Selasa, 11 Januari 2022

PENGATURAN GAJI

Pengaturan tentang Gaji Karyawan Koperasi Maha Daksa Sandhi

Pertanyaan
Apakah gaji karyawan koperasi KMDS juga harus sesuai dengan standar UMK?

Ulasan Lengkap
Titiang berasumsi bahwa UMK yang Anda maksud adalah Upah Minimum Kabupaten/Kota, yaitu  Upah Minimum yang berlaku di dalam wilayah 1 (satu) kabupaten/kota.

Karyawan koperasi pada dasarnya juga adalah pekerja atau buruh, dan koperasi adalah pemberi kerja, sebagaimana terdapat dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (“UU Ketenagakerjaan”).

Definisi pekerja/buruh dalam Pasal 1 angka 3 UU Ketenagakerjaan adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Sedangkan, pemberi kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan-badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka 4 UU Ketenagakerjaan. Yang mana, koperasi termasuk badan hukum.

Mengenai imbalan bagi pengawas koperasi, gaji dan tunjangan pengurus koperasi, serta bonus bagi pengawas, pengurus dan karyawan koperasi memang diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian (“UU Koperasi”) (Pasal 49 ayat (3), Pasal 57 ayat (2), dan Pasal 78 ayat (1) huruf c UU Koperasi). Akan tetapi, yang diatur di dalam UU Koperasi hanya mengenai bagaimana menentukan besarnya imbalan, gaji, tunjangan, serta bonus tersebut, yaitu melalui Rapat Anggota Koperasi. Dalam UU Koperasi tidak diatur mengenai berapa minimum besarnya imbalan, gaji, tunjangan, serta bonus. Namun, berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 28/PUU-XI/2013, UU Koperasi telah dinyatakan bertentangan dengan Undang-undang Dasar 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat serta mahkamah menyatakan bahwa Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian (“UU 25/1992”) berlaku sementara sampai dengan terbentuknya Undang-Undang yang baru. Yang mana, kembali ke UU 25/1992, ketentuan mengenai berapa minimum besarnya imbalan, gaji, tunjangan, serta bonus juga tidak diatur.

Oleh karena itu, karena koperasi adalah badan usaha yang bertindak sebagai pemberi kerja, dan para karyawan koperasi termasuk ke dalam definisi pekerja atau buruh dalam UU Ketenagakerjaan, maka ketentuan dalam UU Ketenagakerjaan beserta peraturan pelaksananya berlaku bagi karyawan koperasi sepanjang tidak ditentukan lain dalam UU Koperasi. Dalam hal ini berlaku asas lex specialis derogat legi generalis.

Jadi, peraturan khusus mengenai koperasi tidak mengatur secara rinci tentang gaji karyawan. Oleh karena itu, harus melihat kembali kepada ketentuan umum di bidang ketenagakerjaan (UU Ketenagakerjaan dan peraturan pelaksananya, termasuk peraturan mengenai UMK).

Ini berarti bahwa ketentuan mengenai UMK juga berlaku bagi karyawan koperasi yang adalah termasuk sebagai pekerja atau buruh berdasarkan UU Ketenagakerjaan.

Prinsip 5C Pemberian Kredit Di KMDS

Mengenal Prinsip 5C Pemberian Kredit

Prinsip 5C merupakan sistem yang digunakan oleh KMDS atau pemberi pinjaman lainnya untuk mengukur kelayakan kredit dari seorang calon debitur (peminjam). 5C ini adalah Character, Capacity, Capital, Condition dan Collateral.

KOPERASI MAHA DAKSA SANDHI menambahkan faktor C ke-6, yaitu constraint – Batasan/hambatan yang menyebabkan suatu bisnis tidak dapat dilaksanakan karena kondisi tertentu.

Dengan memahami 5C dari prinsip pemberian kredit, Anda dapat lebih memahami bagaimana KMDS berpikir dan mempersiapkan diri untuk memenuhi kriteria mereka.

Mengenal Prinsip 5C Koperasi Maha Daksa Sandhi

  • 1. Character (Karakter)
  • 2. Capacity/Cashflow (Kapasitas/Keuangan)
  • 3. Capital (Modal)
  • 4. Conditions (Kondisi)
  • 5. Collateral (Agunan)
  • 6. Constraint (Hambatan)

Tidak ada formula pasti dalam memperhitungkan kelima atribut ini – setiap peminjam memiliki pertimbangan yang berbeda.

Contohnya, pemberi pinjaman online biasanya lebih banyak melihat aspek karakter dari skor kredit pribadi yang Anda miliki, sementara koperasi mungkin lebih peduli tentang aspek agunan dan kapasitas dari usaha.

Yang terpenting, Anda fokus pada hal-hal yang dapat Anda kendalikan. “Kelima huruf C ini adalah salah satu dari banyak hal yang benar-benar dipercayai oleh koperasi, jadi kita harus bisa menghadapinya” kata Brad Farris, seorang konsultan bisnis.

1. Character (Karakter)

Prinsip dasar pemberian kredit: Karakter calon debitur harus menjadi pertimbangan pertama dalam pemberian kredit

Indikasi risiko karakter yang diperhatikan KMDS

  • Calon debitur memiliki reputasi tidak baik dalam hubungannya dengan masyarakat, rekan bisnis dan koperasi
  • Permasalahan hubungan debitur
  • Debitur berganti-ganti supplier dan tidak mendapat fasilitas hutang dagang. Hal ini merupakan indikasi bahwa debitur tidak dapat dipercaya karena sering ingkar janji.

Cara KMDS menganalisa indikasi risiko aspek karakter

  • Reputasi: Info lingkungan tempat tinggal dan tempat usaha
  • Hubungan bisnis: Trade checking
  • Hubungan dengan koperasi atau Bank checking

2. Capacity (Kapasitas)

  • Managerial Capacity: Analisis kemampuan manajerial debitur
  • Financial Capacity: Analisis kemampuan finansial perusahaan
  • Technical Capacity: Analisis proses produksi

2.1. Managerial Capacity

  • Lihat pengalaman debitur dalam mengelola usaha
  • Perkembangan usaha selama ditangani yang bersangkutan.

Indikasi risiko aspek Managerial Capacity

  • Manajemen bersikap one man show
  • Manajemen agresif dalam pengembangan bisnis.
  • Risiko: penyalahgunaan kredit untuk kegiatan diluar aktivitas usaha yang dibiayai

Mitigasi Risiko Managerial Capacity

  • Mitigasi keuangan perusahaan dan kemungkinan pemindahan aset perusahaan
  • Monitoring keuangan usaha yang lebih intens
  • Persyaratan penarikan modal usaha untuk aktivitas di luar kegiatan usaha harus atas persetujuan koperasi

2.2. Financial Capacity

  • Kemampuan debitur mengelola keuangan perusahaan
  • Sebagai first-way out dalam pengembalian kredit

Indikasi risiko aspek Financial Capacity

  • Manajemen memiliki kemampuan mengelola keuangan yang buruk
  • Kinerja keuangan perusahaan tidak baik tetapi memiliki prospek berkembang
  • Risiko untuk KMDS : Keuangan usaha sewaktu-waktu dapat memburuk

Mitigasi risiko aspek Financial Capacity

  • Persyaratan menyerahkan laporan keuangan secara rutin dan intens
  • Monitoring kegiatan usaha dan transaksi usaha melalui Rekening Koran 

2.3. Technical Capacity

  • Analisis proses produksi
  • Identifikasi risiko pada proses produksi secara lengkap à Tools: SIPOK
  • Mitigasi risiko yang mungkin ada
  • Pertimbangkan dalam covenant

Indikasi risiko aspek Technical Capacity

  • Secara teknis perusahaan menghadapi kendala ketidakpastian supply bahan baku
  • Risiko: Keberlangsungan usaha terganggu

Mitigasi risiko aspek Technical Capacity

  • Kontrak jangka panjang pembelian bahan baku

3. Capital

Ownshare (Dana Sendiri)

  • Tingkat risiko yang siap ditanggung oleh pemilik
  • Keseriusan menjalankan usaha dan pembayaran kredit

Yang dilihat

  • DER (Debt to equity ratio)
  • Pemenuhan ownshare dalam pembiayaan Kredit Modal Kerja (KMK) / Kredit Investasi (KI)

 Indikasi risiko aspek Capital

  • Modal usaha tidak mencukupi batas toleransi yang ditetapkan
  • Debitur tidak memiliki kemampuan memperkuat permodalan sesuai batas toleransi
  • Risiko untuk KMDS: Modal rendah dapat menyebabkan moral hazard

Mitigasi risiko aspek Capital

  • Memastikan keuntungan digunakan untuk memperkuat modal usaha
  • Persyaratan penarikan dividen/prive harus atas seijin koperasi

4. Condition

Analisis

  • Kondisi industry (Mikro)
  • Kondisi ekonomi (Makro)

Tujuan

  • Bersama informasi financial capacity, digunakan untuk memprediksi prospek usaha di masa yang akan mendatang
  • Prediksi risiko kemungkinan gagal bayar

Indikasi risiko aspek condition

  • Terdapat ketidakpastian ekonomi secara makro, baik karena suku bunga ataupun nilai tukar.
  • Persaingan industry sejenis sangat ketat.
  • Risiko untuk bank: Prospek usaha terganggu

5. Collateral

Analisis

  • Status kepemilikan (SHM/SHGB/SHP/SHGU/dll.)
  • Kecukupan nilai agunan
  • Bentuk pengikatan (HT/fiducia/gadai/cesie)

Tujuan

  • Sebagai second way-out jika debitur wanprestasi
  • Secara psikologis mengikat keseriusan debitur menjalankan usaha dan membayar kewajiban kredit.

Indikasi risiko aspek collateral

  • Nilai agunan tidak meng-cover
  • Nilai agunan menurun karena kerusakan
  • Agunan bukan milik calon debitur
  • Pengikatan agunan bukan peringkat ke-1
  • Risiko: Moral hazard

Mitigasi risiko aspek Collateral

  • Kontrol cash-flow lebih ketat
  • Asuransi

6. Constraints

Batasan dan hambatan yang menyebabkan suatu bisnis tidak dapat dilaksanakan karena kondisi tertentu (tempat, iklim, masyarakat, dll.)

Contoh

  • Pompa bensin disekitar usaha bengkel las
  • Usaha peternakan dilingkungan pemukiman
  • Dll.

#tubaba@griyangbang//kmdssawatrajayamahe#

KARMA YOGA

Bhagavad Gita - Bab III


Tritiyo’dhyayah
Bab III
Karma Yogah
3-1
arjuna uvaca
jyayasi cet karmanas te
mata buddhir janardana
tat kim karmani ghore mam
niyojayasi keshava
“Arjuna said: O Janardana, O Keshava, why do You want to engage me in this ghastly warfare, if You think that intelligence is better than fruitive work?”
Arjuna bertanya:
Bila Engkau beranggapan bahwa jalan ilmu pengetahuan lebih mulia dari pada jalan kegiatan, wahai Janardana (Krsna), lalu mengapa Engkau menyuruhku untuk melakukan kegiatan yang kejam ini, wahai Kesava?
3-2
vyamisreneva vakyena
buddhim mohayashiva me
tad ekam vada niscitya
yena sreyo ’ham apnuyam
“My intelligence is bewildered by Your equivocal instructions. Therefore, please tell me decisively which will be most beneficial for me.”
Dengan uraian-Mu yang membingungkan pikiranku itu, katakanlah dengan pasti satu-satunya jalan yang dapat aku jalani untuk mencapai kebahagiaan tertinggi itu.

3-3
sri-bhagavan uvaca
loke ’smin dvi-vidha nistha
pura prokta mayanagha
jnana-yogena sankhyanam
karma-yogena yoginam
“The Supreme Personality of Godhead said: O sinless Arjuna, I have already explained that there are two classes of men who try to realize the self. Some are inclined to understand it by empirical, philosophical speculation, and others by devotional service.”
Sri Bhagavan bersabda:
Wahai Anagha (Arjuna), di dunia ini sejak dahulu telah Ku-ajarkan dua macam jalan dalam kehidupan ini, yaitu: jalan pengetahuan bagi mereka yang suka melakukan perenungan dan jalan kegiatan kerja bagi mreka yang bersemangat untuk bekerja
3-4
na karmanam anarambhan
naishkarmyam purusho ’snute
na ca sannyasanad eva
siddhim samadhigacchati
“Not by merely abstaining from work can one achieve freedom from reaction, nor by renunciation alone can one attain perfection.”
Bukan dengan tidak bekerja orang mencapai kesempurnaan, ataupun hanya dengan penyangkalan kegiatan kerja orang mencapai kesempurnaan.
3-5
na hi kascit ksanam api
jatu tisthaty akarma-krt
karyate hy avasah karma
sarvah prakriti-jair gunaih
“Everyone is forced to act helplessly according to the qualities he has acquired from the modes of material nature; therefore no one can refrain from doing something, not even for a moment.”
Tak seorangpun dapat tetap tanpa melakukan kegiatan kerja walau sesaaat saja, karena setiap orang dibuat tak berdaya oleh kecenderungan-kecenderungan alam untuk melakukan kegiatan kerja
3-6
karmendriyani samyamya
ya aste manasa smaran
indriyarthan vimudhatma
mithyacarah sa ucyate
“One who restrains the senses of action but whose mind dwells on sense objects certainly deludes himself and is called a pretender.”
Mereka yang menahan organ-organ kegiatannya, namun masih tetap membayangkan segala kenikmatan indra-indranya dalam pikirannya, yang terbingungkan seperti itu dikatakan sebagai orang munafik
3-7
yas tv indriyani manasa
niyamyarabhate ’rjuna
karmendriyaih karma-yogam
asaktah sa visisyate
“On the other hand, if a sincere person tries to control the active senses by the mind and begins karma-yoga [in Krishna consciousness] without attachment, he is by far superior.”
Tetapi, orang yang dapat mengendalikan indra-indranya dengan pikiran, wahai Arjuna, dan tanpa keterikatan dengan terlibatnya organ-organ kegiatan di jalan kerja, ia adalah orang yang utama
3-8
niyatam kuru karma tvam
karma jyayo hy akarmanah
sarira-yatrapi ca te
na prasiddhyed akarmanah
“Perform your prescribed duty, for doing so is better than not working. One cannot even maintain one’s physical body without work.”
Lakukanlah kegiatan yang diperuntukkan bagimu, karena kegiatan kerja lebih baik dari pada tanpa kegiatan; dan memelihara kehidupan fisik sekalipun tak dapat dilakukan tanpa kegiatan kerja.
3-9
yajnarthat karmano ’nyatra
loko ’yam karma-bandhanah
tad-artham karma kaunteya
mukta-sangah samacara
“Work done as a sacrifice for Vishnu has to be performed, otherwise work causes bondage in this material world. Therefore, O son of Kunti, perform your prescribed duties for His satisfaction, and in that way you will always remain free from bondage.”
Kecuali kerja yang dilakukan sebagai dan untuk tujuan pengorbanan, dunia ini terbelenggu oleh kegiatan kerja. Oleh karena itu, wahai putra Kunti (Arjuna), lakukanlah kegiatanmu sebagai pengorbanan itu dan jangan terikat dengan hasilnya.
3-10
saha-yajnah prajah srstva
purovaca prajapatih
anena prasavisyadhvam
esa vo ’stv ista-kama-dhuk
“In the beginning of creation, the Lord of all creatures sent forth generations of men and demigods, along with sacrifices for Vishnu, and blessed them by saying, “Be thou happy by this yajna [sacrifice] because its performance will bestow upon you everything desirable for living happily and achieving liberation.””
Dahulu kala, Prajapati menciptakan manusia bersama-sama dengan pengorbanan dan berkata: “Dengan ini semoga engkau akan berkembang biak dan biarlah ini menjadi sapi perahan.
3-11
devan bhavayatanena
te deva bhavayantu vah
parasparam bhavayantah
sreyah param avapsyatha
“The demigods, being pleased by sacrifices, will also please you, and thus, by cooperation between men and demigods, prosperity will reign for all.”
Dengan melakukan ini engkau memelihara kelangsungan para dewa; semoga para dewata juga memberkahimu; dengan saling menghormati seperti itu, engkau akan mencapai kebajikan tertinggi.
3-12
istan bhogan hi vo deva
dasyante yajna-bhavitah
tair dattan apradayaibhyo
yo bhunkte stena eva sah
“In charge of the various necessities of life, the demigods, being satisfied by the performance of yajna [sacrifice], will supply all necessities to you. But he who enjoys such gifts without offering them to the demigods in return is certainly a thief.”
Dihormati dengan pengorbanan seperti itu, para dewa akan memberkahi kesenangan yang kamu inginkan. Ia yang menikmati pemberian ini tanpa memberi balasan kepada mereka sesungguhnya adalah seorang pencuri.
3-13
yajna-sistasinah santo
mucyante sarva-kilbisaih
bhunjate te tv agham papa
ye pacanty atma-karanat
“The devotees of the Lord are released from all kinds of sins because they eat food which is offered first for sacrifice. Others, who prepare food for personal sense enjoyment, verily eat only sin.”
Orang-orang baik yang makan sisa persembahan kurban akan terlepas dari segala dosa, tetapi orang-orang jahat yang mempersiapkan makanan hanya bagi dirinya sendiri, sesungguhnya mereka itu makan dosa.
3-14
annad bhavanti bhutani
parjanyad anna-sambhavah
yajnad bhavati parjanyo
yajnah karma-samudbhavah
“All living bodies subsist on food grains, which are produced from rains. Rains are produced by performance of yajna [sacrifice], and yajna is born of prescribed duties.”
Dari makananlah munculnya makhluk-makhluk ini; dan makanan muncul dari air hujan; dan air hujan terjadi karena adanya pengorbanan dan pengorbanan datangnya dari kegiatan kerja.
3-15
karma brahmodbhavam viddhi
brahmakshara-samudbhavam
tasmat sarva-gatam brahma
nityam yajne pratisthitam
“Regulated activities are prescribed in the Vedas, and the Vedas are directly manifested from the Supreme Personality of Godhead. Consequently the all-pervading Transcendence is eternally situated in acts of sacrifice.”
Ketahuilah bahwa asal mula dari kegiatan kerja itu dari kitab-kitab Veda dan Veda sendiri berasal dari Yang Abadi. Oleh karena itu, Veda yang maha luas itu senantiasa berkisar di antara pengorbanan.
3-16
evam pravartitam cakram
nanuvartayatiha yah
aghayur indriyaramo
mogham partha sa jivati
“My dear Arjuna, one who does not follow in human life the cycle of sacrifice thus established by the Vedas certainly leads a life full of sin. Living only for the satisfaction of the senses, such a person lives in vain.”
Di dunia ini, mereka yang tidak ikut membantu memutar roda kehidupan ini, pada dasarnya bersifat jahat, memperturutkan nafsu semata dan mengalami penderitaan, wahai Partha
3-17
yas tv atma-ratir eva syad
atma-trptas ca manavah
atmany eva ca santustas
tasya karyam na vidyate
“But for one who takes pleasure in the self, whose human life is one of self-realization, and who is satisfied in the self only, fully satiated—for him there is no duty.”
Tetapi, orang yang selalu bersenang hati pada sang Diri, yang selalu puas dengan sang Diri, yang selalu yakin dengan sang Diri, baginya tak ada lagi kegiatan kerja yang harus dilakukannya.
3-18
naiva tasya krtenartho
nakrteneha kascana
na casya sarva-bhutesu
kascid artha-vyapasrayah
“A self-realized man has no purpose to fulfill in the discharge of his prescribed duties, nor has he any reason not to perform such work. Nor has he any need to depend on any other living being.”
Di samping itu, di dunia ini ia telah tidak berniat lagi untuk mendapatkan apapun dari kegiatan yang dilakukannya dan juga tidak merasa rugi apapun dengan tidak bekerja. Ia tidak bergantung pada semua orang dengan harapan apapun juga.
3-19
tasmad asaktah satatam
karyam karma samacara
asakto hy acaran karma
param apnoti purushah
“Therefore, without being attached to the fruits of activities, one should act as a matter of duty, for by working without attachment one attains the Supreme.”
Oleh karena itu, tanpa keterikatan, lakukanlah selalu kegiatan kerja yang harus dilakukan, karena dengan melakukan kerja tanpa pamrih seperti itu membuat manusia mencapai tingkatan tertinggi.
3-20
karmanaiva hi samsiddhim
asthita janakadayah
loka-sangraham evapi
sampasyan kartum arhasi
“Kings such as Janaka attained perfection solely by performance of prescribed duties. Therefore, just for the sake of educating the people in general, you should perform your work.”
Bahkan dengan cara bekerja demikian itu Raja Janaka dan yang lainnya mencapai kesempurnaan. Engkau juga hendaknya melakukan kegiatan kerja dengan pandangan untuk memelihara dunia ini.
3-21
yad yad acarati sresthas
tat tad evetaro janah
sa yat pramanam kurute
lokas tad anuvartate
“Whatever action a great man performs, common men follow. And whatever standards he sets by exemplary acts, all the world pursues.”
Apapun yang dilakukan orang besar, orang lain pun melakukan hal yang sama. Contoh apapun yang diberikannya, seluruh dunia mengikutinya.
3-22
na me parthasti kartavyam
trisu lokesu kincana
nanavaptam avaptavyam
varta eva ca karmani
“O son of Pritha, there is no work prescribed for Me within all the three planetary systems. Nor am I in want of anything, nor have I a need to obtain anything—and yet I am engaged in prescribed duties.”
Bagiku di ketiga dunia ini tak ada sesuatupun yang harus Ku-lakukan ataupun yang harus dicapai, wahai Partha (Arjuna); namun aku tetap sibuk terlibat dalam kegiatan kerja.
3-23
yadi hy aham na varteyam
jatu karmany atandritah
mama vartmanuvartante
manushyah partha sarvasah
“For if I ever failed to engage in carefully performing prescribed duties, O Partha, certainly all men would follow My path.”
Karena, apabila Aku tidak selalu bekerja tanpa jemu-jemunya, wahai Partha (Arjuna), manusia dalam segala hal akan mengikuti jalan-Ku
3-24
utsideyur ime loka
na kuryam karma ced aham
sankarasya ca karta syam
upahanyam imah prajah
“If I did not perform prescribed duties, all these worlds would be put to ruination. I would be the cause of creating unwanted population, and I would thereby destroy the peace of all living beings.”
Bila Aku berhenti bekerja, dunia ini akan mengalami kehancuran dan Aku akan menjadi pencipta kehidupan yang kacau balau dan menghancurkan penghuni dunia ini.
3-25
saktah karmany avidvamso
yatha kurvanti bharata
kuryad vidvams tathasaktas
cikirsur loka-sangraham
“As the ignorant perform their duties with attachment to results, the learned may similarly act, but without attachment, for the sake of leading people on the right path.”
Seperti orang bodoh yang bekerja karena pamrih dari kegiatan kerjanya, demikian pula hendaknya orang terpelajar bekerja, wahai Bharata (Arjuna), tetapi tanpa pamrih dan semata-mata dengan keinginan untuk memelihara kesejahteraan tatanan dunia ini saja.
3-26
na buddhi-bhedam janayed
ajnanam karma-sanginam
josayet sarva-karmani
vidvan yuktah samacaran
“So as not to disrupt the minds of ignorant men attached to the fruitive results of prescribed duties, a learned person should not induce them to stop work. Rather, by working in the spirit of devotion, he should engage them in all sorts of activities [for the gradual development of Krishna consciousness].”
Para jnanin hendaknya jangan membingungkan pikiran orang-orang bodoh yang terikat melakukan kegiatannya. Mereka yang tercerahi melakukan segala kegiatan kerja dalam semangat yoga untuk memberi contoh yang lainnya.
3-27
prakriteh kriyamanani
gunaih karmani sarvasah
ahankara-vimudhatma
kartaham iti manyate
“The spirit soul bewildered by the influence of false ego thinks himself the doer of activities that are in actuality carried out by the three modes of material nature.”
Sementara segala jenis kegiatan kerja dilakukan oleh guna (sifat) dari prakrti, ia yang dibingungkan oleh rasa keakuannya berpendapat bahwa “Akulah si pelakunya.”
3-28
tattva-vit tu maha-baho
guna-karma-vibhagayoh
guna gunesu vartanta
iti matva na sajjate
“One who is in knowledge of the Absolute Truth, O mighty-armed, does not engage himself in the senses and sense gratification, knowing well the differences between work in devotion and work for fruitive results.”
Tetapi, mereka yang mengetahui karakter sebenarnya dari perbedaan antara guna dan kegiatan kerja mereka, wahai yang berlengan perkasa (Arjuna), akan dapat memahami bahwa guna hanya mempengaruhi guna sebagai obyek, dan tak akan terikat dengannya.
3-29
prakriter guna-sammudhah
sajjante guna-karmasu
tan akrtsna-vido mandan
krtsna-vin na vicalayet
“Bewildered by the modes of material nature, the ignorant fully engage themselves in material activities and become attached. But the wise should not unsettle them, although these duties are inferior due to the performers’ lack of knowledge.”
Mereka yang ditipu oleh guna dari prakrti terikat pada kegiatan kerja yang dihasilkannya. Tetapi bagi mereka yang mengetahuinya janganlah membingungkan pikiran orang-orang bodoh yang hanya mengetahui sebagian kecil saja.
3-30
mayi sarvani karmani
sannyasyadhyatma-cetasa
nirasir nirmamo bhutva
yudhyasva vigata-jvarah
“Therefore, O Arjuna, surrendering all your works unto Me, with full knowledge of Me, without desires for profit, with no claims to proprietorship, and free from lethargy, fight.”
Dengan memasrahkan segala kegiatan kerja kepada-Ku, dengan kesadaran yang termantapkan pada sang Diri, terbebas dari keinginan dan keakuan, berjuanglah kamu, bebaskan dirimu dari gejolak mental.
3-31
ye me matam idam nityam
anutishthanti manavah
shraddhavanto ’nasuyanto
mucyante te ’pi karmabhih
“Those persons who execute their duties according to My injunctions and who follow this teaching faithfully, without envy, become free from the bondage of fruitive actions.”
Mereka yang penuh keyakinan dan bebas dari hal-hal yang remeh secara konstan mengikuti ajaran-Ku ini juga terbebaskan dari belenggu kegiatan kerja.
3-32
ye tv etad abhyasuyanto
nanutishthanti me matam
sarva-jnana-vimudhams tan
viddhi nastan acetasah
“But those who, out of envy, disregard these teachings and do not follow them are to be considered bereft of all knowledge, befooled, and ruined in their endeavors for perfection.”
Tetapi, mereka yang mencela ajaran-Ku dan tidak mengikutinya, ketahuilah bahwa mereka itu buta terhadap segala kebijaksanaan, tersesat dan tanpa perasaan.
3-33
sadrsam cestate svasyah
prakriter jnanavan api
prakritim yanti bhutani
nigrahah kim karishyati
“Even a man of knowledge acts according to his own nature, for everyone follows the nature he has acquired from the three modes. What can repression accomplish?”
Bahkan orang-orang yang berpengetahuan juga berbuat sesuai dengan sifatnya. Semua makhluk bertindak mengikuti sifat-sifatnya. Apa yang dapat diselesaikan dengan menekannya?
3-34
indriyasyendriyasyarthe
raga-dvesau vyavasthitau
tayor na vasam agacchet
tau hy asya paripanthinau
“There are principles to regulate attachment and aversion pertaining to the senses and their objects. One should not come under the control of such attachment and aversion, because they are stumbling blocks on the path of self-realization.”
Karena, setiap keterikatan dan kebencian dimantapkan pada obyek-obyek indra tersebut. Jangan ada yang menyerah terhadap pengaruhnya, karena keduanya itu merupakan halangan saja.
3-35
sreyan sva-dharmo vigunah
para-dharmat sv-anusthitat
sva-dharme nidhanam sreyah
para-dharmo bhayavahah
“It is far better to discharge one’s prescribed duties, even though faultily, than another’s duties perfectly. Destruction in the course of performing one’s own duty is better than engaging in another’s duties, for to follow another’s path is dangerous.”
Lebih baik melakukan dharmanya sendiri walaupun tidak sempurna dari pada melaksanakan dharma orang lain walaupun dikerjakan dengan sempurna. Lebih baik mati dalam menyelesaikan dharmanya sendiri dari pada mengikuti dharma orang lain yang berbahaya.
3-36
arjuna uvaca
atha kena prayukto ’yam
papam carati purushah
anicchann api varsneya
balad iva niyojitah
“Arjuna said: O descendant of Vrishni, by what is one impelled to sinful acts, even unwillingly, as if engaged by force?”
Arjuna bertanya:
Tetapi dengan apakah seseorang didorong untuk berbuat dosa, wahai Warsneya (Krsna), seakan-akan dipaksa, walaupun bertentangan dengan kehendaknya sendiri?
3-37
sri-bhagavan uvaca
kama esa krodha esa
rajo-guna-samudbhavah
mahasano maha-papma
viddhy enam iha vairinam
“The Supreme Personality of Godhead said: It is lust only, Arjuna, which is born of contact with the material mode of passion and later transformed into wrath, and which is the all-devouring sinful enemy of this world.”
Sri Bhagavan bersabda:
Itulah kemarahan, nafsu yang berasal dari guna rajas yang sangat merusak dan sangat berdosa. Ketahuilah bahwa itu adalah musuh.
3-38
dhumenavriyate vahnir
yathadarso malena ca
yatholbenavrto garbhas
tatha tenedam avrtam
“As fire is covered by smoke, as a mirror is covered by dust, or as the embryo is covered by the womb, the living entity is similarly covered by different degrees of this lust.”
Seperti api yang diselimuti asap, seperti cermin yang diselimuti debu, seperti janin yang terbungkus dalam kandungan, demikianlah hal ini diselubungi oleh (sifat rajas) itu.
3-39
avrtam jnanam etena
jnanino nitya-vairina
kama-rupena kaunteya
duspurenanalena ca
“Thus the wise living entity’s pure consciousness becomes covered by his eternal enemy in the form of lust, which is never satisfied and which burns like fire.”
Wahai putra Kunti (Arjuna), kecerdasan ini ditutupi oleh api keinginan yang tak pernah puas ini, yang merupakan musuh utama bagi para bijak
3-40
indriyani mano buddhir
asyadhisthanam ucyate
etair vimohayaty esa
jnanam avrtya dehinam
“The senses, the mind and the intelligence are the sitting places of this lust. Through them lust covers the real knowledge of the living entity and bewilders him.”
Indra-indra, pikiran dan kecerdasan dikatakan sebagai tempat kedudukannya. Dengan terselubunginya kebijaksanaan oleh ini, ia mengelirukan sang roh (penghuni badan) ini.
3-41
tasmat tvam indriyany adau
niyamya bharatarsabha
papmanam prajahi hy enam
jnana-vijnana-nasanam
“Therefore, O Arjuna, best of the Bharatas, in the very beginning curb this great symbol of sin [lust] by regulating the senses, and slay this destroyer of knowledge and self-realization.”
Oleh karena itu, wahai yang terbaik dari wangsa Bharata (Arjuna), kendalikanlah indra-indramu sejak awal dan musnahkanlah perusak kebijaksanaan dan kemampuan pembeda, yang penuh dosa itu.
3-42
indriyani parany ahur
indriyebhyah param manah
manasas tu para buddhir
yo buddheh paratas tu sah
“The working senses are superior to dull matter; mind is higher than the senses; intelligence is still higher than the mind; and he [the soul] is even higher than the intelligence.”
Orang mengatakan bahwa indra-indra itu besar; lebih besar dari pada indra adalah pikiran; lebih besar dari pada pikiran adalah kecerdasan; tetapi lebih besar dari pada kecerdasan itu adalah Dia.
3-43
evam buddheh param buddhva
samstabhyatmanam atmana
jahi satrum maha-baho
kama-rupam durasadam
“Thus knowing oneself to be transcendental to the material senses, mind and intelligence, O mighty-armed Arjuna, one should steady the mind by deliberate spiritual intelligence [Krishna consciousness] and thus—by spiritual strength—conquer this insatiable enemy known as lust.”
Jadi, dengan mengetahuinya, yang melampaui kecerdasan itu, dengan mengendalikan sang diri (yang lebih rendah) dengan Diri yang lebih tinggi, wahai Yang berlenganperkasa (Arjuna), musnahkanlah musuh-musuh yang berwujud keinginan itu, yang sulit untuk diatasi.
Inilah akhir dari bab ketiga yang berjudul KARMA YOGA


Minggu, 09 Januari 2022

MEMUJA TUHAN

Bhakti Marga

Tempat dan Arah Memuja Ida Sanghyang Widhi

Umat Hindu percaya bahwa alam semesta dengan bintang dan planet diruang angkasa yang tidak terlihat oleh mata bahkan teropong-teropong bintang sekalipun, sebenarnya ada di dalam diri Ida Sanghyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa). Bumi kita tidak lebih dari sebuah sel dari tubuh Ida Sanghyang Widhi. Kalau kita bandingkan diri kita seperti satu titik di dalam samudra, titik air tidak boleh dikatakan samudra tetapi sebaliknya di dalam samudra titik air ini merupakan bagian kecil dari samudra. Dalam titik air ini sifat asin dari samudra ada, demikian pulalah manusia walaupun berada di dalam diri Tuhan tidak bisa mengatakan dirinya Tuhan, meskipun sifat-sifat ketuhanan itu ada dalam diri manusia. Dalam susunan yang demikian maka sulit untuk mengatakan dimana sebenarnya Tuhan itu bertahta. Beliau ada di mana-mana dan tidak ada tempat di mana Beliau tidak ada. jika Tuhan berada dimana-mana mengapa manusia memuaja Tuhan ditempat-tempat ibadat, apa perlunya membuat pura balikan dan tempat tidur saja bisa sembahyang? Cara yang paling mudah dan indah untuk mendekati Tuhan adalah melalui rasa. Untuk membangkitkan rasa agama, rasa cinta kepada Tuhan maka diperlukan suatu kondisi tertentu, kondisi yang bisa menggiring agar rasa ketuhanan muncul dan bergelora dengan mantap.


           Gunung dan matahari terbit adalah merupakan kiblat (arah) dimana umat Hindu menundukkan kepala kehadapan Ida Sang Hyang Widhi sebagai perwujudan rasa bhakti. Gunung merupakan “Acala Lingga” yang berate tempat Tuhan yang tidak bergerak, karena kenyataannya gunung tidak dapat berpindah. Umat Hindu yakin gunung sebagai linggih Ida Sang Hyang Widhi. Mengapa Tuhan di puja di puncak gunung? bukankah Tuhan ada dimana-mana .
            Meskipun Tuhan ada dimana-mana tetapi pada saat umatnya memuja-Nya, beliau didudukkan ditempat yang tertinggi. Makin tinggi suatu tempat makin mulialah yang dipujanya.  Selain itu gunung mempunyai arti penting yaitu karena dengan adanya gunung inilah maka manusia bisa menikmati air untuk diminum maupun untuk mengaliri sawahnya. Gunung denga hutan dan tanahnya yang gembur menyebabkan air hujan masuk dan disimpan didalam tanah serta sedikit demi sedikit dialirkan melalui sungai tidak henti-hentinya. Karena itulah umat Hindu menghadap ke gunung dimana Tuhan menyampaikan anugrah berupa kemakmuran dan keselamatan, maka melalui gunung pula umat Hindu menyampaikan terima kasih.
            Arah matahari terbit yaitu arah timur adalah arah yang dianggap suci. Mengapa arah matahari terbit dianggap suci ? karena matahari adalah symbol kekuasaan Ida Sang Hyang Widhi. Menurut para ahli Bumi, planet kita berasal dari pecahan matahari dan jasad manusia berasal dari unsul Pancamabhuta yaitu air, tanah, api, angin, dan angkasa yang berasal dari unsure-unsur bumi kita ini.
            Kekuatan yang diciptakan matahari menyebabkan bumi kita berputar, angin dan air beredar. Dengan sinar matahaari semua makhluk bisa hidup, jika tidak ada matahari maka bumi pun akan mati. Matahari adalah sumber hidup, tanpa matahari kehidupan pun tidak mungkin ada.
            Dalam Niti Castra disebutkan : Jika tidur ke arah matahari terbit menyebabkan panjang umur. Jika tidu denga kepala  diarah utara (Gunung) menyebabkan murah rezeki. Kata utara berasal dari “ud” yang berarti menonjol atau menjulang yang dimaksud dalam hal ini adalah tanah yang menjulang tinggi yaitu gunung.


ARAH TRI SANDYA DALAM ISTADEWATA

Masing-masing umat beragama pada hakikatnya mempunyai tujuan yang sama, namun cara dan tata pelaksanaannya yang berbeda. Tujuan agama Hindu adalah untuk mencapai Moksartham Jagadhitaya Ca Iti Dharma. Artinya, dharma itu ialah alat untuk mencapai moksa dan mencapai kesejahteraan hidup di dunia. Moksa adalah kebebasan jiwatman, mengalami kebahagiaan rokhani yang langgeng, yaitu kebahagiaan tanpa kedukaan (suka tanpa wali duhka).

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, tidaklah cukup memahami ajarannya saja, melainkan harus dilembagakan secara utuh, mulai dari adanya pengetahuan terhadap ajaran agama, kemudian diikuti dengan proses pemahaman dan pentaatan, serta mencapai puncaknya pada proses penghargaan serta penjiwaan, penerapan terhadap ajaran agama itu pada kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, ajaran agama yang bersifat normatif itu tidak hanya sebatas wacana, tapi membumi dan membudaya dalam kehidupan masyarakat, bahkan dirasakan sebagai sesuatu yang menyatu dalam kehidupan.

Dalam lontar Padma Bhuana disebutkan, Bhatara Siwa  bermanifestasi menempati arah mata angin, di antaranya Siwa sebagai Iswara, berkedudukan di timur, Brahma di Selatan, Mahadewa di Barat, Wisnu di Utara, Timur Laut sebagai Sambu, Tenggara sebagai Mahesora, Barat Daya sebagai Ludra, Barat Laut Sangkara dan di tengah adalah Siwa.  

Dewa / Bhatara - Bhatari itu adalah Bhatara Siwa sendiri. Bhatara - Bhatari itulah yang dipuja sebagai Ista Dewata. Dalam manifestasi beliau yang paling mendominasi pemujaan yang ada di Bali sebagai Dewa Brahma, Wisnu, dan Iswara.

Akhir kata, di mana Tuhan selalu dihadirkan, dipuja dengan penuh sujud bakti, di mana kekuatan Tuhan selalu dihadirkan dalam setiap nama, rupa, warna, maka di sana akan selalu ada rasa syukur, rasa penuh bakti, rasa penuh cinta, maka akan hadir keberuntungan serta kebaikan.



Sabtu, 08 Januari 2022

RADO

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata rasa adalah tanggapan indra terhadap rangsangan saraf seperti manis, pahit, masam terhadap indra pengecap, atau panas, dingin, nyeri terhadap indra perasa). Arti lainnya dari rasa adalah apa yang dialami oleh badan.

Sedangkan doa adalah permohonan yang dilakukan manusia kepada penciptanya. Doa adalah cara berhubungan dengan Tuhan, dengan diri sendiri, dengan orang-orang di sekitar. Saat berdoa, seseorang harus membuka hati, pikiran, dan jiwa kepada Tuhan.

Pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang doa yang sesungguhnya yaitu rasa. Sebelum saya perjelas dengan lengkap coba jawab pertanyaan - pertanyaan dibawah ini di dalam hati.

Pernahkah anda jalan - jalan lalu ada razia polisi kemudian anda tenang-tenang saja dan tidak mengkwatir kan apa-apa padahal anda secara tidak sadar tidak bawa sim dan anda lolos tanpa diberhentikan oleh pakpol.?? yah.. itu adalah salah satu contoh rasa adalah doa yang sesungguhnya. Kenapa bisa begitu? Pada saat itu anda tau kalau ada razia polisi tapi diperasaan anda itu tenang karena anda merasa sudah lengkap semua motor anda termasuk SIM juga. Nah perasaan tenang yang anda pancarkan itu merupakan suatu doa. Kalau ditelusuri lebih dalam lagi perasaan Tenang anda itu berarti tidak mengkwatirkan apa-apa. Jadi vibrasi yang anda pancarkan ke alam semesta merupakan vibrasi tenang santai iklhas dan pasrah atau berserah. Begitu juga alam sekitar akan merespon balik vibrasi atau getaran yang anda pancarkan tadi. Termasuk juga para polisi yang ada di sekitar secara tidak sadar akan merespon vibrasi yang anda pancarkan tadi. Terus penjelasan logisnya gimana? sesuai hukum alam getaran rasa yang dipancarkan ke alam semesta akan merespon balik ke kita. Jadi misal pada kasus tadi anda memancarkan getaran positif yaitu tenang santai ikhlas maupun pasrah akan diterima oleh alam sekitar demikian dan imbal balikya juga positif sesuai harapan anda yaitu anda tidak kena razia. Padahal kalau skenarionya kita balik misal anda sadar anda tidak bawa SIM misalnya maka pada saat ada razia polisi pasti anda merasa khawatir '' ini kalau aku terkena razia gimana? pasti kena tilang dan.....''  itu mungkin yang ada dipikiran anda. Coba telusuri lebih dalam lagi pasti ada khawatir alias takut dan kalau takut itu sama saja tidak percaya bahwa anda lolos dalam razia tersebut. Seperti itulah vibrasi yang anda pancarkan ke alam semesta dan direspon balik oleh alam sekitar termasuk polisi- polisi yang ada disitu. Realitanya adalah anda kena razia deh.
Kita ambil contoh lain misalnya anda takut hantu. Semakin anda takut maka anda akan dibayangi bahkan dinampakkan semacam bayangan - bayangan yang anda anggap hantu tadi. Kenapa bisa? Yah sama seperti tadi perasaan takut anda itu yang membuat pikiran anda semakin fokus yang namanya hantu dan mewujud seakan-akan ada hantu beneran.

Nah sekarang aplikasinya bagaimana? sederhana mari kita tata niat kita dalam melakukan aktifitas dan amati juga perasaan yang kita akses, kalau perasan buruk yah kita ubah menjadi baik dengan cara kita tarik nafas yang panjang lalu hembuskan secara perlahan lakukan sebanyak tiga kali untuk membuat tubuh kita rilex dan lakukan afirmasi sesuai harapan anda. latihlah dan lakkan berulang-ulang. Kalau dalam konteks berdoa misalnya, coba kita tanya kepada diri kita apa yang benar- benar kita inginkan. Jangan sampai doa yang kita panjatkan itu tidak sinkron dengan perasaan kita. Itu juga yang menyebabkan doa kita sulit terkabul bahkan tertolak. Karena mulut kita bilang A hati kita bilang B jadinya nggak sinkron. Dalam setiap kejadian yang tidak menyenangkan mari kita coba untuk mengakses getaran atau perasaan ikhlas dan pasrah dan kita yakini bahwa apa yang terjadi merupakan yang terbaik menurut Tuhan.

Sekarang mari kita amati perasaan-perasaan seperti apa yang kita akses sehari-hari. Apakan sehari-hari kita dominan mengakses perasaan positif atau malah sebaliknya. Juga kita amati gimana realita - realita yang terjadi saat kita mengakses perasaan- perasaan tersebut. Oke PR kita sekarang adalah mari kita tata perasaan perasaan yang selama ini malah membuat hidup kita tidak memberdayakan. Juga kita tata perasaan yang sesngguhhya  pada waktu kita berdoa dalam kehidupan sehari-hari baik waktu beribadah maupun yang lainnya.

TRI SANDHYA

Ajaran untuk melakukan Tri Sandhya tercantum dengan jelas dalam kitab Hindu, yaitu:

“Pergunakanlah dengan sebaik-baiknya kesempatan menjelma menjadi manusia ini, kesempatan yang sungguh sulit diperoleh, yang merupakan tangga untuk pergi ke sorga: segala sesuatu yang menyebabkan agar tidak jatuh lagi, itulah hendaknya dilakukan.”

Tri Sandya berasal dari kata Tri dan SandyaTri berarti tiga. Sandya berasal dari urat kata sam dan dhiSam berarti berkumpul, baik, sempurna, dan dhi berarti pikiran. Jadi Sandya berarti memusatkan pikiran kepada Tuhan. Sandya dapat pula diartikan berkonsentrasi secara sungguh­-sungguh dan sempurna kepada Tuhan.

Ketika melaksanakan Tri Sandhya, umat Hindu wajib memahami dan menghafalkan Mantram Tri Sandhya. Mantram yang terdiri dari lagu dan irama tersebut menjadi ibu dari segala mantra dalam agama Hindu.

Mantram Tri Sandhya memuat pengakuan sebagai manusia yang lemah, permohonan ampun, serta perlindungan umat Hindu kepada Sang Hyang Widhi melalui dewa dan dewi. Mereka adalah Dewa Siwa, Brahma, Mahadewa, Rudra, Wisnu, Narayana, Bhur, Bhuva svah, dan Purusa.

Untuk memusatkan pikiran kepada Tuhan tugas kita adalah mengendalikan kewajiban. Dan, agar proses pengendalian ini berhasil, kita harus mengatasi hambatan yang ditimbulkan oleh Tri Guna (sattwarajastamas). Kita harus sekuat mungkin bertahan dari tarikan dan desakan alami Tri Guna dengan jalan berserah kepada-Nya. Inilah kewajiban kita yang pertama dalam perjuangan mendekatkan diri dengan Tuhan.

Harus diyakini bahwa Tuhan adalah Mahasempuma. Maka untuk mencapai-Nya kita harus mendasari diri dengan kepercayaan yang sempurna pula. Bila tidak, maka kekuatan yang mengikat kita dengan Tuhan tidak dapat berkembang. Kita harus memiliki bhakti (cinta kasih) kepada Tuhan secara sungguh-sungguh agar kita dianugrahi asih-Nya. Keragu-raguan, hanyalah akan merusak azas hubungan asih dan bhakti serta menjauhkan kita dari Tuhan.

Mendekat atau duduk dekat dengan Tuhan disebut upasana atau upasthana. Tetapi jangan keliru, sebab duduk dekat atau berdekatan saja tidak cukup. Katak duduk dekat dengan bunga teratai tetapi tak bisa menikmati manisnya madu bunga teratai. Hanya merasa dekat saja tak ada gunanya, apabila tidak ada bhakti menyertainya. Sama halnya saat bersembahyang, boleh saja kita duduk dekat sekali dengan Padmasana. Akan tetapi apabila tak ada rasa bhakti yang mendalam, kedekatan fisik itu tidak berarti apa­-apa bagi kemajuan hidup rohani kita. Jadi bersamaan dengan dekatnya phisik harus disertai dengan dekatnya bathin kita kepada Tuhan.

Untuk lebih mengerti makna dekat dan bhakti pada Tuhan menarik untuk disimak contoh pembanding dalam kehidupan sehari-hari berikut.

Kalau kita bergerak ke arah matahari, maka bayangan akan berada di belakang dan mengikuti kita. Tetapi kalau kita bergerak sebaliknya maka bayangan akan jatuh di depan kita. Begitulah halnya apabila kita menghadap Tuhan, segala kegelapan alam akan ada di belakang mengikuti kita. Tetapi kalau kita membelakangi Tuhan maka kegelapan, kebodohan, yang menuntun jalan hidup kita.

Hal penting yang dapat kita simpulkan dari dari contoh-contoh di atas adalah bahwa dalam setiap keadaan suatu sifat bisa bergeser dan digantikan oleh sifat yang lain. Begitulah kalau kita dekat dan bhakti kepada Tuhan, sifat buruk yang ada pada diri kita akan hapus dan berganti dengan sifat-sifat ketuhanan.

Dalam Bhagavadgita (BG), II.45 Krishna mengajarkan kepada Arjuna agar membebaskan diri dari Tri Guna, juga dari dualisme dengan memusatkan pikiran kepada kesucian dan melepaskan diri dari ikatan duniawi sehingga bisa bersatu dengan Atman.

Disitu dengan tegas tersirat bahwa kita harus membebaskan diri dari pengarnh sattwarajastamas dan pengaruh sifat ganda yaitu susah dan senang, puji dan maki dengan cara memusatkan pikiran kepada kesucian (Tuhan).

Saat-saat Untuk Mendekat dan Berbhakti

Sudah merupakan hukum alam bahwa, pagi hari adalah periode sifat sattwik, tengah hari adalah sifat rajasik, dan sore hari atau senja merupakan periode tamasik.

Waktu fajar menyingsing (abang wetan) pikiran dibangunkan dari kegelapan tidur, pikiran dibebaskan dari keresahan dan kemurungan sehingga pikiran menjadi tenang dan jernih. ltulah sebabnya kita diperintahkan agar melakukan Pratah Sandya atau doa Sandya yang dilakukan pada dini hari.

Sementara hari bertambah siang kita dirasuki oleh raja guna yakni sifat aktif, ambisi, lincah penuh usaha, dan kita memasuki lapangan kegiatan atau kerja keras. Sebelum makan siang kita diberi petunjuk agar bersembahyang lagi kepada Tuhan dan mempersembahkan pekerjaan beserta hasilnya yang kita peroleh dari pekerjaan itu. Setelah itu baru boleh makan dengan bersyukur atas karunia-Nya. Inilah yang dimaksudkan dengan madhyannikam atau pemujaan pada tengah hari. Dengan melakukan madyannikam ini raja guna dapat dikendalikan.

Sifat ketiga yang menguasai manusia adalah tamas. Ketika matahari terbenam kita bergegas pulang makan, kemudian mengantuk dan tidur. Makan dan tidur adalah kebiasaan para pemalas dan penganggur. Ketika tamas yaitu, sifat terburuk di antara ketiga sifat itu hendak menguasai kita, maka cara terbaik untuk menghindari lilitannya adalah dengan cara bersembahyang, berkumpul dengan sesama bhakta dengan mengagungkan Tuhan, dan membaca buku yang mengagungkan kebesaran-Nya. Ini merupakan sembahyang pada petang hari yang disebut Sandya Vandanam yang juga sudah ditentukan.

Karena itu pikiran dan perasaan yang bangkit dari kekosongan pada waktu tidur harus dilatih dan dibina dengan semestinya. Kita harus berusaha belajar merasakan bahwa kebahagiaan setelah bersembahyang dan rasa suka cita yang diperoleh ketika kita mengalahkan pandangan dan pikiran dari dunia luar. Hal ini jauh lebih agung dan lebih lestari jika dibandingkan dengan kenikmatan yang diperoleh dengan jalan tidur seperti yang biasa dilakukan.

Para Rsi mengatakan bahwa orang yang sepanjang hidupnya menjalankan Sandya tiga kali sehari dengan tekun ia akan menjadi manusia utama. la selalu berjaya. Ia akan mencapai kebebasan semasih hidup. Ia akan mencapai Jivan Mukti.

Tri Sandya adalah sembahyang tiga waktu, yaitu : pagi, siang, dan sore. Idealnya umat melakukannya dengan tepat waktu. Namun dengan berbagai alasan banyak yang belum bisa melakukan dengan tepat, ada yang sekali, dua kali, dan bahkan Senin Kamis.

Sebelumnya mari kita lihat apa sebenarnya makna melakukan sembahyang tri sandya di tiga waktu tersebut.


1. Pagi hari, saat bangun dari tidur yang gelap. Pikiran masih segar, diharapkan kita mendapatkan semangat dan motivasi untuk berbuat baik di hari ini. Maka tri sandya pagi adalah untuk menguatkan guna sattwam agar dituntun berbuat baik sepanjang hari.


2. Siang hari, saat siang semangat kerja tinggi, guna rajas menguat. Agar tetap dalam batasan dharma maka perlu dikendalikan guna rajas tersebut dengan melakukan tri sandya tengah hari.


3. Sore hari, saat malam menjelang, panggilan untuk beristirahat atau tidur. Saat ini guna tamasika menguat dan untuk mengatasinya agar tidak terpengaruh menjadi malas maka tri sandya sore dilakukan.


Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa pelaksanaan tri sandhya ataupun sembahyang dalam agama Hindu yang dilakukan tiga kali dalam sehari merupakan satu bentuk praktek ibadah umat Hindu menunjukkan rasa syukur atau berterima kasih kepada Tuhan Sang Hyang Widhi yang telah menciptakan alam dan memberikan nikmat terhadap umatnya. 

Sembahyang dalam agama Hindu merupakan bagian dari bhakti yoga yang merupakan salah satu jalan untuk mencapai kebahagiaan tertinggi (Moksa). 

Dalam melaksanaan Tri Sandhya ini, menekankan kebersihan jasmani yaitu kebersihan anggota badan. Selain itu, di dalam praktek Tri Sandhya begitu menekankan aturan sikap duduk (padmasana/badjrasana) atau berdiri (padaasana)serta diikuti sikap tangan yang baik, pengaturan napas dan pakaian yang bersih.

Pelaksanaan Tri Sandhya ini bisa memberi banyak manfaat dan kelebihan dalam sudut kesehatan rohani dan jasmani. Antara manfaat kesehatan rohani adalah, bisa menenteramkan jiwa manusia karena bisa menimbulkan rasa ikhlas yang pada hakikatnya merupakan kebutuhan jiwa manusia. Selain itu, ia bisa menumbuhkan rasa cinta kasih terhadap Tuhan disebabkan ketekunan atau ketaatan manusia melakukan sembahyang.



Rabu, 05 Januari 2022

Tufoksi KMDS

Tugas Pokok & Fungsi

Tugas dan  Kewajiban Pengurus Koperasi Maha Daksa Sandhi

Pengurus Koperasi

Pengurus koperasi adalah orang-orang yang dipilih untuk masa jabatan paling lama lima tahun sesuai dengan anggaran koperasi. Sepertiga anggota pengurus koperasi dapat dipilih dari orang-orang yang bukan anggota koperasi, sedangkan sisanya sebesar dua pertiga adalah harus benar-benar berasal dari anggota koprasi.  Pengurus koprasi bertanggung jawab langsung kepada rapat anggota. Tugas dan kewajiban pengurus koperasi adalah memimpin organisasi dan usaha koperasi serta mewakilinya di muka dan di luar pengadilan sesuai dengan keputusan-keputusan rapat anggota.

  1. Pengurus Koperasi Antara lain :
  2. Pengurus Harian :

Ketua

Tugas dan Tanggung Jawab :

  • Mengendalikan seluruh kegiatan koperasi
  • Memimpin, mengkoordinir, dan mengontrol jalannya aktifitas koperasi dan bagian-bagian yang ada di dalamnya
  • Menerima laporan atas kegiatan yang dikerjaan masing-masing
  • Menandatangani surat penting
  • Memipmin rapat anggota tahunan dan melaporkan laporan pertanggung jawaban akhir tahun pada anggota
  • Megambil keputusan atas hal-hal yang dianggap penting bagi kelancaran kegiatan koperasi

Sekretaris

Tugas dan Tanggung Jawab :

  • Membantu Ketua dalam melaksanakan kerja
  • Menyelenggarakan kegiatan surat menyurat dan ketatausahaan koperasi
  • Mencatat tentang kemajuan dan kelemahan yang terjadi pada koperasi
  • Menyampaikan hal-hal yang penting pada ketua
  • Membuat pendataan koperasi

Bendahara

Tugas dan Tanggung Jawab :

  • Merencanakan anggaran belanja dan pendapatan koperasi
  • Memelihara semua harta kekayaan koperasi
  • Membukukan transaksi ke Supplier > Rp 1 Juta
  • Pengisian saldo
  • Melakukan Cash Opname yang ada di kasir

 

  1. Pengurus Lengkap

Humas

Tugas dan Tanggung Jawab :

  • Menyusun strategi dan kebijakan pengelolaan SDM dan Koperasi
  • Mengkoordinasi dan mengontrol pelaksanaan fungsi SDM diseluruh koperasi untuk memastikan semuanya sesuai dengan strategi kebijakan system dan rencana kerja yang telah disusun
  • Mengkoordinasi dan mengontrol pelaksanaan program pelatihan dan pengembangan untuk memastikan tercapaianya target tingkat kemampuan dan kopetensi setiap karyawan
  • Menyusun system manajemen kerja, serta mengkoordinasi dan mengontrol pelaksanaan siklus manajemen kerja

Administrasi

Tugas dan Tanggung Jawab :

  • Mengatur surat menyurat yang ada di Koperasi
  • Mengasirpkan dokumen-dokumen penting koperasi
  • Memonitor kebutuhan rumah tangga dan ATK Koperasi
  • Mempersiapkan rapat-rapar di Koperasi
  • Menjadwalkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan di Koperasi

Akuntan

Tugas dan Tanggung Jawab :

  • Bertanggung jawab dalam pencatatan penerimaan dan pengeluaran kas
  • Bertanggung jawab atas pembuatan laporan keuangan, neraca, laporan rugi laba, arus kas, dan lain-lain
  • Bertanggung jawab atas Rekonsiliasi Bank

Kasir

Tugas dan Tanggung Jawab :

  • Membuat bukti keluar masuknya uang yang ada di koperasi
  • Bertanggung jawab atas dana kas kecil
  • Bertanggung jawab atas keluar masuknya uang
  • Bertanggung jawab membuat laporan harian
  1. Tugas dan Kewajiban Pengurus (Pasal 23, AD 27/PAD/XVI.37/2008)
  2. Menyelenggarakan dan mengendalikan usaha Koperasi
  3. Melakukan seluruh perbuatan hukum atas nama Koperasi
  4. Mewakili Koperasi di dalam dan di luar Pengadilan
  5. Mengajukan Rencana Kerja, Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Koperasi
  6. Menyelenggarakan Rapat Anggota serta mepertanggungjawabkan pelaksanaan tugas kepengurusannya
  7. Memutuskan penerimaan anggota baru, penolakan anggota serta pemberhentian anggota
  8. Membantu pelaksanaan tugas pengawasan dengan memberikan keterangan dan memperlihatakan bukti-bukti yang diperlukan
  9. Memberikan penjelasan dan keterangan kepada anggota mengenai jalannya organisasi dari usaha Koperasi
  10. Memelihara kerukunan diantara anggota dan mencegah segala hal yang menyebabkan perselisihan
  11. Menanggung kerugian Koperasi sebagai akibat karena kelalaiannya, dengan ketentuan yang berlaku
  12. Meminta jasa audit kepada Koperasi Jasa Audit dan atau Akuntan Publik yang biayanya ditanggung oleh Koperasi dan biaya audit tersebut dimasukan dalam Anggaran Biaya Koperasi
  13. Menyusun ketentuan mengenai tugas, wewenang dan tanggung jawab anggota Pengurus serta ketentuan mengenai pelayanan terhadap anggota
  14. Pengurus atau salah seorang yang ditunjuk berdasarkan ketentuan yang berlaku dapat melakukan tindakan hukum yang bersifat pengurusan dan pemilikan dalam batas-batas tertentu berdasarkan persetujuan tertulis dari Keputusan Rapat Pengurus dan Pengawas Koperasi.

 

Badan Pemeriksa Koperasi atau Pengawas

  1. Pengawas bertugas :

Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan dan pengelolaan koperasi.

  1. Kewajiban Pengawas (Pasal 28, AD 27/PAD/XVI.37/2008)
  • Melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap pelaksanaan kebijakan dan pengelolaan Koperasi
  • Meneliti catatan dan pembukuan yang ada pada koperasi
  • Memberikan koreksi, sara teguran dan peringatan kepada Pengurus
  • Membuat laporan tertulis tentang hasil pelaksanaan tugas pengawasan kepada Rapat Anggota

Manajer atau Pengelola

Pengelola ( Manajer ) koperasi adalah mereka yang diangkat dan diperhentikan oleh pengurus untuk mengembangkan koperasi secara efisien dan profesional. Kedudukan pengelola adalah sebagai karyawan / pegawai yang diberi kuasa dan weweang oleh pengurus.

Tugas dan tanggung jawan pengelola :

– Membantu memberikan usulan kepada pengurus dalam menyusun perencanaan.

-Merumuskan pola pelaksanaan kebijaksanaan pengurus secara efektif dan efisien.

-Membantu pegurus dalam menyusun uraian tugas bawahannya.

– Menentukan standart kualifikasi dalam pemilihan dan promosi pegawai.

#tubaba@griyangbang//kmds#