Senin, 25 Mei 2020

BAIT SANG PELOPOR PASEMETONAN DI PUNDUKDAWA,

BAIT SANG PELOPOR PASEMETONAN DI PUNDUKDAWA, 
Oleh: I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S. M.Pd

RASAKU PENUH PELUH KURIBU, 
DALAM PELUH AKU MENUNGGU, 
TAK TERASA ANGIN MENGGEBU, 
MENCEKIK RAGA NAN KIAN KAKU, 

KAULAH SANG PELOPOR PASEMETONAN, WALAU DARI LUBANG NAN KOTOR, 
NIATMU SUCI DAN TULUS DARI HATI, 
NAMUN WAKTU TELAH MENGUBURMU MATI

Kita tidak sedang bercengkrama dengan langit
langit lebih memilih menenggelamkan mentarinya kala senja
Tidak sedang bersahabat dengan samudera
samudera lebih memilih menghancurkan nusa dengan ombaknya
Tak pula kita bersenda dengan waktu
Toh waktu hanya berjalan cepat menghantar masa, masa kita menuju tua

Sementara beban di pundak kita semakin memberat
Bergelayut tak berkurang dalam jengkalnya
Hanya tangis di sudut-sudut mata menjadi penggerak langkah
Tangis sebab ulah tangan-tangan penuh dosa

Namun,
bukan hujatan yang pantas terucap
Caci dan maki tak pantas tertuturkan
Aku, kamu
Kita
Tahu
semua kepala tak ada yang sempurna

Dan,
Bukankah bergandengan tangan jauh lebih indah?
Bukankah bahu membahu jauh lebih bermakna?
Untuk kita.
Sang Pelopor Pasemetonan di Pundukdawa.


Sabtu, 23 Mei 2020

HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALAM

Hubungan Manusia dengan Alam
Oleh: I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S
(poto penentuan pertama lokasi Pura Kahyangan Dharma Smrti) 


Jika di dilihat lebih jauh hubungan manusia dengan alam atau lingkungan lebih-lebih dengan alam semesta dapat dijelaskan dalam  Rg Veda I.1.9 yang menyatakan:

Sa nah piteva sunave
‘gne supayano bhava,
Sucasvanah svastaye

Artinya:
Izinkan kami mendekatimu dengan mudah, seperti ayah kepada anaknya;
Semoga engkau senantiasa bersama kami.

Mata Bhumih putro’ham prtivyah (Atharva Veda XII.1.12)
Artinya :
Bumi adalah ibuku dan aku adalah anaknya.

Osadhir iti mataras-tad
Vo devir-upa bruve. (Rgveda X.97.4)
Artinya:
Tanam-tanaman memberi makan dan melindungi alam semesta, oleh karenanya mereka disebut para ibu.

Tidak hanya Bumi yang menjadi tempat kita berpijak yang disebut ibu di alam ini, tetapi disebutkan dal Rg Veda di atas tumbuh-tumbuhanpun disebut sebagai ibu, karena mereka menyediakan makanan dan telah melindungi alam semesta.

Indra ya dyava osadhir uta-apah,
Rayim raksanti jirayo vanani (Rgveda III.51.5).

Artinya:
Yang berikut ini adalah para pelindung kekayaan alam: atmosfir, tanam-tanaman dan tumbuh-tumbuhan berkhasiat obat, sungai-sungai, sungai kecil-kecil, sumber-sumber air dan hutan-hutan  blantara.

Virudho vaisvadevir-ugrah purusajivanih (Atharvaveda VIII.7.4).

Artinya:
Tanam-tanaman memiliki sifat-sifat semua para dewa. Mereka adalah para juru selamat kemanusian.

"Prthivim drmha, Prthivim ma himsih" (Mait ra yani Samhita. II.8.14)

Artinya:
Selalulah memperkuat dan memberikan makan kepada bumi. Janganlah mencemarinnya.

Annaad bhavanti bhuutaani.
Prajnyaad annasambhavad.
Yadnyad bhavati parjanyo
Yadnyah karma samudbhavad. (Bhagavad Gita.III.14)

Artinya:
Makhluk hidup berasal dari makanan. Makanan berasal dari tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan berasal dari hujan. Hujan berasal dari yadnya. Yadnya itu adalah karma.

#tubaba//edisi penentuan awal lokasi pura kahyangan dharma smrti#



Jumat, 22 Mei 2020

MAKNA LOGO PDDS

MAKNA LOGO PDDS

1. Dua buah lingkaran hitam merupakan yatra mandala

Yatra Mandala atau lingkaran tidak memiliki awalan dan tidak memiliki akhiran. Lingkaran mewakilkan kekekalan dan dalam setiap budaya biasanya mewakilkan bentuk matahari, bulan, alam semesta dan objek angkasa lainnya. Lingkaran sering digunakan untuk benda-benda yang akrab seperti roda, bola, berbagai macam buah.

Lingkaran memiliki pergerakan yang bebas. Lingkaran bisa berputar. Bayangan dan garis dapat meningkatkan rasa pergerakan dalam lingkaran. Lingkaran merupakan kurva yang anggun dan terlihat feminin. Lingkaran juga memberikan rasa hangat, menenangkan dan memberikan rasa sensualitas dan cinta. Pergerakannya memberikan energi dan kekuatan. Kelengkapannya menunjukkan ketakterbatasan, kesatuan dan harmoni.

Lingkaran melindungi, memberikan pertahanan dan membatasi. Lingkaran membatasi apa yang ada di dalam dan menjaga hal-hal lain tetap di luar. Lingkaran menawarkan keamanan dan koneksi. Lingkaran menunjukkan komunitas, integritas dan kesempurnaan.

Lingkaran tidak terlalu umum digunakan dalam desain, namun lingkaran dapat digunakan untuk menarik perhatian, memberikan penekanan dan mengatur hal-hal agar tetap terpisah.

2. Asta Dala berwana kuning. "Astadala" adalah delapan simbol sifat keagungan Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa yaitu :
# Anima, mempunyai kekuatan yang dapat merubah diri-Nya menjadi sekecil-kecilnya;
# Lagima, bersifat ringan atau halus;
# Mahima, Maha besar meliputi semuanya;
# Prapti, serba tercapai, segala kehendakNya
# Prakamya, segala kehendakNya selalu terlaksana
# Içitwa, beliau mengatur segala yang ada di dunia dan bhuwana agung ini;
# Waçitwa, tidak ada yang melebihi kekuasaanNya;
# Yatrakamawasaytwa, tidak ada yang dapat menentang kodratNya

Padma Astadala adalah lambang perputaran alam, Bhuwana Agung ini sebagai stana Hyang Widhi dengan delapan penjuru mata anginnya yang dengan keseimbangan dan berkeadaan stabil;
sehingga menjadi sumber kehidupan untuk menuju kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan.
Padma Astadala yang juga disebutkan oleh Ida Sinuhun Siwa Putra Parama Daksa Manuaba (pendiri PDDS) dalam makna filosofis dari logo pdds merupakan simbol warna-warna dari pengider-ider Dewata Nawa Sanga, yang dalam Lontar Dasaksara disebutkan sebagai berikut:
# Timur, warna putih bersthana Dewa Iswara
#Tenggara, warna merah Muda bersthana Dewa Mahesora
# Selatan, warna merah bersthana Dewa Brahama
# Barat Daya, warna orange bersthana Dewa Rudra
# Barat, warna kuning bersthana Dewa Mahadewa
# Barat laut, warna hijau bersthana Dewa Sangkara
# Utara, warna hitam bersthana Dewa Wisnu
# Timur laut, wrana Abu/biru bersthana Dewa sambhu
# Tengah, warna manca warna bersthana Siwa

3. Lingkaran dalam berwarna kuning emas melambangkan pemersatu dan kesatuan yang bulat. 

4. Ganesa di tengah melambangkan pusat ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan keagamaan yang suci dan luhur.

5.  “Acintya” mengandung makna sebagai penyebutan salah satu sifat kemahakuasaan Tuhan. Kedua, Acintya sebagai symbol atau perwujudan dari kemahakuasaan Tuhan itu sendiri.

6. Benawangnala dililit dua ekor naga  mengacu kepada pemutaran gunung Mandara oleh para dewa dan raksasa dalam usahanya mencari Tirtha Amerta yang merupakan tirtha kekekalan (dalam hal ini ilmu pengetahuan). Untuk menyeimbangkan proses pengadukan tersebut, Tuhan muncul menjelma dalam wujudnya sebagai Kurma Avatara dan bertindak sebagai poros gunung Mandara (ganesa/ilmu pengetahuan yang bersifat maskulinum) di laut Ksira. Untuk menggerakkannya Naga Basuki dijadikan sebagai tali yang melilit gunung tersebut.

7. Tulisan Paiketan Dhaksa Dharma Sadhu memiliki makna :
- Paiketan = Perjanjian
- Dhaksa = terampil, ahli, trampil, terlatih, cakap
- Dharma = Dharma atau darma (ejaan menurut KBBI) adalah sebuah istilah yang diambil dari bahasa Sanskerta dan arti dasarnya adalah kewajiban, aturan dan kebenaran. 
- Sadhu = Dalam agama Hindu, sadu (Dewanagari: साधु;IAST: sādhu; "mulia; orang baik, orang suci") adalah sebutan bagi petapa atau orang suci. Para sadu hidup menyendiri demi mencapai moksa, yaitu jenjang kehidupan (caturasrama) yang keempat sekaligus yang terakhir, melalui meditasi dan berkontemplasi tentang brahman.

PADMA LINGGA RING PURA KAHYANGAN DHARMA SMRTI

Rekonstruksi Konsep Padmasana Lingga Di Pura Kahyangan Dharma Smerti

Oleh: I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S
Mantram nunas tirtha gangga pawitra (tirtha milir) ring Padmasana Lingga Pura Kahyangan Dharma Smrti:
            Ang Ang Ang Prabhawati sarwa jiwa, Mrtha ya namah swaha, Om Ang Dewa Dewi Maha siddhi sarwa karya, siddha tuwi siddha ya.
            Dirgahayu namah swaha, Mang Ung Ang Ang Ung Mang, Om hrang hring sah Tri Purusa Narendra namah, Om Ang Agnijaya wijaya jagat pati ya namah.

Mantram Padmasana Lingga.
            Om Mang Ung Lingga Jnana, sarwa Surya jagat pradhata, suksma suci nirmala, suddha wiryam natha siddhi ya namah, sarwa phala masuktyam Siwa, Krsna surya siddhyam namo namah.

Umumnya, tempat suci umat Hindu dikenal dengan sebutan temple, mandir, dan juga kuil. Tetapi di Indonesia tempat suci umat Hindu lebih dikenal dengan sebutan Pura atau Candi. Jika kita telusuri lebih jauh, maka kita akan menemukan corak dan arsitektur yang berbeda antara tempat suci Hindu di luar negeri dengan yang ada di Indonesia. Di Indonesia sendiri terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara tempat suci Hindu di Jawa dengan di Bali. Jika di Jawa dalam sebuah komplek candi atau puranya hanya terdapat beberapa bangunan suci, maka di pura di Bali kita akan menemukan beberapa bangunan yang biasa disebut pelinggih.

Jumlah pelinggih dalam komplek pura kahyangan dharma smerti ada 3 buah pelinggih. Namun menariknya terdapat sebuah bangunan pelinggih yang tidak pernah absen dalam suatu komplek pura, yaitu Padmasana, namun di pura kahyangan dharma smerti disebut Padmasana Lingga. 

Menilik sejarahnya, keberadaan bangunan Padmasana di Bali berawal dari bisama yang disampaikan oleh Danghyang Nirartha yang memerintahkan agar dalam setiap komplek pura harus terdapat bangunan Padmasana.

Kenapa Padmasana Lingga harus selalu ada dalam komplek Pura Kahyangan Dharma Smerti? Sebuah pertanyaan sederhana yang sepertinya cukup menarik buat dikaji bersama.

Secara etimologi, Padmasana berasal dari kata “padma” yang artinya teratai dan “asana” yang artinya sikap duduk. Lingga adalah lambang dari Siwa yang berbentuk mangkuk terbalik, dengan bentuk persegi empat dan atau segi delapan (harmika), bagaikan bentuk tongkat di atasnya. 

Jadi Padmasana Lingga mengacu kepada sikap duduk teratai yang awalnya digunakan dalam aspek Asana Yoga. Namun dalam hal ini, terjadi distorsi makna dimana istilah Padmasana Lingga mengacu kepada tempat duduk atau singgasana dari dan menyerupai bunga teratai. Sehingga makna Padmasana Lingga adalah penyatuan Siwa - Bhudha.

#Sikap duduk Padmasana 

Masyarakat Bali umumnya menyebutkan Padmasana sebagai sebuah bangunan yang puncaknya berbentuk kursi, lain halnya dengan  kontruksi padmasana stupa di pura kahyangan  dharma smerti yang puncaknya berbentuk kursi, Lingga dan diatas linggq sanghang acintya yang dibelakangnya berisi lukisan burung Garuda, di tengah-tengah bangunan pada setiap sudut ada patung astadikpalaka (dewa penguasa delapan penjuru mata angin), dibawah padma lingga memakai lukisan badawangnala dililit oleh seekor naga, serta benawangnala  sebagai dasar bangunan Padmasana lingga, dibawah benawangnala adalah persegi empat sebagai lambang kelopak teratai yang dijaga oleh dua ekor naga lengkap di kelilingi oleh kolam sebagai simbol laut Ksira Arnawa. Padmasana Lingga dikatakan simbol gunung Mandara tempat bersatunya Siwa-Budha di Bali.

#Bangunan Padmasana Lingga

Melihat dari konsep umum yang berkembang di masyarakat, sepertinya konsep awal adanya Padmasana Lingga adalah mengacu kepada pemutaran gunung Mandara oleh para dewa dan raksasa dalam usahanya mencari Tirtha Amerta yang merupakan tirtha kekekalan. Untuk menyeimbangkan proses pengadukan tersebut, Tuhan muncul menjelma dalam wujudnya sebagai Kurma Avatara dan bertindak sebagai poros gunung Mandara di laut Ksira. Untuk menggerakkannya Naga Basuki dijadikan sebagai tali yang melilit gunung tersebut.

Bhagavata Purana 1.3.16:

surasuranam udadhim
mathnatam mandaracalam
dadhre kamatha-rupena
prstha ekadase vibhuh

Penjelmaan Tuhan yang kesebelas menjelma dalam bentuk kura-kura yang kulit-Nya menjadi poros sandaran untuk gunung Mandaracala, yang sedang dipergunakan sebagai alat pengocok oleh orang yang percaya kepada Tuhan dan yang tidak percaya kepada Tuhan di alam semesta

Pemutaran Gunung Mandara

Sebelum Tirtha Amerta keluar terlebih dahulu keluar racun yang sangat mematikan dan untuk menyelamatkan semua mahluk hidup, Siva sebagai dewa yang paling agung akhirnya menelan racun tersebut sehingga badan beliau berubah menjadi kebiru-biruan. Di satu sisi para ular dan naga juga memakan tetesan-tetesan racun yang ditelan dewa Siva sehingga dikisakan bahwa sejak saat itu ular dan naga menjadi berbisa.

Setelah itu Tuhan menjelma sebagai Dhanvantari sambil membawa kendi berisi Tirta Amertha yang dinanti-nantikan. Dikisahkan bahwa Tirta Amerta tersebut jatuh ke tangan para Raksasa. Untuk mengelabui para raksasa, sekali lagi Tuhan menjelmakan dirinya sebagai gadis cantik yang sangat mempesona bernama Mohini. Para raksasa yang terpesona akan kecantikan-Nya akhirnya menyerahkan Tirta Amerta tersebut dan mulailah Dewi Mohini membagi-bagikannya. Dewi Mohini memberikan Tirta Amerta yang asli kepada para dewa dan membagikan yang palsu kepada para raksasa. Menyadari tipuan ini, seorang Raksasa bernama Rahu menyusup dalam barisan para dewa dengan harapan mendapatkan Tirta Amerta yang asli. Namun ketika Tirta Amerta tersebut baru sampai di kerongkongan Raksasa Rahu, Tuhan dalam wujudnya sebagai Sri Visnu langsung melesatkan Sudarsan Chakra-Nya sehingga memenggal kepada Raksasa Rahu.

Bhagavata Purana 1.3.17:

dhanvantaram dvadasamam
trayodasamam eva ca
apayayat suran anyan
mohinya mohayan striya

Dalam penjelmaan kedua belas, Tuhan muncul sebagai Dhanvantari. Dalam penjelmaan ketiga belas, Beliau mempesona para ateis dengan kecantikan seorang wanita yang memikat dan kemudian memberikan minuman kekalan kepada para dewa untuk diminum

Padmasana Lingga yang ada di Pura Kahyangan Dharma Smerti adalah konsep penyatuan Siwa - Budha dengan konsep pemutaran Gunung Mandara yang disampaikan dalam cerita diatas. Dikatakan bahwa seekor Naga yang bernama Basuki digunakan sebagai tali yang melilit gunung Mandara. Bangunan Padmasana Lingga hanya dililit oleh seekor naga Basuki dan Dasar Benawan segi empat sebagai lambang bunga padma dijaga dua ekor naga dikelilingi oleh kolam sebagai simbol lautran Ksira Arnava. Di puncak gunung yang dalam hal ini adalah singgasana adalah tempat stana Tuhan.

Gambar konsep Padmasana Lingga

Melihat dari konsep ini, Padmasana Lingga ditujukan untuk memuja Tuhan dimana digambarkan sebagai Kurma Avatara pada pondasi Padmasana Lingga dan Narayana yang bersifat Acintya (tidak terpikirkan) pada puncak Padmasana Lingga. Di belakang Padmasana juga senantiasa dihiasi dengan Garuda Visnu Kencana. Jadi apa motif tersembunyi Ida Sinuhun Siwa Putri Parama Daksa Manuaba mengeluarkan Bisama agar dalam komplek Pura Kahyangan Dharma Smerti dibangun Padmasana Lingga? Adanya korelasinya dengan penyatuan pasemetonan dari pretisentana panca rsi - sapta rsi dan penyatuan siwa - budha di pundukdawa oleh sang pelopor pura Panataran Agung Catur Parhyangan Linggih Ida Mpu Gana di Pundukdawa.

#griya agung bangkasa#


Struktur Padmasana dan Fungsi Tingkatanya

#Kura-kura (empas) Bhedawangnala
Bhedawangnala ini dililit oleh dua ekor naga#.

Kura-kura merupakan simbol stana Dewa Wisnu (Wisnu Bhaga). Bhedwangnala berasal dari Bahasa Kawi, ‘bheda’ yang berarti lain, kelompok, selisih, dan ‘wang’
 

Artinya peluang, kesempatan, ‘nala’ artinya api. Jadi Bhedawangnala adalah sekelompok yang meluangkan adanya api. Pengertian api ini bisa berarti nyata sebagai api bumi alias magma, dan bisa bermakna simbol dari energi kekuatan hidup.


Karena letaknya di bawah maka Bhedawangnala ini bermakna sebagai kekuatan bumi ciptaan Hyang Widhi yang perlu dijaga dan ditumbuh-kembangkan.


Naga 2 ekor
Kedua naga ini, Naga Anantabhig dan Basuki, membelit kura-kura.


Bangunan dasar padmasana dengan kura-kura dan naga ini berdasarkan pada cerita pemutaran Mandara Giri. Cerita mengenai usaha para dewa dan para raksasa mencari thirta amerta dengan jalan mengaduk lautan air susu (ksirarnawa). Tongkat pengaduknya mempergunakan Gunung Mandara, sedangkan sebagai dasarnya Dewa Wisnu mengubah dirinya menjadi kura-kura untuk penyangga. Tali pengikat gunung Mandara diminta Sang Hyang Ananta Bhoga. Kenapa dalam padmasana ada 2 naga dan disebutkan sebagai Naga Anatabhoga dan Naga Basuki?


Dalam Lontar Cri Purwana Tatwa dilukiskan bahwa pada saat manusia di dunia mengalami bencana kelaparan, Ida Sang Hyang Widhi memerintahkan Sang Hyang Tri Murti untuk terjun ke pertiwi. Batara Brahma berubah wujud menjadi Naga Anantanhoga, bulu-bulunya menjadi tumbuh-tumbuhan sehingga makmurlah manusia. (ananta = tidak habis-habisnya, bhoga = sandang, pangan dan papan).


Batara Wisnu terjun ke samudra sebagai Naga Basuki dan memberikan kekuatan hidup kepada air sehingga tumbuh-tumbuhan subur dan berbuah lebat. Sedangkan Batara Iswara turun ke angkasa dan berubah menjdan adi Naga Taksaka.


Jadi sebenarnya ada 3 naga dalam padmasana yaitu Naga Anantabhoga sebagai simbol dari tanah dan batu-batuan yang membungkus magma (Bhedawangnala). Lapisan berikutnya adalah lapisan air (air laut, danau sungai) yang disimbolkan dengan Naga Basuki. Sedangkan lapisan terakhir adalah udara yang di angkasa, disimbolkan sebagai naga yang memakai sayap.


Naga Anantabhoga dan Basuki membelit kura-kura, sedangkan Naga Taksaka (yang bersayap) digambarkan pada singgasana di bagian atas dari padmasana yang berbentuk menyerupai kursi, Untuk segi estetika Naga Taksaka ini dilukiskan 2 ekor, di kanan dan kiri kursi.


Naga Anantabhoga dan Basuki melambangkan alam bawah atau bhur loka. Badan padma termasuk singgasana melambangkan alam bwah dan madya loka sebagai atmosfer bumi. Sedangkan swah loka tidak dalam wujud bangunan tetapi pesimpen pedagingan.


Patung Garuda
Terletak di bagian belakang padmasana.
Merupakan kendaraan Dewa Wisnu, simbol Hyang Widhi dalam manifestasi sebagai pemelihara.


Patung Angsa
Terletak di bagian belakang padmasana.
Merupakan simbol Sang Hyang Saraswati bermakna sebagai ilmu pengetahuan, ketelitian, kewaspadaan, ketenangan dan kesucian.


Karang Gajah, Karang Boma, Karang Buun, dll
Hiasan ini merupakan simbol keanekaragaman alam semesta.
Dari semua uraian di atas, kita bisa simpulkan bahwa padmasana merupaan stana Hyang Widhi Wasa yang dengan kekuatanNya telah menciptakan manusia sebagai makhluk utama dan alam semesta sebagai pendukung kehidupan, senantiasa perlu dijaga kelanggengan hidupnya.

 

Lokasi Padmasana
Berdasarkan arah mata angin, padmasana dibedakan dalam 9 yaitu:
1. Padma Kancana : lokasi di timur menghadap ke barat
2. Padmasana: lokasi di selatan menghadap ke utara
3. Padmasari: lokasi di barat menghadap ke timur
4. Padmasana Linga: lokasi di utara menghadap ke selatan
5. Padma Asta Sadana: lokasi di tenggara menghadap barat laut
6. Padma Noja: lokasi di barat daya menghadap ke timur laut
7. Padma Karo: lokasi di barat laut menghadap ke tenggara
8. Padma Saji: lokasi di timur laut menghadap ke barat daya
9. Padma Kurung: lokasi di tengah-tengah, ada 3 ruangan, puncaknya menghadap ke pintu keluar.
 

#Bentuk padmasana:

1. Padma Anglayang: memiliki singgasana bebauran marong tiga, strukurnya 7 palihan, pada dasarnya memakai Bhedawangnala yang dibelit naga.
2. Padma Agung: memiliki singgasana marong kalih, strukturnya 5 palihan, pada dasarnya memakai Bhedawangnala yang dibelit naga.
3. Padmasana: memiliki singgasana bebaturan marong siki, struktur 5 palihan, pada dasarnya memakai Bedawangnala dibelit naga.
4. Padmasari marong siki, strukturnya mapalih 3 yaitu dari bawah ke atas Palih Taman, Palih Sancak dan Palih Sari. Tidak memakai Bedawangnala dan naga.
5. Padma Capah marong siki, strukturnya mepalih kalih, yaitu ring sor disebut Palih Taman dan ring luhur disebut Palih Capah. Tidak memakai Bedawangnala dan naga.
6. Padma Lingga marong siki, strukturnya mepalih 3 diatas Bedawangnala. Sebelum kura-kura di paling bawah adalah yoni yang merupakan bangunan berbentuk tepas disebut pradana dan prakerti yang di lilit dua ekor naha. Di atas yoni ada bunga teratai yang merupakan simbol stana Dewa Brahma (Brahma Bhaga). Dewa Brahma disimbolkan sebagai Bunga teratai karena dalam Kitab Purana (Brahma Purana, Wisnu Purana dan Siwa Purana), disebutkan Dewa Brahma lahir dari Bunga Teratai yang keluar dari pusar Brahman. Di atas Benawan ada seekor naga dan diata itu baru Palih Taman, Palih Sancak dan Palih Sari dengan menur stupa.

Bangunan padma dibedakan dari bentuk, struktur dan jenisnya, namun mempunyai fungsi yang sama yaitu tempat atau stana Hyang Widhi Wasa, Selain itu jenis padma juga dibedakan dari proses penyelesaian upacara, pemelaspas dan penyuciannya.


Karena Pura merupakan tempat suci maka pada saat pemilihan lokasi pun sudah ada aturan-aturan yang harus diikuti. Lokasi yang dipilih harus tempat yang suci, tanah berbau harum, pada arah matahari terbit (lereng gunung, pada umumnya timur atau utara) serta harus merupakan arah hulu.


Setelah lokasi dipilih maka melakukan persiapan pembangunan, ngeruak karang, nyukat karang, nasarin, memakuh, ngurip-urip (mendem pedagingan). Untuk tahapan pembangunan Pura akan dbahas secara khusus.

Minggu, 17 Mei 2020

GAGELARAN SASIKEP KEPEMANGKUAN (UNTUK PRIBADI).

GAGELARAN SASIKEP KEPEMANGKUAN (UNTUK PRIBADI).

Olih: I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S, M.Pd

PINGIT 

ITI TUTUR SANGKUL PUTIH

AYWA CAUH BUAT UPADRAWA”
AYWA LUPA GELARAKEN CILAKRAMA YUKTI (SILA YUKTI ),
 APAN GAGELARAN SIRA SANGKUL PUTIH

Ta wurunge amanggih suwarga, ilang dasamalan ning upadrawa, munggah bapa bu;

Pranayama dengan mempergunakankesucian dari sanghyang dasani swaha; Kuta japa. Ini perwujudan Nada Windu Ardacandra.
Mantram : No :                   Kuta Japa :
Om Hrang Hring Sah Brahma – Siwa Aditya ya namah
Mantram : No :                   Mula ( Mula mantram ini diciptakan di Siwa dwara / ubun-ubun )
Om              = sikha
Ung             = Siwa dwara
         I          = sirah
         A         = lelate
         Ka       = muka
         Sa       = jiwa
         Ma      = kantha
         Ra       = hrdaya
         La        = udara
          Wa     = nabhi
          Ya      = uphasta
         Ung   = pade kalih
Malih regepang dhyana Paramotma sariranta, idepanne Maha sudha paripurna yete Dewan-ira, andel akne makasadana namaskara mudra.
Mantram : No ;                       Dhyana Paramotma :
Om Om I A Ka Sa Ma Ra La Wa Ya Ung namo namah swaha. (Tunggalang pade amrtha dan lanjutkan penunggalannya dengan Dasa ni swasa, Upangsu (Upanggha) ;             

Penunggalan Dasa Bayu ring sarira :
Utpatti : Om Om  IAKASAMARA LAWAYA UNG.

Sthiti     : Om Om  MASAKASA ARALAWAYA UNG.

Pralina  : Om Om  UYAWARABA MASAKARA ANG.

(inilah Utpatti, Sthiti, Pralina, Sang Hyang Dasa Aksara, sira Dasani Swawa/Sa/ha) ;
PICEKET ;

Mangkana pratiaksakne warahing  Sang Hyang Aji Suksme Siwa Nirmala : EKA JATI : Nga :
Tata kramaning dadi pemangku harus diamalkan baca dan cari dibuku, dll

PENUGRAHAN PEMANGKU.

Pakeling JRO MANGKU 
I.  PENUGRAHAN KUSUMA YUDHA.
     SUKSEMA RING ANGGA SARIRA, SERANA ANTUK SEKAR :
Mantra :  Ong  kusuma yudha jaya wijaya yan namah swaha.
Bunga tadi di sumpangkan sesuai kepentingan  pilih penempatan hanya bisa 1X  tidak boleh lebih pada saat itu :

a.     Diletakan di kepala depan : Pengangkeb manusia kabeh / jagat.
b.     Diletakan di kepala belakang : Kinasihaning Bhuta.
c.      Diletakan di telinga kanan : Kinasihaning Widhi.
d.     Diletakan di telinga kiri : Kinasihaning Manusia, ini yang kita perlu, karena banyak manusia ( wong matah ) yang akan mencoba / mintonin.

Artinya : 
            -   Widhi pasti asih karena jan banggul  Ida Sanghyang Widhi.
-         Bhuta pasti asih karena kita berikan labaan tetabuhan arak, tuak, berem, beras ditabur ke penjuru mata angin dan ditengah ( madya ).
-         Pengangkeb jagat otomatis, karena sudah kinasihaning manusia, Bhuta,  Sanghyang Widhi.

II.  PENUGRAHAN SARASWATI,
Pakeling Guru Mangku Darpa
Sehe :  Ratu Sanghyang  Aji Saraswati, titiang ngelungsur wara nugraha
             ngojah linggih Ida, mangde nenten keni alpaka, ngucap mantra,
             ngucap aksara suci kirang langkung titiang matur geng rna sinampura.
Mantra :  Ong Sanghyang Aji Saraswati lidahku, Sanghyang sastra sukunku,
                   Sanghyang Nirmala tanganku, Sanghyang Ongkara Isep.

III. PENUGRAHAN PEBERSIHAN SANGHYANG TRI TUNGGAL.
Pakeling Yoga Swastika :
Sehe :   Manunggal Ratu Sanghyang  Brahma,  Wisnu, Iswara 
             titiang ngelungsur pebersihan Skala Niskala
             bayu, sabde idep titiang.
             Om Sa Ba Ta A I Na Ma Si Wa Ya.

IV. PENUGRAHAN GAIB DEWA SIWA.
Pakeling Kepemangkuan :
Mantra :  Om Ang Ung Mang, Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa, Sabda Bayu Idep
                        sudhata nirwighna ya namah swaha.
                 Om Sidhi swaha ya namah
                 Om sah wosat prayoga ya namah.
Kosentrasikan, idep Bhatara Siwa melungguh ring bahunta tengen, Bhatara Sada Siwa malungguh ring bahunta kiwa, Bhatara parama Siwa malungguh ring Siwadwara, pada nyuksma ring raga sariranta, manunggal sira mapupul kabeh malungguh ring tungtunging papusuh, iki ngaran ring tungtunging meru candhi prasadha, ya ring sarira umawak Ongkara, irika pura kahyangan Bhatara ring sarira, raris uncaring sajeroning hati :
Om Ang Ung Mang, Ung Mang Ang, Ang Ah Om.

V. PANUGRAHAN SABDA BAYU IDEP.
Pakeling Guru Mangku Sudarta.
Sehe :  Pakulun Paduka Bhatara Siwa titiang ngelungsur wara nugraha mangda
             Bayu Sabda Idep titiang sidha purna jati suci nirmala.
Mantra :   Om Ang Ung Mang ngadeng ring Ati,
                 Om Ung Mang Ang ngadeg ring Ampru,
                 Om Mang Ung Ang  ngadeg ring papusuhan.
                 Om Sidhirastu tat astu ya namah swaha.
                 Om Awighnamastu namo sidham.
                 Om Na Ma Si Wa Ya
Bunga yang kita pakai amusti dimasukan ke dalam baju dan sebelumnya ditepak dada 3 kali dengan telapak tangan kanan lalu bunga masukan ke dalam baju tepatnya di depan dada.

VI . PANUGRAHAN ANGELESU SANGHYANG AJI SARASWATI.
Pakeling Yoga Swastika :
Sehe : Ratu Sanghyang Aji Saraswati tityang ngelungsur wara nugraha
            Aku angelesu aken saluwiring japa mantra ring awak sariranku
            sane patut ngaluwur aturin tityang ngaluwur,
            sane ring bhuana alit malingga ring Bayu Sabde Idep titiange.
Ini diucapakan setelah puja praline / setelah nyineb / selesai.

PEMABAH ATUR PERTAMA MOHON PENSUCIAN ATMA,

Pakeling Jro Mangku Suar
Duduk masila dan bersihkan  tangan dengan air :
Mantra : Om rah phat astra ya namah
Menghirup asap dupa :
Mantra : Om Ang Brahma amreta dupa ya namah
                Om Ung Wisnu amreta dupa ya namah
                Om Mang Iswara amreta dupa ya namah
Duduk masila lan  ngranasika :
Mantra :  Om Padmasana Ya Namah
                  Om Ang prasada sthiti sarira, Siwa suci nirmala ya namah.
Mersihin tangan :
Tangan kanan diatas  : Om Sudha mam swaha
Tangan kiri diatas      : Om Ati sudha mam swaha.
Pranayama :  Om Ang Brahma ya namah (narik angkihan genahang ring ati )
                       Om Ung Wisnu ya namah (ngandeg angkihan genahang ring ampru )
                       Om Mang Iswara ya namah ( ngemedalang angkihan saking papusuhan )
Trisandya :  Bait I, V, VI  dilanjutkan tepuk tangan 3 kali langsung ngaturang sembah dengan astra mantra  :
Mantra :
Om    Om  Om bhur bhwah swah tat sawitur wareniang
          bhargo dewasa dimahi diyoyonah praco dayat.
OM    Ksama swamam mahadewa, Sarwa prani hitang karah
          Mamoca sarwa papebhyah, Phalaya swa sadasiwa
OM   Papoham papo karmaham, papa-atma papa sambhahwah
         Trahimam pundari kaksah, Sambhahya byantara suci
OM   Ksantawya kayiko dosah, Ksantawyo waciko mama
         Ksantawyo manaso dosah, Tat pramadat ksama swamam

Selanjutnya tepuk tangan 3 kali ( mudra pemangku ) langsung ngaturang sembah dengan astra mantra:
Mantra : Om A Hum Rah pat astra ya namah ( mudra tepuk tangan 3 X )
                Om atma tatwa atma sudha mam swaha
                Om Om ksama sampurna ya namah
                Om sri pasupata ya Om Path.
                Om sri yam bhawantu,
                Om sukham bhawantu,
                Om purnham bhawantu.
Bunga yang dipakai amusti ring tangan kalih taruh didepan bawah.

PEMABAH ATUR KEDUA MOHON UPA SAKSI  :

RING BHETARA LELANGIT & BHETARA SURYA :
Sehe :  
Pakulun paduka Bhetara Lelangit ( Bhetara Kawitan ) bhetara Surya Lintang Teranggana sane embas saking kaler kangin nodya sekancan maurip ring mercepada, tityang ngelungsur wara nugraha jagi ngaturang ngayah ring wewidangan kamar suci ( sesuaikan tempat ) majeng ring paduka Bhetara sane berstana ring Gandawari, ledang paduka Bhetara Lelangit bhetara Surya sanghyang pengupesaksi agung ngampurayang sekala niskala rikala iwang antuk tityang dados jan banggul, juru sapuh, undakan paduka bhetara, mungwing ayah – ayah tityang lan kluargan tityang, atur – atur lan aturan tityang, kirang langkung tityang matur geng rna sinam pura dumogi tan keni ila – ila dahat lan upadrawa,
Dilanjutkan menghaturkan sembah kehadapan Bhetara Siwa Raditya sebagai pengupe saksi :
Mantra : Om aditsyaparamjyoti rakte teja namo stute, sveta pangkaja mandhyastha
                      bhaskara, ya namo stute.
               Om hrang hring sah parama siwadetya ya namah swaha          
Bunga yang kita pakai menghaturkan sembah bakti sumpangang di destar depan / belakang.

GENTA / BAJRA
CARA MEMAKAI GENTA PADA SAAT MULAI  :

Pakeling Jro Mangku Suar dan Jro Mangku Niang
I.                   Mersihin eteh – eteh penganteb siratin tirta dan asapi dupa :  
Mantra : Om ghrim wausat ksama sampurna ya namah    

II.                 Pegang genta dengan tangan kiri, ibu jari keatas jari telunjuk lurus dan tiga jari memegang genta,  tangan kanan jari tengah dan ibu jari bersamaan memegang bunga sekaligus palit genta  taruh didepan ulu hati selanjutnya ngastawa  bajra :
Mantra :  OM    Kara Sadasiwa stham,
                           Jagat Natha hitang karah
                           Abhiwada wadanyam,
                           Ghanta sabdha prakasyate
                 OM    Ghanta sabdha mahasrestah,
                           Ongkara parikirtitah
                           Candra nada bhindu drestham,
                           Spulingga siwa twam ca
                 OM    Ghantayur pujyate dewah,
                           Abhawa-bhawa karmesu
                           Warada labdha sandeham,
                           Wara siddhi nih samsayam

III.           Ngaskara Genta,
Palit genta pentil 3 kali  ( pentil ke depan 2 X ke belakang 1 X ) arah putaran tangan kanan ke LUAR  ( dari atas ke bawah ).

1.     Palit genta pentil ke depan 2X ke belakang 1X dan ujung jari telunjuk nyentuh ujung genta ( mekelener panjang apisan ) tangan kanan puter ke luar 3X dengan mantra : Ong Mang namah
2.     Palit genta pentil ke depan 2X ke belakang 1X dan ujung jari telunjuk nyentuh ujung genta ( mekelener panjang apisan ) tangan kanan puter ke luar 3X dengan mantra : Ong Uang namah
3.     Palit genta pentil ke depan 2X ke belakang 1X dan ujung jari telunjuk nyentuh ujung genta ( mekelener panjang apisan ) tangan kanan puter ke luar 3 X dengan mantra : Ong Ang namah

IV.              Makelener lantur  :
Mantra : Om ang khang kasolkaya iswara ya namah,

Dilanjutkan puja pengaksama dan seterusnya.

CARA MEMAKAI GENTA PADA SAAT SELESAI / NYINEB GENTA :
I.                   Raris pentil palit genta 3 kali ( pentil ke belakang 2 X kedepan  1 X ) arah putaran tangan KE DALAM,

1.     Palit genta pentil ke belakang 2 X ke depan 1 X, arah putaran tangan kanan ke dalam 3 kali dengan Mantra : Om Ung Namah
2.     Palit genta pentil ke belakang 2 X ke depan 1 X, arah putaran tangan kanan ke dalam 3 kali dengan Mantra : Om Ang Namah
3.     Palit genta pentil ke belakang 2 X ke depan 1 X, arah putaran tangan kanan ke dalam 3 kali dengan Mantra : Om Mang Namah

Om Shanti Shanti Shanti Om ( mekelener panjang 3 X )

ANTARA TRADISI DAN CORONA

ANTARA TRADISI DAN CORONA

Tradisi merupakan sebuah roh dari kebudayaan yang memperkokoh sistem kebudayaan. Tradisi pun teruji dari tingkat efektivitas dan efisiensinya, serta selalu mengikuti perjalanan perkembangan unsur kebudayaan. Tradisi dapat berbentuk sikap atau tindakan dalam mengatasi persoalan, apabila efektivitas dan efisiensinya mulai rendah tradisi pun akan segera luntur dan ditinggalkan oleh pelakunya. 

Dengan kata lain, sebuah tradisi merupakan kumpulan benda material atau sebuah gagasan yang diberi makna khusus dari masa ke masa. Tradisi pun tercipta ketika seseorang menetapkan bagian-bagian cerita tertentu dari masa lalu sebagai tradisi.

Tradisi dan Budaya adalah produk manusia. Selamatkan manusianya terlebih dahulu jika ingin ngerajegang Tradisi, Seni dan Budaya itu.

Gunung agung meletus karena alam...
Gempa bumi karena alam
Longsor karena ulah manusia..
Banjir karena ulah manusia
Virus corona karena ulah manusia
Virus AIDS karena ulah manusia
Ide sesuuan betara duka..karena anda lupa sembah bakti, TUHAN TIDAK PERNAH MARAH,/SUKA, KESAL, TUHAN HANYA BISA MENERIMA ANDA SEMUA WAKTU MATI

#tubaba@berfikir lah dengan cara anda sendiri#
#mana yang bagus untuk di buat selagi anda masih bisa berfikir#

Rabu, 13 Mei 2020

MUNCULNYA BHUTA SARYYAH (COVID 19) TERSIRAT DALAM LONTAR WIDISASATRA TARPINI poin 6b

MUNCULNYA COVID 19 TERSIRAT DALAM LONTAR WIDISASATRA TARPINI poin 6b.

Oleh: I Gede Sugata Yanya Manuaba, S.S. M.Pd
Covid-19 adalah singkatan dari Corona (CO), Virus (VI) Disease (D) dan tahun 2019 (19), yang mana virus corona Covid-19 ini pertama kali muncul di tahun 2019. Kemunculan Covid - 19 tersurat dan ter sirat dalam lontar widhi sastra tapini lembar 6b. Covid - 19 disebut dalam lontar widhi sastra tapini dengan nama bhuta saryyah. Untuk lebih jelasnya saya sajikan alih bahasa aksara lontar widhi sastra tapini lembar 6b, sebagai berikut

TERJEMAHAN :

6b/ dirasuki oleh Bhuta Saryyah (corona virus Disease 19). Itu yang menjadikan Durmanggaladi Dunia, huru hara jadinya dunia, dikacaukan oleh Kali yang datang tanpa sebab,  kematian mendadak pada manusia, hewan semakin merajarela, sehingga kacaunya dunia, pencuri banyak,  karena manusia sama dimasuki Bhuta Kala Saryyah, panas dan menderitanya dunia, demikian menjadi keadaan dunia, karena dikutuk oleh Hyang Widdhi, karena tingkah laku manusia didunia ini, tidak mengikuti tata karma igama, tidak mempercayai apa yang terdapat dalam ajaran agama dan tanpa dituntun oleh sang Sulinggih yang bijak, karena sang Sulinggih (Brahmana Pandita) sebagai tempat belajar para manusia, mengenai tingkah laku manusia,  di dunia, benar sekali hakekatnya Sang Sulinggih sebagai hulu sanghyang Igama.

Untuk dapat terhindar dari bhuta suryyah itu, bisa dilakukan dengan cara membentengi diri dengan upakara bebantenan "tebasan panuku jiwa" dan memohon  Lima jenis Tirtha yang terdapat di lima gunung atau Panca Giri, sebagai berikut:
1. Tirtha Sveta Kamandalu di Gunung Indrakila, dijaga oleh Indra dan Sang Hyang Iswara atau Sadyijata

2. Tirtha Ganga Hutasena di Gunung Gandharnadana, dijaga oleh Barna Dewa

3. Tirtha Ganga Sudha-Mala di Gunung di Gunung Pgat atau Udaya, dijaga oleh Tatpurusa

4. Tirtha Ganga Amrta-Sanjivani di Gunung Rsymukka di jaga oleh Aghora

5. Tirtha Ganga Amrta-Jiva di Gunung Kailasa dijaga bersama Ardhanareswari.
Panca Tirtha tirta diatas dapat diperoleh di lereng Panca Giri dan ataupun dengan tirtha argha sang Sulinggih pinaka Brahmana Pandhita. Ada pun fungsinya adalah digunakan untuk menyucikan Bhuta dan Kala, terutama pada hari Raya Nyepi, dan juga dilakukan menjelang upacara-upacara penting lainya dalam rangkaian pelaksanaan Yajna umat Hindu, lebih-lebih saat musibah covid saat ini.

Oleh sebab itulah sebuah wujud pengabdian kepada masyarakat dan bentuk peduli terhadap alam ini, kapurusan Griya Agung Bangkasa, Banjar Pengembungan Desa Bongkasa, Abiansemal - Badung, serta atas restu Ida Sinuhu Siwa Putri Parama Daksa menugaskan seluruh oka jnana, raka rai kapurusan untuk nunas tirtha di berbagai pura, gunung, laut dan sumber air yang ada di Bali.

Setelah semua tirtha ini sampun mepupul, maka pada tanggal 19 jagi katuran pemendak agung, ayaban sakesidan,, ngawit tanggal 20 Mei 2020 ngantos puput wawu pundut ke suwang-suang griya, miwah semeton umat sedharma.

Kegiatan ini di ketuai oleh IPM NABE PUTRA PRAMA DAKSA BUDHA YOGA MANUABA, GRIYA AGUNG CAKRA GNI MANUABA, BUKIT TAMPAKSIRING

Bagi umat sedharma sane arsa nunas tirtha Panca Giri pinaka peneduh jagat puniki ledang rauh ke rauh ke Griya Agung Bangkasa, ke Griya Agung Cakra Gni Manuaba ataupun Griya Kapurusan sejebag Bali mulai tanggal 20 Mei 2020.

#tubaba@griyangbang#