Selasa, 04 Januari 2022

Etika

Sarascamuscaya Pedoman Etika Dalam Meniti Kehidupan.

Mari kita selalu hormat kepada orang tua dan tetap sujud bhakti lewat Rong Tiga ketika kedua orang tua itu sudah tak ada lagi di dunia ini. Semoga bermanfaat, sampai jumpa. Rahayu.

Seorang anak harus berbhakti dan hormat kepada kedua orang tuanya:

#Sarascamuscaya sloka ke 234.

Jika ada orang yang dengan pikiran, perkataan, dan perbuatannya menghianati guru/nabe, menghianati ibu dan ayahnya, dosa mereka ini sangatlah besar, bahkan lebih besar dari dosa akibat menggugurkan kandungan.

Sloka ini menekankan tentang bhakti kita kepada orang tua dan guru. Jangan sekali-kali menghianati mereka. Dalam ajaran di kitab lain, ada yang disebut dengan Catur Guru, empat guru yang harus kita hormati. Yakni orang tua yang disebut dengan Guru Rupaka, guru yang mengajar kita di sekolah mau pun di perguruan non formal yang disebut Guru Pengajian, pejabat-pejabat pemerintahan yang disebut Guru Wisesa dan Tuhan Hyang Widhi yang disebut Guru Swadahya. Nah karena tema sloka ini tentang etika di dalam lingkungana rumah tangga dan lingkungan sekitar hanya disebutkan dua guru itu saja yang harus kita hormati. Dosa menghianati ini lebih besar dari dosa menggugurkan kandungan, artinya sudah merupakan puncak dari dosa. 

# Sarascamuscaya sloka 235.

Beginilah hubungannya antara ibu, bapa dan guru/nabe itu. Ibu dan bapa menyebabkan lahirnya kita ke dunia yang tidak kekal ini. Tetapi ada kelahiran yang lain, yakni lahir ke dunia ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh guru/nabe yang suci, sehingga ajarannya patut dituruti. Inilah bhakti kita yang utama.

Sloka ini sudah jelas, intinya adalah Ibu dan ayah adalah sumber dari kehidupan kita di dunia ini, sedangkan guru adalah sumber pengetahuan rohani yang mengajarkan hakekat hidup. Kepada mereka kita layak untuk berbhakti dan tidak mengkhianatinya. 


# Sarascamuscaya sloka 236.

Kita harus mendahului memberi hormat kepada guru/nabe yang mengajarkan pergaulan, mengajarkan ajaran agama berdasarkan weda, mau pun ilmu pengetahuan lainnya.

Guru yang terlebih dahulu dihormati adalah guru/nabe sebagai penuntun hidup dan kehidupan, sebagai pemberi pengetahuan dan kerohanian. Ini dimaksudkan jika kita banyak mempunyai guru yang membimbing kita, misalnya, ada guru yang memberikan pelajaran olahraga, guru yang mengajarkan menyanyi dan seterusnya. Guru yang paling tinggi mendapat penghormatan adalah mereka yang mengajarkan pengetahuan rohani. 

# Sarascamuscaya sloka 237.

Ini yang harus diperbuat, janganlah bertengkar dengan guru. Apabila guru sedang marah dan jengkel, usahakanlah berbuat yang dapat menyenangkan hatinya.

Bertengkar dengan guru adalah perbuatan yang tidak baik. Namun guru juga manusia biasa, beliau kadang bisa marah dan jengkel. Tugas kita adalah menghibur merek dan bersikaplah bijak dengan kata-kata yang manis menyegarkan. 


# Sarascamuscaya sloka 238.

Janganlah mencela guru, kalau pun perbuatan mereka itu keliru, kita harus cari jalan yang sungguh-sungguh untuk menyadarkan beliau. Mencela guru menyebabkan kita banyak dosa.

Sloka ini pun sudah jelas. Karena dalam ajaran Catur Guru pun disebutkan bahwa ke empat guru itu harus kita hormati jangan sekali-kali mencelanya. Dalam pergaulan di masyarakat kita memang sering mengecam guru, apalagi kalau kita jelas melihat guru itu keliru. Cara mengecam itu tidak baik karena kita harus menghormati posisi mereka atau jabatan mereka. 


# Sarascamuscaya sloka 239.

Mereka yang hormat kepada ayah dan ibunya, ia disebut teguh iman dalam tapa yang berkeadaan sama dengan seorang brahmana yang kuat menjaga kesucian dan berada pada jalan kebajikan dan kebenaran.

Sloka ini adalah pengandaian dari seseorang yang hormat kepada orangtuanya yang disetarakan dengan kesucian seorang brahmana dalam menjalankan tapa. Maksudnya adalah untuk menunjukkan bahwa hormat kepada orangtua adalah segalanya. 


# Sarascamuscaya sloka 240.

Bahwa berat kewajiban ibu jauh melebihi beratnya bumi, itu tak dapat disangkal sesungguhnya. Lebih tinggi kemuliaan bapak dari tingginya langit. Lebih cepat larinya pikiran dari pada cepatnya angin.

Sloka ini masih berkaitan dengan kenapa orang tua, ayah dan ibu, harus dihormati. Karena seorang ibu menanggung kewajiban yang berat untuk membesarkan putra-putrinya. Begitu pula seorang ayah, kemuliaannya dalam mengasuh anak tak bisa diperbandingkan dengan sesuatu yang lain, bahkan dengan tingginya langit. Menyadari hal itu, seorang anak hendaknya menghormati dan bakti secara bersungguh-sungguh kepada orang tuanya. 


# Sarascamuscaya ke 241.

Barang siapa yang bakti tulus kepada orang tuanya dan selalu berusaha untuk menyenangkan serta memuaskan hati mereka, orang tersebut akan terpuji dan menjadi bajik, baik sekarang mau pun kelak.

Sloka ini tak perlu saya komentari lagi karena sudah gamblang apa adanya. Saya lanjut ke sloka 242.

Ada tiga macam yang dianggap sebagai orangtua yaitu sarirakit , pranadata dan annadata. Sarirakit artinya yang membuat badan wadag, pranadata artinya yang memberikan hidup, anna data artinya yang memberi makan atau yang memelihara.

Sarirakit dan pranadata asli dalam bahasa Sansekerta dan memang ada dalam sloka aslinya di Kitab Sarasamuscaya. Namun anna data nampaknya tambahan dari Bhagawan Wararuci untuk lebih mempertegas apa yang dimaksud dengan memberikan hidup itu, yakni memberi makan atau memelihara. Inti dari sloka ini adalah seorang ayah yang baik akan memberi sepenuh kebutuhan hidupnya kepada anak-anaknya. Dan ini adalah tanggung jawab yang utama. Saya lanjut ke sloka 243.

Seorang anak patut memberikan kesenangan pada orang tuanya dengan perbuatannya. Adapun orang tua akan menyerahkan apa saja untuk kebahagian anaknya, tidak ada yang dikikirkan oleh orang tua, sampai jiwa raga pun rela dikorbankan untuk kebahagiaan anaknya.

Saya kira sloka ini sudah jelas, dan memang begitulah umumnya orang tua yang baik, mempertaruhkan segala miliknya untuk kebahagiaan anaknya. Saya lanjut ke sloka 244.

Juga kecintaan ibu terhadap anaknya sangatlah besar dan adil. Cakap atau tidak cakap, baik atau kurang baik, semua anak-anaknya dijaga dan dipelihara dengan penuh rasa cinta. Sesungguhnya tidak ada yang melebihi cinta seorang ibu terhadap anaknya.

Sloka ini pun sudah jelas, berbicara tentang kewajiban seorang ibu dalama mengasuh dan membesarkan anaknya. Penekanan di sini adalah keadilan. Tidak boleh membedakan anak-anaknya hanya karena penampilan dan kecerdasannya. Saya lanjut ke sloka 245.

Seorang ayah, seberapa miskin pun keberadaannya, ia akan selalu berusaha untuk mencari penghidupan untuk anak-anaknya dan berusaha untuk menyenangkan mereka dengan pemberian dan hadiah.

Kalau sloka sebelumnya tentang kewajiban ibu, maka ini tentang kewajiban seorang ayah. Semuanya sudah jelas tak perlu pembahasan lagi. Saya lanjut ke sloka 246.
Ada pun seseorang yang sampai punya anak dan cucu, tetapi tetap bhakti kepada ibunya sendiri, ibarat sama bhaktinya kepada dewa-dewa, maka sorgalah pahalanya.

Sloka ini tentang kewajiban seorang anak. Walau sang anak itu sudah kawin, punya anak dan bahkan punya cucu, ia tetap harus berbhakti kepada ibunya sendiri, sebagaimana bhakti dia kepada para dewa. Punya keluarga, punya anak, menantu dan cucu, tak bisa mengurangi hormat dan bhakti kepada ibunya sendiri. Jadi sudah jelas pula sloka ini. Lanjut ke sloka 247.

Anak yang ditinggalkan ibunya karena percekcokan, anak yang seperti ini seberapa pun kayanya adalah tetap disebut orang yang miskin, seberapapun bahagianya adalah orang sengsara, bagi mereka dunia akan menjadi sangat sepi walau berada dalam hiruk-pikuk keramaian.

Sloka ini menekankan bahwa bertengkar dengan ibu sampai-sampai ibu itu meninggalkan sang anak, lalu ibu hidup terpisah dengan anak, maka pahala yang diterima sang anak sangatlah buruk. Betapa pun kayanya anak itu harta tak akan sanggup memuaskannya. Janganlah hal itu sampai terjadi. Saya lanjut ke sloka 248.

Oleh karenanya, baktilah pada orang tua, duduklah bersila dan hormatlah dengan ketulusan hati. Jika diminta atau jika tidak diminta sekalipun, tawarkan terlebih dahulu keinginan untuk mengantar kemana pun beliau hendak pergi, antarlah dengan hati yang tulus.

Begitulah seorang anak harus berbakti kepada orang tuanya. Biasakan sungkem kepada orangtua sebagai wujud rasa syukur dan hormat. Saya lanjut ke sloka 249.

Jika berhadapan dengan orang tua, si anak seperti akan kehilangan jiwanya, tapi jika si anak sudah sujud dengan hormat kepada orang tuannya, kembalilah jiwa si anak ketubuhnya.

Ini memberi perumpamaan bagaimana orang tua itu punya kharisma yang kuat dan mempengaruhi baik buruk anak-anaknya. Aura orang tua akan merasuki sang anak seolah-olah jiwanya kembali membara dengan sentuhan kasih orang tua. Saya lanjut ke sloka 250.

Adapun pahalanya orang bhakti dan hormat kepada orang tua akan ditambahkan empat hal yaitu kirti, ayusa, bala, yasa. Kirti artinya pujian atas kebaikan. Ayusa artinya hidup panjang, bala artinya kekuatan, yasa artinya jasa baik. Ke empat hal ini bertambah-tambah kesempurnaannya sebagai pahala orang yang hormat dan bhakti kepada orang tua.

Nah, ini adalah sloka terakhir dalam tema tentang etika di lingkungan keluarga atau rumah tangga. Jika seseorang tetap bhakti kepada orangtuanya sepanjang hidup maka pujian akan mereka terima, kekuatan hidup akan diperolehnya, usia panjang akan dijalani dan jasa baik termasuk nama baik akan didapatnya.

Semoga sloka-sloka dalam seri ini menyadarkan kita untuk selalu hormat dan bhakti kepada kedua orangtua kita, sepanjang hayatnya. Bahkan ketika beliau sudah tiada, rasa hormat itu tetap kita wujudkan dalam persembahyangan kepada leluhur. Untuk itu leluhur kita di Bali membuat stana khusus untuk para leluhur yang sudah tiada, yang sudah menyatu di alam Tuhan. Yakni sebuah pelinggih yang disebut Rong Tiga.


Senin, 03 Januari 2022

AWIG-AWIG

SARGAH I

ARAN, PALEMAHAN LAN WEWIDANGAN

PALET  1

ARAN LAN PALEMAHAN

Pawos 1

Aran Banjar Adat

Banjar adat puniki mewasta Banjar Adat Pengembungan.

 

Pawos 2

Palemahan Banjar

Palemahan Banjar Adat Pengembungan magenah ring wewengkon Desa Adat Bongkasa, Desa Bongkasa, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Dati II Badung, sane wates-watesnyane :

–           Sisih Wetan                                        :           Banjar Saya

–           Sisih Kidul                                          :           Banjar Kambang

–           Sisih Kulon                                         :           Tukad Bet Tegeh

–           Sisih Lor                                              :           Banjar Teguan

 

PALET  2

WEWIDANGAN LAN KEKUWUB

Pawos 3

Wewidangan Banjar

Wewidangan Banjar Adat Pengembungan keepah dados Tigang tempek sekadi ring sor :

–            Tempek Kaja

–            Tempek Tengah 

–            Tempek Kelod

 

Pawos 4

Kekuwub Banjar

Kakuwub Banjar Adat Pengembungan manut Dresta luwir ipun :

  1. Pupulan karang Paumahan utawi karang Desa saha dagingnya.
  2. Tegal, tebe, margi, carik utawi sawah sane wenten ring wewidangan Banjar Adat Pengembungan kasinanggeh telajakan Banjar Adat Pengembungan.
  3. Awig-awig lan Pararem miwah sehananing pasuaran Banjar Adat menggah, kaleleran ring wewidangan lan kakuwuban Banjar Adat Pangembungan.
  4. Awig-awig lan Pararem ring telajakan Desa Adat Bongkasa tan aran Menggah kainggilan.

 

SARGAH II

DASAR LAN TETUJON

PALET  1

DASAR BANJAR ADAT PENGEMBUNGAN

Pawos 5

Dasar Sane Kemanggehan

Ring Banjar Adat Pengembungan, Desa Adat Bongkasa, indik dasar sane kemanggehan luwir ipun :

  1. Tatwa Agama Hindu
  2. Tri Hita Karana, tatwaning Agama, Bhuana Agung lan Bhuana Alit.
  3. Awig-awig lan Pararem Desa Adat Bongkasa
  4. Pancasila pinaka dasar Negara Indonesia
  5. Undang-Undang Dasar 1945

 

PALET  2

TETUJON BANJAR ADAT PENGEMBUNGAN

Pawos 6

Tetujon

Tetujon sane keapti :

  1. Mikukuhin lan nyejeran tetujon tatwaning Agama Hindu mekadi “Moksartham Jagat Hita”.
  2. Mikukuhin lan Nginggilan Tata Prawertinia Megama Hindu, manut Desa Kala Patra, lan Desa ngawi cara.
  3. Ngerajegan kasukertan Banjar Adat lan pawongannia medasar antuk sagilik-seguluk, salunglung sabayantaka, paras-paros sarpanaya, sekala muah niskala.
  4. Ngerajegan druwen Banjar Adat lan druwen pasuangan Ikrama Banjar.
  5. Miara lan mikukuhin saluwirin wewangunan Banjar Adat gumanti wenten gunan ipun.

 

SARGAH III

PAWONGAN MANUT PARHYANGAN

PALET  1

PIODALAN LAN PANYIWI RING PURA MELANTING

Pawos 7

Piodalan ring Pura Melanting

  1. Anjek Piodalan ring Pura Melanting nemonin rahina Buda Cemeng Kelawu.
  2. Dudonan Piodalan Ring Pura Melanting manut dudonan ring sor :
    1. Buda Cemeng Kelawu tan nemuning Purnama Tilem piodalan nyane sekadi ring sor :

–            Apisan piodalan mesekar taman

–            Apisan piodalan majaba Jero

  1. Buda Cemeng Kelawu nemu Purnama lan Tilem pemargi nyane Nyatur
  2. Ring anjek Piodalan patut nanceb sanggar tawang, tur ngaturan Upacara Bhuta Yadnya sekadi :
    1. Nista              :           ayam brumbun (Eka Sata)
    2. Madya                        :           Panca Sanak
    3. Utama                        :           Rsi Gana

 

Pawos 8

Panyiwi / Panyungsung Pura Melanting

Krama Banjar Adat Pengembungan patut nyiwi / nyungsung Pura Melanting

 

PALET  2

SESANA, WALI LAN PAMUPUT RING PURA MELANTING

Pawos 9

Sesana ring Anjek Piodalan

  1. Busana ngayah ritatkala mekarya ring Pura Melanting patut ngangge busana adat madia.
  2. Busana ngayah ritatkala pacang mebakti / muspa patut ngangge busana adat jangkep.
  3. Sane kebawos tan dados ngeranjing ke Pura Melanting / Karang Suci sekadi ring sor :
    1. Sane kecuntakan luwire

–            Sebel di raga

–            Sebel kematian

–            Ngembasan oka durung lintang saking a rahina

–            Ngerorod sane durung mabiakala

–            Wong edan

–            Sakit lefra

  1. Sane leteh luwire :

–            Wewalungan suku pat lianang ring ritatkala mapepada.

–            Barang-barang sane leteh sekadi : tulang, rambut lan sane lianang sane mawit saking mayit utawi setra.

–            Jadma babinjat sane durung kasinangaskara

–            Jadma mobot sane durung kasinangaskara.

  1. Sesana sane tan kepatutan ring Pura Melanting / Karang Suci

–            Marebat lan mebawos sane cemer

–            Mecikan wastra melukar

–            Nyolong semara lan masenggama

–            Menyonyoin anak alit

–            Metatah lan ngenahang mayit

–            Munggah ring palinggih tiyosan ring juru sapuh

–            Makeratan

–            Mewarih

  1. Pidabdab ritatkala Piodalan inggih punika :

–            Sadurung ngadegan, utawi ngalinggihang Ida Betara Krama Banjar nenten kepatutan maturan.

–            Rikanjekan Piodalan Krama Banjar Adat Pengembungan patut ngaturan bakti / muspa sinarengan sane kaenter olih juru sapuh / sulinggih.

–            Sarana muspa minakadi : sekar, dupa lan kwangen patut kebakta olih pamedek/sang sane muspa.

  1. Rikala Piodalan nyatur wenten wali topeng, yaning wenten Krama Banjar Adat mapikayun mawinten kedadosan, sakewanten sane kapica wantah upakara pawintenan kemanten, nanging  sane kayun mawinten inucap patut masadok ring prajuru sadurung mekarya nyamuh tur ngaturan dana punia utawi pinuku manut perarem ritatkala nyanggra  acara inucap.
  2. Silih sinunggil Krama Banjar sane mapunia wali ritatkala odalan sekar taman / jaba jero kedadosan maturan sejangkepnyane, yening wenten saldo  dados dwruwen Banjar.

 

Pawos 10

Wali / Wewalian

Rikanjekan Krama Banjar Adat ngaturan Piodalan ring Pura Melanting (Dewa yadnhya nyatur lan bhuta yadnya) patut kawentenan wali topeng lan santhi.

 

Pawos 11

Sane Muput Ring Pura Melanting

Rikanjekan Krama Banjar ngaturan Piodalan ring Pura Melanting patut kapuput olih :

–            Sulinggih/Pandita

–            Mangku Kahyangan Tiga

–            Mangku Peletan

Taler Tri Manggalaning yadnya patut kemanggehan

 

PALET  3

KEASRIAN PURA

Pawos 12

Sane Patut Ketandur Ring Pura Melanting / Karang Suci

–            Sane patut ketandur ring Pura Melanting / Karang Suci sarwa bunga lan plawa.

–            Telanjakan Pura Melanting, merajan, sanggah patut kapiara kebersihan, kesucian lan keasriannyane.

 

PALET  4

PUANGKIDAN LAN CUNTAKA

Pawos 13

Puangkidan

  1. Pengayah lanang utawi istri sane nunggal yening sungkan polih puangkidan jangkep selamin ipune sungkan.
  2. Pengayah nunggal luas utawi wenten keperluan asasih polih puangkidan apisan (arahina).
  3. Oka utawi putra sane polih ngayah wenten sungkan polih puangkidan sekadi ring sor :

–            Yan sang sungkan kantun jenek ring wewidangan Banjar Adat Pengembungan polih puangkidan atenga ayah, selamin okane sungkan.

–            Yan sang sungkan metamba ninggal saking wewidangan Banjar Adat Pengembungan polih puangkidan jangkep lanang istri selamin okane sungkan.

  1. Yening sang polih ngayah ngewangun ring karang ayahan ipune polih puangkidan apisan (arahina) jangkep lanang istri.
  2. Sang sane polih ngayah ngawentenang acara lan upakara ring karang ayahan ipun taler polih puangkidan sekadi ring sor :
    1. Karya ngodalin polih puangkidan jangkep 7 (pitung) rahina.
    2. Karya ngerainan mesekar taman polih puangkidan jangkep 2 (kalih) rahina.
    3. Karya ngerainan medatengan polih puangkidan jangkep arahina.
    4. Nyambutin, ngerorasin polih puangkidan jangkep arahina.
    5. Mesangih, mejauman polih puangkidan jangkep 5 (limang) rahina.
    6. Karya nyekah utawi pitra yadnya polih puangkidan jangkep 7 (pitung) rahina.
    7. –     Yening wenten silih sinunggil krama Banjar padem nemonin wenten karya yadnya ring kahyangan tiga sane dados amongan Banjar Busana Kelod sane polih puangkidan sane ngawakin kemanten.

–     Yening wenten krama banjar padem nemoning wenten karya yadnya ring Pura Melanting sane polih puangkidan manut dudonan cuntaka.

 

Pawos 14

Cuntaka

Sane kebaos cuntaka sekadi ring sor :

  1. Sebel di raga lamin ipun tigang rahina.
  2. Keruron sane sebel / cuntaka wantah reraman ipun lanang istri lamin ipun 42 (petang dasa kalih) rahina.
  3. Padem rare (seda alit) sane tan ngangge padewasan sane kecuntakan sekeluargan ipun lamine 42 (petang dasa kalih) rahina.
  4. Padem madius :

–          Sane ngawakin lamin ipun 12 (roras) rahina.

–          Semeton tugelan lamin ipun 7 (pitung) rahina.

–          Semeton dimisan lamin ipun 5 (limang) rahina.

–          Semeton dimindon lamin ipun 3 (tigang) rahina.

–          Semeton sios Desa

–          Semeton tugelan lamin ipun 7 (pitung) rahina.

–          Semeton dimisan lamin ipun 5 (limang) rahina.

–          Banjar 3 (tigang) rahina.

 

  1. Padem Matanem :

–          Sane ngawakin lamin ipun 42 (petang dasa kalih) rahina.

–          Semeton tugelan lamin ipun 12 (roras) rahina

–          Semeton dimisan lamin ipun 9 (sanga) rahina.

–          Semeton sios Banjar / Desa :

  • Semeton tugelan lamin ipun 12 (roras) rahina.
  • Oka / Putra lamin ipun 12 (roras) rahina.
  • Semeton dimisan lamin ipun 3 (tigang) rahina.
  1. Sebel Banjar

Sane kabawos sebel Banjar, wantah asing-asing krama Banjar wenten padem, krama Banjar patut ngambil sebel/cuntaka lamin ipun 3 (tigang) rahina ngawit saking pakutangan, yening sampun umandang mantri sebel banjar inucap, ical.

Yening wenten krama banjar ngambil pengabenan umandang Mantri wusan ngerorasan krama banjar nenten sebel.

 

PALET  5

TAWUR KESANGA UTAWI YADNYA SANE LIANAN

Pawos 15

Pemargin Tawur Kesanga

  1. Krama Banjar patut nginutin sepolah palih Desa Adat Bongkasa.
  2. Yening wenten krama Banjar Adat maderbe karya sane kaucap manut pemargin yadnya, patut kapicayang galah pemargi.
  3. Saluwiring sane menggah ring ajeng patut kewijaksanain olih pengurus Adat lan Dinas.
  4. I Krama Banjar nenten dados piwal ring kawentenan Desa ngawecara / Desa mawacara.

 

SARGAH  IV

PAWONGAN LAN PALEMAHAN

PALET  1

KARANG PALEMAHAN LAN TELAJAKAN

Pawos 16

Miara Karang Palemahan

  1. Ring suang-suang karang paumahan patut kapiara kabersihan lan keasriannyane.
  2. Ring suang-suang telajakan krama Banjar patut miara keasrian, kebersihan tan katandurin taman telajakan.
  3. Ring sajeroning telajakan Banjar, patut ida dane Banjar  miara keasrian, kebersihan lan katandurin antuk taman telajakan.

 

PALET  2

TANEM TUWUH

Pawos 17

Wicara Tanem Tuwuh

  1. Wates tanem tuwuh adepa Agung/2 meter saking wates inucap.
  2. Taru utawi tanem tuwuh sane ngaliwat kapisaga / margi patut kabecikan antuk sang sane maderbe taru inucap.
  3. Tanem tuwuh sane nyengkalen kapisage sane wewasta Bencana Alam patut kaupakara antuk sane maderbe Taru lan sane keni bencana majalaran antuk upakara pangulapan lan prasita.
  4. Tanem tuwuh sane nyengkalen kapisaga majalaran antuk mabah-ebahan sane maderbe taru inucap patut :

–          Mecikan wewangunan sane karubuhan.

–          Ngupakara majalaran antuk pangulapan lan pecaruan Eka sata.

  1. Tanem tuwuh sane sampun kawara / kasambat pet nyengkalen / ngerubuhin wewangunan kapisaga sang sane maderbe taru inucap patut :

–          Mecikan wewangunan sane karubuhin mejalaran antuk prabiya sang sane madue kayu inucap.

–          Ngupakara majalaran antuk pangulapan prasita lan pecaruan eka sata.

  1. Yening nenten wenten ngrubuhin nenten wenten upakarannyane.
  2. Yening wenten pepayonan ngelikadan ring wates, prajuru patut micayang pamutus ring sapasira pepayonan / taru punika patut kapicayang.
  3. Yening wewidangan Banjar Adat Pengembungan metu taru salah bikas sekadi :

–          Jaka mecarang lan kelapa macarang.

–          Pisang sane maweh nglangkungin sakeng aijeng.

–          Tur sane lianan, sane nenen lumrah manut dresta.

Sang sane maderbe taru inucap patut ngupakara taru antuk Prasita lan pecaruan, sane kamargiang rikala nemu rerahinan, lan tarune punika patut kararung.

PALET  3

WATES KARANG LAN SESANA NGEWAWA KARANG PALEMAHAN

Pawos 18

Wates Karang

  1. Asing-asing karang Palemahan patut wenten wates ipun.
  2. Wates karang sane majerapitan patut kategen olih sang sane maulu ke wates inucap manut dresta.

Pawos 19

Sesana Ngewawa Karang Palemahan

  1. Ring karang palemahan nenten kadadosan nunjel sawa / mayit, nenten dados ngenahin barang sane kaucap ngeletahin wewidangan Banjar.
  2. Yening mekarya wewangunan ke-taben, wates punika patut wenten a-tampak terus hidup / ajeg. Yening makarya wewangunan ring wates ka-ulu, a sampel baledanne mangde tetap ajeg. Sang sane piwal mangda kabecikan antuk sang sane makarya wewangunan inucap.
  3. Makarya wates majalaran antuk turus hidup, tegeh turus nenten dados ngelintangin 2 (kalih) meter.
  4. Yening jagi masepatan karang, patut ngerereh sisi wates ulu karang, baledan karang tetap ajeg. Rikala masepatan patut naur pinuku ring Prajuru pinaka Saksi. Ageng Alit pinuku manut Pararem Banjar. Prabiya masepatan lan pinuku rikala masepatan ketanggung olih sang sane maderbe kaberatan.
  5. Kecoran toyan cacapan nenten dados runtuh ring pisaga.
  6. Nenten kadadosan ngura/ngutang kotoran ka-pisaga kejelinjingan ka-margi lan ke telabah, yening piwal patut kawara olih prajuru.
  7. Nenten kadadosan ngelumbar wewalungan suku pat.

 

SARGA V

PAWONGAN MANUT PAWONGAN

PALET  1

KRAMA BANJAR, AYAHAN BANJAR LAN TEDUN NGAYAH

Pawos 20

Krama Banjar

  1. Sane kawastanin Krama Banjar Busana Kelod inggih punika :
    1. Sane magenah ring wewidangan Banjar Adat Pengembungan, tur tinut ring awig-awig lan pararem Banjar Adat Pengembungab.
    2. Meagama Hindu, tur nyungsung Pura Melanting Br. Pengembungan, Pura Sima miwah Pura Kahyangan Tiga Desa Bongkasa.
    3. Tios ring inucap kewastanin Tamyu.
    4. Asing-asing Krama Banjar Pengembungan maderbe hak lan kewajiban sane pateh.

Pawos 21

Ayahan Banjar

  1. Ayahan Banjar Adat Pengembungan luwire :
    1. Ayahan ngarep, Ayahan Pangele, Ayahan Balu.
    2. Ayahan ngarep : nyangra sejeroning ayah-ayahan sakeng Desa Adat Bongkasa, Tios ring ayahan Desa kesanggra antuk pengayah sami.
    3. Karang ayahan patut wenten ayah ipun :
      1. Sampun mayusa 17 warse kedadosan ngayah, utawi sampun kawin.
      2. Mayusa 70 warse ngelakungin patut sampun lepas ayah, ayah punika patut kagentosin.
    4. Balu ngelentik / Balu ngempu
      1. Balu ngelentik inggih punika Balu ngeraga.
      2. Sampun mayusa 17 warsa patut tedun ngayah.
      3. Sampun mayusa 20 warsa patut ngayah sepatutnyane.
    5. Ayahan gemba kedadosan ngayah yaning nenten wenten ayah penyelediyi. Yening nenten meresidayang ngayah kedadosan numbas ayah 6 (enem) sasih mapengarga manut perarem Banjar.
    6. Yening wenten ayah sampun lepas sakewanten waris ipun wenten magenah ring tios Desa (secara administrasi) tur ayah tunggil, kedadosan numbas ayah pengargan ipun manut perarem Banjar.
    7. Penyalahdiyi ayah kedadosan, nanging ayah siteng.
    8. Yening wenten ayah balu sane mobot, patut ngayah sepatutne (lanang istri).
    9. Saluwiring ayah-ayahan dados ketimbalin masengker 1 (satu) tahun.

10.  Saluwiring krama banjar sane pacang transmigrasi patut mepamit ring Pura Melanting miwah Pura Sima melarapan antuk Peras Daksina jangkep. Sane rawuh saking transmigrasi tur jenek ring wewidangan Banjar Adat Pengembungan, patut ngaturang pakeling ring Pura Melanting miwah Pura Sima mejalaran :

–          Peras daksina jangkep

–          Naur pinuku sane angenyane manut pararem banjar

–          Ngaturang Ida dane Banjar wedang lan lanjaran.

–          Makta surat-surat perpindahan sane jangkep

–          Kas Banjar patut kapopog

 

Pawos 22

Tedun Mebanjar

  1. Asing-asing krama banjar sane ngepah karang sane kaupasaksi antuk prajuru patut tedun ngayah ngarep masengker a sasih maduluran :

–          Ngaturang peras daksina jangkep ring Pura Melanting miwah Pura Sima.

–          Ngaturang pinuku manut pasuaran Banjar.

–          Ngaturang Ida dane Banjar wedang lan lanjaran.

–          Kas druwen banjar mangda ketaur / kepogpog.

Prabiya rikala masepatan / ngepah karang mangda ketaur olih sang sane keberatan.

  1. Magingsir genah ring wit ipun, masengker 3 (tigang) warsa patut tedun ngayah ngarep. Pemargin ipun patut sekadi ring sane kebawos : pawos 22, wecana 1.
  2. Yaning wenten anak tiyos banjar tedun magenah ring wewidangan Banjar Adat Pengembungan sepatutne tedun ngayah maduluran antuk :
    1. Sampun polih pamutus saking prajuru
    2. Tinut ring pawos 22 wecana 1
    3. Naur pemopog, sane dados kacicil ping tiga galah penelas / lunas 1 (siki) warsa.
    4. Tedun ngayah banjar wit sakeng mapekurenan masengker 3 (tigang) sasih patut tedun ngayah pangele.

 

PALET  2

PRAJURU, KESINOMAN, SEKEHE LAN DRUWEN BANJAR

Pawos 23

Dudonan Prajuru

 

  1. Prajuru sane wenten :
    1. Prajuru Dinas, wates ngayah 5 (enem) warsa.
    2. Prajuru Adat, wates ngayah 5 (tigang) warsa.

Prajuru sane kantun menggah ring kayun banjar, lan prajurune punika kari kayun ngayah, dados kaunggahang malih.

  1. Rikala makarya prajuru kasanggra olih : Kasinoman wates ipun ngayah a sasih.
  2. Rikala mekarya yadnya (adat) ring Banjar, patut wenten upakara pinaka cenengan pengurus, penyanggran pengurus lan pemangku minekadi :

–          Ring             :     Pura Melanting ngatik 11, ring Bale Adat ngatik 7 (pitu) pewarengan ngatik 11 (solas), Bale kulkul ngatik 11 (solas) miwah ring Pura Sima katik 11 (solas).

  1. Tata Cara Nyudi Prajuru :
    1. Mawit sakeng Banjar Adat Pengembungan tur sampun merabian.
    2. Prajuru adat : uning memaca lan nulis huruf latin.

Prajuru Dinas : uning memaca lan nulis huruf latin sekirangnyane tamat SMA.

  1. Kelihan Dinas kajudi antuk banjar adat utawi KK manut pesuaran makehan paras paros serpanaya.
  2. Prajuru sane kajudi nenten dados piwal ring pasuaran Banjar.
  3. Rikala wenten karya ageng / sekel Ida dane Banjar patut mekarya mancagera.
  4. Pikolih prajuru adat lan Hansip, agengnyane manut sekadi pararem Banjar.
  5. Pikolih pemangku kahyangan lan keraman manut mutus Desa Adat.

 

Pawos 24

Indik Sekehe-Sekehe

  1. Sekancan sekehe-sekehe sane wenten ring sejeroning wewidangan Banjar Adat Pengembungan patut tinut ring pemargin awig-awig lan pararem Banjar Adat Pengembungan.
  2. Krama Banjar patut ngayoman sekehe-sekehe sane wenten ring wewidangan Banjar Adat Pengembungan.
  3. Sekehe-sekehe sane kaunggahan dados druwen Banjar wantah : sekehe gong, sekehe teruna-teruni lan sekehe santi.
  4. Sekehe-sekehe sane wenten lianang ring pemaksan Pura sane wenten ring wewidangan Banjar Adat Pengembungan patut masadok indik kawentenang sekehe nyane ring Prajuru, tur naur pinuku manut pararem.

 

Pawos 25

Druwen Banjar

  1. Sane kasinanggeh druwen Banjar Adat Pengembungan luwire :
    1. Pura Sima
    2. Pura Melanting
    3. Bale Banjar rauh dudonannyane
    4. Kas merupa jinah
    5. Sekehe Teruna Teruni
    6. Hasil laba banjar
    7. Sekehe Gong
    8. Sekehe Pesantian

PALET  3

INDIK KULKUL

Pawos 26

Kulkul lan Tenggeran Suaran Kulkul

 

  1. Ring Banjar Adat Pengembungan kajejerang kulkul lanang lan kulkul wadon / istri.
  2. Kulkul Banjar tan wenang katepak yening tan manut ring awig-awig lan pararem Banjar Adat Pengembungan.
  3. Suaran kulkul manut tetujonnya luwire :
    1. Tengeran meyadnya :  masuara ngompang
    2. Tengeran anak seda   :  Tigang kelentungan
    3. Tengeran anam embas

–          Oka lanang                       :  2 (kalih) kelentungan

–          Oka istri                            :  1 (siki) kelentungan

Tur maduluran masadok ring prajuru.

  1. Ngerorod lasya                      :  atulud bulus raris ngompang
  2. Ngerorod ngemaling : Sang sane ngemaling rikala ngelemakuin suaran kulkul patut ke Balai Banjar, sesampunne puput bebawosan wawu dados banban.
  3. Tangeran mekarya     :  gangsar raris banban
  4. Cihna banjar pacang wenten karya : suara banban
  5. Keicalang : bulus atulud, yening sampun keniang, raris masuara gangsar banban.
  6. Marebat : bulus tigang tulud
  7. Umah puwun : bulus atulud raris banban jantos genine punika padem.

 

PALET  4

PARUM / PARUMAN

Pawos 27

Parum lan Tata Susilanyane

 

  1. I Krama Banjar Pengembungan ngewentenan paruman ngesasih, nuju rahina “Manis Tumpek” magenah ring Bale Banjar Adat Pengembungan.
  2. Pasuaran parum wawu kemanggehang yening Krama Banjar sampun ngerawuhin ngelintang sakeng sebagi.
  3. Sadurunge paruman kekawitan, patut ngaturang upakara paruman : Canang Sari, canang pengrawos sane kekaryanin olih kasinoman rikanjekan penyalin kesinoman.
  4. Yening wenten silih sinunggil krama banjar pacang maruman banjar patut :

–       Ngaturang upakara : Peras Daksina jangkep, canang sari, canang pengrawos, tur naur pinuku paruman sane agengnyane manut sekadi pararem Banjar.

–       Ngaturang Ida dane Banjar wedang lan lanjaran.

  1. Tata susila paruman sane kemanggehang luwire :

–       Busana ritatkala parum, busana adat madia.

–       Usul-usul mangda ketiba ring sang prajuru.

–       Pasuaran sane keambil kedasarin antuk gilik seguluk, paras paros sarpanaya, selunglung sebayantaka.

  1. Ring sejeroning parum tan kedadosan :
  2. Ngadakan ora / marebat
  3. Sirep lan mebongbong
  4. Ayah Istri
  5. Ninggalan parum tan saijin prajuru / pengenter
  6. Pengayah susukan (tiosan banjar) tan kedadosan ngemedalang usul-usul.

 

PALET  5

PATIS, UPETI, LAN DANA PUNIA

Pawos 28

Patis

 

  1. Seluwirin warga banjar padem sane ngangge padewasan, patur polih patis/patus. Ageng alit manut pararem banjar.
  2. Patis patut ketaur ngawit sakeng pade jantor pekutangan, macihna antuk pasuaran kulkul.

 

Pawos 29

Utpeti

 

  1. Utpeti ring sane ngerorod / ngerangkat sepatut ipun merupa beras, jangan lan enog.
  2. Utpeti ring sang sane maderbe karya yadnya, manut dudonan yadnyane.
  3. Sekancan sane merupa pajak / retribusi saking guru wisesa / pemerintah patut ketaur.

 

Pawos 30

Dana Punia

 

  1. Dresta medanian ring Banjar Adat Pengembungan patut kajejerang
  2. Pemargin dana punia mangda kedasarin antuk manah lan pikayun sane lasia lan suci nirmala.

 

PALET  6

PENYANGGRAN BANJAR

Pawos 31

Indik Penyanggran Banjar

 

Pekaryan sane dados katunasin penyanggran banjar luwire :

  1. Ngupakara sawa/ngaben utawi yadnya sane lianan
  2. Ningting / ngisidan wewangunan

Indik pinuku ring Banjar manut pararem banjar

 

PALET  7

D U N U N G A N

Pawos 32

Indik Dunungan

 

  1. Sane kewastanin dunungan inggih punika : asing-asing jadma sane jenek ring wewidangan Banjar Adat Pengembungan, ngelintangin arahina (1 hari/24 jam).
  2. Silih sinunggil krama banjar sane nerima dunungan patut mesadok ring prajuru lan makta surat-surat jangkep, wates galah mesadok 3 (tigang) rahina.
  3. Sane nerima dunungan nenten ngawentenan sadok jantos asasih, ipun patut naur domisili sane makehnyane manut pararem banjar, lan ngaturang ida dane banjar wedang lan lanjaran.
  4. Sane nerima dunungan patut nanggung jawaban  mantuk ring sang madunungan.

 

PALET  8

MEREBAT, DURATMAKA, LAN PEKRAMAN

Pawos 33

Merebat (Ngadakan Ora)

Laksana sane nenen kedadosan luwir ipun :

  1. Merebat, mesesimbing / mebawos sane nenten patut ring karang suci lan genah umum.
  2. Merebat jantos ngelebonin ring paumahan pasuangan.
  3. Ngamuk jantos ngerusak druwen umum lan pesuangan.

 

Pawos 34

Duratmaka

 

  1. Sane kesinanggehang duratmaka / maling, yening sang sane melaksana sampun mayusa 15 (lima molas) warsa ngelangkungin.
  2. Sekancan utawi seluwiring pelaksana duratmaka tan patut kemanggehan.

 

Pawos 35

Pekraman

 

Pelaksana ring pekraman sane nenten kedadosan luwire :

  1. Memitra / memitra ngalang.
  2. Memarikosa anak istri
  3. Nyelek-nyelekin, mengancam, mapisuna lan nyemseman prajuru rikala ngemargiang awig-awig lan pararem banjar.

Maka sami pelaksana sane menggah ring pawos 33 rauh 35 indik pemargin pamidanda lan dudonannyane kaenggahan pararem Banjar.

 

PALET  9

MAPELEGAN

Pawos 36

Undangan, Bebaktan, Pesalin, lan Ngejot

 

  1. Undangan

Saluwiring pekraman Banjar kedadosan ngundang Banjar, utawi pekraman Banjar ritepengan medruwe karya adat / yadnya. Indik ngundang Banjar dudonannyane manut pararem Banjar.

  1. Saluwiring Krama Banjar sane madruwe karya  adat patut ngundang prajuru Banjar Dinas / Adat.
  2. Ngawit kundangan galah jam 19.00 Wita (7 Wengi).
  3. Bebaktan

Indik bebaktan sane patut kebakta rikala kundangan / keundang, manut pekaryan sane kelaksanayang olih sang madruwe karya. Ageng alit bebaktan manut kawentenan sang sane kaundang.

 

 

  1. Pesalin

Asing-asing sane keundang tur makta bebaktan patut polih pesalin. Ageng alit pesalin manut pararem banjar.

 

PALET  10

SALAH WETU

Pawos 37

Indik Salah Wetu

 

Yening ring sejeroning wewidangan Banjar Adat Pengembungan wenten :

–            Sato sane maderbe pianak salah rupa utawi beda rupa.

Ring sang sane maderbe kacuntakan punika patut ngemargiang upakara :

–            Tebusan manut pamutus

–            Pecaruan manut pamutus

–            Penyaksi ring kahyangan desa

 

PALET  11

LELUPUTAN

Pawos 38

Indik Leluputan

 

  1. Sane polih luput ritatkala Banjar mekarya ke Desa :

–          Pemangku Kahyangan Tiga

–          Hansip

–          Kraman

–          Kerta Desa

  1. Ritatkala wenten karya adat (yadnya) ring banjar / ring Pura Melanting / Pura Sima, Pengurus Adat lan Dinas lan Pemangku Kahyangan nenten keni urunan.
  2. Ritatkala wenten karya yadnya ring Kahyangan Tiga, sane polih luput wantah Prajuru Adat/Dinas lan Kraman.
  3. Indik leluputan sane lianan kemanggehang antuk pararem / pasuaran banjar.

 

 

 

 

 

 

 

PALET  12

MANUSA YADNYA

Pawos 39

Runtutan Upacara Manusa Yadnya

 

  1. Runtutan pemargin manusa yadnya :
    1. Magedong-gedongan (bobotan mayusa 6 sasih)
    2. Dapetan (rikala rare embas)
    3. Kepus pungsed (Upakara panelahin)
    4. Pecolongan (42 rahina)
    5. Nyambutan (rare meyusa 3 sasih)
    6. Otonan (rare 6 sasih)
    7. Metatah
    8. Ngerorod
    9. Metatah

Nganca padewasan nenten kedadosan matatah ring anjek :

–          Piodalan Kahyangan Tiga Desa Adat Baha

–          Odalan ring Pura Melanting miwah Pura Sima

–          Piodalan ring pamerajan / sanggah suang-suang

  1. Ngerorod / Ngerangkat
    1. Lantaran pemargin ngerorod luwire :

–          Sakeng pada arsa

–          Memandung / kawin lari

  1. Sane tan kadadosan ngerorod luwire :

–          Tunggal purusa

–          Makedeng ngad / pegat sot

–          Tumin / temen

  1. Wong Sudra ngerorod sareng Brahmana / Ksatria : mejalaran antuk :

–          Upakara petiwangi

–          Upakara pemarisuda

  1. Angguran

Yening wenten anak lanang/istri memondok solah ipun sekadi anak metunangan, yening sampun keuningan antuk prajuru/kesadok antuk sang sane maderbe genah, mejalaran antuk yusan sang kalih sampun manut, patut keambil, sengker ipun :

–          Tunggal Desa / Banjar masengker 14 (empat belas) rahina.

–          Tiyos Desa/Banjar masengker 1 (siki) sasih

  1. Runtutan pemargin Ngerorod / mapewarangan manut dresta luwire :

–          Memadik

–          Ngambil; (kesaksi antuk prajuru Adat lan Prajuru Dinas)

–          Mesuara kentongan / kulkul

–          Ngetutan pesuaran kentongan / kulkul

–          Mejauman / makta sangan

  1. Ngelemakuin / Ngakuin

Rikala ngelemakuin suaran kentongan mangda maduluran antuk :

–          Bebaktan   :  wedang, lanjaran lan base

–          Upakara   :  canang tubungan, wedang, lanjaran lan tampinan

  1. Memandung Anak Istri

Yening wenten anak istri kepandung, sang sane mandung mangda :

  1. Makta surat-surat lengkap berupa surat pernyataan sane memuat : sang sane lanang/istri sampun pada arsa pacang merabian.
  2. Ritatkala sampun ketepakang kulkul antuk sang sane kapandung sane memandung mangda rawuh ke Balai Banjar Adat Pengembungan pacang ngangkenin memandung anak istri punika.
  3. Sang sane memandung patut naur peti kentongan maduluran antuk canang sari, lan naur pinuku manut perarem Banjar.
  4. Ring pemargin ngerorod ngemaling patut ketepakan kentongan masengker 15 (limolas) rahina ngawit sakeng kepandung.
  5. Mabyakawonan

Saduring mabyakonan ring natah peumahan, nenten kedadosan ngeranjing ke karang suci (sanggah/pemerajan).

  1. Mejauman / Makta Sanganan : Nampi Sanganan

Ritatkala mejauman / makta sangan mangda :

  1. Kesaksian olih Prajuru Dinas lan Adat
  2. 1 (siki) regu krama banjar mangda nyaksi upacara inucap.
  3. Regu penyaksi makta sangan / nampi sangan polih ajengan (ngatik 5).
  4. Penyaksi pewarangan rikala mejauman mangda naur pinuku sane ageng nyane manut perarem banjar.
  5. Upakara pewarangan / mejauman patut kabakta luwire :

–          Nasi rongan miwah ulam rongan

–          Nasi pengenduh

–          Pejati ring saren suci a soroh genep japit ngatik 7 (pitu)

 

–          Ring pemerajan / sanggah : suci 3 soroh genep sepolah palih ipun

–          Ring saking dure desa, patut ngewentenang pekilitan berupa jinah Rp.100.000 (seratus tali rupiah).

  1. Silih sinunggil Krama Banjar Adat sane makta sanganan / mejauman dados ngarsayang sanganan ring Krama Banjar Adat manut pengarsan sang maderbe karya indik pewales manut pararem.
  2. Ngambul Mapakuren

Yening wenten anak ngambul mapekuren :

–       Lamin ipun a-sasih, sang sane ngambul punika mangda :

  1. Tiyos Banjar, mesadok ring prajuru, status / kawentenan sang sane ngambul dados dunungan, tur mangda nginutin pemargin dunungan, (Sargah V Palet 7 Pawos 32).
  2. Mawit sakeng Banjar Pengembungan, mangda nginutin pararem Banjar Busana Kelod.

–       Ngambul mapekurenan lintangan teken 3 (tigang) sasih mangda nyantenan indik kawentenan ipun mapakurenan ring sang prajuru mejalaran surat-surat jangkep.

–       Sesampune ngambul lintangan 3 (tigang) sasih raris malih atep mapekurenan, pamutus ipun manut perarem Banjar Adat Pengembungan.

  1. Ngangkat waris / Sentana

Pemargin ritatkala silih sinunggil wenten wargi Banjar pacang ngangkat sentana / waris mangda :

  1. Nginutin loka dresta ring Desa Adat Bongkasa, minakadi :

–          Sang sane keangkat waris/sentana mawit sakeng lelintingan keluarga purusa, yening nenten wenten ring keluarga purusa wawu kedadosang sakeng lelintingan keluarga predana. Pet nenten polih makasami wawu kedadosan ngerereh lianang (nenen nginutin tetalian keluwarga).

–          Mangda wenten cihna pada arsa (adung arsa) saking sang keangkat sentana lan sang sane pacang ngangkat sentana.

  1. Risampun polih patut wenten sadok ring Prajuru Banjar.
  2. Prajuru patun nguningan ring paruman Banjar indik kawentenan warginnyane pacang ngangkat sentana tur kawentenang sang sane pacang keangkat sentana.

 

 

 

  1. Risampune galah 3 (tigang) sasih kelangkungin, tur nenten wenten sane nyangke pemargin ngangkat sentana kelanturan mejalaran antuk upakara pamerasan keupasaksi antuk paruman Banjar, lan ngaturan pinuku penyaksi ngangkat sentana sane agengnyane manut perarem Banjar.

Rikala meupasaksi ring paruman Banjar, sang sane keangkat sentana mangda nyarengan tur patut ngawentenan atur pinaka sima krama ring warga banjar.

 

PALET  13

PATIWAN-TIWAN

Pawos 40

Dudonan Patiwan-tiwan

 

Rikala pemargin patiwan-tiwan inggih punika makutang/pakutangan :

–            Sane ngangge padewasan lan sane nenten gangge padewasan, sane mekarya eteh-eteh pagulungan sebagi banjar adat lanang istri.

–            Rikala magulung krama banjar adat lanang patut makarya.

–            Ritatkala makutang / pakutangan ida dane Banjar adat lanang istri patut nyarengin.

Dudonan pemargin patiwan-tiwan selantur ipun luwire :

  1. Makingsan metanem sane tan lasya

Krama Banjar Adat Lanang sebagi patut tedung ngayah mekarya jantos puput sepolah palih ipun, sang sane padem patut kagulung.

  1. Makutang metanem

Ida dane banjar adat lanang-istri patut tedun mekarya jantos puput sepolah palih ipun.

  1. Makingsan sane tan lasya

Yening wenten silih sinunggil krama banjar padem ritepengan piodalan ring Pura Melanting, Pura Sima utawi ring Pura Kahyangan Tiga sane dados amongan Banjar Pengembungan, masengker 3 (tigang) rahnina sang madruwe lampus polih sebagi Banjar rauh puput sepolah palih ipun. Rikala punika kulkul Banjar nenten dados katepak, Banjar sane polih mekarya polih sebel tigang rahina, sang madruwe lampus polih sebel 42 (petang dasa dua rahina). Jinah paringkesan patut katebus olih sang madruwe lampus sane ageng alitnyane manut perarem.

  1. Makingsan di geni sane lasya

Krama banjar adat lanang kemanten sane tedun makarya jantos puput sepolah palih ipun.

 

  1. Makingsan di geni sane tan lasya

Yening wenten krama banjar lampus ritepengan piodalan ring Pamongan, Pura Melanting lan Pura Kahyangan Tiga sane dados amongan Banjar Adat Pengembungan masengker 3 (tigang) rahina pemargin ipun :

–          Sane madruwe lampus polih banjar sebagi lanang lan istri.

–          Banjar sane polih mekarya polih sebel 3 (tigang) rahina.

–          Jinah paringkesan patut katebus ageng alitnyane manut perarem banjar.

  1. Makutang metanem medewasa

Ida dane Banjar adat lanang istri patut tedun mekarya mungwing jinah paringkesan sane dados keambil wantah jinah tatakan bahu lan pagemel.

  1. Dius Kumeligi
    1. Yening dewasa makutang lintang saking 1 (arahina) krama Banjar sebagi patut tedun ngayah mekarya lanang istri jantos puput sepolah palih ipun.

Ritat kala makutang ida dane banjar adat lanang istri patut nyarengin, ritat kala mekarya ida dane banjar patut keaturin kopi lan lanjaran, rikala ring setra ida dane banjar patut taler keaturing wedang, lanjaran lan sanganan pamuhun.

Pekaryan sane keambil antuk banjar :

–          Upakara dius kumeligi jantos puput

–          Daksina pengawak

–          Tirta pangentas miwah pagulungan

–          Tirta Sanggah Gede / paumahan

–          Tirta Kawitan

–          Tirta Siwa lan Tirta Pamerasan

–          Lan sane siosan

  1. Yening pedewasan ipun nadak (arahina) Ida dane banjar lanang istri patut tedun mekarya sepolah palih nyane pateh sekadi ring ajeng.
  2. Suasta Geni

Pemargin Banjar pateh sekadi ring dius kumaligi sakewanten sidakarya ritepengan mekarya ulam banten sane polih giliran mekarya polih ajengan.

  1. Pranawa

Silih sinunggil ida dane Krama Banjar Adat madruwe karya mapranawa mangda maruman Banjar Adat.

  1. Pakaryan sane kaambil antuk Banjar

–          Bebangkit rauh puput

–          Sang maderbe karya dados ngambil warga Banjar 10 (dase) diri pinaka mancagra.

–          Ida dane Banjar lanang istri patut polih ajengan apisan (panyemeng) lan tegak lanang istri nanging tegag inucap patut katebus antuk jinah ageng alitnyane manut pararem.

–          Ritatkala makarya, ida dane Banjar polih wedang lan lanjaran.

–          Reramon mangda kasediang olih sang madruwe karya.

–          Ring setra ida dane Banjar Adat lanang istri patut polih wedang, lanjaran lan sanganan.

–          Surudan bebangkit mangda katur ring Banjar, tur dados katebus antuk jinah ageng alitnyane manut pararem.

–          Reranggen utawi wadah patut kaurus olih sang madruwe karya.

–          Pemalaspas reranggen utawi wadah sane ngangge pepalihan mangde keaturing ring sang tukang.

10.  Bebangkit 2 (kalih)

  1. Galah makarya ping 8 (kutus) rahina.
  2. Ritatkala mekarya mebat (mekarya ulam banten lan pesanguan) ida dane Banjar Adat lanang polih ajengan panyemeng. Tur ritatkala nemonin rahina pakutangan ida dane Banjar adat lanang istri polih ajengan panyemeng lan tegak tabuh kalih nanging tegak inucap patut katebus antuk jinah pengargan tegak manut pararem.
  3. Pekaryan sane patut keambil olih ida dane banjar :

–          Bebangkit rauh puput

–          Bale pawedan

–          Surya

–          Bale gong

–          Pebasmian

–          Bale salunglung

–          taban

–          Pemalungan

  1. Surudan bebangkit dados druwen Banjar
  2. Ritatkala makarya ulam banten ida dane Banjar Adat patut sami nyarengin.

11.  Nganyut

Sane polih nyarengin nganyut wantah sebagi ayah Banjar Adat lanang istri sane dados pengarep karya inucap.

 

 

 

12.  Batu-batu

Sahananin karya patiwan-tiwan sane kemargiang olih krama Banjar Adat Pengembungan patut polih batu-batu manut dudonan karya. Ageng alitnyane manut pararem Banjar.

13.  Gebagan

  1. Sang nadruwe lampus patut polih gebagan saking krama Banjar Adat Pengembungan.
  2. Suwen gebagan manut pinunas sang madruwe lampus.
  3. Pinunas gebagan masengker saking padem jantos pakutangan.
  4. Akeh gebagan aregu nyabran wengi
  5. Rikanjekan regu sane polih magebagan patut polih :

1)      Karya madius polih wedang lan lanjaran.

2)      Prenawa polih wedang, lanjaran lan ajengan apisan

  1. Asing-asing krama banjar medruwe karya lampus kedadosan nyelang Balai Banjar nanging wusan pekutangan ngewentenan caru penyapsap ayam brumbun jangkep polah palih ipun.

 

SARGAH  VI

DEDOSAN, PAMIDANDA LAN RERAMPAGAN

PALET  1

DEDOSAN LAN PAMIDANDA

Pawos 41

Dedosan

  1. Sane patut keni dedosan inggih punika asing-asing krama Banjar sane nenten tinut ring dedauhan lan arah-arahan kesinoman utawi prajuru ritatkala :

–            Wenten karya adat / yadnya

–            Parum / paruman

–            Karya ngeroyong

–            Mekarya wewangunan

  1. Asing-asing krama banjar nenen kedadosan keni dedosan neren ping 3 (tiga) lianang ring sang sane keni dedosan punika kesinahan ipun sungkan.
  2. Ageng alit dedosan sane ketibakan manut pararem banjar.

 

Pawos 42

Pamidanda

 

  1. Sane patut katibakan pamidanda inggih punika asing-asing krama banjar sane mamurug/piwal ring pemargin awig-awig lan pararem banjar.
  2. Asing-masing krama banajr sane sampun ketibakan dedosan neren / nekeh ping 3 (tiga) lan sane keni dedosan punika, nenten sangkanan sungkan.
  3. Ageng alit pamidanda manut pararem banjar.

 

PALET  2

RERAMPAGAN

Pawos 43

Rerampagan lan Tata Susilanyanne

 

  1. Silih sinunggil krama banjar sane negung urunan utawi pamidanda masengker 3 (tiga) sasih patut kerampag.
  2. Tata susila rerampagan :

–            Barang sane kerampag nginutin petiwakan makeh urunan utawi denda ipun.

–            Tan dados ngicalan cihna sang kerampag

–            Tan dados mademang pengupa jiwa sang sane kerampag

–            Anut ring tata susila kemanusan

–            Kelaksananin antuk prajuru desa, Hansip lan kesaksi untuk krama banjar kewakilin antuk 3 (tigang) diri.

  1. Berana sane kerampag masengker 9 (siya) rahina nenten katebus kedadosan kelelang ring pekraman banjar manut pengargan ipun.

 

SARGAH VII

PARAREM / PASUARAN LAN PAWEWEH

PALET  1

INDIK PASUARAN / PARAREM

Pawos 44

Daging lan Sukseman Pararem

 

  1. Paruman banjar patut ngamedalan / pararem angge mitegepin awig-awig, lan ngentosin pararem sane sampun tan manut ring pekarsan krama banjar.
  2. Daging sehananing pararem manut utawi sepemargi ring awig-awig Banjar Adat Pengembungan, lan Desa Adat Bongkasa.
  3. Sane patut keungguhan ring pararem luwir ipun :

–            Rerincikan penekel-penekel, pamidanda lan dedosan

–            Rerincikan penyacah awig-awig sane mabuat.

–            Tata krama pemargin awig-awig

–            Sehananing indik tiyosan sane durung menggah ring awig-awig puniki

  1. Mekadi pamutus pasuaran, patut nginggilan kesusilan kemanusan, manut ring loka dresta, Agama Hindu, Sastra, Purwa lan Desa ngawi Cara.

 

PALET  2

PAWEWEH, NGUWAH NGUWUHIN DAGING AWIG-AWIG

Pawos 45

Tata Cara Nguwah-nguwuhin Daging Awig-awig

–          Sesampune awig-awig kemargian, raris wenten ngemangguhin sengke / nenen manut ring pekarsan banjar, awig-awig, lugra keparipurnayang.

–          Sekancan sargah, palet rauh pawos sane kagentosin utawi kabecikan patut kasurat medasar antuk pararem banjar.

–          Indik pamargin sane nyantenan ageng alit pamidanda, dedosan lan leluputan sane nenen menggah ring awig-awig puniki pacang kepuputan mejalaran antuk perarem utawi pasuaran banjar.



Minggu, 02 Januari 2022

PUTRA dan NABE

Putra (Putera Sentana) adalah keturunan yang dalam bahasa sansekerta, kata "putra" pada mulanya berarti kecil atau disayang yang disebutkan dapat dibedakan menjadi :
  • Suputra, anak sebagai tujuan ideal dari setiap perkawinan dan menjadi dambaan setiap keluarga.
  • Kuputra, anak yang durhaka kepada orang tua
    • Dimana anak yang jahat dan melakukan perbuatan dosa yang dapat menjerumuskan dirinya sendiri;
    • Dan masyarakat sekitarnya ke dalam penderitaan.
  • Putra tertua disebut putra sulung yang nantinya akan menjadi penanggungjawab dalam keluarga.
    Dimana Catur Pahala Putra akan diterima oleh anak-anak yang selalu berbakti kepada orang tua.
        Selain itu, istilah putra juga disebutkan sebagai berikut :
        • Putra dattaka, yaitu sentana paperasan dengan banten peras sebagai upasaksi untuk pernyataan kesaksian kehadapan Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa yang bertujuan untuk menyatakan kebenaran.
        • Putra angkat / napak seperti :
          • Putra Dharma sebagai sisya yang mendalami ajaran dharma kepada seorang guru sejati seperti contohnya kepada para nabe dalam ajaran aguron-guron.
        • Putra Bangsa, warga negara yang menjunjung tinggi negaranya untuk menjadi lebih maju.
          Dikisahkan dahulu, meskipun beliau tidak menikah seumur hidup, namun berdasarkan kasidhi ajnanan dan kekuatan panca bhayunya Mpu Semeru juga bisa menurunkan seorang putera dharma.
          • Seseorang juga dapat menjadi putra sebagai pengikut ajaran dharma yang disebut dengan Putra Dharma.
          • Seperti halnya juga dalam sebuah purana, dikisahkan perjalanan Hyang Aji Pasupati sampai ke tanah Panjang Jawa dengan membawa seorang calon raja dan pengikut 7 putra dharma yang akhirnya seluruh putranya berparhyangan atau menetap di Bali.
          Sebagaimana disebutkan putra, suputra dan kuputra dalam nitisastra IV.6, seorang anak hendaknya dapat mengangkat martabat keluarga, orang tua dan selalu dapat berbuat baik bagi bangsa, negara dan alam ini.
          Dengan kata lain putra juga disebut :
          • sùnu, 
          • àtmaja, 
          • àtmasaýbhava, 
          • nandana, 
          • kumàra dan 
          • saýtàna. 
          Kata yang terakhir ini di Bali disebut sentana berarti keturunan yang dalam Àdiparva,74,38) disebutkan,
          • Seseorang yang nantinya diharapkan dapat menundukkan dunia dengan lahirnya seorang anak, 
          • ia memperoleh kesenangan yang abadi, memperoleh cucu-cucu, 
          • kakek-kakek akan memperoleh kebahagiaan yang abadi dengan kelahiran cucu-cucunya.
          Sebagai seorang putra yang dilahirkan dari sebuah pawiwahan disebutkan dalam berbuat baik dapat menebus dosa leluhur yang dalam Manawa Dharmasastra III.37 dinyatakan,
          • Putra yang lahir dari perkawinan Brahma Wiwaha, jika melakukan hal-hal yang baik dan berguna. 
            • Putra itu akan dapat menebus sepuluh tingkat leluhur dan sepuluh tingkat keturunannya. 
            • Ia sendiri sebagai orang yang kedua puluh satu menikmati pahala perbuatan baik itu. 
          • Putra yang lahir dari perkawinan Daiwa Wiwaha,
            • kalau ia berbuat baik dapat menebus tiga tingkat leluhurnya dan juga keturunannya.
          • Putra yang lahir dari Prajapati Wiwaha dapat menembus enam tingkat leluhur dan keturunannya. 
          Makna yang terkandung dari Sloka Manawa Dharmasastra ini mendorong umat Hindu agar memilih cara kawin yang terhormat yang berusaha berbuat berguna menurut pandangan dharma

          Karena kualitas putra sangat ditentukan juga oleh cara orang kawin. Kalau kawin itu hanya didorong oleh gejolak hawa nafsu belaka, hal itu sangat berpengaruh pada pembentukan watak putra atau anak yang dilahirkan.


          Nabe

          Nabe adalah tingkatan kedudukan dalam kesulinggihan yang bertindak sebagai seorang guru spiritual utama dalam proses pendidikan & pembelajaran khusus dalam tradisi aguron-guron kepada para sulinggih sehingga melahirkan sulinggih yang,
          Dengan adanya pendidikan dan pembelajaran khusus ini, nantinya para sulinggih tersebut mampu mengapresiasikan empat unsur pokok ajaran agama Hindu kepada masyarakat :
          Seorang Nabe, juga disebutkan dalam kutipan artikel babad bali, pedoman pelaksanaan diksa adalah seseorang :
          • Yang selalu dalam keadaan bersih dan sehat, baik lahir maupun batin.
          • Mampu melepaskan diri dari ikatan keduniawian.
          • Tenang dan bijaksana.
          • Selalu berpedoman kepada kitab suci Weda, dan mampu membaca 
          • Teguh melaksanakan Dharma Sadhana (sering berbuat amal jasa dan kebajikan).
          • Teguh melaksanakan tapa dan brata.
          Sehingga nantinya seorang pedande nabe dapat memimpin sebuah pediksan atau upacara suci mediksa untuk para sulinggih sebagai sisyanya.

          Dalam tradisi aguron-guron ada tiga Nabe pilihan yang utama seperti dikutip dari berita Bali Expres, yakni Nabe Napak, Nabe Waktra, dan Nabe Saksi yang memiliki fungsi berbeda-beda.
          1. Nabe Napak memiliki fungsi sebagai Napak ketika prosesi Diksa dan ketika dipandang sang calon siap secara jasmani dan rohani. 
          2. Kemudian Nabe Waktra adalah guru yang bertugas mengajarkan sesana kawikon, stawa stuti, puja mantra, bebantenan, wariga, tattwa, patanganan, ngabajra, dan lainnya. 
          3. Sedangkan Nabe Saksi bertugas menyaksikan ketika prosesi Diksa. Nabe Saksi juga bertugas mengawasi tindak tanduk sang calon, dan berhak ketiga Nabe membatalkan padiksan, jika dirasa calon Diksita belum cukup, baik dari segi kemampuan, kecakapan, dan terpenting adalah sesana kawikon.
          Jadi, ketiga Nabe memiliki peran penting dalam mengandung Nanaknya agar nanti embas atau terlahir benar-benar menjadi Pandita Sista.
          Tentunya dalam menggembleng calon Nanaknya Nabe hendaknya menerapkan apa ucap sastra sasana seperti Siwa Sesana, Wreti Sesana, Silakramaning aguron-guron, dan semua teks itu adalah memuat Sesana Kawikon atau etika menjadi seorang Wiku Sista.

          PUTRA NABE - NABE PUTRA
          Yang disebut sebagai Putra Nabe adalah anak biologis dari serang nabe, sedangkan Nabe Putra merupakan anak biologis seorang nabe yang melakukan dwijati nyambung rah, bukan nyambung griya atau ngelimbakang griya, lebih-lebih yang menjadi nabe tapak yang sesuai dengan SK PHDI, anak dharma seorang nabe atau setara/selevel dengan nanak dharma dari seorang nabe.

          #tubaba@griyangbang//ngetutlelintihan#

          Sabtu, 01 Januari 2022

          Siwaratri

          Implementasi Brata Siwaratri
          Dalam Kehidupan Sehari-hari

          Oleh : I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S., M.Pd
          Sajak Kehidupan di Malam Siwaratri

          KEHIDUPAN itu ibarat dawai yang bergetar. 
          Setiap jiwa ialah partikel yang hanyut dalam gelombang nada. 
          Pada setiap renik partikel diri, terekam informasi semesta.
          Demikian juga pada setiap detak suara, terpantul nyanyian alam. 

          Pada setiap helaan napas, terurai energi jagat besar. 
          Memahami rahasia keluasan alam raya bisa dilalui dengan menyelami kedalaman diri di malam Siwaratri. 
          Sang Pencipta tak pernah menampakkan diri dalam sesuatu apa pun sebagaimana perwujudan-Nya dalam diri manusia.
          Manusia ialah mahkota penciptaan. 
          Tercipta dari cahaya Tuhan, manusia ialah rahasia Tuhan, sedangkan Tuhan ialah rahasia manusia. 

          Tuhan jadikan manusia sebagai kendaraan-Nya, dan Dia jadikan seluruh isi alam sebagai kendaraan manusia.
          Saat ini, agama cenderung larut dalam formalisme, diekspresikan dalam kebisingan. 
          Jauh dari sunyi yang agung dan mulia, kebatinan mikrokosmos melebarkan diri dalam kebatinan makrokosmos dalam menyelami kedalaman spritualitas.
                                                      (1 Januari 2022)


          Hari Raya Siwaratri merupakan hari raya berdasarkan atas pranata masa yang dirayakan setiap setahun sekali. Tepatnya jatuh pada Purwaning Tilem Kepitu. Untuk tahun ini Malam Siwaratni jatuh pada tanggal 1 Januari 2022. Hari suci Siwaratri sangat identik dengan begadang semalam suntuk serta cerita Lubdhaka yang dikarang oleh Empu Tanakung.

          Difinisi Siwaratri berasal dari kata Siwa dan Ratri. Siwa artinya Puncak dan Ratri artinya malam. Siwaratri berarti puncak malam. Sedangkan difinisi menurut Tjok Rai Sudharta “Siwaratri artinya malam Siwa. Siwa berasal dari bahasa sansekerta yang artinya baik hati, suka memaafkan, memberi harapan dan membahagiakan. Dalam hal ini kata Siwa adalah sebuah gelar terhadap menifestasi Ida Sang Hyang Widi Wasa yang diberi nama gelar kehormatan “Dewa Siwa” yang berfungsi sebagai pemralina atau pelebur. Ratri artinya malam. Malam disini maksudnya kegelapan. Jadi Siwaratri artinya malam untuk melebur kegelapan hati menuju jalan yang terang.
          Hari Siwaratri menyimpan makna serta simbul yang sangat mendalam sebagai bahan renungan yang tak pernah habis untuk dikaji. Tidak cukup hanya dengan prosesi ritualitas semata, melainkan harus dipahami makna-makna yang terkandung didalamnya. Dengan adanya pemahaman yang benar serta dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka hari suci keagamaan akan sesuai dengan tujuan perayaan hari raya tersebut. Kegiatan ritual Siwaratri mesti dilaksanakan sesuai petunjuk sastra. Di samping itu juga tidak kalah pentingnva yakni merealisasikan makna-makna simbolis yang terkandung didalamnya ke dalam wujud/kehidupan sehari-hari.

          Makna Brata Siwaratri dalam kehidupan sehari-hari
          Pada waktu pelaksanaan Brata Siwaratri sebagai lambang yang bennilai sakral bertujuan untuk melenyapkan sifat-sifat buruk. Menurut Tjok Rai Sudharta, brata Siwaratri berasal dari bahasa Sansekerta. Kata “Brata” artinya janji, sumpah, pandangan, kewajiban, laku utama, keteguhan hati. Brata Siwaratri dapat disimpulkan sebagai laku utama/janji untuk berteguh hati melaksanakan ajaran Siwaratri. Brata Siwaratri tidak berhenti sampai pelaksanaan Hari Raya Siwaratri saja, melainkan perlu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa adanya implementasi/wujud dalam kehidupan sehari-hari maka hari raya itu akan tanpa makna dan akan lewat begitu saja. Brata Siwaratri dilaksanakan selama 36 jam. Brata ini mulai dan pukul 06.00 panglong ping 14 sampai pukul 18.00 Tileming sasih Kepitu. Brata Siwaratri dengan melaksanakan upawasa, monobrata dan jagra.

          1. Jagra (berjaga/tidak tidur/melek/ waspada)
          Brata Jagra ini paling mudah dilakukan, sebab semua orang mampu untuk tidur semalam suntuk. Dalam cerita Lubdhaka jagra ini disimbolkan oleh Lubdhaka yang tidak tidur di atas pohon bila semalam suntuk. Untuk mengusir kantuknya Lubdhaka memetik daun “bila” sehingga dosanya terlebur. Jagra dalam pelaksanaan Siwaratri dapat dilakukan dengan jalan tidak tidur semalam 36 jam.
          Dalam kehidupan sehari-hari makna jagra ini dapat diimplementasikan dengan cara selalu eling (waspada, ingat, berfikir, dll.) terhadap sang diri (menyelami sang diri). Dalam kehidupan ini kita tidak bisa lepas dan musuh-musuh, baik itu yang berasal dari dalam diri (sad ripu, sapta timira dan Sad atatayi) maupun dari luar diri. Untuk menghadapi musuh-musuh tersebut diperlukan kewaspadaan yang relatif tinggi, sehingga kita bisa terlepas dari musuh-musuh tersebut. Kewaspadaan yang tinggi tentunya diperoleh dengan menggunakan pikiran.

          Kedatangan Hari Suci Siwaratri mengajak kita untuk merenung agar selalu tetap mawas diri dan menyadari diri kita yang sejati. Sebagaimana tersurat didalam Wrehaspati Tatwa, bahwa nafsu dan keinginan tidak pernah putus didalam diri kita. Kesadaran akan lenyap bila kita hanya tidur. Orang yang selalu terbelenggu oleh tidur (turu) disebut dengan papa. Pengertian papa sangat berbeda dengan pengertian dosa. Pengertian papa dalam hal ini adalah keadaan yang selalu terbelenggu oleh raga atau indriya yang dinyatakan sebagai turu (tidur). Tidur berarti juga malas. Orang yang malas bekerja akan menimbulkan kekacauan pikiran sehingga lupa akan keberadaan dirinya sendiri. Dengan demikian pikiran merupakan sumber segala yang dilakukan oleh seseorang. Baik-buruk perbuatan manusia merupakan pencerminan dari pikiran. Bila baik dan suci pikiran seseorang maka sudah barang tentu perbuatan dan segala penampilan akan bersih dan baik. Berusaha berpikir untuk tidak menginginkan sesuatu yang tidak halal, berfikir buruk serta percaya dengan hukum karma.
          Dalam hidup ini semasih kita mampu, perlu diisi dengan kerja yang sesuai dengan dharma. Mengenai kerja ini dinyatakan oleh Bhagawadgita III sebagai berikut:

          III.3
          O, Arjuna, manusia tanpa noda; di dunia ini ada dua jalan hidup yang telah Aku ajarkan dari jaman dahulu kala. Jalan ilmu pengetahuan bagi mereka yang mempergunakan pikiran dan yang lain dengan jalan pekerjaan bagi mereka yang aktif.

          III. 4
          Bukan dengan jalan tiada bekerja orang mencapai kebebasan dari perbuatan. Pun juga tidak melepaskan diri orang akan mencapai kesempurnaan.

          III. 5
          Sebab siapa pun tidak akan dapat tinggal diam, meskipun sekejap mata, tanpa melakukan pekerjaan. Tiap-tiap orang digerakkan oleh dorongan alamnya dengan tidak berdaya apa-apa lagi.
          III. 20
          Hanya dengan penbuatan, Prabu Janaka dan lain-lainnya mendapat kesempurnaan. Jadi kamu harus juga melakukan pekerjaan dengan pandangan untuk memelihara dunia.
          Di samping untuk memelihara dunia yang kita pijak ini, kerja juga dapat menghindari kehancuran duniâ baik secara spiritual maupun material. Disamping itu juga, kerja dapat meningkatkan kedudukan sehingga menjadi manusia yang lebih sempurna. Jika kita sudah bekerja maka dapat mengurangi ketergantungan kita terhadap orang lain. Disamping itu, diharapkan untuk tidak terikat dengan hasil pekerjaan yang kita lakukan. Hasil yang diperoleh dari kerja diharapkan untuk sumbangkan kepada yang membutuhkan.

          2. Upawasa (tidak makan dan minum)
          Upawasa dapat diartikan sebagai pengendalian diri dalam hal makan dan minum. Pada waktu Siwaratri puasa ini dilakukan dengan jalan tidak makan dan minum. Dalam kehidupan sehari-hari dapat diaplikasikan dengan cara selalu makan makanan yang bergizi yang dibutuhkan oleh jasmani maupun rohani. Disamping itu, dalam hal untuk mendapatkan makanan yang kita makan hendaknya dicari dengan usaha-usaha yang digariskan oleh dharma.
          Melalui upawasa ini kita dituntut untuk selektif dalam hal makan dan minum. Makanan yang kita makan disamping untuk kebutuhan tubuh, juga nanti akan bersinergi membentuk dan merangsang pikiran, perkataan dan perbuatan. Kualitas makan akan mempengaruhi intensitas Tri Guna (sattwam, rajas dan tamas) pada manusia. Makanan yang kita makan hendaknya dimasak oleh orang yang berhati baik yang memperhatikan kesucian dan gizi dari makanan tersebut. Disamping itu juga, cara memasak makanan perlu memperhatikan tentang suci dan cemar, bersih dan kotor serta cara penyajian makanan. Mengenai makanan dinyatakan dalam Bhagawadgita sebagai berikut:

          III.13
          Orang yang makan apa yang tersisa dan yadnya, mereka itu terlepas dan segala dosa. Akan tetapi mereka yang jahat yang menyediakan makanan untuk kepentingannya sendiri mereka itu adalah makan dosanya sendiri.

          XVII. 7
          Bahkan makanan yang disenangi oleh semua, adalah tiga macam juga. Demikian juga yadnya-yadnya, tapa dan dana. Dengarkanlah perbedaan dari semua ini.

          XVII. 8
          Makanan-makanan yang meninggikan hidup, tenaga, kekuatan, kesehatan dan suka cita, yang manis yang lunak, banyak mengandung zat-zat makanan dan rasa enak adalah yang disukai oleh orang yang baik (sattwika).

          XVII. 9
          Makanan-makanan yang terlalu pahit, masam, asin, pedas, kering, keras dan angus dan menimbulkan kesakitan, duka cita dan pen yakit disukai oleh orang yang bernafsu (rajasika).

          XVII. 10
          Makanan yang basi, hambar, berbau, dingin, sisa kemarinnya dan kotor adalah yang disukai oleh orang yang bodoh (tamasika).
          Disamping makanan, minuman juga diatur oleh sastra agama. Minuman yang dilarang orang agama yaitu minuman yang banyak mengandung penyakit sehingga mempengaruhi pikiran. Minuman yang perlu dihindari yakni minuman yang menyebabkan mabuk. Orang yang sering mabuk prilakunya akan dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
          Setiap orang dengan anggota badannya akan berprilaku dan berbuat. Jika dilandasi dengan ajaran agama sudah barang tentu perbuatan yang dilakukan adalah perbuatan yang baik dan benar. Oleh karena itu, perbuatan yang baik dan benar tersebut dinamakan Kayika Parisudha. Setiap orang selagi masih hidup, selamanya akan berbuat dan melakukan sesuatu perbuatan (karma). Karma ini akan menentukan kehidupan seseorang. Berkarma dalam kehidupan sekarang ini berarti mempersiapkan diri untuk kehidupan yang akan datang. Orang yang sadar/eling akan berusaha dalam kehidupannya untuk berbuat yang baik berdasarkan darma. Hal ini disebabkan karena semua orang mengharapkan adanya kehidupan yang lebih baik dan lebih menyenangkan dimasa-masa yang akan datang.

          3. Monobrata (berdiam diri/tidak bicara)
          Monobrata ini dapat diartikan berdiam diri atau tidak mengeluarkan kata-kata. Brata ini relatif sulit untuk dilakukan. Aplikasi dalam kehidupan sehari-hari dari berata ini yakni berkata-kata atau berbicara yang dapat menyejukkan hati orang lain. Perkataan sangat perlu diperhatikan dan diteliti sebelum dikeluarkan. Karena perkataan merupakan alat yang terpenting bagi manusia, guna menyampaikan isi hati dan maksud seseorang. 

          #tubaba@griyangbang//menyelamisangdiri#

          Kamis, 30 Desember 2021

          Upacara Padasewanam

          UPACARA PADASEWANAM


          Sungkeman di dalam Veda dikenal dengan istilah ‘Pada Sevanam’ [Pada artinya kaki, sedangkan Sevanam artinya pelayanan]. Dalam Bhagavata Purana, Pada sevanam dijelaskan sebagai bentuk sembah kepada Tuhan dengan bersujud pada kaki padma beliau. Pada Sevanam juga berlaku untuk menghormati orang tua dan guru. Dalam kitab suci Bhagavad Gita diberikan penjelasan yang boleh dipuja yaitu Tuhan, guru kerohanian, orang tua (termasuk leluhur serta dewa-dewi), dan Brahmana. Hal ini disebut sebagai pertapaan jasmani. 

          Bila kita ingin mendapatkan pencerahan dan kebahagiaan dalam hidup ini salah satu caranya adalah dengan melakukan Pada Sevanam. Pada Sevanam berasal dari kata “pada” yang artinya kaki (maksudnya kaki Tuhan) sedangkan sevanam artinya melayani.

          Bagi orang yang berpikiran sederhana membayangkan wujud Tuhan itu amatlah sulit, apalagi kemudian Tuhan seolah-olah dibayangkan jauh dari dirinya dan ada jarak, oleh karena itu ungkapan maitri devo bhavo dan pitr devo bhavo (kedua orang tua bapak dan ibu adalah Tuhan di dunia) menjadi sebuah pilihan untuk melakukan sembah sujud dan bhakti kepada Tuhan. 

          Pada Sevanam meliputi sikap sujud bhakti yang dilakukan kepada kedua orang tua, sebagai bentuk penghormatan dan kasih sayang yang mulya dari si anak. Landasan ini amat jelas, dan dapat dilakukan oleh semua orang tanpa memandang asal usulnya.

          Jadi yang harus dilakukan berkaitan dengan Pada Sevanam adalah menempatkan kedua orang tua pada tempat yang sesungguhnya, yaitu: 

          Pertama, kedua orang tua diupayakan duduk dalam sebuah kursi, 

          Kedua, dilanjutkan dengan mencuci kedua kakinya dengan bersih, 

          Ketiga, mencium kedua kaki disertai permohonan maaf dengan rasa tulus ikhlas dan penuh kesadaran diri yang mendalam. 

          Keempat, kemukakan apa-apa yang menjadi keinginan selama ini.

          Keempat inilah yang dapat dilakukan dalam ritual pada sevanam, bila ini dilakukan dengan baik dan benar, maka sesungguhnya kita telah berbakti dan bersyukur kepada Hyang Widhi Wasa sebagai pemberi Hidup dan pemberi anugrah.


          MELAKUKAN UPACARA PADMASEWANAM DI HARI ULANG TAHUN IDA SINUHUN SIWA PUTRI PARAMA DAKSA MANUABA KE 7 TAHUN

          Om Swastyastu

          Sravanam kirtanam visnoh, smaranam Padasevanam, vandanam arcanam dasyam, Sakhyam ātmanivedanam. 

          Bhagavata Purana (VII, 5.23)

          Yang artinya :

          Mendengarkan prihal kemuliaan Tuhan, menyanyikan namaNya, mengingat dan merenungkan kemuliaan Tuhan, memuja dan bersujud Kaki Padma Tuhan (Sungkeman), membaca kitab suci, menghormati Tuhan melalui media Arca, mengabdi kepada Tuhan, mencapai kedekatan dengan Tuhan, pasrah diri kepada Tuhan.

          1. Anak Biologis maupun Oka Dharma mencuci kedua kaki orang tua dengan air kembang yang telah disiapkan, kemudian di lap kering.

          2. Anak Biologis maupun Oka Dharma Mencakupkan Tangan di depan dada (sikap panganjali) dan mengucapkan mantra Guru Puja:
          Om Guru Brahma Guru Wisnu,
          Guru Dewa Maheswara,
          Guru Shaksat Param Brahma,
          Tasmei Shri Guruwe Namaha.

          Artinya:

          Ya Tuhan kami memujaMu sebagai Brahma-Viṣṇu- Maheśvara yang merupakan guru semesta alam, demikian pula semua guru kerohanian yang sesungguhnya merupakan perwujudanMu sendiri. Hamba bersembah sujud di kaki padmaMu.

          3. Anak Biologis maupun Oka Dharma melakukan Sungkeman/Padasewanam, dengan mencium ke dua kaki orang tua penuh kasih….sambil mengucapkan Mantra:
          Om Namame Smaranam,
          Om Padame Sharanam.

          Artinya:

          Om Hyang Widhi semoga hamba selalu ingat kepada orang tua hamba, dan semoga hamba selalu bisa bersujud di kaki kedua orang tua hamba.

          Diikuti dengan lantunan Mantram:
          Om Twam Ewa Mata Ca Pita Twam Ewa
          Twam Ewa Bandhus Ca Sakha Twam Ewa
          Twam Ewa Widyam Drawinam Twam Ewa
          Twam Ewa Sarwam Mama Dewa Dewa

          Artinya:

          Engkau sendiri adalah ibuku, Engkaulah ayahku;
          Engkaulah kerabatku yang sejati, Engkaulah sahabat yang sejati;
          Engkau sendiri adalah pengetahuanku, Engkaulah kekayaanku;
          Engkau adalah segalanya bagiku Oh Tuhan segala Tuhan adalah Engkau sendiri.

          4. Lalu ke dua orang tua memegang ke dua pundak si anak, seraya mengucapkan mantram:
          Om Sarwesam Swasti Bhawantu
          Om Sarwesam Santih Bhawantu
          Om Sarwesam Sukham Bhawantu
          Om Sarwesam Suputram Bhawantu
          Om Sarwesam Sadhunam Bhawantu
          Om Sarwesam Gunawan Bhawantu
          Om Sarwesam Purnam Bhawantu

          Artinya:

          Om Hyang Widhi limpahkanlah keselamatan, limpahkanlah kedamaian, limpahkanlah kebahagiaan, semoga menjadi putra yang suputra, semoga menjadi putra yang baik hati, semoga menjadi putra yang bermanfaat, Om Hyang Widhi anugerahkanlah kesempurnaan pada anak-anak hamba.

          Om Santih Santih Santih Om


          Rabu, 29 Desember 2021

          Hidup Bersaing Sesama Manusia Bersaing Saling Memanusiakan

          KEHIDUPAN postmodern membawa persaingan hidup yang makin dinamis. Tingginya persaingan hidup dalam berbagai bidang kehidupan membuat setiap orang harus terus-menerus menyiapkan diri dan meningkatkan diri agar lebih siap bersaing. Dalam memenangkan suatu persaingan, ada pihak yang menempuh cara-cara yang sehat sportif dan ada juga yang tidak sehat menghalalkan segala cara.

          Idealnya, hidup bersaing sesama manusia adalah bersaing saling memanusiakan. Artinya, hidup bersaing tersebut menggunakan nilai-nilai kemanusiaan sebagai dasar bersaing secara bermartabat. Dalam kehidupan bersaing, nilai yang paling dijaga adalah nilai kemanusiaan itu sendiri. Ini artinya bersaing dalam hidup tidak boleh saling bermusuhan untuk saling menjatuhkan, apalagi saling membunuh. Bersaing saling menghancurkan dan saling membunuh hanya layak terjadi dalam habitat hewan. Pada kenyataannya dalam berbagai bidang kehidupan masih banyak terjadi hidup bersaing yang tidak sehat karena saling menjatuhkan dan saling membunuh. Hal yang demikian itulah yang masih banyak terjadi sampai dewasa ini.
          Hidup bersaing dari sejak zaman dahulu sampai sekarang merupakan suatu fakta sosial yang tidak bisa dimungkiri. Dalam diri setiap orang ada nafsu distinksi yaitu nafsu yang mendorong manusia untuk berbeda dengan pihak lain dan dalam perbedaan itu mereka ingin lebih dari yang lain. Dalam Upanisad dinyatakan purusa atau unsur kejiwaan dalam diri manusia itu ada citta atau alam pikiran dengan empat sifatnya yaitu dharma, jnyana, wairagia dan aiswarya. Empat sifat citta ini dalam Wrehaspati Tattwa disebut Catur Budhi. Aiswarya sebagai unsur keempat dari Catur Budhi mendorong orang untuk berusaha terus meningkatkan dirinya ke arah yang lebih baik, lebih benar dan lebih bermanfaat bagi kemajuan hidup. Tentunya kalau dorongan aiswarya dengan nafsu distinksi yang baik, benar dan suci. Kalau dorongan aiswarya itu didominasi oleh krodha, kama dan lobha maka dorongan untuk meningkatkan diri secara baik, benar dan suci akan tersingkir. Distinksi yang didorong oleh sifat krodha, kama dan lobha akan menimbulkan persaingan hidup yang tidak sehat.