Sabtu, 10 Juli 2021

KUMPULAN PUJA MANTRA

Mantrani Banten

1.      Canang
Mantra,
Om, Hyang-Hyang Angaturake, Sari Raka Tambe Pawitra. 
Om, Trepti Paramaswara. 
Om, Bukti Paramaswara. 
Om, Suda Sari, Ya, Namah Swaha

2.      Sekar Taman
Mantra,
Om, Sweta Uma Dewi Ya Namah.  
Om, Rakta Saraswati Dewi Ya Namah. 
Om, Pita Durga Dewi Ya Namah.  
Om, Kresna Sri Dewi Ya Namah,

3.      Rayunan
Mantra,
Om, Dewa Buti Maka Segem Bayem, Take Brateng Buta Laksana Karanem, Dewa Butem Tuning Loka Laksana Karanem. Om, Ya, Namah Swaha.

4.      Sorohan
Mantra,
Pakulun Sang Hyang Siwa,  Catur Muka Dewa Byuha, Sira ta Bhagawan Ratangkup, Sira ta Pakulun Angesengi Patala, Mekadi Lara Roga, Sat Pataka, Gempung Moksah Hilang Tanpa Sesa,  Den Ira Sang Hyang Catur Muka Dewa Byuha

5.      Sesayut
Mantra,
Om, Om, Sarira Paritrepta Ta. 
Om, Om, Atma Tatwatma Paritrepte Ta.  
Om, Om, Jiwita Paritrepte Ta.  
Om, Om, Sarwa Suka Paripurnap Ta.  
Om, Om, Sobagiya Paripurnam Ta.  
Om, Om, Kurmade Jaya Jiwat Sari Raksan Dadi Sirna.  
Om, Mejung Syah Wasat Mertyum Jaya, Ya Namah Swaha

6.      Pengambeyan
Mantra,
Om, Pritiwi Dewa Sampurna, Apah Teja Jiwatmanem, Bayu, Akasa Sampurna, Sarira Purna Jiwitam, Dirga Ayu Jagat Amertam

7.      Daksina
Mantra,
Om, Daksina Desa Ya, Brahma Dewa Ya, 
Daksina Pinaka Angga, Brahma Suksmaning Yadnya. 
Om Sidirastu Ya Namah Swaha

8.      Sesantun
Mantra,
Pakulun Bhatara Wisnu,  Malinggih Haneng Sesantun,  Ingulun Kayogyana Bhatara Guru, Asung Panugrahan Saluwiring Pinuja, Dening Hulun Purna Jati, Tanpa Mari Sudaha.  
Om, Sidhi Rastu Ya Namah Swaha

9.      Jerimpen
Mantra,
Om, Ung Swaha Mahadewa,  Sarwa Prani Hitang Karam,  Mamoca Sarwa Papebiyah, Wana Bija Namah Swaha,

10.  Pula Gembal
Mantra,
Om, Gana-Gana Pati Ya Namah Swaha


11.  Ngaturang Peras
Mantra,
Om, Eka Wara, Dwi Wara, Tri Wara, Catur Wara, Manca Wara, Brahma, Wisnu, Iswara, Om Peras Presida Sada Rahayu.


12.  Penyeneng
Mantra,
Om, Kaki Penyeneng, Nini Penyeneng, Kajenengane Denira Bhatara Brahma, Wisnu, Iswara, Surya, Candra, Lintang Trenggana. 
Om, Sri Ya, Namah Swaha


13.  Saluwiring Banten
Mantra,    
Om, Sri Tambola Panca Pacara Namah Swaha.  
Om, Guru Piduka Bionamah Swaha.  
Om, Sada Kaya Bionamah Swaha.  
Om, Kumandang Jaya Teka Warna Namah Swaha, Yukti Sudanem Idep Caru, Kabukti Ring Ida Bhatara.  
Om, Ya Namah Swaha,

14.  Ngayabang Sarwa Daging Upakara
Mantra,
Om, Hyang Angadakaken Sari. 
Om, Hyang Anyumputaning Sari.  
Om, Hyang Angisepaning Sarining Yadnya, Lunga Sari Teke sari.

Mantra,
Ongkara Diantha Sang Rudrem, 
Guhyam Sakti Pradipanam, 
Tarpana Sarwa Pujanam, 
Prasidanthu Astu Siddhinam, 
Sakaram Nian Maha Mertha, 

Ongkara Candram Niante Namah, 
Namah Nadha Ongkara Mertha, 
Boktayet Dewa Sampurnam, 
Ang Ah Tadah Saji Suci,  
Dewa Tarpanam Ya Namah, 
Ang, Ung, Mang,  
Siwa Mertha Ya Namah Swaha

15.  Guru Piduka
Mantra,
Pakulun Hyang Predana Purusa 
Hyang Siwa, Hyang Surya, Candra, 
Iki Manusan Ira Maguru Piduka, 
Angaturaken Pamahayu, 
Wus Sira Ketanggap, 
Den Ira Sang Hyang Sedahan, 
Bagawan Penyarikan, 
Muwang Begawan Citra Gotra, Citra Goti, 
Menawi Manusan Ira Ana Aturane Saud, 
Muwang Linyok,  
Sampun Ta Sira Angadakan Piduka, 
Lugrahi Manusan Ira Amuhun Tirtha. 
Om, Sidi Rastu Ya Namah Swaha.

16.  Tri Buana
Mantra,
Om, Parama Siwa Tanggohyang, 
Siwa Tatwa Para Ya Namah, 
Siwasya Paranata Nityam, 
Candi Saya Namastute, 
Nirwedyam Brahma Wisnuca, 
Bokta Dewa Maheswarem, 
Sarwa Wiyadin Alabate, 
Sarwa Karyantha Sidantem, 
Jayarti Jayam Apnuyat, 
Ya Sarti Yasem Apnute, 
Sidhi Sakalam Apnuyat, 
Parama Siwa Labhate. 
Om, Nama Siwa Ya Namah

17.  Pangrapet Kirang Langkung
Mantra,
Om, Pakulun Sang Hyang Darma, 
Denaling Ripalungguhan Ira Sowang-Sowang, 
Amukti Sari Sira Sangkaneng Sari, 
Lunga Asari  Teke Asari, 
Jumenenge Pakulun Sira Tan Keneng Sari.

#tubaba@griyangbang//pupulaningpujamantra#

Sabtu, 03 Juli 2021

PAKET WISATA SPIRITUAL DAN WISATA ATV GRIYANG BANG

Wisata Spiritual dan Wisata ATV Griya Agung Bangkasa

Oleh: I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S., M.Pd

I. Latar Belakang

Bali merupakan salah satu daerah tujuan wisata internasional yang sangat terkenal di dunia. Sektor kepariwisataan telah menjadi motor penggerak perekonomian dan pembangunan di Bali sejak tahun 1970-an. Oleh karena itu kepariwisataan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan lagi dalam kehidupan masyarakat dan pembangunan di Bali.  Keindahan alam dan kebudayaan Bali yang unik dan beranekaragam yang dituntun atau berpedoman pada falsafah Hindu dan keindahan alam menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan, baik wisatawan manca negara, wisatawan domestik maupun wisatawan nusantara. Untuk menjaga keberlanjutan pariwisata di Bali, Pembangunan pariwisata di Bali selalu berdasarkan pada penerapan konsep “Tri Hita Karana”. Konsep ini bertujuan untuk menyeimbangkan hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam. Diharapkan dengan keharmonisan ini, manusia (orang yang tinggal di Bali) dapat memperoleh manfaat dalam bentuk kesejastraan, kemakmuran, kebahagiaan dan kedamaian dalam hidupnya.
Sektor pariwisata dan ekonomi kreatif adalah adalah salah satu sektor yang paling terpukul akibat pandemi ini. Namun, berbagai upaya kreatif terus ditempuh untuk kembali membangkitkan denyut nadi perekenomian khususnya bagi masyarakat Bali.

Secara global, pandemi belum menunjukkan grafik melandai. Berbagai upaya telah dilakukan terutama untuk menopang perekonomian. Pariwisata dan ekonomi kreatif adalah salah satu sektor pertama yang terpukul akibat wabah ini. Berbagai langkah kreatif terus diupayakan untuk setidaknya menciptakan tren positif.

Tubaba bersama tem pemilik lahan menginisiasi diselenggarakannya pertemuan kecil pada tanggal 3 Juli 2021 di Griya Agung Bangkasa untuk mengimplementasikan “We Love Bongkasa”, melalui wisata spiritual yang dikemas dengan wisata ATV. Program ini merupakan salah satu bentuk dukungan kepada para pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif yang ada di desa Bongkasa. 

Melalui program ini, berbagai destinasi non populer juga diperkenalkan lebih luas lagi. Selain untuk lebih memperkenalkan destinasi-destinasi selain yang sudah terkenal, tempat-tempat baru atau yang belum dikenal luas oleh publik mampu menjadi opsi wisata yang memberikan pengalaman berbeda.
Wisata religi dan spiritual yang diperkenalkan kembali sebagai salah satu tujuan wisata andalan bukan hanya dikhususkan bagi wisatawan tertentu. Diperkenalkannya wisata spiritual griya agung bangkasa untuk berbagai kalangan ini selain bertujuan untuk mengembalikan potensi wisata tanah dewata, langkah ini juga dimaksudkan untuk memberikan pengalaman baru dan membuka wawasan yang diharapkan bahwa setelah pandemi kehidupan dan toleransi di masyarakat semakin membaik.

Di Bali, jika selama ini wisata spiritual erat kaitannya dengan daerah Ubud, maka pengenalan beberapa pura, puri dan griya agung bangkasa akan menjadi konsep baru yang penting, selain menyajikan panorama cantik juga memiliki energi positif yang baik untuk lebih memahahi alam.
Masih dari kawasan griya agung bangkasa, artefak sistem irigasi dan pola cocok tanam pertanian di sisi Barat Griya Agung Bangkasa lengkap dengan kebersahajaan masyarakat lokal yang masih mengusung konsep kehidupan tradisional menjadi daya tarik untuk dikunjungi bersama keluarga. Selain mengenal lebih dekat kehidupan petani, kegiatan bersepeda atau berlari di pinggir persawahan tentu saja akan menjadi agenda wisata yang berkesan.

Sehubungan dengan pesatnya perkembangan pariwisata di Bali, pola pembangunan berkelanjutan sangat cocok diterapkan dalam pengembangan pariwisata di Bali. Salah satu jenis wisata yang sedang dikembangkan dan mendukung pariwisata berkelanjutan adalah Wisata Spiritual Griya Agung Bangkasa
Sejalan dengan itu, ide pengembangan wisata spiritual bangkasa ini di pelopori oleh Tubaba (I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S., M. Pd) dari Griya Agung Bangkasa. Tubaba memprediksikan wisata spiritual bangkasa akan segera ‘booming’ dalam beberapa bulan ke depan. Wacana pengembangan wisata spiritual griya agung bangkasa ini tampaknya makin menguat. 

Sebab wilayah kawasan Griya Agung Bangkasa sebagai tonggak awal berdirinya desa Rangdilangit - Bangkasa - Bongkasa di wilayah Bet Tegeh Teguhwana memang menyimpan potensi yang sangat besar. Menurut Tubaba kawasan Griya Agung Bangkasa memiliki potensi yang baik untuk pengembangan wisata spiritual karena keberadaan yang sangat strategis dan Griya Agung Bangkasa yang lebih dikenal dengan budaya spiritualnya. 
II. Rumusan masalah

1. Bagaimanakah pengembangan wisata spiritual griya agung bangkasa di Desa Bongkasa?
2. Apa implikasi wisata spiritual griya agung bangkasa terhadap kelestarian lingkungan di Bongkasa?

III. Tujuan dan Manfaat Penulisan Artikel ini

Adapun tujuan penulisan artikel ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui perkembangan wisata spiritual griya agung bangkasa di Bongkasa.
2. Untuk mengetahui implikasi atau pengaruh wisata spiritual griya agung bangkasa di Bongkasa
IV. Konsep Penulisan

1. Tinjauan tentang implikasi/ pengaruh

Pengertian implikasi yaitu :
“Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang.”

Dari pengertian yang telah dikemukaan sebelumnya yang disimpulkan bahwa pengaruh merupakan suatu daya membentuk atau mengubah sesuatu yang lain. Pengaruh merupakan bentuk hubungan sebab akibat antar variabel. Dalam hal ini wisata spiritual akan mempengaruhi kelestarian lingkungan.

2. Tinjauan tentang wisata spiritual griya agung bangkasa

Dalam definisi wisata spiritual griya agung bangkasa, penulis menemukan dua teori untuk memperjelas maksud dari wisata ini, yaitu:

Yang pertama adalah definisi menurut Nyoman S. Pendit (1994) dalam bukunya yang berjudul Ilmu Pariwisata, beliau menjelaskan tentang pengertian Wisata Spiritual sebagai berikut:
Jenis wisata yang bamyak dikaitkan dengan agama, adat istiadat dan kepercayaan umat atau kelompok dalam masyarakat. Wisata ini banyak dilakukan oleh perorangan atau rombongcm ke tempat-tempai suci, ke makam-makam orang besar atau pemimpin yang diagimgkan, ke bukit atau ke gitining yang dianggap keramat.
Pengertian yang kedua diambil dari Oka A. Yoeti (1985) yang menulis bahwa:
Wisata Spiritual yaitu jenis pariwisata dimana tujuan perjalanam yang dilakukan adalah untuk melihat atau menyaksikan upacara - upacara keagamaan dan juga berziarah atau beribadah di sana.

Dua pengertian yang dikemukakan oleh Nyoman S. Pendit dan Oka A. Yoeti ini memiliki pengertian yang sama, yakni seseorang atau rombongan melakukan wisata spiritual berdasarkan keinginan yang dikaitkan dengan kegiatan ibadah dari suatu agama atau kepercayaan. Disamping itu penulis juga mengemukakan maksud wisata spiritual griya agung bangkasa dalam tulisan ini adalah kegiatan berwisata yang bukan hanya dikunjungi oleh pemeluk agama Hindu namun juga untuk pemeluk agama yang lain. Jadi wisata spiritual griya agung bangkasa secara umum adalah sama dengan kegiatan wisata lainnya, hanya saja fokus dari wisata spiritual ini lebih mengarah pada hal - hal kerohanian seperti berdoa, mengikuti upacara keagamaan, mandi weda, bayuh tampel bolong, upacara puja sang hyang agni dan lainnya. Oleh karena itu, wisata spiritual bangkasa juga membutuhkan fasilitas- fasilitas seperti obyek wisata pada umumnya atau unsur - unsur produk wisata agar menarik pengunjung untuk datang.
3. Tinjauan tentang lingkungan

Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut.

Lingkungan terdiri dari komponen abiotik dan biotik. Komponen abiotik adalah segala yang tidak bernyawa seperti tanah, udara, air, iklim, kelembaban, cahaya, bunyi. Sedangkan komponen biotik adalah segala sesuatu yang bernyawa seperti tumbuhan, hewan, manusia dan mikro-organisme (virus dan bakteri). Ilmu yang mempelajari lingkungan adalah ilmu lingkungan atau ekologi. Ilmu lingkungan adalah cabang dari ilmu biologi.

Lingkungan, di Indonesia sering juga disebut "lingkungan hidup". Misalnya dalam Undang-Undang no. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, definisi Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia, dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan hidup dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Secara kelembagaan di Indonesia, instansi yang mengatur masalah lingkungan hidup adalah Kementerian Lingkungan Hidup (dulu: Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup) dan di daerah atau provinsi adalah Bapedal. Sedangkan di Amerika Serikat adalah EPA (Environmental Protection Agency).
V. Pembahasan
1. Pengembangan Wisata Spiritual Griya Agung Bangkasa Di Bongkasa

Bongkasa telah mengembangkan wisata spiritual di griya agung bangkasa dalam menggaet para wisatawan yang lebih banyak datang ke daerah ini dengan mengembangkan objek wisata lainnya. Di Bongkasa sendiri telah melakukan beberapa usaha pengembangan dalam meningkat jumlah kunjungan wisatawan yang menyukai wisata spiritual yaitu diantaranya :

1. Pemeliharaan kawasa Griya, Puri dan Pura 
2. Peningkatan Fasilitas
3. Pengembangan Objek Wisata ATV dan Toya Pura Taman Beji Sebagai Objek Wisata Penunjang
4. Kerjasama dengan travel untuk promosi dengan membuatkan paket wisata spiritual griya agung bangkasa
5. Peningkatan Kebersihan Areal Griya Agung Bangkasa
Sekilas tentang ATV
Apa itu Wisata ATV? 

ATV Tour adalah perjalanan wisata harian, musim kemarau atau hujan. Berkendaraan di alam bebas alami dengan motor roda 4. Motor ATV ini memiliki kapasitas mesin 150 – 250cc. Berpacu menyusuri areal persawahaan, pedesaan, sungai, hutan, lembah dan Lumpur. Bersama pemandu ATV yang berpengalaman, tentunya akan membuat petualangan anda lebih aman.

Aman untuk pemula dan professional. Datang dan bergabunglah dengan kami! Saatnya bagi Anda untuk mengambil tantangan perjalanan menyenangkan bersama keindahan alam Bongkasa untuk memanjakan adrenalin Anda. Kami yakin Anda tidak akan menyesal dan melupakan kesempatan!

Paket Murah ATV di Griya Agung Bangkasa. 
Dijemput dengan mobil pribadi dan supir profesional untuk membawa Anda ke perusahaan ATV (Griyang Bang Squad Bike) di Desa Bongkasa. Nikmati perjalanan melalui hutan bambu, sawah, perkebunan, sungai, air terjun, taman beji dan Goa.

Paket ATV Ride di Griyang Bang

Petualangan naik ATV yang dirancang dengan lintasan/ trek terbaik yang didominasi oleh hutan, sungai, sawah, goa taman beji dan air terjun, atau desa tradisional. Karena mesin atv kami adalah semi otomatis, yang mampu bergerak di semua medan akan memberikan pengalaman terbaik di Bongkasa.

Jenis Aktivitas ATV Murah di Griyang Bang
ATV di Griyang Bang memberikan 2 jenis bersepeda ATV Ride. Ini disesuaikan dengan umur dan keberanian peserta, Mari cari tahu tentang paket tur ATV griyang bang squad bike yang kami tawarkan

1. Mengendarai motor ATV Sendirian (Single ATV)
Yang dimaksud dengan Single atv adalah petualangan atv dengan satu pengendara. Mengendarai motor atv sendirian akan memberi Anda kepuasan tanpa memikirkan penumpang Anda.

Dengan Single ATV ini Anda dapat merasa lebih bebas dalam menjelajah sesuai dengan keterampilan yang Anda miliki. Tetapi untuk pemula, Anda tidak perlu khawatir karena kami akan memberikan panduan tentang mengendarai ATV dan memberikan test drive sebelum pergi ke trek.

2. Mengendarai ATV berdua (Tandem Ride)
Tandem Ride berarti satu Sepeda Squad dengan satu pengendara dan satu penumpang (total 2 orang dalam satu sepeda squad). Oleh karena itu, Kegiatan ini biasanya dilakukan berpasangan atau anak di bawah 10 tahun yang akan menjadi penumpang.

Dengan usaha-usaha tersebut kunjungan terhadap pura batur hingga kini terus meningkat dan pemasukan terhadap pura batur dijadikan salah satu sumber dana untuk melakukan pengembangan.

2. Implikasi Wisata Spiritual Griya Agung Bangkasa Terhadap Lingkungan Di Bongkasa

Lingkungan di sekitar griya agung bangkasa hingga kini dapat dilihat bersih, tertata baik dan masih sangat terlihat alami. Hal ini disebabkan oleh masyarakat sekitar dan pemerintah desa Bongkasa saling menjaga kebersihan dan melakukan pembersihan secara berkala dan peningkatan fasilitas kebersihan. Kebersihan lingkungan areal griya agung bangkasa dan lingkungan sekitar ini membutuhkan biaya yang cukup besar dan dana untuk menutupi biaya tersebut yaitu salah satunya dari pemasukan kunjungan wisatawan dalam wisata spiritual di griya agung bangkasa sehingga wisata spiritual ini memberikan pengaruh besar bagi kelestarian lingkungan areal griya agung bangkasa atau disekelilingnya.
VI. Kesimpulan dan Saran

1. Kesimpulan
Pengembangan wisata spiritual griya agung bangkasa di Bongkasa ini telah dilakukan dengan beberapa usaha yaitu :

1. Pemeliharaan Griya Agung Bangkasa
2. Peningkatan Fasilitas
3. Pengembangan Objek Wisata ATV dan Toya Pura Taman Beji Sebagai Objek Wisata Penunjang
4. Kerjasama dengan travel untuk promosi dengan membuatkan paket wisata spiritual di griya agung bangkasa
5. Peningkatan Kebersihan Griya Agung Bangkasa

Wisata spiritual ini nantinya sangat memberikan pengaruh besar bagi wisatawan, hal ini dibuktikan dengan biaya kebersihan yang cukup besar namun dapat ditutupi oleh pemasukan dari kunjungan wisatawan dalam wisata spiritual griya agung bangkasa di Bongkasa.
2. Saran
Antara pemerintah dan masyarakat lokal sebagai pengelola griya, pura dan puri tetap menjalin hubungan baik dan tetap melakukan pembersihan secara berkala serta peningkatan fasilitas kebersihan.
Daftar Pustaka

1. Ardika, I.W. 2003. Pariwisata Budaya Berkelanjutan. Program Studi Kajian Pariwisata Universitas Udayana. Denpasar:

2. http://subadra.wordpress.com/2007/03/10/studi-evaluatif-pembangunan-pariwisata-berkelanjutan-di-desa-wisata-jatiluwih/

3. http://warnawarnibali.wordpress.com/2005/03/04/bali-menanti-booming-wisata-spiritual/

4. Peraturan Daerah Tingkat I Provinsi Bali No.23 Tahun 1997, Pengelolaan Lingkungan Hidup. Bali:

Kamis, 01 Juli 2021

Objek Wisata ATV dan Spiritual Unggulan di Desa Bongkasa

Tubaba Atas Mandat Ida Sinuhun Siwa Putri Parama Daksa Manuaba Jadikan Gua Bet Tegeh Sebagai Objek Wisata Spiritual Unggulan di Desa Bongkasa

MOTTO

Gerakan menciptakan peluang usaha bukan menunggu dipekerjakan kembali


Berkat panugrahan dari Ida Sinuhun Siwa Putri Parama Daksa Manuaba, Tubaba bersama tem pemilik lahan sepanjang sungai Bet Tegeh di Desa Bongkasa akan menjadikan lokasi Gua Bet Tegeh peninggalan Sejarah Ki Dalang Tangsub di kawasan perbatasan sisi Barat Banjar Pengembungan, Desa Bongkasa, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, sebagai objek wisata unggulan baru untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Desa Bongkasa sebagai Desa Wisata Digital.

Lokasi Gua Bet Tegeh merupakan tempat yang banyak terdepat keunikan jika dilihat dari segi sejarah berdirinya Desa Bongkasa, sehingga bisa menjadi daya tarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara.


Pesona alamnya yang masih amat natural, dari utara aliran sungai subak Teba ada dua air terjun, beberapa apancoran dan bulakan megantung ditambah lagi udaranya yang segar membuat pikiran para pengujung segar dari kepenakan pekerjaan sehari-hari.

Yang membuat terasa nyaman adalah pesona alamnya yang masih asli dan klasik, hemburan udara segar dari pesawahan dan suangai/tukad teba kauh benar-benar membuat segar. Ditambah lagi susunan bebatuan di sepanjang tebing gua membuat dia kokoh.

Banjar Pengembungan paling ujung barat Desa Bongkasa ini memang menyimpan sejuta sejarah sebagai tempat pertama kalinya Ki Dalang Tangsub menetap di kawasan hutan Teguhwana-Rangdilangit. 

Objek wisata Gua Bet Tegeh bila dikelola dengan baik dan serius oleh Tubaba bersama tem pemilik lahan dengan sekejab mendunia, karena bila setiap pengunjung yang sudah menginjakkan kakinya bahkan masuk ke dalam gua bet tegeh itu, mengambil gambar dari berbagai sudut lalu mengugahkannya ke media sosial (medsos), baik facebook, twitter, line, instagram maupun medsos lainnya.


Menurut titiang, Desa Bongkasa tidak hanya terkenal dengan indahnya pesona alam spiritualnya. Asrinya Gua Bet Tegeh yang dulu dihuni oleh kelelawar dan burung walet menghadap langsung ke bentangan sawah diatasnya dan jika cuaca bagus di bentangan sawah diatasnya (Kaplak Ngeh/Bet Tegeh/Petegeh), disana tampak jelas GWK Gunung Batur dan Gunung Agung,  yang menambah daya tarsendiri.


Gua Bet Tegeh merupakan salah satu objek wisata pertualangan di Desa Bongkasa, untuk masuk ke lokasi ini membutuhkan energi yang fit dan stamina yang ekstra, namun hal ini tak sebanding dengan apa yang nantinya mampu didapatkan oleh para wisatawan.


Sekilas, keberadaan Gua Bet Tegeh, lokasinya sangat strategis nampun selama ini tidak tampak, karena berada di bawah jalan raya Desa Bongkasa - Blahkiuh, tepatnya sebelah Barat SMP Negeri 4 Abiansemal.


Menikmati wisata Gua Bet Tegeh sekaligus wisatawan bisa menikmati wisata trekking juga bisa dilakukan di Desa Bongkasa. Desa Bongkasa yang satu ini merupakan desa yang khas dengan suasana petani. Kita bisa mendapati petani yang beraktivitas mengurus sawah maupun ladang mereka sambil berpetualang.


Desa Bongkasa merupakan sebuah desa yang memiliki hamparan sawah yang cukup luas. Selain itu ada sebuah Taman Beji dan pemandian umum yang sudah tua namun masih menarik. Di sepanjang sungai/tukad teba kauh terdapat hamparan sawa cukup luas dan bisa dijelajahi selama liburan.


Bahkan sudah ada beberapa paket wisata yang khusus mengagendakan tour di Griya Agung Bangkasa Desa Bongkasa ini. 

Setiap pengunjung nantinya yang menginjakkan kaki di lokasi ini pasti mengabadikan gambar dengan berbagai sudut yang berbeda.

Sumber: rangdilangitnews.com

SATWA ANGGEN SASULUH

Subhakti Ring Nabe

Kacrita wenten Pandita, mapesengan Bhagawan Domia. Ida madue sisya tigang diri, inggih punika : Sang Uttamaniu, Sang Arunika, tur Sang Weda.

Duaning sampun sue Sang Tiga mapagiga punika jagi katureksain kapagehan tur kasubaktian ring nabe.  Sang Arunika kapangandikayang makarya ring carik, Sang Uttamaniu kapangandikayang ngangon banteng tur Sang Weda kapangandikayang ngrateng, sarahina-rahina makarya ring pawaregan Sang Bhagawan.


Ceritayang mangkin Sang Arunika kapangandikayang ring carik oleh Sang Bhagawan. Suleng kayun Sang Arunika ngelaksanayang pituduh Sang Nabe, duaning subhaktin Idane ring Sang Nabe. Bagia pisan kayun Sang Arunika nyingak tanduran Idane ring carik gadang magaluhan. Duaning Ida Sang Bhagawan jagi nureksa kapagehan Sang Arunika mageginan, raris Ida ngawentenang sabeh sane wales pisan. Sabehe punika ngranayang blabar tur ngembidan pundukan carike Sang Arunika. Sami pantun Idane balbal keni sabehe punika. Digelis Ida Sang Arunika mecikan pantune punika, tur mecikang pundukane sane embed. Wau Sang Arunika mecikang, malih wenten sabeh sane deres tur ngawinang pundukane sane lianan embid. Sampun sue telas dayan Sang Arunikane, raris Ida ngebahang raga kedados empelan mangda pantune nenten lancah blabar. 

Nyantos wengi wawu kauningan indike punika olih Sang Bhagawan. Digelis Ida rawuh kacarik Sang Arunika tur Ida ngandika, "Cening-cening Sang Arunika sebet Bapa nyingak pantun I Dewane buka kene tur ngudiang I Dewa ngebahang raga ring carike ?", raris Sang Arunika matur ring Sang Bhagawan. "Singgih, Ratu Sang Bhagawan, ampurayang sikian titiang, tan prasida ngemecikan pantune puniki, duaning risedek pantun titiange nedeng gadang, lemuh megeloran, jeg rauh sabeh sane deres pisan, tur ngranayang pantune punika lancah blabar sekadi mangkin. Tan prasida antuk titiang madaya raris titiang ngebahang raga pinaka empelan.

Kelangen tur kapiwelasan pisan pikayun Sang Bhagawan nyingak tur ngaksi pikobet sane nibenen sisyan Ida, rarisa Sang Bhagawan ngandika, "Uduh cening Sang Arunika, sing nyadayang I Dewa sebet duaning pikobet sane nibenin buka I Dewa, tuah pinaka sarana Bapa nureksa kapagehan I Dewane mageginan tur subaktin I Dewa teken pituduh guru. Nah ngadeg cening uli jani adanin Bapa Sang Undalaka wireh ragan I Dewa anggon cening ngempel yeh, makecihna subaktin I Dewa teken nabe, tur kapagehan I Dewa mageginan. Jani Bapa ngicen panugrahan apanga I Dewa satata nemu karahajengan tur sidi mantra. Asing ucapang cening, tuutange teken anake".


Sapunika panugrahan Sang Bhagawan marep sisyan Ida. Sang Arunika. Sang Arunika bagia pisan tur ngaturang panyuksemaning manah ring Bhagawan Domia. Kacritayang mangkin Ida Sang Bhagawan jagi nureksain Sang Uttamaniu mageginan tur kasubaktinyane ring Sang maraga Nabe. Ida kapangandikayang ngangon Banteng tur Lembu druen Sang Bhagawan. Sampun sue Ida ngangon Banteng tur Lembu druen Sang Bhagawan. Sampun sue Ida ngangon, Sang Uttamaniu merasa seduk, raris Ida magegendong nunas kapiwelasan Idadanene ring margi, Pikolih magegendong pinka upajiwan Idane nganggon akidik tan katur ring Sang Bhagawan.


Indike punika kauningan oleh Sang Bhagawan raris ngandika ,"Cening Sang Uttamaniu, yen saja I Dewa bakti ring Nabe, pikolih magegendong patut katur ring sang Nabe." Irika raris sang Uttamaniu nyembah nunas ampura ring Sang Bhagawan. Singgih Ratu Sang Bhagawan, ampurayang sikian titiang duaning lempas ring pituduh Nabe, duaning titiang seduk ngantos iwang titiang ngaturang polih titiang magegendong. " Duaning Sang Bhagawan maraga Dharma, Ida ngampurayang kelempasan sisyan Idane Sang Uttamaniu.

Benjangne semengan, malih Sang Uttamaniu ngangon Banteng tur ngagendong. Pikolihne sami katur ring Sang Bhagawan pinaka Nabe akidik nenten wenten katunas olih Sang Uttamaniu. Duaning Ida merasa seduk malih, Sang Uttamaniu ngagendong pinaka upajiwa Idane ngangon. Indike punika raris kaiwangan olih Sang Bhagawan duaning loba wastan ipun anake ngagendong ping kalih. Dening sapunika Sang Uttamaniu raris nginam empehan Lembu druwen Sang Pandita. Indike punika kacingak olih Ida Sang Bhagawan raris Ida ngandika tur duka ring Sang Uttamaniu, "Cening Sang Uttamaniu, sayan pelih laksanan buka I Dewa. Empehang Lembune punika wantah druwen Sang Pandita tan patut cening ngambil druwen Sang Nabe. Malih Sang Uttamaniu nunas ampura ring Sang Bhagawan.


Benjangne Sang Uttamaniu nunas lad-ladan empehan Banteng sane wenten ring bungut godele. Indike punika taler kauningan olih Sang Bhagawan  duaning ngawinan godele berag. Duaning tan sida antuk Sang Uttamaniu naanang seduk raris Ida nginum getah don madori. Getah don madori sane ngebusin punika nyusup ring penyingakan Sang Uttamaniu, ngawinan Ida wuta. Pinadosne Ida grapa-grepe ngarereh Bantenge. Irika raris Sang Uttamaniu macemplung kasemere ane tuh.

Kacrita mangkin sampun nyanjang mulih Banteng tur Lembun Sang Bhagawan newek kagiat Sang Bhagawan nyingak, Banteng Idane mulih padidian tan kaateh oleh Sang Uttamaniu. Sungut kayun Ida Bhagawan Domia duaning sisya Idane nenten mewali kapasraman. Raris mailehan Bhagawan ngerereh Sang Uttamaniu, benjangne semengan wawu kapanggihin ring semere. Sang Uttamaniu nguningayang wuta majalaran antuk nginum getah don madori, Kapiwelasan pisan Ida Sang Bhagawan nyingak Sang Uttamaniu kasengsaran. Digelis Ida ngunggahan weda pangusada nambanin penyingakan Sang Uttamaniune. Saking kasidian sakadi jati mula. Dados ledang pikayun Ida Bhagawan Domia nyingak sisyan Idne sampun kenak raris Ida ngandika , "Cening-cening Sang Uttamaniu I Dewa suba nyiriang kasubaktian teken Nabe, duaning I Dewa satata satinut teken pituduh Bapa. Apa ane pelihang Bapa I Dewa tusing ngalaksanayang.

Yening keto baktin I Dewa teken Bapa, jani Bapa mapica panugrahan apanga cening satata anom tur tusing prasida anake ngenenin pinyungkan. Tan prasida antuk Sang Uttamania nunas paican Sang Bhagawan raris matur, "Singgih Ratu Bhagawan tan patut titiang nunas pasuecan tur paican Sang Bhagawan duaning kalintang akeh kaiwangan titiang ring Nabe, tur napi angge titiang ngwales paswecan Sang Nabe marep silaan titiang.

Raris malih Sang Bhagawan Domia ngandika ring sisyan Ida Sang Arunika, "Uduh cening Sang Arunika, yening Bapa mapiolasan teken cening tuah medasar hati suci ning nirmala Nabe, ane satata idih Bapa tekening cening, ritatkala cening melaksana apanga madasar tur manut sastra-sastra agama. Nah tuah amonto pangidih Bapa teken I Dewa."

Kacritayang mangkin Ida Bhagawan nureksain sisyan Idane Sang Weda. Ida kapangandikayang ngrateng serahina-rahina makarya rayunan ring pawaregan Ida Bhagawan Domia. Sang Weda kaliwat pageh mageginan tur subakti ring Nabe. Akidik tan wenten lempas ring pituduh Nabe tur parilaksanan Ida satata manut tur madasar sastra-sastra agama. Punika mawinang seneng kayun Ida Bhagawan Domia tur ngandika,"Cening -cening Sang Weda kaliwat pageh Idewa mageginan,tur bakti ring sang Nabe, nah jani Bapa ngicen panugrahan teken cening apange cening setata betel tingal, ngelah kawisesan tur asing ucapang cening tuutange teken anake.

Irika raris Sang Weda ngaturang suksma ring Sang Bhagawan. Sesampun buka Tiga sisyan Idane katureksa, raris Bhagawan Domia ngicenin pewarah-warah , "Uduh cening ajak makejang, ritatkala cening ngawigunayang kawisesan ceninge ento sepatutne medasar antuk sastra, apange cening nemu kerahayuan. Manut sastra sane panggihin Bapa ring Niti Sastra, yening artiang Bapa. Sekantun I Dewa Anom patut teleb malajahang raga majalaran antuk paplajahan sane madasar antuk sastra sinah I Dewa lakar nemu kaerahayuan. Nah tuah amonto pawarah Bapa teken cening ajak makejang.

Sasampun Ida Bhagawan Domia wusan ngicen pawarah-warah marep sisyan Idane, Sang Bhagawan mawali kapasraman. 


#tubaba@griyangbang//masuluhringsatwabali#

#Inggih asapunika satua puniki//wantah sajeroning iraga dados sisya atut seleg malajah//bisa ngaba dewek saha tuwon ring piteket Nabe//Sinah pacang nemu kerahayuan#

Senin, 28 Juni 2021

Sorohing Aksara Bali

SOROHING AKSARA BALI

Olih: I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S., M. Pd 
(Guru Bahasa Bali SMP N 4 Abiansemal) 

Risampune Uning Indik Sejarah Aksara Bali ngiring mangkin Lanturang Parikrama Duwe antuk Ngawedar Indik Sorohing Aksara Bali
Manut Kawigunannyane, Aksara Bali Kaepah dados makudang kudang soroh Sampun akeh wenten daging pamineh sane preside kakeniang ngeninin indik sorohing aksara Baline. manut Bapak Simpen A.B., Aksara Baline wenten tigang Soroh, minekadi :
1.     Aksara Wrehastra
2.     Aksara Swalalita,  miwah
3.     Aksara Modre

I Gusti Ngurah Bagus ngepah aksara Baline dados kalih Soroh, minakadi :
1.     Aksara Biasa,
2.     Aksara Suci.

Iriki, sane kabaosang aksara Biasa (Wresastra miwah Swalalita), sane kabaos aksara suci wantah aksara Modrene.

Selanturnyane, Ida Bagus Made Suasta, ring sasuratan “Aksara Bali Dalam Agama“ maosang, aksara bali wenteng petang soroh, luir ipun :
1.     Aksara Wreastra
2.     Aksara Swalalita
3.     Aksara Wijaksara, miwah
4.     Aksara Modre.

Pah pahan manut suasta puniki kepikukuhin antuk team Penyusun Panduan Penulisan Aksara Bali dan Aksara Latin, Balai Bahasa Denpasar Duk warsa 2009. puniki sane kaanggen dasar papalihan ring sor:

 1. Aksara Wresastra
Aksara Baline sane lumrah kaajahin ring alit alite rikala ngawitin melajah nulis Bali. Mekatah 18 (pelekutus), sane ketah kebaos abjad Aksara Bali. Abjad Aksara bali puniki sane sujatinne mawasta aksara Wreastra. Aksara Wreastra inggih Punika Abjad Aksara baline sane Kanggen nyuratang basa bali lumrah, sane tegesnyane yening pacang nyurat basa Bali sane lumrah sane nenten madaging campuhan basa kawi miwah Sansekerta, pacang praside kasurat antuk abjade sane Pelekutus punika.
upami :

2. Aksara Swalalita
Aksara Swalalita inggih punika Aksara Baline sane kanggen nyuratang Basa Bali sane maweweh basa Kawi, Kawi Tengahan miwah Sansekerta. Sane ngeranjing ring aksara Swalalita makesami aksara wresastrane, maweweh aksara baline sane kabaos aksara wayah kadi ring sor Puniki.


Dadosnyane makesami warga aksarane baduur rumanjing ring sorohing Aksara Swalalita, dwaning aksara Swalalitane punika marupa pupulan aksara Wresastra maweweh Aksara- aksara wayah. Makaimba sasuratan Aksara Swalalita sekadi ring Sor.

3. Aksara Wijaksara

Aksara Wijaksara taler kabaos Aksara suci, duawing sering kangen nyuratang saindik ajahan miwah paindikan sane kabaos suci. Aksara Wijaksara puniki mawit saking aksara biasa sane ngamolihang pangangge aksara pinaka niasan suara/munyi minakadi ulu candra Ulu ricem, bisah, miwah sane lianan. pinaka conto aksara wijaksara kadi ring sor puniki.


4. Aksara Modre
Aksara Modre inggih punika aksara kadiatmikan sane kanggen nyurat japamantra, saluir niasa, doa-doa kawi miwah usada utawi indik pangweruhan sane kabaos gaib utawi saindik – indik kadiatmikan. Aksara Modre puniki kewangun antuk aksara wresastramiwah swalalita kadagingin pangangge miwah pralambang, maweweh orten – ortenan mawinan makanten angker pisan. Punika mawinan aksara Modrene kantos nenten keni antuk ngewacen, sekadi aksara sampun padem. Rikala ngwacen ortenan modre puniki patut ngrereh pamargi /tata cara sane kabaos Krakah Modre. Sane tiosan wenten taler mawasta Krakah Padma, miwah Krakah Modre Aji Griguh

Minggu, 20 Juni 2021

Swaha

Jumat, 18 Juni 2021

CATUR KANU

______RENUNGAN TTG KITA DAN SAUDARA 4 KITA_________

*Catur Kanu*..

Manik itu membentuk huruf wong (Ong), bagaikan kanu, maka keluarlah “Catur Kanu”. 
Catur artinya empat, Kanu artinya saudara. Jadi Catur Kanu artinya saudara empat. Nama-nama saudara ini antara lain : Abra, Kered, Ugyan dan Lemana.
Adapun Catur sanak :  yeh nyom ( airketuban),  getih (darah), ari Ari, lamas. 

Sedangkan menurut buku Upacaran Manusa Yajna, nama-nama tersebut sedikit berbeda, akan tetapi pada dasarnya sama saja, yaitu : Babu Abra, Babu Kakere, Babu Sugian dan Babu Lembana. Selanjutnya, setelah janin itu berumur 20 hari, 

Catur Kanu itu berubah yaitu : Anta, Preta, Kala dan Dengen. 
Yang bernama Anta adalah ari-ari, yang bernama Preta adalah banah/lamas,kala adlh getih, yang bernama Dengen adalah yeh nyom (air ketuban). Sedangkan bayi itu sendiri bernama I Pung. Setelah bayi itu lahir. 
Maka nama-nama itu berubah lagi, yaitu : I Makair, I Mokair, I Jelair/Salahir dan Salabir, itu diberikan pada saat kepus pungsed (lepasnya tali pusat si bayi). Sedangkan nama si bayi sendiri ialah I Tutur Menget.

Setelah anak itu bisa memanggil bapa dan ibu, bisa berjalan, mulai saat ini mereka melupakan persaudaraan dan saling berpisah. Mereka pergi menuju tempat masing-masing. 
I Salahir pergi ke timur, I Jelair pergi ke selatan, I Makair pergi ke barat dan I Mokair pergi ke utara. Setelah berada di tempatnya masing-masing mereka kemudian mendapat anugrah bhetara, sehingga menjadi sakti dan namanya pun berganti. 

Yang di timur bernama I Anggapati, yang di selatan bernama I Mrajapati, yang di barat bernama I Banaspati, dan yang di utara bernama I Banaspati Raja.

Sesudah itu Ida Bhatara bersabda; 
“wahai kamu sekalian pulanglah kamu ke dalam diri saudaramu I Legaprana/Buta Kala Dengen. 

 I Anggapati masuk lewat mata, bertempat di pepusuh (jantung). 
I Mrajapati masuk lewat telinga, bertempat di hati, 
I Banaspati kembali lewat hidung, bertempat di limpa. 
I Banaspati raja kembali lewat mulut bertempt di empedu”. 
Maka dari itu, seseorang hendaknya tidak melupakan Sang Catur Sanak: 
“Yan sira lali asanak ring sanakta, sanakta lali asanak lawan kita, ika kengetaken sai-sai”.

Artinya : Jika seseorang lupa bersaudara kepada saudara empatnya (Sang Catur Sanak), saudara-saudaranya itu lupa pula bersaudara kepada dia, itu hendaknya di ingat terus menerus. Pada hakekatnya, Sang Catur Sanak itu tidak lain adalah kekuatan-kekuatan gaib panca mahabhuta, sebagai bahan dasar pembentukan tubuh manusia. Seperti kekuatan gaib angin, kekuatan gaib api, kekuatan gaib tanah, kekuatan gaib air, dan kekuatan gaib angkasa. Bila itu tidak di pahami, kita pun tidak akan mendapatkan kegaibannya.

Begitulah taksu orang2 Bali.. 
Tapi klau tidak mengindahkannya maka kehancuran pun akan datang, semua akan sirna dan berbuah mjd malapetaka..

Teruslah berbuat baik Demi SEMESTA ALAM
Yg kita cintai. 🙏🙏🙏
Ketika kita sdh melakukannya SEMESTA ALAM akan merestui doa kita semua 🙏🙏🙏
Om annobadrah kertavoyantu visvatah
Om lokah samastha sukino bhawantu🙏
  
🙏🙏🙏