasi dengan kebiasaan baru yaitu disiplin hidup sehat dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. 

Kebiasaan baru untuk hidup lebih sehat harus terus menerus dilakukan di masyarakat dan setiap individu, sehingga menjadi norma sosial dan norma individu baru dalam kehidupan sehari hari. 

Bila kebiasaan baru tidak dilakukan secara disiplin atau hanya dilakukan oleh sekelompok orang saja maka hal ini bisa menjadi ancaman wabah gelombang kedua. Kebiasaan lama yang sering dilakukan seperti bersalaman, cipika-cipiki, cium tangan, berkerumun atau bergerombol, malas cuci tangan harus mulai ditinggalkan karena mendukung penularan Covid-19. 

Di mana dan Apa?
Kita dituntut untuk mampu mengadaptasi atau menyesuaikan kebiasaan baru dimanapun kita berada baik di rumah, di kantor, di sekolah, di tempat ibadah termasuk di tempat-tempat umum seperti terminal, pasar, mal. 

Diharapkan dengan seringnya menerapkan kebiasaan baru dimanapun, semakin mudah dan cepat menjadi norma individu dan norma masyarakat. Dengan demikian kita bisa bekerja, belajar, beribadah dan beraktivitas lainnya dengan aman, sehat dan produktif. Adaptasi kebiasaan baru yang dimaksud adalah:

*sering cuci tangan pakai sabun 
*pakai masker
*jaga jarak
*istirahat cukup
*rajin olahraga
*makan makanan bergizi seimbang

Inilah pesan kunci yang perlu dilakukan secara disiplin baik secara individu maupun kolektif agar tujuan yang dimaksud dapat tercapai. Saatnya menjadi pelopor adaptasi kebiasaan baru. 

#tubaba@griyang bang//Salam sehat!#


SESAYUT PANULAK GERING, SESAYUT GERING MERARADAN LAN SESAYUT LARA TAN TINAMBAN (Mengatasi COVID 19 secara Niskala)

SESAYUT PANULAK GERING, SESAYUT GERING MERARADAN LAN SESAYUT LARA TAN TINAMBAN (Mengatasi COVID 19 secara Niskala)

Druwen GRIYA AGUNG BANGKASA
Katedun Olih: I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S. M.Pd
SESAYUT PANULAK GERING : 
Metatakan kulit sesayut, sega sewakul, iwak taluh, penek merepat 1, metanceb sekar tinjung 3, kaiter antuk sekar 5 warna, carang tiying gading medaging tirta empul, gedang 5 iyis, sedana niya manut urip sapta wara, panca wara, pawetonan, tetebus tri datu.

SESAYUT GERING MERARADAN:
Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi mawadhah tangkih antuk ron masibeh busung nganutin urip panca wara, medaging kacang komak, metanceb lidin ron, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki ka-anggen rikala upacara Manusa Yadnya.

SESAYUT LARA TAN TINAMBAN:
Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi pulung catur warna, ulam nyane ayam putih syungan mapanggang, sate 7, calon 7, kawangen 7, tatebus putih, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki ka-anggen rikala manusa yadnya utawi nyayut wang lara.

#tubaba@griyang bang#

Rabu, 10 Juni 2020

Saraswati Stawa

Saraswati Stawa
Om, Saraswati namãstu-bhyam, 
warade kama-rupini,
Siddhãrambhan kari-syami, 
Siddhir-bhawantu me-sada.

Om, Pranamya sarwa-dewanca, paramãtmanam ewa ca,
Rupa siddhi prayukta ya, 
Saraswati namamy-aham.

Om, Padma-patra wisalaksi, 
Padma kesari warnini,
Nityam padma-laya dewi, 
Sa-mam-pa-tu Saraswati.

Om, Brahma putri mahadewi, 
Brahmanya rahma Nandini,
Saraswati samjñayani, 
Pranayana Saraswati

Om, Sang, Saraswati sweta warna ya namah.
Om, Bang, Saraswati rakta warna ya namah.
Om, Tang, Saraswati pita-warna ya amah.
Om, Ang, Saraswati kresna-warna ya namah.
Om, Ing, Saraswati wiSwa-warna ya namah.

#tubaba@pujasaraswatistawa#

Ngrereh Déwa Ulah Buta

Ngrereh Déwa Ulah Buta
Mangkin, kesadaran umat Hindu nglaksanayang sembahyang sampun nénten malih kasumangsayan, duaning yéning wénten karya ring kayangan ageng ring sajebag Bali kantos ka dura Bali makéh kramané rauh tangkil. Asapunika taler ri tatkala wénten rerainan sakadi tumpek, purnama, piodalan, lan rerainan sané tiosan, sampun makéh kramané rauh tangkil ngaturang bakti ring sasuhunan. Sakéwanten, pangrauhé ka kahyangan nénten kaserengin antuk parilaksana sané manut ring sesuduk anak sembahyang. Indiké puniki kacihnayang antuk kari makéh kramané lunga sembahyang nganggén panganggo sakadi anak ka mall; ané istri-istri nganggé pepayasan sarwa mael tur makwaca langah, asapunika taler sané lanang-lanang nganggé kampuh sutra mael saha pepayasan destar sakadi destar raja-raja zaman ilu.

Tiosan ring busana sané norak, taler parilaksanan sameton Baliné ri tatkala sembahyang ka kahyangan taler patut kasalinin. Upaminipun, ri tatkala ngantri pacang ngaturang pangubakti ring panataran, genah ngaturang bakti. Sering kaulané matungsek-tungsekan, saling sikut, saling maluin, ngrereh genah mangda polih dumunan ngaturang bakti. Indiké puniki pacang ngawinang pikobet, napi malih yéning pecalang duéné nénten prasida ngatur sang sané jagi maturan. Napi malih kori genah ngranjing ka jeroan cupit, ngangsan robed sampun pamarginé.

I riki majanten asapunapi solah manusané kasujatiannyané ri tatkala ngrereh sané kawastanin ning, nénten ja madasar ning, sakéwanten biuta. Yén selehin daging pustaka suci duéné, tetujon i raga ngaturang bakti ka kahyangan boya ké ngrereh kaeningan manah? Manut ké parilaksanané sembahyang nganggé wastra putih tur ri tatkala pacang ngranjing ka jeroan ring koriné matungsek-tungsekan. Sakadi iklan ring TV-né, ipun i itik prasida saling guluk sareng timpal, ngantré ring genahé cupit nénten sakadi i raga rauh sembahyang manten masuksuk.

Déwa ya, Buta ya, Manusa ya

Déwa di déwéké! Asapunika baos anak wikan. Manusané prasida matuh-matuh sifat déwa yéning parilaksanannyané nénten lémpas ring darmaning agama miwah darmaning negara, taler manut ring sesana soang-soang. Samaliha, kabaos buta, yéning i manusa nglarang parilaksana sané ngadug-adug, lémpas ring uger-uger. Yéning meled gumanti prasida kabaosang Déwa, pastikayang dumun parilaksanané nénten lémpas ring sesana, nénten naenin mabar awig-awig.

Mangkin, parilaksanan kramané méweh pisan narka duaning makasami mawacana becik, sakéwanten ring ungkuring wacana, solah ngipuk. Parisolah puniki kacihnayang taler ring parilaksana duk ngaturang sembah. Saking ngawit pakubonan kantos genah ngaturang sembah, parisolah kramané wénten sané sliwah. Busana norak, basa-basita ngacuh, taler semita mrakpak. Yan selehin niri-niri, yadiastun nénten makéh sané malaksana kadi punika, nanging sakadi baos paribasané aduk sera aji kéténg, asiki malaksana iwang makasami keni ius kaon.

Ka genah suci (Sad Kayangan miwah Dang Kayangan, pura panti, paibon, dadia, mrajan) miwah sané lianan boya ké genah ngrereh kasujatian sekala, sakéwanten yan ring sekala sampun nénten mupuh napimalih ring niskala duhkapan pacang mangguhang kasujatian. Yén ka kayangan sampun makta solah kadi buta, matungsek-tungsekan kadi kabaosang ring ajeng, duhkapan pacang mangguhang Déwa, méh-méhan manggihin buta
Olih: W. Suardiana


Déwa di déwék

Suci marabian sareng sakti. Suci luhuran saking sakti. Akeh paragan sakti yén karuruh ring tattwa, inggih punika Pradhana, Prakrti, Maya, Yoni, Déwi, miwah sane siosan. Sira manusa sakti? Makeh manusa sakti yan karuruh ri sastra: purana, babad, kakawin, miwah satua. Upaminnyané, silih sinunggil sané jagi kasurat driki, Danawa.
Mawasta Danawa santukan medal saking Danu. Pateh sakadi Bregawa medal saking Bregu, Pandawa metu saking Pandu, Kurawa keturunan Kuru, sané metu saking budi Manu mawasta Manawa. Danawa manawi keturunan Danu, manawi polih panugrahan Déwi Danu. Nika mawinan Danawa kasengguh manusa sakti, mawasta Maya Danawa. Carita indik Maya Danawa sampun lumrah kauningin olih para jana sané seneng mudang-madingan Usana. Unteng crita Maya Danawa indik déwa di dewek. Napi déwa di déwék punika? Sadurung nyawis pitakén puniki, ngiring dumun mabaosan indik manusa sakti lianan, upaminyané Prabu Candra Bherawa. Sira kasengguh Bhairawa? Manut ring tattwa, Bherawa punika paragan Siwa rikala ida mamurti dados aéng lan nyejehin. Ri kala punika saktin ida maparab Déwi Bhaiwari. Manut ring crita, makéh wawilangan Bhairawa, silih sinunggil inggih punika Bhairawa sané mapaiketan sareng bulan pinaka ratuning wengi. Akéh peséngan bulan, luirnyané: Soma, Sasih, Sasangka, Indu, Ratih, Candra. Bhairawa sané mepaiketan sareng bulan kaucap Candra Bhairawa. Lontar Bhairawa-tattwa madaging crita indik Sang Prabu sané mapesengan Candra Bhairawa. Ida ketuturan sedek angadu kasiddian ngelés tur ngejuk atma lawan Prabu Yudistira.

Mati Salah Pati/Ulah Pati

Mati Salah Pati/Ulah Pati
1. Mati kabangawan/ hanyut.
2. Sander kilap, ulung, tabrakan, urugan, tepen kayu, muah sane tiosan.

# Makarya upakara panebusan ring genahe seda/ padem, yaning tan kapanggih nebusin ring Pempatan Agung.

Banten panebusan ngangge peras daksina, rantasan putih kuning, panyeneng, ngangge don dapdap 3 bidang angge ngambil tanah genah kematian, raris kagenahang ring daksina, jagi bakta budal. Dulurin segehan cacahan ring genahe seda lan pamogpog di sampune tiba ring pamedalan.

Pangayate ring Bhatara Ibu Pertiwi utawi ring Dewa Wisnu yaning hanyud.

Cuntakane saking ngawit padem jantos puput pangiriman lan tugtug ngarorasin jantos macaru.

# Tetandingan Aepan Ngaben Ulah Pati/Salah Pati:
- pengambean tanpa soroan,
- pejati cenik, tumpeng 2, 
- pejerimpenan: besogan (cakang daksina cenik), tumpeng, raka, kacang saur di kojong umah, sampyan naga sari.
- daksina, 
- tebasan atma rauh: tamas, ceper misi nasi bungan tunjung, uyah lengis mewadah takir, raka, kacang kojong umah, 2 tulung sangkur isi nasi, peras tulung, payasan, 1 kuangen, sampyan tebasan. 
- Tebasan kala lara malaradan, pangalang hati, miwah pageh tuwuh.


Tebasan Semaya Pati 
tebasan untuk membayar janji yang dilakukan oleh orang yg sudah meninggal janji yang belum dibayar ketika hidup

tamas, kulit sayut, raka, tumpeng besar, 4 sau petik berisi ; nasi saur, nasi saur, uyah, ...... , pesucian, sampyan jit goak 

Banten Panca Petika (Pegat Semaya Pati) kawentenan nyane kalih soroh, inggih punika;

Asiki: Medasar antuk dulang susunin aled gde asiki, medaging kulit peras bunter maserana antuk   busung  9 lembar, medaging beras tampelan, raka woh-wohan dena jangkep, medaging Cawu kekalih (2),
sane asiki medaging nasi pulungan mewarna kuning 7 pulung, Cawu sane malih asiki medaging nasi putih 5 pulung, Cawu punika maaled antuk kalakat suddhamala, kojong rangkadan 2 medaging rerasmen, ayam putih tulus mapanggang, ayam putih syungan mapanggang asiki, sampyan metangga/sampyan Peras.

Sane malih asiki: Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin aled gde asiki, duwur alede susunin kulit peras mesarana antuk ron 5 bidang, medaging beras, tampelan, benang, tumpeng poleng asiki (putih-selem-putih-selem-putih), limas antuk ron medaging nasi penek putih padha asiki, magenah bilang samping tumpeng, suyuk antuk ron medaging bubuh putih asiki, suyuk antuk ron medaging bubuh barak asiki, maulam ayam ireng mapanggang, raka woh-wohan dena jangkep, penyeneng alit asiki pras alit asiki, daksina l, canang pahyasan, sampyan nyane sampyan Pengambian.


#tubaba@manggayuh kasampurnaning hurip#