- Orang bodoh membangun tembok pemisah dalam hatinya, orang bijaksana merobohkan tembok pemisah tersebut dan hidup berdampingan secara damai dengan orang lain.
- Kesuksesan yang paling besar dalam hidup adalah bisa bangkit kembali dari kegagalan.
- Ada dua hal yang tidak bisa ditunda dalam kehidupan: berbakti kepada orangtua dan melakukan kebajikan.
- Jika ingin meningkatkan kebijaksanaan, kita mesti membebaskan diri dari sifat kemelekatan dan keraguan.
- Cita-cita boleh saja tinggi dan jauh kedepan, namun langkah yang diperlukan untuk itu, harus diterapkan sejak sekarang.
- Jangan mengenang terus jasa yang telah diberikan, jangan melupakan kesalahan yang pernah dibuat. Lupakanlah dendam yang ada di dalam hati, namun jangan melupakan budi baik yang pernah diterima.
- Keinginan yang belebihan, selain mendatangkan penderitaan juga sering menggiring orang melakukan perbuatan yang mendatangkan karma buruk.
- Jangan takut terdorong oleh orang-orang yang lebih mampu dari kita. Karena dorongan tersebut akan memberi semangat untuk terus maju.
- Orang tidak mempunyai hak milik atas nyawanya, melainkan hanya memiliki hak untuk menggunakannya.
- Tetesan air dapat membentuk sebuah sungai, kumpulan butiran beras bisa memenuhi lumbung. Jangan meremehkan hati nurani sendiri, lakukankalh perbuatan baik meskipun kecil.
- Lahan batin manusia bagaikan sepetak sawah, bila tidak ditanami dengan bibit yang baik, tidak akan bisa menuai hasil yang baik.
- Orang berbudi luhur mempunyai tujuan hidup, sedang orang yang berpikiran sempit menganggap hidup sebagai tujuan.
- Sertakan saya dalam perbuatan baik, jangan libatkan saya dalam perbuatan jahat.
- Anggaplah segala permasalahan sebagai pelajaran, pujian sebagai peringatan untuk mawas diri.
- Dengan memiliki keyakinan, keuletan, dan keberanian, tidak ada hal yang tidak berhasil dilakukan di dunia ini.
- Orang harus menyayangi diri sendiri baru dapat mencintai orang di seluruh dunia.
- Dalam mengatasi berbagai masalah hendaknya berhati-hati, cermat, namun jangan berpikiran sempit.
- Tidak perlu merasa khawatir atas banyaknya masalah, yang perlu dikhawatirkan hanya masalah yang sengaja dicari-cari.
- Hendaknya kita menyadari, mensyukuri, dan membalas budi orangtua.
- Jika enggan mengerjakan hal kecil, maka kita pun akan sulit menyelesaikan tugas yang besar.
- Ikrar harus luhur, tekad harus kokoh, kepribadian harus lemah lembut, dan hati harus peka.
- Hanya orang yang menghargai dirinya sendiri, yang mempunyai keberanian untuk bersikap rendah hati.
- Keserakahan, kebencian, dan kebodohan merupakan 3 racun dalam kehidupan manusia. Atasi keserakahan dengan berdana, kebencian dengan hati yang welas asih, dan atasi kebodohan dengan kebijaksanaan.
- Penyesalan adalah pengakuan dari hati nurani, dan dapat juga dikatakan sebagai pembersihan terhadap kekotoran batin.
- Berdana bukanlah hak khusus yang dimiliki orang kaya, melainkan merupakan perwujudan dari sebuah cinta kasih yang tulus.
- Hidup manusia tidak kekal. Bersumbangsihlah pada saat Anda dibutuhkan, dan lakukanlah selama Anda masih bisa melakukannya.
- Jadilah orang yang tidak mengandalkan kekuasaan, status social, dan harta kekayaan dalam menjalani hidup.
- Malapetaka dan bencana yang melandai dunia, sebagian besar merupakan hasil perbuatan orang-orang yang sehat jasmaninya, namun cacat rohaninya.
- Memaafkan orang lain berarti berlaku baik pada diri sendiri.
- Ada tiga "tiada" di dunia ini, tiada orang yang tidak saya cintai, tiada orang yang tidak saya percayai, dan tiada orang yang tidak bisa saya maafkan.
- Pikiran dan perilaku kita sendiri yang menciptakan dan menentukan surga dan neraka.
- Sumber penderitaan manusia ada 3, yaitu: keserakahan, kebencian, dan kebodohan.
- Penyakit pada tubuh tidaklah menakutkan, batin yang sakit justru lebih mengerikan.
- Kebijaksanaan diperoleh dari bagaimana seseorang menghadapi masalah dalam hidupnya. Apabila ia menghindar dari masalah yang ada, maka ia pun tidak akan dapat mengembangkan kebijaksanaannya.
- Sumber dari kerisauan hati adalah keinginan manusia untuk selalu "memiliki".
- Ada sebagain orang yang sering merasa risau, akibat perkataan buruk orang lain yang sebenarnya tidak perlu dihiraukan.
- "Keserakahan", selain membawa penderitaan, juga akan menjerumuskan manusia ke dalam penderitaan.
- Sebelum mengkritik orang lain, pikirkan dahulu apakah kita sendiri telah sempurna dan bebas dari kesalahan.
- Setiap hari merupakan lembaran baru dalam hidup kita, setiap orang dan setiap hal yang ada di dalamnya merupakan kisah-kisah yang menarik.
- Bila kita selalu ragu dan tidak memiliki tekad yang kuat, walaupun jalan yang benar telah terbentang di depan mata, kita tetap tidak akan pernah sampai ke tempat tujuan.
- Orang yang paling berbahagia adalah orang yang penuh dengan cinta kasih.
- Dengan menjaga tutur kata dan bersikap dengan baik, maka kita akan menjadi orang yang disenangi dan dicintai orang lain.
- Mengernyitkan dahi dan tersenyum, keduanya sama-sama merupakan sebuah ekspresi, mengapa tidak tersenyum saja?
- Hati hendaknya bagaikan bulan purnama yang bersinar terang. Hati hendaknya juga seperti cakrawala luas dengan langit yang cerah.
- Niat baik yang tidak dilaksanakan sama halnya seperti bertani tanpa menebarkan benih. Hal ini hanya menyia-nyiakan kesempatan baik yang ada.
- Setiap hari kita harus bersyukur dan berterima kasih kepada orangtua dan semua makhluk. Jangan melakukan sesuatu yang mengecewakan mereka.
- Memberi dan melayani jauh lebih berharga dan membahagiakan daripada diberi dan dilayani.
- Tidak peduli seberapa jauh jalan yang harus ditempuh dan selalu berusaha sebaik mungkin mencapai tujuan dengan kemampuan yang dimiliki, inilah yang disebut dengan keuletan.
- Orang yang paling berbahagia adalah orang yang mampu mencintai dan dicintai orang lain.
- Sebaik apa pun hati seseorang, bila tabiat dan tutur katanya tidak baik, maka ia tidak dapat dianggap sebagai orang baik.
- Kasih sayang yang mengharapkan pamrih tidak akan bertahan lama. Yang akan bertahan selamanya adalah kasih sayang yang tak berwujud, tak ternoda, dan tanpa pamrih.
- Cinta kasih harus bagaikan seduhan the wangi dengan komposisi yang pas. Bila terlalu pekat akan terasa pahit dan kita tidak dapat meminumnya.
- Hadiah paling berharga di dunia ini adalah hadiah berbentuk maaf.
- Bertuturlah dengan kata yang baik, berpikirlah dengan niat yang baik dan lakukanlah perbuatan baik.
- Jangan menganggap remeh diri sendiri, karena setiap orang memiliki potensi yang tak terhingga.
- Kesuksesan hidup selama puluhan tahun merupakan akumulasi perilaku setiap hari, maka setiap hari kita harus menjaga perilaku dengan sebaik-baiknya.
- Semua manusia takut mati, takut menderita, apakah makhluk hidup lain tidak merasa takut juga? Oleh karena itu, kita harus melindungi semua makhluk hidup dan menghargai kehidupan.
- Marah adalah menghukum diri sendiri atas kesalahan yang diperbuat oleh orang lain.
- Hendaknya kita bersaing untuk menjadi siapa yang lebih dicintai, bukan siapa yang lebih ditakuti.
- Musuh terbesar kita bukanlah orang lain, melainkan diri kita sendiri.
- Bekerja untuk hidup sangat menyiksa, hidup untuk bekerja sangat menyenangkan.
- Sumber penderitaan manusia adalah nafsu keserakahan untuk memiliki. Bila tidak bisa memperoleh yang diingankannya, dia akan menderita, namun bila telah memperolehnya, dia juga akan menderita karena takut kehilangan.
- Kesederhanaan adalah keindahan, keserasian adalah keanggunan.
- Hakekat terpenting dari pendidikan adalah pewarisan cinta kasih dan rasa syukur, yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
- Kita hendaknya bersyukur kepada bumi yang menyediakan sumber daya alam sehingga kita dapat melanjutkan kehidupan, dan bersyukur kepada leluhur yang telah menyediakan lahan dan mengajarkan kita bagaimana cara untuk bertahan hidup.
- Hati yang dipenuhi rasa syukur akan membangkitkan rasa haru. Rasa haru merupakan dorongan untuk melakukan kebajikan.
- Bila dituduh orang lain, terimalah dengan rasa syukur. Bila menemukan kesalahan orang lain, sadarkan dengan sikap menghargai.
- Bersyukurlah kepada orang yang menerima bantuan kita, karena mereka memberikan kesempatan baik bagi tercapainya pembinaan rasa cinta kasih kita.
- Merupakan suatu berkah apabila sesama manusia dapat saling menghargai dan saling bersyukur.
- Dengan berjiwa besar, tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan di dunia ini. Bila berjiwa sempit, walaupun kesenangan berlimpah, kita akan tetap merasa menderita.
- Mengurangi nafsu keinginan dan memperluas cinta kasih, kehidupan akan dilalui dengan gembira, nyaman dan bebas tanpa beban.
- Pandai menempatkan diri dan berpikir demi orang lain adalah sikap orang yang penuh pengertian.
- Pada umumnya orang lebih dapat menanggung beban kerja yang berat daripada menanggung kebencian, namun orang yang berkepribadian mulia adalah orang yang dapat melupakan kebencian.
- Cara berterima kasih dan membalas budi kepada bumi adalah dengan terus mempertahankan konsep pelestarian lingkungan.
- Intropeksi dirilah bila mendapat kritikan orang lain. Jika salah harus diperbaiki; bila tidak bersalah, cobalah untuk menerimanya dengan lapang dada.
- Berjiwa besar menerima kekurangan orang lain merupakan suatu hal yang luar biasa di tengah hal yang biasa.
- Binalah cinta kasih yang tulus dan murni. Hati tidak akan risau bila tidak mengharapkan pamrih atau merasa rugi dalam memberikan cinta kasih.
- Menghibur orang dengan kata-kata yang baik dan lembut, melerai perselisihan dengan kata-kata bijaksana dan membantu kesulitan orang lain dengan tindakan nyata, inilah yang dinamakan berdana.
- Selalu mengejar kenikmatan materi adalah sumber penderitaan manusia. Menderita bila tak bisa memperolehnya, dan bila bisa memperolehnya akan merasa belum puas. Semuanya merupakan penderitaan yang tak akan pernah berakhir.
- Mampu merasakan kebahagiaan orang lain seperti kebahagiaan sendiri adalah kehidupan yang penuh dengan kepuasan dan paling kaya akan makna.
- Jangan menganggap enteng perbuatan baik sekecil apa pun, karena bila terhimpun menjadi satu merupakan bantuan yang berharga dan bermanfaat bagi orang lain.
- Seulas senyuman mampu mendamaikan hati yang gelisah.
- Kehidupan kita bermakna apabila kita dapat bermanfaat bagi orang lain.
- Jangan mencemaskan beban yang berat, asalkan tetap berjalan di arah yang benar, pasti akan samapi ke tujuan.
- Orang yang selalu mengasah orang lain, dirinya sendiri akan terasah, namun bagi orang yang selalu diasah, selain tidak rusak, malah akan lebih bersinar cemerlang, bagaikan berlian yang sesungguhnya.
- Prinsip penting mencapai keselarasan dalam penyelesaian masalah adalah menyadari kapan saatnya maju dan kapan saatnya mengalah.
- Dengan bersabar dan mengalah, hidup akan damai dan tenteram; saling bersitegang akan mendatangkan malapetaka.
- Genggamlah kesempatan untuk berbuat kebajikan. Bila hanya menunggu, kesempatan itu akan berlalu dan semuanya sudah terlambat.
- Mampu mematuhi tata tertib dalam berorganisasi, berpadu hati, ramah tamah, saling mengasihi, dan bergotong royong, berarti sebuah kemajuan yang telah dicapai dalam melatih diri yang dilakukan dengan penuh konsentrasi.
- Jangan menyia-nyiakan waktu; lakukan hal yang bermanfaat dengan langkah yang mantap.
- Tak ada yang tidak dapat diatasi dalam hidup ini; dengan adanya tekad, maka segalanya akan dapat diatasi.
- Jangan pusingkan apakah orang akan memperbaiki perilaku atau sikap buruknya, yang terpenting adalah kita tetap melatih diri dengan sebaik mungkin.
- Bila cermin dalam hati dapat selalu dibersihkan, maka dapat secara jelas membedakan yang baik dan buruk, yang benar dan salah.
- Jadikan batin kita sebagai tempat pelatihan diri dan hargailah semua orang dengan sikap kesetaraan.
- Sebuah tindakan jauh lebih bermakna dibandingkan dengan ribuan ucapan.
- Walaupun memiliki impian dan harapan pada masa berabad-abad kedepan, namun jangan sampai mengabaikan hal yang ada pada saat sekarang.
- Kepintaran adalah kemampuan untuk membedakan mana yang menguntungkan dan merugikan. Kebijaksanaan adalah kemampuan untuk membedakan yang benar dan salah.
- Jangan meremehkan kemampuan sendiri, karenanya mulailah dengan mengubah kondisi hati kita barulah dapat mengubah dunia agar menjadi lebih baik.
- Lebih baik belajar dari kelebihan orang lain daripada mencari kelemahan dan kesalahan orang lain.
- Hadapilah kesalahan orang lain dengan lapang dada dan lemah lembut.
- Iblis yang ada di luar diri kita tidaklah menakutkan, yang mengerikan adalah iblis yang terdapat di dalam hati.
- Kehidupan manusia bagaikan meniti kawat baja. Bila kita tidak bersungguh-sungguh melihat ke depan, malah sebaliknya selalu menoleh ke belakang, kita pasti akan terjatuh.
- Faktor pemersatu dalam organisasi adalah toleransi dan tenggang rasa terhadap pendapat yang berbeda.
- Berbakti adalah sikap yang bersedia berkorban pada saat dibutuhkan oleh orangtua.
- Kebiasaan buruk bagaikan virus yang menyerang batin manusia, harus dicegah jangan sampai berkembang.
- Berdana ada 3 macam, memberi bantuan makanan dan pakaian, memberikan nasehat bagi orang yang hatinya sedang hampa, dan memberikan kedamaian kepada orang yang panic dan ketakutan.
- Masalah di dunia tidak dapat diselesaikan oleh satu orang saja, dibutuhkan uluran tangan dan kekuatan banyak orang untuk dapat menyelesaikan.
- Orang yang mau mengakui kesalahan dan memperbaikinya dengan rendah hati akan dapat meningkatkan kebijaksanaanya.
Sabtu, 25 April 2020
Jumat, 24 April 2020
PERNIKAHAN ADALAH SEBUAH YADNYA
PERNIKAHAN ADALAH SEBUAH YADNYA
Oleh : I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S, M.Pd
Pernikahan juga bisa disebut dengan yadnya yang sangat pajang.
Karena, segala sesuatu yang dilakukan di dalam rumah tangga astungkara akan bernilai yadnya apabila memang tidak melanggar anugrah Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Ida Sinuhun pun telah memberi bhisama agar kelak memilih jodoh berdasarkan agamanya. Namun, dengan seiring berjalannya waktu pernikahan banyak sekali di antara pria atau wanita yang merasa telah salah dalam memilih jodohnya. Atau mudahnya jodohnya tak seperti yang ia harapkan.
Sebagai seorang yang telah begitu banyak mendengar kisah kehidupan dari beberapa orang sekitar kita. Tentu kita punya kriteria tersendiri tentang jodoh kita. Misalnya kita menginginkan jodoh yang romantis dan lembut. Namun, pada kenyataannnya pasangan kita jauh dari kata romantis. Bahkan cenderung cuek dan apatis atau lebih parahnya lagi kasar. Kita ingin jodoh yang kaya, namun nyatanya ketika sudah beberapa waktu menikah usahanya bangkrut dan tiba-tiba menjadi buronan penagih hutang setiap hari. Mungkin keinginan sederhana kita ingin punya pasangan yang sempurna namun diperjalanan hidup pasangan kita menurun kehidupan spiritualnya.
Itu adalah skenario kehidupan.
Ada pasang surutnya.
Wajah bisa menua,
harta hilang dalam sekejap,
dan iman manusia pun seperti ombak kadang naik kadang turun.
Tidak ada ilmu pasti dalam rumah tangga.
Semua berubah secepat kilat.
Tidak sama orangtua sekarang dengan orangtua pada periode sebelumnya.
Ketika kita menemukan kekurangan pada pasangan kita apapun itu cobalah untuk menahan emosi dan ego. Pikirkanlah bahwa ia adalah bentukan dari lingkungannya. Dia menjadi seperti apa yang ada sekarang karena perjuangannya untuk tetap bertahan. Luangkanlah waktu mendengar cerita masa lalunya dan masa kecilnya kita akan menemukan cerita luar biasa. Cobalah sejenak menatapnya ketika ia terlelap ia akan sama dengan manusia lainnya.
Tak ada yang ingin berpasangan dengan orang yang tidak disukai. Namun, Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui Ida Bhatara Kawitan merupakan sang pemberi takdir mempunyai visi yang lebih tinggi. Bukan sekadar banyak harta atau hal duniawi lainnya itu mudah bagi-Nya. Visi Ida Sang Hyang Widhi Wasa adalah memanggil kita kelak ke sisi-Nya. Bersabarlah dengan ketentuannya. Berdo’alah agar tetap bisa mempertahankan iman. Ida Sang Hyang Widhi Wasa lebih tau segala hal untuk kita. Dia lebih mengenal kita dari diri kita sendiri.
Kamis, 23 April 2020
PITRA PUJA
Pitra Puja
Pakeling ring semeton pasek maka sami.
Mari kita tinggalkan konsep pembodohan disaat nyumbah nyulubin pada waktu nusang.
Hendaknya sang pejah aturakna puja pitra, kayeki mantrania:
Mantra Pitra Puja
1. Asana : Om prasada sthiti sarira siva suci nirmalaya namah svaha.
2. Pranayama : Om ang namah, Om ung namah, Om mang namah.
3. Karasodhana : tangan Kanan (Om suddhamam svaha)
tangan Kiri (Om ati suddhamam svaha)
4. Pitra Puja :
Om svargantu pitaro devah, Svargantu pitara ganam, Svargantu pitarah sarvaya, Namah svada.
“Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat tempat di surga, semoga semua atma suci mendapat tempat di surga, sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi dan hormat hamba kepada smua atma suci.”
Om moksantu pitaro devah, Moksantu pitara ganam, Moksantu pitarah sarvaya, Namah svada.
“Om Hyang Widhi semoga atmanya mencapai moksa, semoga semua atma suci mencapai moksa, sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi dan hormat hamba kepada smua atma suci.”
Om Sunyantu pitaro devah, Sunyantu pitara ganam, Sunyantu pitarah sarvaya, Namah svada.
“Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat ketenangan, semoga semua atma suci mendapat ketenangan, sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi dan hormat hamba kepada smua atma suci.”
Om Bhagyantu pitaro devah, Bhagyantu pitara ganam, Bhagyantu pitarah sarvaya, Namah svada.
“Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat kebahagiaan sejati, semoga semua atma suci dianugrahi kebahagiaan yang sejati, sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi dan hormat hamba kepada smua atma suci.”
Om Ksamantu pitaro devah, Ksamantu pitara ganam, Ksamantu pitarah sarvaya, Namah svada.
“Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat pengampunan, semoga semua atma suci dibebaskan segala dosanya, sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi dan hormat hamba kepada smua atma suci.”
5. Hening sejenak : (Mohon atma yang meninggal tersebut segera menyatu kepada Hyang Widhi dan bebas dari pahala karma buruknya).
6. Parama Santi : Om Santih Santih Santih Om.
Senin, 20 April 2020
TEBASAN PANUKU JIWA RING BUDHA KLIWON UGU
TEBASAN PANUKU JIWA RING BUDA KLIWON UGU
Buda Kliwon Ugu merupakan hari pesucian Sang Hyang Ayu, yakni ngastuti Hyang Nirmala Jati
Lalu apa yang mesti dilaksanakan saat Buda Kliwon?
Laksanania angesti kayowananing tri mandala pakenan ia tunggal ayuning sarira kapertama, kaping ruania ayuning sang sanak sarwaning numadi, katigania ayuning praja mandala.
Artinya pada saat ini dilaksanakan pemujaan untuk keselamatan di Tri Mandala.
Tujuannya yaikni yang pertamanya ialah keselamatan untuk diri sendiri.
Yang kedua ialah keselamatan sanak keluarga seketurunan.
Serta yang ketiga, ialah keselamatan negara.
Pada hari ini wajib jua dilakukan upacara pembersihan jiwa dari berbagai pengaruh roh jahat (lebih-lebih virus corona) oleh masyarakat Bali.
Indonesia. ... Upacara ini sebagai wujud rasa terima kasih kepada Bhatari Durga Manik kesaktian Ida Bhatara Siwa Guru dan Nyama Bajang karena telah menjaga jiwa manusia.
Ling Hyang Bhatara Sinuhun nguni: ”Haywa sangsaya kita ndah ku warah i kita”. Kapratyaksa den ta ikang linghan ing yajna malarapan upakara tebasan panuku jiwa jatinira. Ikang yajna upakara tebasan panuku jiwa maka panebasan danda i Hyang ri wang sudosa makadi panuku jiwa rikahuripanya swang swang, gunaning yajna ika magawe kateguhan ing jagat, mwang langgeng ira sang pradipati rumaksa bhumi, tingkah ing yajna madana dana, kasukan sarwa mulya saraja yogya maka dulurin rsi bhojana mwang sarwa phala mula, maka saksi Sang Hyang Siwaditya, pinuja denira sang siddhayogi, sang natha ratu juga wenang amanguna yajna mangkana. Lawan waneh yan kalan ing wang angastiti dewa ring paryangan panyiwyan ira sang catur warna maka pangulun ing desa pakraman. Samangkana wenang. Lyan sakarika tan wenang, twin ring pura madangka pahibon kawitanta. Yan ana amurug ika wenang tadahan sarwa magalak, walik danda wang mangkana, konen wadwa kalan ta amangan anginuma rahnya, dagingnya. Mangkana kramanya kengetakna tuwi agelis pwa winersihakna, aywa murang murang lampah......
Tatandingan tebasan panuku jiwa:
Madasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin beras aperpatan, base tampelan, benang atukel, jinah 225, duwur nyane susunin antuk nasi maklongkong 1, duwur nasine medaging tulung urip 1 medaging nasi ulam taluh bekasem, kawangen 11 siki, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, sangku medaging toya anyar, panyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan miwah dagingin klungah gadang.
Pujaning tatebasan, mantra:
Ong hyang-hyanging akasa, paduka pakulun hyang déwa gana, resiéng langit sanghyang siwa, sadasiwa, pramasiwa, turun anglanglang sakeng biyoh mantara, saksenane sang inupekara pukulun hyang mang ung ong ang ya nama swaha.
OM PAKULUN SANG HYANG GUTU REKO TANAYA,
MANUSANIRA ANGATURAKEN TARPANA TEBASAN PANUKU JIWA
KATUR RING AJENG PADUKA BATARA – BATARI
OM SUDA PARI SUDA YA NAMAH SWAHA
OM ANG AH AMERTA SANJIWANI YA NAMAH SWAHA
#katur ring Kemulan rumuhun dan atau Dalem Karang//margiang kepelinggih, kerumah, rauh kelebuh, wawu bakta malih kemrajan genahang ring ajeng genah mabhakti//ngaturang sembah bhakti//natab upakara sareng keluarga sami//ngeluarang tebasan panuku jiwa ring lebuh#
Mangkana ling Bhatara Siwa mwah:
”Aum ranak Hyang Kala pasajnana ta mangkana wenang sira sumendi ring desa rumaksaka kita ikang desa pakraman, wenang sira ngutip i jiwan ing manusa tuwin pasu janma ngatahun angken sasih kasangha. Nguniweh amidanda wang dudu, dursìla, dati krama tan manuta ri sila krama dharma sasana mwah agamanya. Samangkana kita wenang angadakaken gring tutumpur sasab mrana mwang grubug tan siddha inusadan, mwang ring desa pakraman sakatibanan durmanggala, apan pamidandan ira Sang Hyang Siwa Raditya, ring bhumi katiban letuh. Ika maka buktyan ta lawan sawadwa kalan ta, Sang Hyang Kala Matyu pasanggahan ta, apan kita Bhuta Rajapati Krodha, sang Hyang Yama Raja pasajnana ta mwah.
Kunang mon hana sira sang amawa bhumi minta sih ing Hyang, amalaku ta huripan ing bhumin ira tekeng janman ira sapunpunan ira, den age sira anuku jiwa ring kita mwang ring sarwa dewanta, dening pangaci banten. Nimitanyan wruha sih wang ring pratekan ing yajna apan. Apa lwirnya: manusa yajna, bhuta yajna, rsi yajna, dewa yajna, pitra yajna, Siwa yajna, aswameda yajna, ika sapta yajna, nga, maka ahyun ing bhuwana sarìra mwang bhumi mandala tekeng swarga kahyangan, apan maka waddhyan ing jagat.
Yanyan wus tiningkah samangkana wenang kita ranaku somya rupa lawan sawadwa kalan ta, mari sagleng ta saha pamidanda, anadahan kita panglukatan ring sang brahmana Siwa Buddha prasiddha umilang aken lemah ning sarìra wayawan ta. Byakta kita atemah dewata dewati. Maran sira wenang apisan lawan bapa babun ta amukti ring swarga loka."
#tubaba@griyang bang#
Minggu, 19 April 2020
ITI PANGRINGKESAN DASAKSARA
1a/b | Om Awighnà pamastu namasidem.
Iwastu satàwayanya, pangaringkes dasaksara, kawruhakna pasuk wetunya, yan sira wruha ring kalingan iki, tlas papa naraka bapabunta, tekang (sa)riranta, iki kamulaning panulak satru, mwang sarwa wisesa, sami pada kasor denya, anghing haywa wera ring wong lyan, apan dahating uttama aksara iki, rasamangkanak palanya, patemuning tastra : Sa Ba Ta A I, dadi Ang, magenah ring udel, pan tastraning tastra: Na Ma Si Wa Ya, dadi Ah, magenah ring Siwa-dwara.
2a | Ang lawa(n) Ah, masalin rupa, marupa Om-kara, matemu ring ati, raris kapukuhing lidahe dadi ardhacandra, windu, nada. Ardacandra ring gidat genahnya, windu ring gentil irung genahnya, nada tungtunging irung genahnya. Wus samangkana mawak Siwa, Sadasiwa, ParamaSiwa. Tejanya aketi abara inget, telas.
Iti panulak sarwa baya mancana sarwa krura, sarwa galak, sarwa aeng, palanya mari ya mamigrain. Sa, sakarepta, wenang. Ma, : Om pritiwem apah teja bayu akasa, nga,
2b | haeng haeng tan mandi, mari sang sdahan, Im hejoh hetpet. 3x, aku Sang Hyang Panca Maha Bhuta, terus ring luhur, kasaktian ku Sang Hyang Licin, sarwa satru pat swaha.
Iti mantra anggen mangraksa raganta, nanging mantrakna sari-sari, ring kalaning wengi, yan hana wong paksa angleyakin, mwang anesti, aneluh anerangjana, salwiring makarya hala ring raganta, palanya balik ya agring meh katekan mati wong mangkana, yanya tan mati meh buduh ya mwang agring, mangkana pwaranya, mantra iki
3a | nanghing pingitakna nganggen mantra iki, apan dahating kawibaran mantra iki, nga, Durggha Redana, ma, : Om nama Bagawati, warntadhaga, kala sahiri, mahetpananyam, karetu sarwe sam, satrunam bawantu, siddhirastu tatastu rastu swaha, telas.
Hyang Bagawati magenah ring madyaning lidah, I Kalika magenah ring tungtunging lidah, regepakna, haywa wera ring wong len.
Nyan kaputusan Sang Hyang Prawatek dewata Nawasangha, kawruhakna ring bwana alit, ring sariranta, ndya ta unggwanya ring bwana sariranta
3b | Iti Sang Hyang Tastra Dasaksara, nga, sira angadakaken Sang Hyang Tastra saider bwana, mungguh Sang Hyang Pranawa :
Sang kangin magenah ring papusuh,
Bang kelod magenah ring ati,
Tang kauh magenah ring babuahan,
Ang kaja magenah ring nyali,
Nang kelod kangin magenah ring paparu, Mang kelod kauh magenah ring husus, Sing kaja kauh magenah ring limpa, Wang kaja kangin magenah ring ineban, Ing Yang, magenah ring madya, magenahakna ring pagantunganing ati.
Iti Sang Hyang Omkara, Sang Hyang kapatyan, anggawe tatsra asiya lwire
4a | Sa Ba Ta A I Na Ma Si Wa Ya, Om, mwang anggawe tiga, ndya ta tastra tiga, lwire : Ang Ung Mang. Mwang anggawe Sang Hyang Tastra Rwabhineda, lwire Ang Ah. Yan wus samangkana denta angwruha, hawya wera, simpenakna denta apang pened, pamulihakna Sang Hyang Tastra iki, pasakna denta apang jati, lwirnya :
Sa mulih ring Ba, Ba mulih ring Ta, Ta mulih ring A, A mulih ring I,
I mulih ring Na, Na mulih ring Ma, Ma mulih ring Si, Si mulih ring Wa, Wa mulih ring Ya,
Ya mulih ring Sang Hyang
4b | Tastra Pasupati Omkara, Sang Hyang Tastra Pasupati Om-kara mulih ring Sang Hyang Tiga, A, U, Ma, Sang Hyang Tiga mulih ring Rwabhineda, Ang Ah, Sang Hyang Rwabhineda mulih ring Ardacandra, Ardacandra mulih ring windu,Ο, Windu mulih ring nada, Δ , telas, haywa wera, utama dahat, aksara iki, apa gagelaran pati lawan urip, wenang gelarakna apang sing i papa klesa ring sariranta, mwah wenang anggen pangalah satru wisesa, mangkana gni kunda rahasya utama, ya ika mageng tan polah, mawisesa hana iti.
5a | Telas aksara iti dadi api.
5b | Iti unggwaning Ardacandra mwang Windu Nada, nga, mwang Rwabhineda, nga. Mwang Omkara Sumungsang, nga, unggwanya Sang Hyang Tiga, nga, Brahma Wisnu Iswara,
Sang Hyang kalih, munggu ring nabi genahnya, Ang. Ne luhuring siwadwara magenah, Ah. Ongkara mungguh ring pala kiwa tengen, Om, Sang Hyang Tiga, metu ardacandra windu nada, unggwanya, ardacandra ring ulu arsa, windu ring udel, nada ring tungtunging purusya, anerus ring telenging ati, mwah anerus ring tengahing ampru, anerus ring pagantunganing idep
6a | Mwah akumpul ring cacupu inten, ika citta, mulih maring pucuk tiga, ulenganing tingal, tungtunganing nggarung, pucukaning pusa, paunggwaning Sang Hyang Tiga, makumpul dadi ika, yan sira harep anglekas, pepek de nira halanggi mwang haturu, pujanira ring teneng, marukse suku kiwa, tanganta ring kiwa, gamelana sunduk den apageh, pelengakna pucuk tiga, haywa kumdep.
6b. metu parek dening Sang Hyang Rwabhineda, unggwanya ring dada, ring siksikan, haywa wera, tan siddhi palanya, mulih ring sariranta makumpul lungguh.
7a | Api Yeh
7b | Iti Suksmaning Kanda Pat, nga, ginawa maka kakudung urip, dahat wisesa sira. Kawruhakna haranya kabeh. Lwire, : yeh nyome madan I Anggapati, putih rupanya, ring pupusuh genahnya, ring cangkem pasuk-wetunya, ring engkok-engkokan genahnya. Getihe madan I Mrajapati, abang rupanya, ring ati unggwanya, ring irung pasuk wetunya, ring bawu tengen genahnya. Ari-ari ngaran I Banaspati, ireng rupanya, ring nyali genahnya, ring netra pasuk-wetunya
8a | ring bawu kiwa genahnya.
Tahi langlang ngaran I Banaspati Raja, kuning rupanya, ring ungsilan genahnya, ring karna pasuk-wetunya, ring pungkuring pamanggehan genahnya, telas.
Yan sira wruh samangkana, ika parama sakti dahat. Yan merentah sowang-sowang, awehakna sanakta kabeh, swaranya ka yeki japanya, : Uh swaranya I Anggapati, eling sira asanak
8b | ring ingsun, ingsun tan lali asanak ring sira. Raksanen ingsun, yan hana sanjata lalandep, pe sanjata tumpaking awak sarinan ingsun, ampihang haja lali, poma, 3x.
Ah swaranya I Prajapati eling sira asanak ring ingsun, ingsun tan lali asanak ring sira, raksanen ingsun, yan hana sanjata lalandepe, sanjata tumampaking awak sariran ingsun ampihang haja lali lah poma, 3x.
Eh swarane I Banaspati, eling sira asanak ring ingsun
9a | ingsun tan lali asanak ring sira, raksanen ingsun, yan hana sanjata lalandepe, sanjata tumampeking awak sariran ingsun, ampihang haja lali lah poma, 3x.
Ih swarane I Banaspati Raja, eling sira asanak ring ingsun, ingsun tan lali asanak ring sira, raksanen ingsun, yan hana sanjata lalandepe, sanjata tummampeking awak sariran ingsun, ampihang haja lali lah poma, 3x. Telas.
Rehnya mawas kiwa tengen,
9b | mwang ring arep ring pungkur, pepetakna bayunta, kayanga mijilaken sanaknya, den kadi wong yanak-hanak, tan lyanan sake rika, tan mijil sanaknya, wus mangkana, yang hadres hirungnya kiwa, sukune kiwa tindakang dumun. Yan hadres hirungnya ring tengen, sukune tengen tindakang dumun, yan pada dresnya, metu ring irung mahancogan lumaku. Haywa sangsaya sira ring dalan, tan ngmasi sira ring dalam, mwah saparaning mintar, leya,
10a | ndesti, teluh trangjana, durggha durjana, mawdi ngeb, salwir ing wisesa sami pada wdi mundur ajrih, telas.
Haywa wera uttama dahat iki yan sira wruha ring tutur iki, Yan wera geng hetung halanya, den singid ring hatinta juga, aja hima- hima.
Marganya, : Ang ring irung tengen, Ung ring irung kiwa, Mang ring tengahing irung.
Iti patemoning Swalalita mwang Modre, mwang jatining Dasaksara, Panca Brahma. Panca Brahma ring genahnya,
10b | ring nabi unggwanya. Pancàksara ring siwadwara genahnya, kadi iki tastranya :
Panca Brahma : Sang Bang Tang Ang Ing, nga. Pancaksara, nga : Nang Mang Sing Wa Ing Yang. Patemunya :
Nang Mang matemu dadiIng-kara.
Sing Wang matemu dadiYang-kara.
Ing-kara mungguh ring nabi, maraga Sang Hyang Guru Reka.
Sang Bang matemu dadiAng-kara. Tang Ang matemu dadiUng-kara. Ung-kara matemuAng-kara,
dadi Ong-karàgni Murti, dadi api ngendih murub. Ang-kara matemu ringUng-kara, dadi lengis.
Yang-kara matemu ringIng-kara dadi yeh Ong.
11a | Ing-kara matemu Yang-kara dadi Mang,mawak angin.
Mang mawak bintang, Nang Mang Ing, maraga suryya, Sing Wang Yang, maraga bulan, maraga bintang kartika. Suryya ring netra kiwa, bulan ring netra tengen, bintang ring sesa.
Mwah, Ing Yang Mang : Ing bhatara Siwa. Yang bhatara Sadasiwa. Mang bhatara Paramasiwa. Unggwanya : Ing ring pukuhing rambut. Yang ring madyaning rambut. Mang ring tungtunging rambut.
11b | Unggwanya : Ang ring idep, Ung ring bayu, Mang ring sabda.
Mwah hana Tri Padanà, nga, : surya, bulan, bintang. Sabdanya : Ing Yang Mang, matunggalan, Ang Ing hapti, nga. Ung Ang upti, nga. Ong Mang, pralina, nga. Iti jatining Dasaksara, nga, pratastraning nabi, kaslahan dening Ing-kara dadi Panca Brahma. Ring
luhur kaslahan dening Yang-kara, dadi Pancaksara. Ika kawruhakna apang jati. Kinemit dening sobdanya catur. Kayeki rerajahannya kawruhakna.......... Telas. Puput sinurat ring rangdilangit. Kang sinurat anama, Ketut Bungkling.
Sabtu, 18 April 2020
Pasraman Rangdilangit Gurukula, sistem pendidikan yang ideal di YAYASAN WIDYA DAKSHA DARMA GRIYA AGUNG BANGKASA
Pasraman Rangdilangit Gurukula, sistem pendidikan yang ideal di YAYASAN WIDYA DAKSHA DARMA GRIYA AGUNG BANGKASA
Banjar Pengembungan, Desa Bongkasa, Kecamatan Abiansemal - Badung.
April 18, 2020//i gede sugata ym, ss, mpd//griyangbang
Peradaban dalam masyarakat akan sangat dipengaruhi oleh sistem pendidikan yang diberikan dalam masyarakat tersebut.
Masyarakat yang memperoleh pendidikan yang tepat akan menghasilkan masyarakat yang beradab dan dengan masyarakat yang bermoral dan berprikemanusiaan.
Tetapi sistem pendidikan yang salah akan menghasilkan masyarakat yang meskipun menguasai IPTEK tetapi tidak memiliki moral.
Pada dasarnya Veda sudah memaparkan sistem pendidikan yang jelas, namun ironisnya, para “pejabat Hindu Indonesia” dan di Bali khususnya malahan mencoba mengadopsi sistem pesantren yang pada dasarnya merupakan turunan dan modifikasi dari sistem pendidikan dalam Veda sehingga menghasilkan istilah-istilah pesantren kilat, pesantian kilat, pesantian minggu dan sebagainya. Tentunya adopsi pendidikan Hindu modern “jiplakan” ini sudah sangat jauh menyimpang dari sistem pendidikan Veda yang sesungguhnya, sehingga output yang dihasilkannyapun cenderung terkesan “asal-asalan”.
Di dalam tradisi Veda, orang dididik di dalam sistem Varnasrama dharma yang didasarkan atas bakat dari masing-masing siswa. Bakat siswa dapat diprediksi berdasarkan pada perhitungan jyotisa kelahirannya dan dari pengamatan sang guru terhadap siswanya. Pendidikan Veda dilakukan dalam sebuah lembaga yang disebut dengan istilah Gurukula. Di dalam pasraman rangdilangit gurukula para siswa akan di ajarkan pengetahuan Spiritual (para vidya) dan pengetahuan Material (apara vidya). Kenapa Veda yang dimaksudkan untuk memahami spiritual juga mengajarkan prihal ilmu material? Karena mahluk hidup yang hidup dengan badan material ini perlu menjaga badan ini dengan ilmu-ilmu material sehingga dengan kondisi badan dan material yang sehat, seseorang akan dapat menjalani kehidupan spiritual secara optimal.
Ilmu pengetahuan rohani yang disebut para vidya juga dikenal dengan istilah brahma vidya. Para vidya menguraikan pengetahuan tentang Tuhan (Paramatman), Jiwa (Atman), hubungan antara Paramatman dan Atman serta bagaimana cara menghubungkan Atman dengan Paramatman secara mendetail. Bagian dari para vidya antara lain Bhagavad Gita, Purana, Upanisad dan beberapa kitab-kitab veda lainnya.
Pengetahuan material, apara vidya meliputi pengetahuan tentang kesenian, kesehatan, pertanian, tata negara, astronomi, astrologi dan sebagainya. Beberapa kitab Veda yang mengajarkan apara vidya antara lain vastu sastra, krsi sastra, dhanur Veda, ayur Veda, Jyoti sastra dan manu smrti
Veda pada dasarnya diwahyukan untuk mengetahui, tidak lupa dan selalu ingat akan Tuhan, Sehingga Apara vidya yang diajarkan oleh orang yang tidak menguasai para vidya atau dengan kata lain, apara vidya yang diajarkan tanpa para vidya tidak dapat dikatakan sebagai pengetahuan, tetapi termasuk dalam avidya (kebodohan) oleh karena tujuan utama dari esensi Veda tidak tercapai.
Sistem dalam pasraman rangdilangit gurukula tidak mensyaratkan tempat yang modern dan mewah, tetapi hanya mensyaratkan tempat yang kondusif untuk kenyamanan proses belajar mengajar. Para siswa diajarkan berdasarkan asas “Simple Living, High Thinking” sehingga tidaklah mengherankan jika pasraman rangdilangit gurukula sering kali sengaja di bangun di tempat terpencil dengan gubuk yang sangat sederhana dan proses belajar-mengajar berlangsung di bawah pohon di alam terbuka. Bahkan pada jaman dahulu para putra raja dan bangsawan yang biasa dengan kemewahan harus mengikuti pembelajaran gurukula di hutan yang terpencil dan dalam kondisi yang sangat sederhana. Sistem seperti ini sudah mulai dilirik oleh masyarakat modern saat ini, yaitu dengan munculnya ide “sekolah alam” dimana proses belajar-mengajar tidak dilakukan di kelas, tetapi dengan proses belajar-mengajar secara langsung di alam terbuka.
Unsur utama dalam pasraman rangdilangit gurukula adalah pendidik dan yang dididik. Kedua unsur ini harus memenuhi kualifikasi-kualifikasi yang diatur dalam Veda. Kualifikasi seorang Guru / pendidik disebutkan dalam Bhagavad-gétä 18.42;
çamo damas tapaù çaucaà kñäntir ärjavam eva ca
jïänaà vijïänam ästikyaà brahma-karma svabhäva-jam
Jadi sang guru harus memiliki kualifikasi;
Sama = kedamaian
Dama = pengendalian diri
Tapa = pertapaan
Saucam = kesucian
Ksanti = toleransi
Arjavam = kejujuran
Jnanam = pengetahuan
Vijnanam = kebijaksanaan
Astikyam = taat pada prinsip keagamaan
Sedangkan unuk kualifikasi seorang murid dijelaskan dalam Bhagavad-gétä 4.34;
tad viddhi praëipätena paripraçnena sevayä
upadekñyanti te jïänaà jïäninas tattva-darçinaù
Dengan demikian seorang murid harus pratipat (tunduk hati), prasna (bertanya) dan seva (melakukan pelayanan) kepada gurunya.
Hanya dengan adanya kualifikasi-kualifikasi inilah proses belajar-mengajar, hubungan persaudaraan antara anak didik dan pendidik dapat berlangsung dengan baik dan outputnyapun dipastikan akan mendapatkan alumni yang berkualitas dan bermoral sehingga benar-benar bermanfaat dalam kehidupan masyarakat.
Jika kita komparasi sistem pendidikan modern dengan sistem pendidikan yang disyaratkan Veda dalam sistem pendidikan gurukula maka dapat kita lihat ketimpangan yang sangat jauh. Dalam kurikulum pendidikan modern sering kali pengetahuan ketuhanan dan pendidikan moral dikesampingkan. Persyaratan moral tenaga pendidik tidak terlalu diindahkan dan hanya memandang profesionalitas pendidik dari segi pengetahuan material / apara vidya-nya saja. Demikian juga dalam proses penerimaan murid hanya melihat dari faktor kecerdasan calon murid dan malahan seringkali faktor material keluarga calon murid lebih di prioritaskan. Sehingga tidaklah mengherankan jika lulusan-lulusan dari sistem pendidikan saat ini sering kali hanya menghasilkan manusia-manusia berpengetahuan material yang tidak bermoral. Ilmu yang diperolehnya digunakan untuk maksud-maksud jahat, melakukan teror, memperdaya orang lain dan menyebarkan keangkaramurkaan yang pada akhirnya berpotensi menghancurkan peradaban manusia.
Bhagavad Gita 4.7-8
yadā yadā hi dharmasya
glānir bhavati bhārata
abhyutthānam adharmasya
tadātmānaṁ sṛjāmy aham
paritrāṇāya sādhūnāṁ
vināśāya ca duṣkṛtām
dharma-saṁsthāpanārthāya
sambhavāmi yuge yuge
Jumat, 17 April 2020
PERKAWINAN
Perkawinan Sebuah Proses Penyucian Diri
(Oleh: I Gede Sugata Yadnya Manuaba)
Perkawinan pada hakikatnya adalah suatu yadnya guna memberikan kesempatan kepada leluhur untuk menjelma kembali dalam rangka memperbaiki karmanya.
Dalam kitab suci Sarasamuscaya sloka 2 disebutkan :
"Ri sakwehning sarwa bhuta,
iking janma wang juga wenang gumaweaken
ikang subha asubha karma,
kunang panentasakena ring subha karma juga
ikang asubha karma pahalaning dadi wang"
artinya:
Dari demikian banyaknya semua mahluk yang hidup, yang dilahirkan sebagai manusia itu saja yang dapat berbuat baik atau buruk. Adapun untuk peleburan perbuatan buruk ke dalam perbuatan yang baik, itu adalah manfaat jadi manusia.
Berkait dengan sloka di atas, karma hanya dengan menjelma sebagai manusia, karma dapat diperbaiki menuju subha karma secara sempurna. Melahirkan anak melalui perkawinan dan memeliharanya dengan penuh kasih sayang sesungguhnya suatu yadnya kepada leluhur. Lebih-lebih lagi kalau anak itu dapat dipelihara dan dididik menjadi manusia suputra, akan merupakan suatu perbuatan melebihi seratus yadnya, demikian disebutkan dalam Slokantara.
#tubaba.grehastaasrama kotamaning alakirabi#
Langganan:
Komentar (Atom)
