Kamis, 23 Januari 2020

PESAN SINGKAT IDA SINUHUN SIWA PUTRA PARAMA DAKSA MANUABA MENGENAI PUNDUK DAWA.

PESAN SINGKAT IDA SINUHUN SIWA PUTRA PARAMA DAKSA MANUABA
MENGENAI PUNDUK DAWA.

ANG ......ANG.....ANG....NGADEG CAKRA GNI MURUB RING  CAKRA MULA DARA.
ANG.....UNG.....MANG............
TRI SAKTI 3X YANG KUPAKAI ROHANIKU BANGKIT
Matur sembah Pakulun HYANG MPU GANA, SANGHYANG PASUPATI, DEWI DANU, PUTRANJAYA dan Guru guru Gaibku.
Mangkana ling Bhatara mwah: ”Aum ranak ku kita prasamya pasajnana ta mangkana wenang sira sumendi ring  pura panataran agung catur parhyangan ratu pasek maring pundukdawa kita. Samangkana yan kita sida bhakti, kita kawenangken luputing gring tutumpur sasab mrana mwang grubug, ika siddha inusadan dening Ida Mpu Gana mwang ring desa pakraman kadurmanggalan sida kasupat denira Mpu Gana, 
Kunang mon hana sira sang amawa bhumi minta sih ing Hyang, amalaku ta huripan ing bhumin ira tekeng janman ira sapunpunan ira, den age sira anuku jiwa ring kita mwang ring sarwa dewanta, dening pangaci banten. Nimitanyan wruha sih wang ring pratekan ing yajna apan. Apa lwirnya: manusa yajna, bhuta yajna, rsi yajna, dewa yajna, pitra yajna,  nga, maka ahyun ing bhuwana sarìra mwang bhumi mandala tekeng kahyangan pundukdawa, apan maka waddhyan ing jagat.

Dipilihnya Punduk Dawa sebagai lokasi parhyangan Ida Hyang Mpu Gana. Punduk Dawa bukanlah sekedar sebuah nama.
Dia adalah Pesan.

Pura Penataran Agung Catur Parhyangan Ratu Pasek Linggih Ida Bhatara Mpu Gana di Punduk Dawa merupakan pura yang baru dibangun.

Pembangunan pura ini dikerjakan sejak 13 Desember 2016 di atas lahan 1,4 hektare di perbukitan Banjar Punduk Dawa.

Di UTAMANING UTAMA MANDALA PINAKA PURA PANATARAN AGUNG  CATUR PARHYANGAN dibangun Palinggih Padma Anglayang Linggih Ida Hyang Pasupati dan Palinggih Padmatiga Linggih Ida Hyang Tri Purusa (Hyang Gnijaya, Hyang Putranjaya, dan Dewi Danuh).

Di MADYANING UTAMA MANDALA PURA RATU PASEK LINGGIH IDA BHAYARA MPU GANA, disertai linggih pasemetonan Ida dari Panca Rsi dan palinggih lainnya.

DI NISTANING UTAMA MANDALA PURA PASIMPANGAN DALEM PED. 

"Pembangunan ini ditargetkan akan selesai 3-5 tahun mendatang. Pembangunan pura diawali paruman agung serta meminta petunjuk kepada sulinggih.

Atas berbagai pertimbangan dan petunjuk niskala tersebutlah Ida Sinuhun menetapkan Pundukdawa. Selain itu dipilih di lokasi yang berdekatan dengan sumber mata air, gunung, dan segara.

Maka, dipilihlah dan ditetapkan daerah perbukitan Punduk Dawa sebagai salah satu indikator.
Disamping petunjuk niskala tempat areal pura yang dibangun saat ini juga diyakini merupakan tempat suci.
Selain itu, dari sisi niskala Ida Sinuhun sempat menyebutkan, ciri-ciri Ida Bhatara Mpu Gana berkenan malingga (berstana) di tempat tersebut akan ditandai muncul bunyi dentuman keras.

Ternyata terbukti beberapa hari saat hendak dimulai proses pembangunnnya, sempat muncul bunyi dentuman yang didengar langsung oleh sulinggih dan Pasemetonan MGPSSR.

"Setelah proses pengerjaan dilakukan, pamedek juga sempat melihat keris yang memancarkan cahaya melayang-layang di areal utama mandala pura. 

Pembangunan Pura Penataran Agung Catur Parhyangan Ratu Pasek Linggih Ida Bhatara Mpu Gana di Punduk Dawa ini tak lepas dari permasalahan yang terjadi di Pura Dasar Bhuwana, Desa Pakraman Gelgel, Kecamatan Klungkung.

Permasalahan tersebut diduga dipicu larangan mapuja oleh pemangku kepada sulinggih dari warga Pasek di Bale Pawedan di Pura Dasar Bhuwana Gelgel beberapa waktu lalu.

Hal tersebut dikatakan sesuai dresta yang berlaku.
Larangan terhadap sulinggih muput itu akhirnya memicu warga MGPSSR mendak Ida Bhatara Mpu Gana dari Pura Dasar Bhuwana ke Pura Catur Lawa Ratu Pasek Besakih, dan sekarang dilinggihkan di Pura Ratu Pasek Punduk Dawa. 

Pamacekan Agung Ring Punduk Dawa
Uliaan jengah
Ngilangin atine ngahngah
Nepokin bikas ane pongah
Uling jani ngedengin tangkah
Suud i raga nyumbah
Sangkaning basang layah
Ngiring tetep bungah jroning manah
Yadiastun payah lan sayah jroning ayah2. 
Nuju Macekan Agung sane kesumbung pinaka unteng mautama 

Olih Tubaba Kanha
Griya Agung Bangkasa di Bongkasa

Rabu, 22 Januari 2020

Pendakian spiritual

Mencari Tuhan Sebagai Sebuah Pendakian Spiritual
Kategori : Artikel Baru
Walaupun menurut tattwa Tuhan itu berada dimana-mana/meresap dimana-mana (wiapi-wiapaka.... ) namun kita tetap dan selalu mencari Tuhan. Dewasa ini kecendrungan (trend) berdharma yatra atau bertirta yatra cukup semarak adanya. Umat Hindu secara perseorangan atau berkelompok bepergian sampai jauh keluar daerah untuk mecari Tuhan, yang berada di Pura yang terletak di kaki gunung, sekitar lautan, danau dan sebagainya. Kenapa sampai demikian? Apakah mungkin kita bisa menemukan Tuhan disitu? Ada 2 (dua) hal esensiil yang patut mendapat perhatian kita.
Pertama, adanya srada (kepercayaan, keyakinan) terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai salah satu bagian dari Panca Srada (keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, percaya terhadap roh leluhur, percaya kepada Purnarbawa, percaya kepada hukum karma dan yakin akan adanya moksa).

Kedua, Tujuan agama Hindu : Moksartham jagadhita. Dalam proses pencapaian tujuan ini, sangat berperan adanya Catur asrama, Catur purusa-artha.
Memperhatikan kedua unsur penting diatas ini, memang unsur pencarian Tuhan, atau pendekatan diri terhadap Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) sangat besar peranannya. Tujuan yang tertinggi dari kehidupan beragama adalah ditujukan untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa. Mengapa demikian? Karena pemujaan kepada Tuhan merupakan tujuan hidup yang paling utama dan paling mulia (parama artha = paramartha).

Ingatkah anda bait kedua keji kawin Arjuna-Wiwaha, karya sastrawan Mpu Kanwa yang berbunyi: Kate-munte mereka sitan ketemu dan seterusnya. Paramartha Ciwatattwa nirawarana.

Kenapa demikian? Karena, kalau seluruh jiwa diresapi oleh rasa Ketuhanan yang dalam, maka gerak pikiran perkataan dan perbuatan akan selalu berada pada garis dharma. Jika pikiran, perkataan dan perbuatan seseorang selalu berada pada dharma, maka orang itulah yang akan mendapatkan kehidupan bahagia, baik didunia maupun di akhirat. Dalam membangun rasa ketuhanan yang dalam perlu ada perpaduan antara rasa dan pikiran.

Bersatunya pikiran dan perasaan dapat mengarahkan indria sesuai dengan kadar pikiran dan kadar perasaan yang terjadi. Menumbuhkan perasaan yang mendalam kepada ketuhanan tidaklah mudah. Kegiatan ini harus dilakukan terus-menerus dengan bermacam-macam methode antara lain dengan mengadakan tirtha yatra, sembahyang, membaca kitab suci, melantunkan kidung Dewa Yadnya dan sebagainya. Setiap kegiatan yang kita lakukan agar Tuhan selalu dekat kita rasakan. Mampukah anda mencapainya? Semuanya tergantung pada anda sendiri. Bila anda mendalami penjelasan Bhagavadgita halaman 30, disebutkan intinya sebagai berikut:

"Anda dapat mencapai Tuhan Yang Maha Esa, walaupun anda seorang buruh sekalipun, atau manusia pada tingkat hidup yang paling rendah, atau seorang wanita yang sudah merosot sederajatnya, asalkan anda memberikan cinta kasih (bhakti) anda kepada Tuhan Yang Maha Esa didasari dengan kesucian dan terhindar dari kecemaran material."

Bhakti yoga adalah salah saru jalan yang paling mungkin bagi siapapun. Pada Siwatattwa juga dise-butkan bahwa nirmala, suddha (kesucian) merupakan hakikat yang paling penting. Mpu Kanwa dalam kekawin Arjuna-Wiwaha tentang bayangan bulan "Sasi Wimba", menjelaskan sebagai berikut:

Sasi wimba haneng gata mesi banyu Ndart asing suci nirmala mesi wulan Iwa mangkana rakwa kiteng kedadin Ring angambeki yoga kiteng sekala Bayangan   bulan   terlihat   dalam tempayan yang berisi air Setiap yang (berisi air yang) suci hening berisi bulan.
Demikianlah Engkau Tuhan, berada dalam setiap mahluk. Pada orang yang melakukan yoga Engkau menampakkan diri.

#tubaba.nuturangpadewekan#

PERJALANAN SUCI UNTUK MENCARI AIR SUCI/TIRTHA


Ida Sinuhun Siwa Putri Parama Daksa Manuaba (Griya Agung Bangkasa) menegaskan Tirtayatra berarti mengunjungi tempat-tempat suci dan ada Istilah lainnya yaitu Tirtagamana atau Tirthagocara.

Dalam kesempatan yang berbeda, I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S, M.Pd menekankan perbedaan antara Tirtha Yatra dengan Tirtha Gamana dan Tirtha Gocara. Tirtha Yatra merupakan perjalanan suci dari tempat kediaman/rumah ke tempat suci untuk memohon air suci atau tirtha dari satu tempat suci ke tempat suci yang lainnya dan tanpa kembali lagi ke tempat kediaman semula. 

Sedangkan Tirtha Gamana adalah rentetan perjalanan suci ke tempat-tempat suci untuk mencari/memohon air suci/tirtha dan setelah memperoleh berbagai air suci/tirtha itu kembali lagi ke kediaman/rumah.

Lain halnya dengan Tirtha Gocara atau perjalanan suci yang dilakukan hanya ke satu tempat suci saja untuk melaksanakan pembersihan diri atas segala perbuatan salah yang pernah dilakukan dalam hidup. 

Dalam kitab suci Sarasamuscaya, menyebutkan bahwa perjalanan suci atau Tirtha Yatra/Tirtha Gamana/ Tirtha Gocara lebih utama dari pada beryadnya. Keutamaannya itu karena dapat dilakukan oleh semua umat yang paling miskin sekalipun. Kenapa demikian ? Karena dalam Sarasamucaya menyebutkan modal utama Tirtha Yatra/Tirtha Gamana/ Tirtha Gocara adalah  niat yang suci dan tulus ikhlas.

Memang, dalam hal perjalanan suci dilakukan sesuai dengan kemampuan kita sebagai umat manusia, semisalnya kita mampu untuk melakukan Tirtha Yatra/Tirtha Gamana/ Tirtha Gocara ke India, ke tempat-tempat suci yang jauh dari tempat tinggal (yang rantau di luar Bali, seperti Sumatera, mungkin akan bertirtha yatra ke Bali saja) itu pun lebih baik.

Inilah Hindu yang sebenarnya, tidak ada paksaan dalam hal melakukan perjalanan suci jauh diluar kemampuan umatnya. Bisa saja bertirtha yatra/Tirtha Gamana/ Tirtha Gocara di lingkungan sekitar tempat tinggal (desa), dengan mengunjungi orang suci, seperti pandita, mangku/pemangku, pinandita, dan orang suci lainnya yang ada di desa tersebut. Tidak perlu bertirtha yatra/Tirtha Gamana/ Tirtha Gocara seperti pergi wisata/jalan-jalan yang menghabiskan uang kita, itulah semuanya sesuai dengan kemampuan umat yang ingin melaksanakan Tirtha Yatra/Tirtha Gamana/ Tirtha Gocara.

Dalam perjalanan ketempat-tempat suci, kita tidak boleh memikirkan hal yang negatif seperti seks, menjelek-jelekan orang lain, dan hal lain yang berbau negatif. Ada baiknya kita dalam perjalanan suci terus menyebut nama Tuhan atau menyanyikan kidung-kidung suci atau mantra-mantra suci. Ini bertujuan agar pada saat kita bertirtha yatra/Tirtha Gamana/ Tirtha Gocara selalu memusatkan pikiran kepada Tuhan dan tidak memusatkan pikiran akan berwisata atau bersenang-senang.

Perjalanan suci yang dilakukan akan memberikan pahala sangat mulia, kalau disertai dengan melakukan Japa Dhyana, Upawasa dan Jagra.

Japa Dhyana artinya mengulang-ngulang nama Tuhan dengan menggunakan japamala atau rudraksa untuk memusatkan rohani (dyana) pada kesucian Tuhan.

Upawasa atau melakukan Brata dalam Tirtha Yatra/Tirtha Gamana/Tirtha Gocara sangatlah mulia. Dilaksanakan dengan benar-benar tidak makan dan minum sama sekali dan itu dilakukan dengan penuh hasrat dan ikhlas. Dalam hal tidak makan dan minum, itu dimaksudkan terbatas, misalnya hanya makan buah-buahan saja, atau hanya makan nasi putih saja, dan lainnya.

Jagra ialah berjaga-jaga. Maksudnya ketika kita bertirtha yatra/Tirtha Gamana/ Tirtha Gocara kita menjaga diri dari nafsu dan pikiran, perkataan, perbuatan yang tidak baik. Itulah ketiganya, Japa Dhyana, Upawasa, dan Jagra yang bisa dilakukan pada saat melaksanakan Tirtha Yatra/Tirtha Gamana/ Tirtha Gocara.

#tubaba@perjalan suci//mencari air suci#

Selasa, 21 Januari 2020

Siapa Bilang Hindu Itu Ribet ?

AGAMA HINDU TIDAK RIBET

Menjadi orang Hindu itu sangat mudah dan simple. Tidak ribet.
Mengapa dikatakan tidak ribet, berikut diantaranya alasannya.
Agama Hindu sangat fleksibel. Tidak ada kekakuan bahwa melaksanakan agama Hindu harus seperti ini dan harus seperti itu. Tidak ada kewajiban mutlak untuk berpuasa sekian hari; tidak ada kewajiban mutlak untuk sembahyang sekian kali sehari sampai meninggalkan pekerjaan; tidak ada ancaman hukuman neraka kalau kita tidak melakukan sesuatu; tidak ada ancaman neraka kalau kita makan daging hewan tertentu dan seterusnya.

Agama Hindu sangat bisa menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan. Agama Hindu ibaratnya air jernih yang mengalir, yang tanpa warna. Warna air kita lihat akan terantung dari warna tempat yang dilalui. Pelaksanaan agama Hindu bukan saja boleh di sesuaikan dengan kondisi local, melainkan harus di sesuaikan. Prinsip ini secara umum dikenal dengan Desa-Kala-Patra (menyesuaikan diri dengan tempat, waktu, dan kondisi objektif yang ada).

Agama Hindu mengajarkan untuk menghargai budaya lokal. Penganut agama Hindu dimanapun berada tidak harus sama dengan penganut di India. Budaya local harus dipertahankan dann dijadikan pembungkus atau kulit luar dari pelaksanaan Agama Hindu. Sebagai contoh, orang Hindu  dari etnis Jawa silakan menggunakan pakaian tradisional Jawa, Umat Hinndu di Kaharingan Kalimantan juga dipersilahkan menggunakan pakaian tradisional Dayak Kaharingan, tidak harus memakai sorban atau memakai Dotti seperti orang India.

Pelaksanaan upacara keagamaan di dalam agama Hindu juga sangat fleksibel. Ukurannya bisa di sesuaikan, waktunya bisa disesuaikan, tempat juga bisa menyesuaikan. Untuk ukuran upakara misalnya, sudah diberikan pedoman mulai dari yang paling kecil (Kanista), yang menengah (Madya), sampai yang paling mewah (Utama). Dan perlu ditegaskan bahwa Knista, Madya dan Utama bukanlah merupakkann indicator atau penentu kualitas sebuah upacara, melainkan hanya merupakan ukuran besar kecilnya serta kompleksitas upacara yang sedang dilakukan.
 Kanista artinya Inti, pokok, yang utama, bukan rendah atau hina. Upacara yang besar belum tentu berkualitas dbandingkan upacara yang kecil atau sederhana. Bahkan upacara yang besar bisa kualitasnya rendah, kalau pelaksanaanya sangat dipengaruhi oleh sifat Rajasika atau Tamasika, seperti keinginan pamer, adu gengsi, bersaing dengan orang lain. Ini tergolong Rajasika Yadnya, bukan Satwika Yadnya.

Namun demikian, tidak pula berarti bahwa yang sederhana atau kecil selalu berkualitas. Semuanya harus menyesuaikan , dalam keseimbangan antara berbagai komponen upacara-upakara yang  dilaksanakan.

 PRINSIP-PRINSIP DASAR

Kalau dikatakan bahwa agama Hindu sangat fleksibel, selalu menyesuaikan dengan agama local, tidak harus sama dengan India, yang menentukan seseorang itu bisa bisa disebut penganut atau beragama Hindu dan prinsip-prinsip dasar yang harus dianut oleh orang Hindu. Ada beberapa prinsip dasar yang harus diyakini dan/atau diikuti oleh setiap umat Hindu, seperti Panca-Sradha, Trihita Karana, Rwa Bhinneda dan seterusnya

Panca Srada.

Ajaran dasar Agama Hindu adalah kepercayaan atas 5 (limma) hal yang disebut Panca Srada :

1. Percaya dengan adanya Tuhan Yang Tunggal, Sumber segala sumber, Pencipta alam Semesta dan segala isinya, serta kemana alam semesta dan segala isinya akan menuju (praline).

2. Percaya dengan adanya roh yang menghidupi setiap makhluk hidup, dan roh ini bersifat kekal sebagai bagian dari percikan Brahman.

3. Percaya dengan Hukum sebab akibat yang berjalan secara otomatis bahwa perbuatan baik akan mendapatkan hasil yang baik, sebaliknya perbuatan yang buruk akan menghasilkan hal yang buruk.

4. Percaya dengan kelahiran yang berulang-ulang atau reinkarnasi sehingga agama Hindu tidak mempercayai adanya pengadilan terakhir. Setiap orang di adili sesuai dengan siklusnya masing-masing.

5. Percaya dengan adanya penyatuan kembali antara Atma dengan Brahman setelah melalui proses kelahiran berulang-ulang dengan perbuatan baik. Moksa adalah kedamaian abadi, kebahagiaan yang tidak bisa dipikirkan.

Jadi, tujuan umat Hindu adalah mendapatkan kebahagiaan abadi, bukan mengejar hal-hal yang sifatnya duniawi.

Sepanjang  seseorang memeprcayai dan meyakini kelima kepercayaan dasar tersebut, maka dia adaah penganut agama Hindu, walaupaun karena alas an praktis dan politis di KTP-nya tertulis bukan Hindu.

Trihita Karana

Trihita Karana mengajarkan bahwa hidup ini harus berkesinambungan. Kebahagiaan hanya bisa didapatkan hanya jika (dan hanya jika) kita menyeimbangkan berbagai aspek dalam kehidupan, seperti keseimbangan material-spritiual, duniawi-surgawi, social-individual, dan seterusnya, atau keseimbangan anatar manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan, dan manusia dengan Tuhan. Prinsip ini juga berarti bahwa tidak ada gunanya kita sembahyang puluhan kali dalam sehari, membina hubungan dengan Tuhan, kalau kita tidak bisa membina hubungan baik dengan sesame manusia.

Rwa Bhinneda

Rwa Bhinneda secara harfiah berarti dua kutub yang berbeda. Seperti hitam-putih,, baik-buruk, atas-bawah, kaya-miskin, laki-perempuan, dan seterusnya. Dengan prinsi Rwa Bhinneda ini kita diajarkan untuk menerima perbedaan, bahkan hal yang berlawannan sekalipun. Namun demikian, diajarkan bahwa kedua kutub yang berlawanan itu jangan dipertentangkan, melainkan harus diterima sebagai keniscayaan dan kita harus bisa menyeimbangkannkedua kutub itu. Kita bisa hidup dalam perbedaan, co-eksistensi.

Desa-Kala-Patra

Desa-Kala-Patra mengajarkan kita untuk selalu melakukan adaptasi dengan situasi kondisi dimana kita berada. Teori Darwin mengajarkan bahwa makhluk hidup yang bisa bertahan sepanjang zaman bukanlah makhluk yang paling besar, bukanlah yang paling kuat, dan bukan juga yang  larinya paling cepat. Mkahluk yangb bisa bertahan hidup sepanjang zaman adalah makhluk yang bisa beradptasi dengan lingkungan.

Desa, Kala, Tatwa, Iksa, Shakti

Mirip dengan Desa-Kala-Patra, prinsip ini juga mengajarkan bahwa di Hindu tidak ada yang sifatnya mutlak-mutlakan (selain Hyang widhi). Karena tidak mutlak, maka setiap melaksanakan sesuatu selalu menggunakanukuran-ukuran relative, yang bisa berbeda antara yang satu dengan yang lain yaitu :

Desa = daerah dimana kita tinggalKala = waktuTatwa = filosofi yang mendasariIksa = keyakinann diriShakti = kemampuan ekonomi.

Jadi apapun yang dilakukan, termasuk pelaksanaan upacara, harus memperhatikan kelima aspek tersebut.

Istadewata-Puja

Setiap orang Hindu diberikan kebebasan untuk memuja Tuhan melalui manifestasi-Nya yang sesuai dengann diriNya. Meskipun agama Hindu pada dasarnya monotheisme (mengakui Tuhan Yang Maha Esa) namun umat Hindu menyebutkan Tuhan dengan berbagai nama sesuai dengan fungsi (Bhineka Tunggal Ika Tanhana Dharma Mangrwa, Eka Narayana adityo asti Kascit, ekamsatwitprah Whuda Wadanti).

Karena Tuhan bersifat Acitya (tidak bisa dipikirkan), maka umat Hindu pun tidak bisa membayangkan Kebesaran Tuhan sehingga tidak bisa berkonsentrasi ketika memuja Tuhan. Oleh karena itu umat Hindu dibenarkan untuk memuja Tuhan dalam fungsi-fungsi Tuhan terkait dengan kehidupan manusia. Ketika Tuuhan menciptakann alam semesta beserta segala isinya, Tuhan disebut Brahma. Ketika Tuhan memelihara alam raya Tuhan disebut Wisnu. Ketika Tuhan menghancurkan atau mempralina alam semesta ini, Tuhan disebut Siwa. Ketika Tuhan menurunkan ilmu pengetahuan, disebut dewi Saraswati. Ketika tuhan memberikan kemakmuran atau kesejahteraan, disebut Dewi Laksmi. Ketika memberikan makanan, disebut dewi sri. Ketika mengatur perputaran tata surya, disebut Dewa Surya. Ketika menguasai pergerakan angin, disebut Dewa Bayu, Ketika mengatur ombak dan arus dilaut, disebut Dewa Baruna, dan seterusnya. Umat Hindu dipersilakan memuja Tuhan dalam berbagai manifestasi seperti disebut diatas.

Dari berbagai prinsip dasar tersebut, jelas terlihat bahwa beragama Hindu itu sangat mudah. Sangat fleksibel, bisa disesuaikan dengan lingkungan, bisa disesuaikan dengan budaya local, bisa disesuaikan dengan berbagai keadaan social yang ada, dan bisa disesuaikan dengan keadaaan diri atau kemampuan masing-masing umat.

#tubaba@magamahindubali//sidhasidhisadhu#

Senin, 20 Januari 2020

Pemersatu pesemetonan

Mimpi Berawal Dari Sosok Ida Sinuhun
Ida Sinuhunlah yang mempercayaimu, yang menarik, mendorong, membawamu ke dataran tinggi, kadang ia menusukmu dengan tombak tajam bernama Kebenaran.

Ida Sinuhun adalah sosok Nabe yang baik, beliau itu ibarat lilin – membakar diri beliau sendiri demi nanak-nanaknya/menerangi jalan orang lain.

Ida Sinuhun sebagai tokoh Pemersatu umat lebih-lebih pasemetonan yang berperan besar di dalam KEPASEKAN, memiliki peran penting dalam menentukan kualitas PASEMETONAN. Kualitas PASEMETONAN khususnya PASEK sebagai wajah masa depan MGPSSR ini berada di PUNDUKDAWA. Akan tetapi, hal itu bukan berarti bahwa tanggung jawab membentuk masa depan hanya berada di PENGURUS MGPSSR dan PENGEMPON PPACPRPLIMG.

Ida Sinuhun juga hanyalah manusia biasa, yang tidak luput dari kelemahan dan kesalahan ketika berada di depan orang yang nyapa kadi aku.

#tubaba@Ida Sinuhun berpesan hiduplah seperti sebuah lilin yang tidak terbakar tanpa api// manusia tidak dapat hidup tanpa kehidupan spiritual#

Minggu, 19 Januari 2020

Guru

Guru adalah pengajar yang mendidik. 
Oleh: I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S, M.Pd
Guru tidak hanya mengajar bidang studi yang sesuai dengan kemampuannya, tetapi juga menjadi pendidik pemuda generasi bangsanya. 

Guru yang mengajar siswa adalah seorang pribadi yang tumbuh menjadi penyandang profesi bidang studi tertentu. 
Sebagai seorang pribadi guru juga mengembangkan diri menjadi pribadi utuh. 
Sebagai seorang diri yang mengembangkan keutuhan pribadi, guru juga menghadapi masalah pengembangan diri, pemenuhan kebutuhan hidup sebagai manusia. 

Tugas utama seorang guru adalah membelajarkan siswa. Ini berarti bahwa bila guru bertindak mengajar, maka diharapkan siswa belajar. Namun adakalanya di dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah sering di temukannya masalah-masalah yang berkenaan dengan belajar yang dialami siswa tersebut. 

Masalah-masalah tersebut dipengaruhi oleh faktor internal (yang berasal dari dalam diri siswa) dan juga oleh faktor eksternal (yang berasal dari luar siswa itu sendiri).

Masalah-masalah yang dialami oleh siswa apa bila tidak segera diatasi tentunya akan menghambat proses belajar siswa dan akan berdampak pada pencapaian tujuan dari belajar tersebut. 

Siswa akan berhasil dalam proses belajar apabila siswa itu tidak mempunyai masalah yang dapat berpengaruh pada proses belajar nya. Jika terdapat siswa yang mempunyai masalah dan permasalahan siswa tersebut tidak segera ditemukan solusi nya. Siswa akan mengalami kegagalan atau kesulitan belajar yang dapat mengakibatkan rendah prestasinya /tidak lulus, minat belajar atau tidak dapat melanjutkan belajar. Karena salah satu tujuan siswa bersekolah adalah untuk mencapai prestasi belajar yang maksimal sesuai dengan kemampuannya. 

Tujuan pendidikan yang hendak dicapai pemerintah Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Keberhasilan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Pemerintah dan masyarakat menyediakan tempat untuk belajar yaitu sekolah. Untuk itu, sebagai seorang guru atau pun pendidik kita harus mengetahui kondisi siswa agar tercipta proses pembelajaran yang baik dan kondusif.

Adapun upayayang dilakukan oleh seorang guru dalam mengatasi siswa yang bermasalah dalam proses pembelajaran yaitu :
1). Melakukan pendekatan terhadap 
      siswa, 
2). Pencarian data tentang masalah yaitu 
      dengan berkomukasi dengan orang tua 
      siswa dan wali kelas, 
3).  Melakukan konsultasi secara pribadi.

Dengan diadakannya upaya seperti itu 
diharapkan bisa mengurangi masalah-masalah yang ada pada siswa.

Tatkala berbicara pendidikan, maka salah satu yang terbayang adalah murid. Para murid itulah yang akan dididik, diusahaan menjadi lebih pintar, lebih cerdas, lebih dewasa, lebih berkarakter, dan lebih siap menghadapi masa depannya. Atas dasar pikiran itu, maka seolah-olah para guru atau pendidik sendiri sudah tidak perlu dididik lagi. Mereka merasa sudah dewasa, dan sudah mampu mendidik orang lain.

Padahal, pendidikan itu seharusnya dijalani sepanjang hayat, seperti pupuh ginada berikut:

De ngaden awak bisa
Depang anake ngadanin
Geginane buka nyampat
Anak sai tumbuh luhu
Ilang luhu ebuk katah
Yadin ririh
Enu liu peplajahan

Arti dari geguritan diatas adalah sebuah petuah orang tua kepada anak agar tidak pernah merasa diri sudah pintar dan biarkan orang lain yang menilai. Walaupun sudah pintar sebenarnya masih banyak hal harus dipelajari. Ini merupakan filsafat dari tetua Bali yang berumur ratusan tahun namun masih relevan sampai saat ini.
Walaupun demikian banyak anak muda yang menentang pemikiran ini dengan alasan bahwa bila kita tidak pernah mengakui kita pintar maka akan kesulitan dalam hal mencari pekerjaan atau wawancara.

Sebagai makhluk yang terbatas, pelupa, memiliki ilmu tetapi sedikit dan terbatas, manusia dianjurkan untuk selalu belajar hingga tidak mengenal henti. 

Mendidik orang lain dirasakan tidak mudah, akan tetapi sebenarnya akan lebih sulit lagi adalah mendidik diri sendiri. Seorang guru berhasil mendidik orang lain, tetapi belum tentu sanggup dan berhasil tatkala harus mendidik dirinya sendiri. 

#tubaba@berusaha jadi pengajar yang mendidik#

Pura Kahyangan Dharma Smerti Linggih Ida Betara Sinuhun

Pura Kahyangan Dharma Smerti Linggih Ida Bhatara Sinuhun Pelopor Pura Panataran Agung Catur Parhyangan Ratu Pasek Linggih Ida Bhatara Mpu Gana di Pundukdawa 
Oleh: I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S, M.Pd

Pemilihan lokasi Pura Kahyangan Dharma Smrti yang berada di tengah-tengah (antara Bukit Pundukdawa/Pura Panataran Agung Catur Parhyangan dan Laut/Pantai Gowa Lawah) ini tak terlepas dari petuah para leluhur/tetua Bali yang memberikan wejangan cara hidup krama Bali yang menyatu dengan alam. Adanya bentuk pelinggih gedong dengan perwujudan Ida Sinuhun yang memegang sibuh/tempat tirtha sanjiwani dan tirtha amertha sebagai pelinggih pokok menunjukan perlunya menjaga kelestarian lingkungan hidup untuk menjaga kelangsungan kehidupan bahwa manusia adalah alam itu sendiri, manusia harus sejalan/seirama dengan alam, "HIDUP YANG MENGHIDUPI, URIP YANG MENGHURIPI". Hidup harus menghormati alam, alam ibarat orang tua, oleh karena itu hidup harus mengasihi alam. 

Wejangan dalam bentuk Bhisama ini tertuang dalam Lontar Batur Kalawasan sebagai berikut:
“Ling ta kita nanak akabehan, riwekasan, wenang ta kita pratyaksa ukir lan pasir, ukir pinaka wetuning kara, pasir angelebur sehananing mala, ri madya kita awangun kahuripan, mahyun ta kita maring relepaking telapak tangan, away kamaduk aprikosa dening prajapatih, yan kita tan eling, moga-moga kita tan amangguh rahayu, doh panganinum, cendek tuwuh,kageringan, lan masuduk maring padutan.”

Artinya:
Ingatlah pesanku, wahai anak-anakku sekalian, di kemudian hari jagalah kelestarian gunung dan laut, gunung adalah sumber kesucian, laut tempat menghilangkan kekotoran, di tengah “dataran” melaksanakan kegiatan kehidupan, hiduplah dari hasil tanganmu sendiri, jangan sekali-kali hidup senang dari merusak alam, kalau tidak mematuhi, kamu terkena kutuk. Tidak akan menemukan keselamatan, kekurangan bahan makanan dan minuman, terkena berbagai macam penyakit, dan bertengkar sesame saudara.

Dengan dibangunnya Pura Kahyangan Dharma Smerti dengan konsep KEMANUNGALANING SIWA KALAWAN BUDHA ini diyakini  akan mengantarkan pasemetonan pretisentana Panca Rsi-Sapta Rsi di Bali dan di Nusantara pada umumnya menuju era baru yang ditandai dengan tatanan kehidupan holistik yang meliputi tiga dimensi utama yakni, pertama, menjaga keseimbangan alam, krama (manusia) dan kebudayaan Bali (genuine Bali). Dimensi kedua, bisa memenuhi kebutuhan, harapan, dan aspirasi pasemetonan dalam berbagai aspek kehidupan. Dan, dimensi ketiga, merupakan manajemen risiko yakni memiliki kesiapan yang cukup dalam mengantisipasi munculnya permasalahan dan tantangan baru dalam tataran lokal, nasional, dan global yang akan berdampak secara positif maupun negatif.
#tubaba@lupakan yang dibelakang//tataplah yang didepan#