Kamis, 27 Februari 2020

WASUDEWA KHUTUM BHAKAM

WASUDEWA KHUTUM BHAKAM

Lontar-lontar pedoman seperti Widhisastra Saking Nithi Danghyang Dwijendra. Namun warga Pasek yang diperkenankan menjadi pandita, hal ini karena antara keluarga Danghyang Nirartha dan keluarga Pasek masih memiliki hubungan keluarga. Kalau dilihat lagi dari asal usulnya Danghyang Nirarta adalah putra dari Danghyang Smaranatha, Danghyang Smaranatha adalah putra Mpu Tantular, Mpu Tantular adalah putra Mpu Bahula dengan Dyah Ratnamanggali, sedangkan orang tua dari Mpu Bahula adalah Mpu Bharadah dari pihak ayah. Sedangkan dari pihak ibu, Mpu Bahula adalah keturunan Mpu Kuturan.

Baik Mpu Kuturan dan Mpu Bharadah adalah saudara dari Mpu Gnijaya yang tidak lain adalah leluhur para Warga Pasek, jadi dapat dikatakan mereka dalah sama-sama keturunan Bhatara Hyang Pasupati 

#tubaba@salam pasemetonan//aywa lupa asanak akadang tunggal kawitan#

Aedan Upacara ring Pura Dadia Pasek Gelgel Aan Truna Tua ring Pau

Om swastiastu 
Manut baos Ida Sinuhun Putri, titiang nunas mangda Ida Para Sulinggih, tegep sekadi dudonan puniki

Semeton makasami mangda ledang rauh sekadi aedan puniki, suksma

MEMBRAHMANA DI JALUR SULINGGIH

MEMBRAHMANA DI JALUR SULINGGIH

Bali menyaksikan pelurusan kasta melalui pemahaman Hindu. Semua orang lahir sebagai Sudra.

Oleh : I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S, M.Pd

Dalam Lontar Wrhaspati Tattwa dijelaskan: 
Paramasiwa kesadarannya mulai tersentuh oleh Maya; ketika itu ia mulai terpengaruh oleh sakti, guna, dan swabhawa yang merupakan hukum kemahakuasaan Ida Sanghyang Widhi Wasa. Dalam keadaan begini ia diberi gelar Sadasiwa. Ia memiliki kekuatan untuk memenuhi segala kehendaknya yang disimpulkan sebagai bunga teratai (padma) yang merupakan stana-Nya. Dengan sakti, guna, dan swabawa-Nya ia aktif dengan segala ciptaan-ciptaan-Nya, karena itu ia disebut Saguna Brahman. Dalam menciptakan manusia ia tidak membeda-bedakan derajat manusia.
Dalam agama Hindu, istilah Kasta dalam weda tidaklah dikenal, tetapi yang ada adalah Warna (Sanskerta: वर्ण; varṇa). Akar kata Warna berasal dari bahasa Sanskerta vrn yang berarti "memilih (sebuah kelompok)".


Catur Warna berarti empat pilihan hidup atau empat pembagian dalam kehidupan berdasarkan atas bakat (guna) dan ketrampilan (karma) seseorang, serta kwalitas kerja yang dimiliki sebagai akibat pendidikan, pengembangan bakat yang tumbuh dari dalam dirinya dan ditopang oleh ketangguhan mentalnya dalam menghadapi suatu pekerjaan. Empat golongan yang kemudian terkenal dengan istilah Catur Warna itu ialah: Brahmana, Ksatrya, Wesya, dan Sudra.
Caturwarnyam maya srishtam Guna karma wibhagasah, Tasya kartaram api mam Vidhdhy akartaram avyayam (Bhagavad-Gita IV.13)
Artinya :
Catur Warna adalah ciptaan-Ku menurut pembagian kwalitas kerja, Meskipun aku sebagai penciptanya, ketahuilah aku mengatasi gerak dan perubahan
Dalam ajaran agama Hindu, status seseorang didapat sesuai dengan pekerjaannya. Dalam konsep tersebut diuraikan bahwa meskipun seseorang lahir dalam keluarga Sudra ataupun Waisya, apabila ia menekuni bidang kerohanian sehingga menjadi pendeta, maka ia berhak menyandang status Brahmana (rohaniwan). Jadi, status seseorang tidak didapat semenjak dia lahir melainkan didapat setelah ia menekuni suatu profesi atau ahli dalam suatu bidang tertentu.
Dalam tradisi Hindu, Jika seseorang ahli dalam bidang kerohanian maka ia menyandang status Brāhmana. Jika seseorang ahli atau menekuni bidang administrasi pemerintahan ataupun menyandang gelar sebagai pegawai atau prajurit negara, maka ia menyandang status Ksatriya. Apabila seseorang ahli dalam perdagangan, pertanian, serta profesi lainnya yang berhubungan dengan niaga, uang dan harta benda, maka ia menyandang status Waisya. Apabila seseorang menekuni profesi sebagai pembantu dari ketiga status tersebut (Brahmana, Ksatriya, Waisya), maka ia menyandang gelar sebagai Sudra.

Di dalam Bhagawata Purana dan Smrti Sarasamuçcaya pasal 63 dengan tegas dijelaskan bahwa sebenarnya tidak ada suatu warna kalau tanpa dilihat dari segi perbuatannya. Dari perbuatan dan sifat- sifat seperti tenang, menguasai diri sendiri, berpengetahuan suci, tulus hati, tetap hati, teguh iman kepada Hyang Widhi, jujur adalah gambaran seseorang yang berwarna Brahmana. Tetapi orang yang gagah berani, termasyhur, suka memberi pengampunan, perlindungan maka mereka itulah yang disebut Ksatrya.

Purana Sukra Niti memberi keterangan bahwa keempat warna itu tidak ditentukan oleh kelahiran, misalnya dari keluarga Brahmana lalu lahir anak Brahmana juga, tetapi sifat dan perbuatan mereka itulah yang menentukan sehingga mereka menjadi demikian seperti adanya empat warna itu.

Di Dalam Wiracarita Maha Barata juga dijelaskan bahwa sifat- sifat Brahmana ialah: jujur, suka beramal/ berderma, pemaaf, pelindung, takwa, cenderung untuk melakukan pertapaan dan menjadi seorang pemimpin umat dalam melakukan persembahyangan. Dan dijelaskan pula bahwa kelahiran anak dari seorang Sudra yang dikatakan mempunyai sifat- sifat seperti tersebut di atas, mereka bukanlah Sudra tetapi mereka adalah Brahmana. Tetapi seorang keturunan Brahmana yang tidak mempunyai sifat- sifat seperti itu, maka ia sesungguhnya Sudra

Titik lemah yang menghitami agama Hindu adalah penyimpangan pengertian WARNA yang sebenarnya menurut kitab suci Weda menjadi Kasta (caste: keturunan).Sabda suci Tuhan menegaskan bahwa setiap profesi memiliki kedudukan yang sama dan mulia. apakah sebuah sekrup pada sebuah mesin dapat dibandingkan dengan sebuah busi? orang mungkin melihat busi itu sangat vital, tetapi bila sebuah sekrup yang menghubungkan ke aki tidak ada/tak berfungsi, mesin tidak dapat dinyalakan (hidup). demikian pula warna Sudra yang berprofesi sebagai pekerja. 
Pekerja/karyawan, siapapun dia, dari keluarga atau keturunan siapapun dia adalah seorang SUDRA. demikian juga dengan profesi lainnya.
semua profesi memiliki kedudukan yang sejajar, baik itu sudra, weisya, ksatria dan brahmana, sama-sama memiliki kedudukan mulia. Pengertian WARNA menurut pembawaan dan fungsinya dibagi menjadi empat berdasarkan kewajiban. Orang dapat mengabdi sebesar mungkin menurut pembawaannya. Disini ia dapat melaksanakan tugasnya dengan rasa cinta kasih dan keikhlasan sesuai dengan ajaran agama hindu.
Brahmanaksatriavisam Sudranam ca paramtapa, Svabhavaprabhavair gunaih (bhagawad-gita XVIII.41)
artinya:
Arjuna, tugas-tugas adalah terbagi menurut sifat, watak kelahirannya sebagaimana halnya brahmana, ksatriya, waisya dan juga sudra.
Pembagian kelas ini sebenarnya bukan terdapat pada hindu saja, tetapi sifatnya universal. Klasifikasinya tergantung pada tipe alam manusia, dari bakat kelahirannya. Masing-masing dari empat kelas ini mempunyai karakter tertentu. Ini tidak selalu ditentukan oleh keturunan. dalam bhagawadgita teori varna sangat luas dan mendalam. Khidupan manusia diuar, mewujudkan wataknya didalam. Setiap mahluk mempunyai watak kelahirannya (swabhawa) dan yang membuat efektif didalam kehidupannya adalah kewajibannya (swadharmanya).
berikut ini sloka suci tentang persamaan kedudukan catur warna tersebut.
rucam no dhehi brahmanesu, rucam rajasu nas krdhi, rucam visyesu sudresu mayi dhehi ruca rucam (Yayur Weda XVIII.48)
artinya:
ya Tuhan, bersedialah memberikan kemuliaan pada para brahmana, para ksatria, para weisya dan para sudra. semoga engkau melimpahkan kecemelangan yang tidak habis-habisnya kepada kami.
disloka lainnya terdapat penjelasan dari masing-masing profesi kemasyarakatan yang kemudian dikenal dengan pembagian catur warni ini,
brahmane brahmanam, ksatraya rajanyam, marudbhyo vaisyam, tapase sudram (Yayur Weda XXX.5)
artinya:
bramana diciptakan untuk pengetahuan, para ksatria untuk perlindungan, para weisya untuk perekonomian dan para sudra untuk pekerja jasmaniah.

sehingga dapat disimpulkan bahwa, Pembagian Catur Warna sebagai berikut:

Brahmana Warna, adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdian dalam swadharmanya di bidang kerohanian keagamaan serta memberikan pembelajaran tentang ilmu pengetahuan, contoh dari golongan ini adalah pandita, pinandita, guru, dosen dll lebih lengkap baca: Tugas dan Fungsi Brahmana
Ksatriya Warna, Disimbulkan dengan warna merah adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdian dalam swadharmanya di bidang kepemimpinan, keperwiraan dan pertahanan keamanan negara. Ksatriya merupakan golongan para bangsawan yang menekuni bidang pemerintahan atau administrasi negara. Ksatriya juga merupakan golongan para kesatria ataupun Orang-orang yang ahli dalam bidang militer dan mahir menggunakan senjata. Kewajiban golongan Ksatriya adalah melindungi golongan Brahmana, Waisya, dan Sudra. Apabila golongan Ksatriya melakukan kewajibannya dengan baik, maka mereka mendapat balas jasa secara tidak langsung dari golongan Brāhmana, Waisya, dan Sudra. contoh dari golongan ini adalah PNS, TNI, Polri, serta pejabat Negara, Perangkat Pemerintahan lainnya baik di tingkat kabupaten maupun tingkat Desa. Tugas dan Fungsi Ksatria
Waisya Warna, Disimbulkan dengan warna kuning adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdiannya di bidang kesejahteraan masyarakat (perekonomian, perindustrian, dan lain- lain). Waisya merupakan golongan para pedagang, petani, nelayan, pemilik lahan pertanian perkebunan, investor, pemilik usaha/perusahaan dan profesi lainnya yang termasuk bidang perniagaan atau pekerjaan yang menangani segala sesuatu yang bersifat material, seperti misalnya makanan, pakaian, harta benda, dan sebagainya. Kewajiban mereka adalah memenuhi kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan) golongan Brahmana, Ksatriya, dan Sudra. Tugas dan Fungsi Weisya
Sudra Warna, Disimbulkan dengan warna hitam adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdiannya di bidang ketenagakerjaan. Sudra merupakan golongan para pelayan yang membantu golongan Brāhmana, Kshatriya, dan Waisya agar pekerjaan mereka dapat terpenuhi. Dalam filsafat Hindu, tanpa adanya golongan Sudra, maka kewajiban ketiga kasta tidak dapat terwujud. Jadi dengan adanya golongan Sudra, maka ketiga kasta dapat melaksanakan kewajibannya secara seimbang dan saling memberikan kontribusi. contoh golongan sudra adalah karyawan, buruh, penggarap tanah dari golongan weisya, pembantu rumah tangga serta golongan lainnya yang mengabdikan diri atau bekerja dibawah perintah tiga golongan diatasnya. Tugas dan Fungsi Sudra
profesi ke empat warna diatas, semuanya merupakan bagian-bagian yang berasal dari Tuhan yang maha suci, seperti yang disebutkan dalam sloka berikut ini:
brahmano asya mukham asid, bahu rajayah krtah, uru tadasya yad vaisyah, padhyamsudro ajayata (Yayur Weda XXXI.11)
artinya:
brahmana adalah MulutNya, ksatria adalah lengan-lenganNya, weisya adalah paha perutNya dan sudra adalah kaki-kakiNya.
maksud dari mantra ini adalah menunjukan adanya anatomi (strata sosial) masyarakat berdasarkan profesi, dimana brahmana adalah mulut dan kepala, karena dalam menjalankan profesinya mereka banyak menggunakan daya pikir. Kesatrya sebagai tangan (pelaksana), maksudnya dalam menjalankan profesinya mereka banyak menggunakan ketrampilan. Wesya adalah perut dari masyarakat karena profesi mereka banyak berhubungan dengan pemenuhan kecukupan sandang – pangan – papan. sedangkan Sudra seakan-akan menjadi kaki masyarakat, karena profesi mereka membutuhkan kekuatan jasmani, mengikuti perintah-perintah tiga warna lainnya. singkatnya secara sederhana penduduk dunia ini digambarkan sebagai manusia kosmos. dalam susatra weda dengan tegas dinyatakan bahwa profesi masyarakat ini bukan atas dasar kelahiran, tetapi pilihan profesi yang dipilih oleh setiap individu manusia itu sendiri, atas dasar sifat atau kecenderungan bakat (guna) dan pekerjaan (karma) seseorang dalam masyarakat.

Keempat warna ini justru dibeda-bedakan fungsinya agar masyarakat dan dunia terlindung dari kehancuran. Ini menandakan fungsi-fungsi itu sama penting dalam memperoleh harkat dan martabatnya. Untuk menentukan warna seseorang bukanlah dilihat dari keturunannya tetapi benar-benar ditentukan oleh Guna dan Karma seseorang, hal ini ditegaskan lagi dalam Mahaharata XII, CCCXII. 108. sloka tersebut adalah sebagai berikut:
Nayonir napi samskara Nasrutam naca santatih Karanani dwijatwasya wrttam eva tukaranam.
artinya:
Bukan karena keturunan (yoni), bukan karena upacara semata, bukan pula karena mempelajari Veda semata, bukan karena jabatan yang menyebabkan seseorang disebut dwijati. Hanya karena perbuatannyalah seseorang dapat disebut Dwijati.
Sloka ini diambil dari Wana Parwa bagian dari Mahabhatara pada episode ketika Bima dibelit oleh Naga besar yang disebut Nagendra. Nagendra akan melepaskan Bima apabila Dharma Wangsa mampu menjawab semua pertanyaan dari raja naga tersebut. Salah satu dari sekian banyak pertanyaan adalah : siapa yang dapat disebut Dwijati?. sloka disebut diatas adalah jawaban dari Dharmawangsa.

Catur warna ini adalah suatu konsepsi kemasyarakatan hindu yang tidak dapat dilepaskan dari tujuan hidup catur purusartha dan tahapan hidup catur asrama. Untuk mendapatkan Dharma, Artha, Kama dan Moksha secara bertahap dalam catur Asrama membutuhkan keterpaduan antara sifat dan bakat yang dibawa lahir dengan pekerjaan yang didapatkan dalam menuntun kehidupan didunia ini. Demikianlah pula landasan etika yang wajib diwujudkan oleh setiap orang dalam melaksanakan profesinya. Jadi catur warna adalah suatu konsep hidup yang benar-benar serius dan sakral karena diwahyukan oleh Tuhan sebagai mana disebutkan dalam Bhagawadgita IV. 13 yang dikutip diatas.

Dalam zaman pembangunan dewasa ini adalah merupakan suatu kewajiban yang amat suci mengembalikan catur warna dalam pengertiannya yang benar dan dibersihkan dari lumpur kasta versi India dan sistem wangsa versi bali.

Catur warna adalah bhisama kitab suci, yang tidak membeda-bedakan hasrat dan martabat manusia. Catur warna benar-benar memberikan manusia jalan hidup untuk bekerja sesuai dengan sifat, bakat dan pembawaan yang dibawa sejak lahir. sloka lainnya yang menjelaskan tentang pentingnya catur warna diantaranya:
ise pinvasva; urje pinvasva, brahmane pinvasva, brahma dharaya, ksatram dharaya, visam dharaya (Yayur Weda XXXVIII.14)
artinya:
ya Tuhan, perkuatlah para brahmana, ksatria dan weisya, supaya mereka bisa menyediakan pengetahuan, kekuatan (keamanan) dan keberlimpahan pangan.
dalam sarasamussaya yang diterjemahkan dalam bahasa jawa kuno disebutkan bahwa, tri warna tersebut harus di dwijati dan sudra harus di ekajati, diberikan pengetahuan lebih agar negara menjadi aman sentosa, disamping itu ajaran ini tidak mengenal warna ke lima, seperti yang dikutip dalam sloka berikut ini:
brahmano ksatriyo waisyastrayo warna dwijatayah, caturrtha ekajatiyah sudro nastiha pancamah (sarasamuccaya 55)
arti dalam bahasa jawa kuno:
brahmana adining warna, tumut ksatriya, tumut waisya, ika sang warna tiga, kapwa dwijati sira, dwijati ngaraning ping rwa mangjanma, apan ri sedeng niran brahmacari gurukulawasi kinenan sira diksabrata sangskara, kaping rwaning janma nira tika, ri huwus nira krtasangskara, nahan matangnyan kapwa dwijati sira katiga. kunang ikang sudra kapating warna, ekajati sang kadi rasika, tan kadi kinenana brata sangaskara, tatan brahmacari, mangkana kandanikang warna an pat, ya ika catur warna ngarannya, tan hana kalimaning warna ngarannya.
artinya:
brahmana asal muasal dari warna itu, kemudian ksatria, kemudia weisya. itu ketiga warna, semuanya sama-sama dwijati. Dwijati artinya lahir dia kali, sebab waktu melaksanakan brahmacari mereka bertempat tinggal di rumah keluarga gurunya menerima sangaskara diksa brata, dua kali menginjak masa kelahiran setelah selesai menerima sangaskara. demikianlah sebabnya semuanya sama-sama dwijati ke tiga-tiganya. adapun yang disebut sudra, warna yang ke empat disebut ekajati, lahir satu kali, karena tidak memperoleh brata samskara itu, tidak melakukan brahmacari, demikianlah asal-muasal keempat golongan itu. itulah yang disebut catur warna, tidak ada yang dinamakan warna ke lima.
Keempat warna itu sifatnya universal. Dalam lingkaran jalinan kehidupan, mereka saling mengisi dan mencukupi kebutuhan bersama. Filosofi Warna seperti di atas yang ada dalam kitab-kitab suci Hindu, tidak ada hubungannya dengan “kasta”.

Kasta berasal dari bahasa Portugis “Caste” adalah struktur sosial yang berjenjang dalam tatanan feodalisme dimana untuk kepentingan status-quo telah menyimpangkan filosofi Warna.

Sejalan dengan kemajuan zaman, system Kasta makin memudar, karena tidak sesuai dengan azas-azas kemanusiaan.

Sistem Kerja Catur Warna
Caturwarna menekan seseorang agar melaksanakan kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Golongan Brahmana diwajibkan untuk memberi pengetahuan rohani kepada golongan Ksatriya, Waisya, dan Sudra. Golongan Ksatriya diwajibkan agar melindungi golongan Brahmana, Waisya, dan Sudra. Golongan Waisya diwajibkan untuk memenuhi kebutuhan material golongan Brahmana, Ksatriya, dan Sudra. Sedangkan golongan Sudra diwajibkan untuk membantu golongan Brahmana, Ksatriya, dan Waisya agar kewajiban mereka dapat dipenuhi dengan lebih baik.

Keempat golongan tersebut (Brahmana, Ksatriya, Waisya, Sudra) saling membantu dan saling memenuhi jika mereka mampu melaksanakan kewajibannya dengan baik. Dalam sistem Caturwarna, ketentuan mengenai hak tidak diuraikan karena hak diperoleh secara otomatis. Hak tidak akan dapat diperoleh apabila keempat golongan tidak dapat bekerja sama. Keempat golongan sangat dianjurkan untuk saling membantu agar mereka dapat memperoleh hak. Dalam sistem Caturwarna terjadi suatu siklus "memberi dan diberi" jika keempat golongan saling memenuhi kewajibannya.

Karena status seseorang tidak didapat semenjak lahir, maka statusnya dapat diubah. Hal tersebut terjadi jika seseorang tidak dapat melaksanakan kewajiban sebagaimana status yang disandangnya. Seseorang yang lahir dalam keluarga Brāhmana dapat menjadi seorang Sudra jika orang tersebut tidak memiliki wawasan rohani yang luas, dan juga tidak layak sebagai seorang pendeta. Begitu pula seseorang yang lahir dalam golongan Sudra dapat menjadi seorang Brāhmana karena memiliki pengetahuan luas di bidang kerohanian dan layak untuk menjadi seorang pendeta.

Rabu, 26 Februari 2020

PERBEDAAN DI PUNDUKDAWA ITU INDAH

PERBEDAAN DI PUNDUKDAWA ITU INDAH
Oleh: I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S, M.Pd
Kalau boleh keguyuban pasemetonan kita di Pundukdawa ini titiang ibaratkan bagaikan pensil-pensil warna alangkah indahnya keagungan singghasana beliau ini.

Perbedaan itu indah warna warni kehidupan pasemetonan itu ibaratkan warna warni pensil warna yang membuat indah sebuah lukisan karena  perpaduan dari macam-macam jenis warna. Coba kalau pasemetonan di Pundukdawa yang digagas oleh sanh pelopor sebagai tempat pemersatu warih pretisentana Panca Rsi - Sapta Rsi, hanya ada satu warna; kuning saja atau merah saja, atau biru saja, atau hijau saja, atau kah hitam saja, sungguh kehidupan seperti itu sangat hampa dan terasa hambar.

Warna pasemetonan yang tercipta berbeda di Pundukdawa karena kodrat mereka yang diciptakan untuk saling melengkapi, saling mengisi, berpadu selaras untuk menciptakan sebuah keindahan dan keserasian demi keagungan singghasana beliau.
Di dunia Tuhan menciptakan berbagai macam bentuk mahluk yang berbeda ada Manusia (yang katanya paling sempurna), hewan darat, hewan laut, hewan melata, hewan bersayap, hewan berkaki empat, hewan memama biak, tumbuhan, tumbuhan laut, dll banyak lagi yang lainnya. Semua itu diciptakan untuk saling melengkapi, saling menyempurnakan, saling berketerkaitan dan menciptakan keragaman dalam dunia.

Baru-baru ini, bukan baru mungkin heboh di medsos, lagi mencuat berita dalam selembar kertas mengenai kesepakatan sepihak.

Sungguh ironis kemana semboyan PASEK (PAmikukuh SEsananing Kawitan) yang selalu “Bhakti ring Kawitan, Eling ring Bhisama dan Guyub ring Pasemetonan” yang menjadi dasar Ida Bhatara Sinuhun (sang pelopor) membangun Pura Pundukdawa ini, tak malukah kita sebagai pretisentana beliau yang katanya beradab dan sangat menjunjung tinggi azaz pasemetonan bertindak berutal cuma karena adanya perbedaan keyakinan dan kepercayaan pada saudara tunggal kawitan.

Yang harus kita pahami adalah makna suatu perbedaan.
Menyikapi suatu perbedaan. Perbedaan itu kalau disikapi dengan POSITIF akan menghasilkan suatu keselarsan yang begitu indah dan lagi-lagi titiang mengibaratkan itu bagaikan warna warni pensil warna. Tapi bila disikapi dengan NEGATIF perbedaan itu begitu mudahnya menjadi awal malapetaka dan awal kehancuran pasemetonan sebab sudah jelas sejarah mencatat penistaan simbol-simbol Kepasekan kita di hina di Dasar Bhuwana Gelgel pernah terjadi, ini  semuanya diawali oleh cara mereka  yang menyikapi perbedaan secara negatif, kedua belah pihak yang memiliki perbedaan pola pikir berusaha keras untuk menyakinkan bahwa pemikiran merekalah yang paling benar, tidak mau menerima perbedaan yang berusaha menyakinkan bahwa apa yang mereka yakinilah yang paling benar merupakan ciri orang-orang JAHILIA (bodoh) yang  tidak mampu berpikir jenih untuk menyikapi perbedaan secara selaras dan saling mengisi untuk saling menyempurkan kekurang yang ada antara satu dan lainnya.

Sesungguhnya setiap manusia bukanlah mahluk yang sempurna. Setiap manusia diciptakan dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Oleh sebab itulah mengapa kita berbeda karena kita tidak diciptakan dengan kekurangan dan kelebihan yang sama. Mengapa kita tidak diciptakan sama karena Tuhan yang maha Esa menyukai keindahan sebab keindahan tercipta dari perpaduan antar perbedaan yang saling menyempurnakan “ibarat sebuah lukisan yang tercipta menjadi karya yang indah karena sang penciptanya menyukai perpaduan warna-warni warna yang dipadu untuk saling mengisi, menselaraskan dan menyempurnakan dengan sedikit sentuhan rasa seni semuanya menjadi Indah dan mewah sehingga membuat tertarik orang untuk menikmati dan memilikinya”. Demikian pulalah hendaknya dikagumi keguyuban pasemetonan kita di Pundukdawa.

So, mari mulai hari ini maknai perbedaan di Pundukdaea itu dengan POSITIV, jadikan perbedaan pasemetonan kita di Pundukdawa sebagai kekuatan untuk saling menyempurnakan sehingga pasemetonan kita semakin kuat, semakin erat dan kelak PASEK akan selalu SAWATRA JAYA MAHE karena perbedaannya yang beragam itu.

Buktikan bahwa “SLOGAN KEPASEKAN” itu masih ada..
Jayalah PASEK dengan perbedaannya.. !!!!!!! Jangan mau terpecah belah oleh konspirasi orang-orang yang tidak menyukai kedamaian yang terjalin indah di PUNDUKDAWAtercinta ini..

Kembali pada pensil-pensil warna tersebut, betapa indahnya warna-warna itu tercipta. Warna-warni gambar pensil tersebut tak lain tak bukan tercipta lewat sang pelopor yang begitu titiang sayangi karena lewat beliaulah rekam jejak keguyuban kehidupan pasemetonan kita dapat terdokumentasi dengan indah.

#tubaba@warna warni itu indah//griya agung bangkasa#

NIYASA RUPA Pura Dharma Smerti

Pembangunan Pura Dharma Smerti Ida Bhatata Sinuhun dalam wujud Patung adalah sebuah NIYASA RUPA untuk mengenang Sang Pelopor Pura Catur Parhyangan Linggih Ida Bhatara Kawitan Ring Pundukdawa serta Pendiri Paiketan Daksa Dharma Sadhu (PDDS) yang bersifat solidaritas lintas pasemetonan.
Titiang sebagai oka biologis menyadari keterbatasan dalam menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam hal ini tidak semua orang dalam suatu tingkat tertentu dapat mengungkapkan Beliau dalam bentuk abstraknya tanpa wujud nyata. Sehingga untuk mengarahkan pikiran menuju kebesaran Beliau dan memudahkan konsentrasi, maka diperlukan suatu bentuk tertentu (Nyasa Rupa). Dalam konsepsi Hindu, untuk menuju Ida Sang Hyang Widhi Wasa terdapat empat jalan sebagai usaha manusia untuk dapat memahami sifat-sifat dan keadaannya. Keempat jalan itu disebut dengan Catur Marga yaitu : Raja Yoga Marga (jalan melalui renungan batin), Jnana Marga (jalan melalui pengalaman ilmu pengetahuan), Karma Marga (jalan melalui pengorbanan, tingkah laku dan perbuatan), dan Bhakti Marga(jalan melalui sujud bhakti atau penyerahan diri).

Keempat jalan di atas memiliki cara-cara tersendiri dan tidak semua orang dapat menempuh semua jalan tersebut. Namun demikian, setiap orang boleh memilih jalan yang dianggap tepat dan dapat dilaksanakan sesuai dengan kemampuannya. Untuk mencapai tujuan hidup beragama, dalam agama Hindu banyak menggunakan simbol yang disebut dengan Nyasa Rupa. Dalam kamus Jawa Kuna – Indonesia disebutkan pengertian Nyasa adalah simpanan, titipan, jaminan, tanggungan, petaruh; sanyasambek nira gelenga : sebagai jaminan atau petaruh akan kemurahan hatinya. Senada dengan pengertian tersebut, Nyasa juga dikatakan berlaku sebagai, bersikap akan, sanyasa sebagai atau sebagai penggantinya, demikianlah jika, seperti, seakan-akan.

Sedangkan di dalam kitab Weda Parikrama dijelaskan bahwa Nyasayang banyak dipakai dalam agama Hindu adalah simbol dengan garis-garis tertentu yang disebut Yatra atau Rekha, perpaduan warna dan kembang, gambar-gambar tertentu dan Arca yang wujud dan bentuknya kadang-kadang seperti nyata yang semuanya merupakan sekala sarira (badan kasar). Huruf adalah badan kasar yang dapat dipakai sebagai Nyasa (Pudja, 1989 : 28).

Sesuai dengan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Nyasa adalah sifat-sifat Tuhan yang diwujudkan dalam bentuk patung, mantra, doa, stotra, lagu,  dan lain-lainnya yang merupakan ucapan, pikiran atau pernyataan apa yang terpikir dan ditujukan kepada Tuhan dengan penuh arti dan rahasia, sedangkan wujud benda-benda sebagai simbol dengan garis-garis tertentu yang disebut dengan Yatra atau Rekha, perpaduan warna-warna, kembang, gambar-gambar, huruf, dan arca/patung (gross body) yang bentuknya kadang-kadang seperti nyata. Semua yang disebutkan di atas pada akhirnya adalah merupakan aspek sunyata, dalam berbagai istilah dikenal dengan nama trancenden, niskala, nirguna, nirwikara. Yang artinya sama sebagai hakekat yang tidak dapat dikatakan, tidak bisa diucapkan, tidak bisa dinamakan dan tidak bisa digambarkan.

Sedangkan Rupa dalam kamus Bahasa Bali disebutkan pengertian dari Rupa itu mempunyai arti warni, goba yang dalam bahasa Indonesia berarti bentuk. Sedangkan dalam kamus kecil Sanskerta – Indonesia disebutkan Rupa adalah penampilan, bentuk, Rupaka: bersifat pelambang; Rupana : penandaan berupa pelambang (Tim, 1983 : 199). Dalam kitab Weda Parikrama dijelaskan hubungan antara mudra dan mantradalam teori Nyasa erat sekali, sebagaimana halnya antara nama dan rupa, suara (wak) dengan artha dan lain-lainnya. Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Rupa adalah bentuk, warna, penandaan yang berupa pelambang dan mempunyai hubungan erat dengan nama, sifat dan warni.

Pemberian nama atau gelar sifatnya lebih kongkrit apabila dibandingkan dengan penglihatan manusia dalam fantasi pikiran. Pengetahuan mengenai nama-nama berdasarkan kitab suci sebagai sabda Pramana (Agama Pramana) sedangkan pengetahuan nama-nama yang diperoleh secara bebas dapat disebut sebagai Pratyaksa Pramana dan Anumana Pramana. Dalam kaitan dengan hal tersebut, salah satu aspek untuk mempelajari ketuhanan adalah berusaha untuk mengenal atau mengetahui Tuhan berdasarkan sebuah nama, serta penggambaran tentang sifat dan hakekat-Nya.

Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa Patung Ida Bhatara Sinuhun merupakan sebuah Nyasa Rupa yang mampu mewujudkan sifat-sifat Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang dihayalkan manusia menurut fantasi manusia atau pikiran manusia, seolah-olah apa yang dipikirkan tersebut sesuai dengan aslinya. Kemudian sifat-sifat Ida Sang Hyang Widhi Wasa (murtinya) diwujudkan dalam bentuk Nyasa yang sifatnya abstrak, karena perwujudannya dalam bentuk mantra dan mudra sukar untuk diikuti dan dipahami oleh orang awam. Niyasa dibuat menjadi nyata atau direalisasikan ke dalam bentuk-bentuk Patung/Arca, huruf, aksara, Padmasana, Meru, dan alat-alat upacara. Di dalam pelaksanaannya, yadnya dan sarana-sarana seperti tersebut di atas disebut simbol.

Perwujudan Patung Ida Bhatara Sinuhun sebagai Nyasa Rupa adalah satu refleksi atau pantulan pemikiran yang dipergunakan sebagai pengganti, seakan-akan yang dimaksud adalah seperti yang sebenarnya. Perwujudan Patung Ida Bhatara Sinuhun sebagai Nyasa Rupa(simbol) sebagai syarat yang sangat penting karena merupakan sarana komunikasi antara penyampai dengan penerima atau antarkomunikator dengan yang diajak berkomunikasi. Dalam berkomunikasi dengan Ida Bhatara Kawitan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa, kadangkala manusia mengukur dirinya sendiri. Dengan menggunakan bahasa sehari-hari (saa) yang diketahui dan apabila sulit maka simbol/patung adalah sarana (sadhana) pengganti dalam berkomunikasi.

Apapun bentuk dan lambang yang digunakan dan yang tersirat didalamnya haruslah dipahami, sebab bentuk-bentuk dalam sthana dewata atau lambang/perwujudan Patung Ida Bhatara Sinuhun sebagai Nyasa Rupa itu sendiri bukanlah Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Semua bentuk-bentuk itu tidaklah lebih dari sarana pembantu untuk mengarahkan pikiran kepada Ida Bhatata Kawitan/Ida Sanghyang Widhi Wasa, bahkan segala perbuatan manusia sebenarnya merupakan simbol-simbol belaka. 

Di dalam bentuk perwujudan Patung Ida Bhatara Sinuhun sebagai  Nyasa Rupa inilah sifat-sifat Ida Bhatara Kawitan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang tidak terpikirkan itu dapat tercermin (Santhi, 1983 : 18). Penggambaran  perwujudan Patung Ida Bhatara Sinuhun sebagai dalam bentuk simbol (Nyasa Rupa) merupakan sumber inspirasi dari para bhakta yang ingin menggambarkan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam bentuk seni melalui imajinasi manusia. Melalui imajinasi inilah, maka tercipta bangunan-bangunan suci, lukisan-lukisan, rerajahan-rerajahan, patung-patung dalam bentuk-bentuk pratima, dan dari sastra terciptalah kakawin dan kidung yang dipakai dalam pelaksanan upacara agama.

Sesungguhnya Beliau ada di mana-mana dan untuk memuja-Nya, maka Beliau dibayangkan seakan-akan ada dalam suatu obyek tertentu. Beliau pada konsepsinya yang terakhir adalah tanpa bentuk. Tidaklah ada ketidakmungkinan yang mutlak dalam mengibaratkan bentuk-Nya yang beranekaragam demi kepentingan para penyembahnya.

#tubaba.griyangbang.mewujudkanpermintaan terakhir#

DULANG MANGAP

DULANG MANGAP
Diujung tujuh keris yang runcing
Setajam pedang siap menyayat
Pertaruhan nyawa menentang
Menggoyah jiwa semeton yang masih tidak mau dasar

Pahlawan berjuang hingga raib
Meraih kemenangan untuk kebebasan di Pundukdawa bersama DULANG MANGAP
Rasa gentar dan takut terlenyapkan
Usaha sampai terwujudnya singgasana beliu yang megah nan indah

Kemerdekaan telah membebaskan bekapan di Pundukdawa
Kini dapat bernapas tanpa sesak
DULANG MANGAP menjadi saksi
Siap siaga hingga merdeka semeton PASEK di Pundukdawa.

#tubaba.griyangbang#

Menjaga Perkataan adalah Cara Terbijak Untuk Menghidarkanmu dari Sebuah Kebencian.

Menjaga Perkataan adalah Cara Terbijak Untuk Menghidarkanmu dari Sebuah Kebencian.
(sebuah petuah Ida Bhatara Hyang Sinuhun)
Wasita nimitanta manemu laksmi, 
Wasita nimitanta pati kapangguh, 
Wasita nimitanta manemu duhka, 
Wasita nimitanta manemu mitra
(Nitisastra, Sargah V. bait 3).

Artinya : 
Karena berbicara engkau menemukan
kebahagiaan,
Karena berbicara engkau mendapat kematian, 
Karena berbicara engkau akan menemukan kesusahan, dan
Karena berbicara pula engkau mendapat sahabat.

“Mulutmu Harimaumu” ungkapan ini mengajak kita untuk berhati-hati dalam berbicara. Walaupun memiliki banyak fungsi untuk kebaikan, berbicara juga berpeluang menimbulkan kemudharatan. Berbicara bisa menguntungkan bagi orang lain, bisa juga merugikan jika kita salah berbicara, bukannya mendapat simpati, tapi malah mendapat caci maki. Banyak sudah pengalaman orang bahkan pejabat buplik yang berbicara kontroversi, dan akhirnya banyak yang tak simpati.

Untuk itu berbicara haruslah berhati-hati apabila kita merasa sebagai orang terdidik yang setiap hariannya berkecimpung dalam urusan pendidikan seperti sekolah, kuliah, dan pegawai sipil, jagalah ucapan-ucapan kita yang merupakan kualitas diri karena bisa jadi yang kita bicarakan dapat menyebabkan permusuhan, fitnah, adu domba dan lain sebagainya. 

Apa yang keluar dari bibirmu adalah hasil dari apa yang ada di kepalamu. Orang yang pandai tak akan pernah berkata tanpa berpikir terlebih dahulu.

#tubaba@sikap dan perbuatanmu akan menunjukan kualitas dirimu//eda ngaden awak bisa depang anake ngadanin#