Senin, 10 Mei 2021

DALAM PUPUH GINADA DALANG TANGSUB MENASEHATI

DALAM PUPUH GINADA DALANG TANGSUB MENASEHATI


"Ede ngaden awak bisa / depang anake ngadanin / gaginane buke nyampat / anak sai tumbuh luhu / hilang luhu bukke katah / wyadin ririh / enu liyu pelajahan."

"Janganlah kamu merasa bisa / biarkan orang lain menilai / pekerjaanmu seperti menyapu / setiap saat ada sampah / hilang sampah debu masih banyak / biarpun sudah pintar / masih banyak (ada pelajaran yang perlu dipelajari)."

Oleh sebagian orang Bali, lagu ini dituduh menjadi penyebab tersisihnya orang Bali dalam banyak bidang di panggung nasional. Mereka menuduh lagu ini telah menyuburkan rasa minder, rendah diri, tidak PD pada orang Bali, yang akhirnya menyebabkan orang-orang Bali tersisih dalam kompetisi nasional.

Tuduhan itu jelas salah besar. Karena hanya diambil dua baris saja, yaitu baris pertama dan kedua. "Ede ngaden awak bisa / depang anake ngadanin". Sedangkan baris sisanya, yang merupakan inti pesan dari lagu ini diabaikan. Para penuduh telah memperkosa secara semena-mena lagu yang indah dan penuh makna itu. Semestinya mereka meminta maaf kepada Dalang Tangsub.

Mendiang Dalang Tangsub (Pendiri desa Bongkasa di Griya Agung Bangkasa), yang merupakan pengarang gaguritan Basur, darimana lagu itu diambil, tentu merasa prihatin dan kasihan kepada para penuduhnya, yang telah melakukan vandalisme terhadap karya beliau. Sebab sesungguhnya beliau menyusun lagu ini untuk satu tujuan yang sangat mulia.

Lagu itu merupakan nasehat I Nyoman Karang dari Karangbuncing, salah satu tokoh utama dari gaguritan Basur. Dan kepada siapa nasehat itu diberikan? Inilah yang menarik: kepada dua anak gadisnya yang mulai beranjak dewasa, Ni Sukasti dan Ni Rijasa.

Inti nasihat itu adalah agar kedua anak gadisnya ini terus menuntut ilmu setinggi-tingginya. Dalang Tangsub (dari Griya Agung Bongkasa di Bongkasa) melalui tokohnya I Nyoman Karang, telah mengajarkan satu sikap yang sangat modern kepada orang Bali. Pada zamannya, zaman kerajaan Bali, mendiang telah menyuarakan pentingnya pendidikan setinggi-tingginya bagi wanita. Seandainya nasehat ini diikuti, orang Bali termasuk atau terutama para wanitanya, akan sangat maju di segala bidang.

Apakah karena kita salah menangkap makna lagu itu, maka sekarang prosentase buta huruf orang Hindu, yang mayoritas orang Bali, termasuk yang paling tinggi di Indonesia? Barangkali tidak sejauh itu. Tapi yang jelas buta huruf untuk kaum wanita juga paling tinggi. Kelihatan ada kecendrungan dari orang Hindu untuk menomor-duakan bahkan mengabaikan pendidikan anak-anaknya yang wanita. Bila ini benar, berarti pemikiran umat Hindu jauh tertinggal dari pemikiran Dalang Tangsub. Kalau ibunya buta huruf bagaimana mereka bisa menghasilkan anak-anak yang berkualitas? Jangan heran bila anak-anak mereka akan kalah dalam kompetisi. Lebih-lebih dewasa ini, kompetisi tidak lagi bersifat nasional, tetapi global.

Dalam tradisi Hindu, wanita dikatakan sebagai Sakti, yang tanpanya para Dewa tidak bisa melakukan apapun. Dalam Manawa Dharma Sastra, ada sloka yang mengatakan : "di dalam rumah tangga di mana wanita dihormati, maka di sana ada kebahagiaan, di sana para Dewa akan senang".

Lalu apa yang dapat kita lakukan sekarang untuk membuat wanita Hindu menjadi Sakti dan Santih? Menjalani nasehat Dalang Tangsub: memberikan mereka kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam segala bidang, terutama bidang pendidikan.

"Karena itu janganlah kita sampai tidak mempunyai ilmu pengetahuan. Siapkan diri dan kejarlah ilmu. Janganlah sampai terlibat pada perbuatan-perbuatan dosa. Karena orang yang rendah budi yang disebabkan karena tanpa ilmu, ia adalah merupakan musuh dirinya sendiri (Sarasamuscaya sloka 314)."

Setiap kehidupan yang berada didalam ruang dan waktu, sedikit maupun banyak, besar ataupun kecil pasti mengalami perubahan, yang tidak berubah itu hanyalah kata “perubahan” itu sendiri. 

Manusia yang tidak belajar tidak akan pernah berubah, Jika tidak berubah maka dia mati

Perubahan adalah suatu keniscayaan tapi tindakan untuk menyikapi perubahan itu adalah pilihan. 

Perubahan tanpa didukung proses pembelajaran yang terus-menerus adalah bualan. 

Belajar bukanlah suatu masalah atau hal yang dianggap sebagai beban hidup, pada dasarnya dengan belajar harapannya nilai, sikap, tingkah laku, kebiasaan, keterampilan, pengetahuan berubah kearah yang lebih baik.

OM Shanti, Shanti, Shanti Om

#tubaba@griyangbang//teguhwana bangkasa//bongkasa#

#tubaba@griyangbang//mlajahang angga//eda ngaden awak bisa//depang anake ngadanin#




Sabtu, 08 Mei 2021

FASE KEHIDUPAN SPIRITUAL

Fase Kehidupan Spiritual
(Pinandita Wiwa, Bhawati dan Sulinggih bagaikan Ulat, Kepongpong dan Kupu-Kupu)

Edisi kangen pada sosok yang paling saya kagumi, seorang ayah yang selalu menuntun diri saya.


Setiap makhluk pasti menjalani proses kehidupannya masing-masing. Kita sudah memiliki jalan hidup yang harus kita lalui. Setiap saat jadi waktu untuk terus berproses dan bermetamorfosis ke arah yang lebih baik. Tak jarang untuk menjadi sosok yang lebih baik, kita harus berkorban dan berjuang sendiri.

Bercermin dari proses metamorfosis ulat jadi kupu-kupu, ada arti kehidupan yang begitu indah yang bisa kita petik.

Siapapun di dunia pasti kenal dengan mahkluk ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang bernama kupu-kupu yang memiliki keindahan  dan kecantikan yang luar biasa.

Namun dibalik keindahan dan kecantikannya apakah kamu pernah merenung untuk melewati beberapa fase kehidupan untuk menjadi indah.

Sebagai simbol keindahan, awalnya  kupu-kupu berasal dari mahkluk yang menjijikan yang bernama ulat. Namun kupu-kupu berasal dari ulat.

Belajar dari rangkaian kehidupan kupu-kupu saya berharap mampu bermetamoforsis menjadi pribadi yang bahagia, disukai banyak orang, menebar kebajikan dan tentunya bebas melalang buana menapaki  setiap pilar kehidupan yang penuh warna 
* Segala yang kita lakukan hari ini akan berguna untuk masa depan

Sebelum membalut dirinya dalam kepompong ulat hanya makan, makan dan makan. Namun itulah tahap kesendirian dan kesunyian dalam balutan kepompong nanti.

Untuk hidup pun kita harus melakukan sesuatu yang bermanfaat di hari ini, untuk manfaat yang lebih bermanfaat yang lebih besar di masa yang akan datang. Pengalaman, ilmu dan pencapaian-pencapain kecil yang kita lakukan dan diperoleh hari ini adalah bekal yang cukup untuk menjalani fase kehidupan kita di masa yang akan datang.

* Kesunyian akan membentuk kepribadian yang matang

Tahapan kepompong yang dilalui kupu-kupu mengajarkan kita bagaimana melakukan internalisasi dalam hidup, yaitu proses perenungan diri untuk mensyukuri makna hidup yang sebenarnya dengan perlahan-lahan melakukan persiapan.

Larva dalam kepompong berada dalam kesunyian, menggantung di dahan atau dedaunan. Ia tak peduli walau panas terik menyengat serta dingin malam menusuknya. Ia tetap kokoh untuk berubah menjadi diri yang baru, diri yang penuh pesona, indah memukau dengan sayap barunya dan tubuh yang cantik.

Dalam hidup pun kita harusnya mampu meniru ketenangan sang kepompong. Meski lingkungan yang kita tempati kadang keras dan kejam, namun jika kita tetap fokus pada tujuan dan berpegang teguh pada prinsip hidup kita, maka pada akhirnya kita akan keluar dari lingkungan itu sebagai pribadi yang dihargai dan disukai banyak orang.


* Jika Tak Ada Yang Berubah Maka Takkan Ada Perubahan

Filosofi paling sakral dari kupu-kupu adalah perubahan yang dikenal dengan sebutan metamorfosis. Berawal dari seekor ulat kemudian menjadikan dirinya berada dalam kesunyian (kepompong), hingga akhirnya menjadi kupu-kupu. Tahapan-tahapan ini harus dilalui tanpa satupun yang dilewati. Ulat tidak akan menjadi kupu-kupu tanpa menjadi kepompong terlebih dahulu. Sama halnya dengan kelahiran manusia, manusia semuanya lahir awalnya sebagai walaka, walaka/pinandita wiwa tidak akan menjadi brahmana/sulinggih tanpa menjadi bhawati.

Terkadang dalam hidup kita mengharapkan keberhasilan atau pencapaian yang besar dengan jalan pintas atau cara yang instan. Memang kemudian banyak yang berhasil dengan cara-cara singkat semacam itu, namun percayalah keberhasilan yang diperoleh dengan cara instan akan berakhir dengan instan pula. 

Untuk berubah menjadi kupu-kupu indah dengan sayap yang kuat dibutuhkan perjuangan yang tidaklah mudah. Karena perjuangan adalah sesuatu yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Ida Sang Hyang Widhi Wasa membiarkan kita hidup tanpa hambatan perjuangan, itu mungkin justru akan melumpuhkan kita. kita mungkin tidak sekuat yang semestinya yang dibutuhkan untuk menopang cita-cita dan harapan yang kita mintakan.

Beranilah untuk berubah, bulatkan tekad untuk berjuang, jangan mengharapkan jalan pintas, karena kepintasan dan ketergesa-gesaan hanya akan membuat kita menjadi manusia-manusia prematur.  Untuk menjadi diri kita yang sesungguhnya niatkan untuk berubah dan terus menjadi lebih baik seperti kupu-kupu yang menghiasi alam dan menjadi teladan bagi kita manusia, yakin bahwa selalu ada makna dan keindahan dalam setiap moment hidup yang kita lalui.

Saat ini titiang sedang merintis sesuatu. Mungkin titiang sedang berjuang seorang diri. Titiang sedang berada di titik kritis di mana titiang hanya bisa mengandalkan diri titiang sendiri. Titiang tak lagi bisa bergantung pada orang lain. Segala sesuatunya harus titiang tangani seorang diri. Apapun yang sedang titiang perjuangkan saat ini, jangan berhenti atau menyerah sebelum titiang benar-benar sampai di garis akhir. Sebelum jadi kupu-kupu cantik, titiang harus rela jadi ulat dan kepompong dalam waktu yang tidaklah singkat.

Anggaplah saat ini titiang sedang berada di fase transisi, seperti larva yang sedang berproses membentuk kepompong. Di fase kepompong ini, titiang benar-benar harus bisa berjuang dan bertahan. Untuk menjadi sosok yang lebih baik dan indah, titiang harus menjalani proses sebagai kepompong. Fase kepompong ini bisa berlangsung dengan waktu yang bervariasi. Bisa dalam hitungan minggu, bulan, bahkan sampai tahunan. Di fase ini, titiang sedang dipersiapkan untuk sebuah perubahan besar-besaran. Sel-sel larva mulai berubah membentuk sayap, kaki, mata, dan bagian tubuh lainnya. Jangan kira energi yang dibutuhkan sedikit, energi untuk bisa berubah sempurna sangatlah besar. Dan, titiang tak punya pilihan lain selain bertahan dan berjuang.

Sebelum jadi kupu-kupu cantik dan indah, titiang seringkali harus mengalami berbagai hal tak menyenangkan. Titiang harus melalui fase perubahan dan metamorfosis yang tidaklah mudah. Tapi semua itu tetap harus titiang jalani demi bisa jadi sosok yang lebih baik.

Jika saat ini hidup titiang terasa begitu berat, anggaplah saat ini titiang sedang dalam fase kepompong. Titiang kerahkan m semua tenaga dan energi yang tiang punya. Bertahan dan terus berjuang. Nanti jika saatnya sudah sempurna, titiang pasti bisa terbang bebas lepas ke angkasa luas.

PT BALI AGRO NUSANTARA JAYA

PT BANJ Tumbuh Bersama Gabungan Kelompok Pertanian dan Peternakan

Visi dan Misi PT BANJ

VISI
Menjadi lembaga yang mandiri, sehat dan kuat, untuk meningkatkan kualitas usaha anggotanya sehingga mampu berperan sebagai wadah pemberdayaan dan meningkatkan kemakmuran masyarakat khususnya masyarakat sektor pertanian dan peternakan

MISI 
  1. Gerakan pembebasan anggota dan masyarakat dari belenggu rentenir, jerat kemiskinan dan ekonomi ribawi  
  2. Gerakan pemberdayaan, meningkatkan kapasitas dalam bidang ekonomi riil dan kelembagaannya menuju tatanan perekonomian yang makmur dan maju 
  3. Gerakan keadilan, membangun struktur masyarakat madani yang adil berkemakmuran berkemajuan berdasarkan kejujuran, disiplin, dan selalu bersyukur atas anugrah Tuhan Hyang Maha Esa. 

Jro Mangku Gde I Wayan Dana Adnyana menjelaskan,selain berfungsi sebagai pembeli hasil panen, kehadiran PT BANJ pun diharapkan mampu menjadi pioner kelembagaan keuangan mikro di pedesaan.

Pioner di sini, lanjut Jro Mangku Gde I Wayan Dana Adnyana, artinya sudah mencakup penyediaan sarana produksi pertanian seperti benih, pupuk dan pestisida serta pembeli hasil panen. 

Di tempat yang lain Guru Made Suastana sebagai Direktur PT BANJ menambahkan, lembaga ini diharapkan mampu memberikan kredit lunak kepada petani melalui kerjasama dengan lembaga perbankan untuk melakukan budidaya dan pembayarannya setelah panen

Dalam kesempatannya, Guru Made Suastana kemudian menuturkan langkah-langkah yang dilakukan untuk menjadikan PT BANJ sebagai pioner kelembagaan keuangan. Pertama menghubungkan petani ke bank-bank pemerintah melalui sosialisasi agar mereka mau menggunakan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang bunganya sangat rendah, yakni enam persen per tahun.

Di sini PT BANJ berharap pinjaman KUR tersebut bisa digunakan oleh petani untuk budidaya pertanian dalam arti luas, seperti tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan, serta usaha lainnya.

Kemudian, lanjut Jro Mangku Gde I Wayan Dana Adnyana, melakukan pendampinagan dan pembinaan agar petani lain ikut membentuk kelompok yang berbadan hukum sejenis dalam rangka penguatan modal kelompok untuk usaha pertanian.

PT BANJ ini memiliki dasar hukum yang kuat. Hal ini pun merupakan bantuan pemerintah yang ditujukan kepada kelompok tani (poktan) atau gapoktan dan peternakan. 

NB:

Utk Porang petani Porang Al :

- FC KTP, suami /istri dan KK serta akte nikah/SK nikah dari desa

- FC sertifikat lahan, pipil/spt. Wajib dilampiri SK pemilik lahan atau sebagai pewarisnya degan luas min 40-50 are/ orang

- yang kontrak lahan lengkap seperti perjajian kontrak dengan legalitas lahan yang dikontrak

- legalitas klompok (akte notaris) 

- dibuat masing rangkap 2 dengan map hijau muda diteruskan ke pendamping lapangan

- setiap KUR yg diajukan  tetap diparaf oleh pendamping lap, Koordinator pendamping kabupaten lalu ke pendamping wilayah


Utk ternak babi/sapi Al :

- FC KTP suami istri, KK, akte nikah/SK nikah dari desa

- SK usaha babi/ sapi dari desa

- No. Hp. Peminjam

- FC legalitas klompok/ akte notaris

- Poto kandang

- siap kandang untuk 10 ekor babi dan penggemukan  5 ekor babi sedangkan sapi siapkan kandang untuk 3 ekor

- dibuat rangkap 2 dengan map biru muda

- setiap KUR yg diajukan diparaf pedamping lapangan, Koordinator pedamping kabupaten serta pendamping wilayah

- untuk para calon peserta KUR ternak diperlukan surat nikah/akte nikah sbg perlengkapan.



#tubaba@griyangbang#

Senin, 03 Mei 2021

JANGAN REMEHKAN ANAK KECIL

Belum apa-apa sudah merasa berkuasa. Belum apa-apa mengerdilkan orang lain. Manusia arogan. Dan besar hanya di pikiran. Tapi kecil di eksekusi. Ibarat “ikan besar di kolam kecil”. Rencana segudang tapi gak satupun terealisasi.


Jangan meremehkan orang lain, itulah akhlak yang penting di era sekarang. Karena biasanya, orang yang meremehkan orang lain. Hanya bisa mengintip aktivitas orang lain. Jadi, dia sendiri tetap jalan di tempat. Sementara si orang lain terus melangkah dan berkarya.

Meremehkan orang lain, itu hanya perbuatan orang-orang yang berdiam diri. Tidak melakukan apapun. Namun pikirannya negatif, seperti korek api.


Kita sering lupa. Satu pohon itu bisa dipakai untuk membuat jutaan batang korek api. Tapi satu batang korek api juga dapat membakar jutaan pohon. Maka wajar, satu pikiran negatif juga terlalu mudah untuk membakar jutaan pikiran positif yang kita punya.

Semua manusia sepakat, korek api itu punya kepala tapi gak punya otak. Maka tiap kali ada gesekan kecil, sang korek api mudah terbakar, lalu membakar. 

Orang-orang yang terburu-buru memvonis, menghujat, dan meremehkan orang lain. Persis, seperti “ikan besar di kolam kecil”. Merasa mampu padahal tidak mampu.



Jangan remehkan siapapun

Kita dan manusia lain kan punya kepala, punya otak, juga punya akal sehat.

Terus kalau cuma karena gesekan kecil, karena beda pendapat bahkan beda pilihan. Kenapa harus terbakar? 

Kenapa harus marah dan mencaci maki? Sulit menerima realitas. Atau karena mimpi-mimpi kita yang sulit tercapai?

Jangan meremehkan orang lain. Kadang, burung itu hidup karena makan semut. Tapi sebaliknya, saat burung mati, maka semut yang makan burung. Maka, jangan remehkan siapapun.

Ketahuilah....Kala tattwa (kebenaran akan sang waktu), waktu itu terus berputar. Zaman pun terus bergerak. Bahkan siklus kehidupan tiap orang akan terus berputar. Dari ada hingga tiada, dari tiada menjadi ada. Itulah hukum RTA / alam. Tidak ada yang statis, apalagi berhenti. Semua berputar sesuai takdir-Nya, sesuai kehendak-Nya.

Jadi, jangan remehkan siapapun. Jangan merendahkan siapapun dalam hidup. Bukan karena siapa mereka, tapi karena siapa diri kita?

Kita memang boleh berkuasa, atau merasa berkuasa. Tapi waktu sungguh lebih berkuasa daripada kita. Waktu kita sakit, kita baru tahu bahwa sehat itu sangat penting jauh melebihi harta. Waktu kita tua, kita baru tahu bahwa muda itu sangat penting karena masih banyak yang belum dikerjakan.

Dan, setelah di ambang ajal, kita pun baru tahu ternyata begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia. Hidup itu nggak lama. Jadi nggak usah remehkan siapa pun. Gak usah banyak mengeluh apalagi menghujat. Untuk apa mengurusi orang lain bila lebih baik mengurusi diri sendiri. Bukankah “dunia elo ya dunia elo, dunia gue ya dunia gue..."


Jangan remehkan siapa pun. Itu hanya pesan moral. Bahwa sudah saatnya, siapa pun, membuat hidup lebih berharga. Saling menghargai, saling menghormati. Bila perlu saling membantu dan memberi, saling mendukung satu sama lainnya.

Hidup memang tidak sederhana. Tapi menjalani hidup bisa dilakukan dengan sederhana.

Maka jangan meremehkan siapapun. Karena sama sekali tidak ada orang hebat dengan cara meremehkan orang lain. Dan belum tentu orang yang diremehkan lebih buruk dari yang meremehkan.


#tubaba@griyangbang//Jadilah yang terhebat//tapi jangan pernah meremehkan yang terlemah sekalipun#

#salamdaribaliuntuknusantara//BANJ# #literasikehidupan#


Senin, 26 April 2021

Brahmana Purana

Brahmana Purana
Om Swastiastu
Om Awignamastu namo siddham

Bumi berputar tanpa pernah berhenti sepanjang Djaman, saatnya renkarnasi Brahmana Mpu Muncul kembali ditandai dengan menjamurnya Warga Masyarakat Bali membangun kembali Brahmana-brahmana yang bergelar Mpu. dan Pandita Mpu. Sesuai dengan Prasasty yang ada, bahwa Mpu adalah Brahmana Jati bukan Brahmana Sudra Wangsa. (Sulinggih Jaba) tak perlu ragu diberikan kepercayaan untuk memuput/ngajengin Upacara - Upacara Keagamaan Hindu (Panca Yadnya ) siapapun Warga Masyarakat Umat Hindu umumnya di P Bali. lebih jelas diuraikan secara gamblang didalam uaraian Prasasty dibawah ini, untuk menghindari terjadinya perpecahan antara sesama saudara sekandungan sekawitan, dan demi mejaga keutuhan NKRI ada baiknya kita pahami Cerita dibawah ini

Om Santih,Santih,Santih.
Sesuai dengan cerita dari Historycal ADIPATI I (DALEM KETUT KRESNA KEPAKISAN ) dibawah ini dicertakan bahwa, ANAK AGUNG ( DALEM KRESNA KEPAKISAN ) yang selanjutnya menurunkan (melahirkan ) yang bernama PRADEWA. dan Belaiu DALEM KRESNA KEPAKISAN (ANAG AGUNG) DWAGUNG/ DEWA AGUNG  adalah seorang Brahmana yang bergelar MPU KRESNA KEPAKISAN yang diangkat menjadi ADIPATI BALI I kemudian diberi Gelar DALEM SRI KRESNA KEPAKISAN.

ADIPATI BALI I
DALEM KETUT SRI KRESNA KEPAKISAN

A.Silsilah Keturanan Sri Kresna Kepakisan
Sesuai sumber yang ada http://sejarah-puri-pemecutan.blogspot.com/2010/01/dalem-ketut-sri-kresna-kepakisan.html

Dasar Bhuwana distanakan Raja (Dalem) pertama di Bali.
"Kepakisan" asal katanya "Pakis" berarti Paku. Gelar Kepakisan diberikan kepada Brahmana yang ditugasi sebagai Raja (Dalem) atau Kesatria. Gelar Kepakisan yang diberikan kepada Kesatria adalah: Sira-Arya Kepakisan. Beliau adalah keturunan Sri Jayasabha, berasal dari keturunan Maha Raja AirlanggaRaja Kahuripan (Jawa). Gelar "Paku" di Jawa pertama kali digunakan oleh Susuhunan Kartasura: Paku Buwono I pada tahun 1706 M.

diceritakan Mpu Wira Dharma berputra tiga orang yaitu: Mpu LampitaMpu AdnyanaMpu Pastika. Selanjutnya Mpu Pastika berputra dua orang yaitu: Mpu Kuturan berasrama di Lemah Tulis dan Mpu Beradah pergi ke Daha serta menjadi pendeta kerajaan (bhagawanta) dari Raja Airlangga dan dikaitkan dengan cerita Calonarang yang amat terkenal di Bali. Kemudian Mpu Beradah berputra seorang yang bernama Mpu Bahula yang kemudian kawin dengan Ratnamanggali. Dari perkawinan ini lahirlah beberapa putra: Mpu PanawasikanMpu AsmaranathaMpu Kepakisan dan Mpu Sidimantra. Akhirnya Mpu Panawasikan berputra: Mpu AngsokaMpu NirarthaMpu Kepakisan yang berputra empat orang yaitu: tiga putra dan seorang putri. Putra yang bungsu Mpu Kresna Kepakisan diangkat menjadi raja di Bali.

Dengan demikian Sri Kresna Kepakisan yang menjadi Raja di Bali adalah dari keturunan Brahmana yang kebangsawanannya diubah menjadi kesatrya atau dari Danghyang/ Mpu menjadi Sri.

B. Pengangkatan Dinasti Sri Kresna Kepakisan
Dalem Ketut kemudian bergelar Dalem Sri Kresna Kepakisan, mulai memimpin Pemerintahan Kerajaan Bali Dwipa pada tahun 1350 M atau 1272 isaka. Oleh penduduk Bali beliau disebut sebagai I Dewa Wawu Rawuh atau Dalem Tegal Besung. Dalam Perjalanannya dari Majapahit ke Pulau Bali rombongan dari majapahit mendarat di pantai Lebih, kemudian ke arah timur laut menuju Samprangan

Dalam pemerintahannya Dalem Sri Kresna Kepakisan didampingi oleh Arya Kepakisan/ Sri Nararya Kresna Kepakisan yang menjabat sebagai Patih Agung berasal dari Dinasti Warmadewa yang merupakan keturunan Raja atau Kesatrya Kediri. Sehingga baik Adipati maupun Patih Agungnya berasal dari satu desa yaitu desa Pakis di Jawa Timur sehingga setibanya beliau di Bali menggunakan nama yang hamper sama yaitu Adipatinya bergelar Dalem Ketut Kresna Kepakisan sedangkan patih agungnya bergelar Arya Kepakisan atau Sri Nararya Kresna Kepakisan

Dalam pemerintahannya dalem didampingi oleh Ki Patih Wulung yang menjabat sebagai Mangku Bumi. Ibu kota Kerajaan dipindahkan dari Gelgel ke Samprangan (Samplangan). Dipilihnya Daerah Samprangan karena ketika ekspedisi Gajah Mada, desa Samprangan mempunyai arti historis, yaitu sebagai perkemahan Gajah Mada serta tempat mengatur strategi untuk menyerang kerajaan Bedahulu. Dalam kenyataan menunjukkan bahwa jarak desa Bedahulu ke Samprangan hanya kurang lebih 5 km.

Dari Babad Dalem diketahui bahwa dalam menjalankan pemerintahan sebagai wakil dari Majapahit di Pulau Bali Dalem Sri Kresna Kepakisan dibekali dengan pakaian kebesaran kerajaan dan sebilah keris yang bernama Si Ganja Dungkul yang memberikan konsep kebudayaan yang memadukan kebudayaan Jawa dengan Bali, dan tanda-tanda kebesaran itu berfungsi sebagai symbol atau lambang kekuasaan yang sah.

Dalem Sri Kresna Kepakisan beristri dua, yaitu yang pertama:
Ni Gusti Ayu Gajah Para, merupakan putri dari Arya Gajah para melahirkan:
1. Dalem Wayan (Dalem Samprangan)
2. Dalem Di-Madia (Dalem Tarukan)
3. Dewa Ayu Wana (putri, meninggal ketika masih anak-anak)
4. Dalem Ketut (Dalem Ketut Ngulesir). I

Dari Istri yang kedua: Ni Gusti Ayu Kuta Waringin merupakan putri dari Arya Kutawaringin , melahirkan:
1. Dewa Tegal Besung.

C. Sistem Pemerintahan
Masa pemerintahan Sri Kresna Kepakisan di Bali merupakan awal terbentuknya dinasti baru yaitu dinasti Kresna Kepakisan yang kemudian berkuasa di Bali sampai awal abad ke-20 (1908). Beliau membawa pengaruh-pengaruh baru dari Majapahit termasuk para bangsawan. Bangsawan baru ini merupakan kelompok elite yang menempati status dan peranan penting atas struktur pelapisan masyarakat Bali. Hal ini sekaligus menggeser kedudukan dan peranan bangsawan dari kerajaan Bali Kuno.

Semasa pemerintahan Sri kresna Kepakisan di Samprangan diwarnai dengan pemberontakan-pemberontakan di desa-desa Bali Aga seperti: desa Batur, Cempaga, Songan, Kedisan, Abang, Pinggan, Munting, Manikliyu, Bonyoh, Katung, Taro, Bayan, Tista, Margatiga, Bwahan, Bulakan, Merita, Wasudawa, Bantas, Pedahan, Belong, Paselatan, Kadampal dan beberapa desa yang lain. Atas peristiwa pemberontakan yang terus-menerus Dalem merasa putus asa dan mengirim utusan ke Majapahit, melaporkan bahwa Dalem tidak mampu mengatasi situasi di Bali. Untuk memecahkan persoalan ini, Gajah Mada memberikan nasehat kepada Kresna Kepakisan, serta simbul-simbul kekuasaan dalam bentuk pakaian kebesaran dan keris pusaka Ki Lobar disamping keris yang bernama Si Tanda Langlang yang terlebih dahulu belia bawa.

D. Sistem Kepemimpinan
Raja yang dianggap sebagai penjelmaan dewa di dunia, memegang otoritas politik tertinggi dan menduduki puncak hierarki kerajaan. Dalam melaksanakan pemerintahan, raja dibantu sejumlah pejabat birokrasi. Para putra dan kerabat dekat raja diberi kedudukan tinggi dalam jabatan birokrasi. Para putra mahkota sebelum menjadi raja biasanya mereka diberi kedudukan sebagai raja muda (Yuwaraja). Raja dibantu oleh suatu lembaga yang merupakan dewan pertimbangan pada raja. Anggotanya ialah para sanak saudara raja. Dalam kekawin Negara Kertagama disebut dengan nama Pahem Narendra

Jabatan yang lain ialah Dharma Dhyaksa ialah pejabat tinggi kerajaan yang bertugas menjalankan fungsi yurisdiksi keagamaan. Ada dua Dharma Dhyaksa yaitu Dharma Dhyaksa ring Kasaiwan untuk urusan agama Siwa, dan Dharma Dhyaksa ring Kasogatan untuk urusan agama Budha. Dalem Sri Kresna Kepakisan dalam menjalankan pemerintahannya di bantu oleh para Arya yang terlebih dahulu menetap di Bali yang kedatangannya bersamaan dengan ekspedisi Majapahit bersama Patih Gajah Mada juga dibantu para Arya yang menyertai perjalanan Dalem Sri Kresna Kepakisan dari Majapahit ke Bali.
Para arya tersebut diantaranya :

1 Arya Kenceng mengambil tempat di Tabanan
2 Arya Kanuruhan mengambil tempat di Tangkas
3 Kyai Anglurah Pinatih Mantra di Kertalangu
4 Arya Dalancang mengambil tempat di Kapal
5 Arya Belog mengambil tempat di Kaba Kaba
6 Arya Pangalasan
7 Arya Manguri
8 Arya Gajah Para dan adiknya Arya Getas mengambil tempat di Toya Anyar
9 Arya Temunggung mengambil tempat di Petemon
10 Arya Kutawaringin bertempat tinggal di Toya Anyar Kelungkung
11 Arya Belentong mengambil tempat di Pacung
12 Arya Sentong mengambil tempat di Carangsari,
13 Kriyan Punta mengambil tempat di Mambal
14 Arya Jerudeh mengambil tempat di Tamukti
15 Arya Sura Wang Bang asal Lasem mengambil tempat di Sukahet
16 Arya Wang Bang asal Mataram tidak berdiam di mana-mana
17 Arya Melel Cengkrong mengambil tempat di Jembrana
18 Arya Pamacekan mengambil tempat di Bondalem,
19 Sang Tri Wesya: Si Tan Kober di Pacung, Si Tan Kawur di Abiansemal dan Si Tan Mundur di Cegahan
Demikian dikatakan di Babad Dalem.

E. Kehidupan beragama
Mengenai kehidupan beragama pada masa kerajaan Samprangan tidak begitu banyak diketahui karena kerajaan Samprangan berlangsung tidak begitu lama yaitu kurang dari setengah abad. Selain itu keadaan pemerintahan belum stabil sebagai akibat munculnya pemberontakan pada desa-desa Bali Aga. Agama yang dianut masyarakat pada masa ini adalah diduga Siwa-Budha, dimana dalam upacara-upacara keagamaan kedua pendeta itu mempunyai peranan yang penting. Apabila ditinjau dari segi jumlah penganut dan pengaruhnya, agama Siwa tergolong lebih besar dari agama Budha, karena menurut sumber-sumber arkeologi agama Siwa berkembang lebih dulu dari agama Budha. Agama Siwa yang dipuja ketika ini adalah dari aliran Siwa-Sidhanta dengan konsep ke-Tuhanannya yang disebut Tri Murti yaitu tiga kemahakuasaan Hyang Widhi: Brahma, Wisnu, dan Siwa. Ketiga Dewa Tri Murti tadi akhirnya dimanifestasikan ke dalam setiap desa adat di Bali yang terkenal dengan nama Pura Kahyangan Tiga, yaitu: Pura Desa/Bale Agung sebagai sthana dari Dewa Brahma, Pura Puseh sthana Wisnu dan Pura Dalem sthana Siwa. Selain pura-pura untuk pemujaan Hyang Widhi beserta manifestasinya juga terdapat tempat pemujaan untuk roh suci leluhur yakni Bhatara/Bhatari yang disebut: Sanggah/Pemerajan, Dadia/Paibon, Padharman.

Di Gelgel, semasa pemerintahan Ide Bethara Dalem Semara Kepakisan dibangun pula Pura Dasar Bhuwana yang disungsung oleh warga keturunan Ide Bethara Dalem Sri Kresna Kepakisan, Ide Bethara Mpu Gnijaya (Pasek Sanak Sapta Rsi), dan keturunan Ide Bethara Mpu Saguna (Maha Smaya Warga Pande).
Dalem Kresna Kepakisan adalah penganut sekte Waisnawa, mungkin saja dari Sub Sekte Bhagawata , mengingat nama kresna yangbelau pergunakan sehingga wajarlah beliau dikelilingi oleh para Bujangga Waisnawa, baik Bujangga Waisnawa yang di bali maupun yang menyertai Belia dari Jawa.

F. Bidang Kesenian dan Kesusastraan
Kehidupan seni budaya ketika itu telah berkembang dengan baik sebagai kelanjutan perkembangan seni budaya jaman Bali Kuna abad 10-14 M. Ketika itu masyarakat Bali telah mengenal beberapa jenis kesenian seperti: lakon topeng, diman pada jaman Bali Kuna disebut dengan nama pertapukan. Demikian pula tontonan wayang telah dikenal pada masa Bali Kuna yang disebut Parwayang. Seni tabuh telah pula dikenal dalam prasasti Bali Kuna disebut-sebut nama alat pemukul gamelan, tukang kendang, peniup seruling dan lain- lainnya Ketika masa Samprangan masyarakat Bali telah mengenal beberapa kitab kesusastraan yang berfungsi sebagai penuntun kejiwaan masyarakat, sehingga mereka dapat berbuat sesuai dengan ajaran-ajaran agama. Beberapa kitab kesusastraan yang dikenal ketika masa Samprangan adalah: kesusastraan Calonarang, Bharatayuddha, Ramayana, Arjuna Wiwaha dan lain-lain.

G. Akhir Pemerintahan Dalem Ketut Sri Kresna Kepakisan
Dalem Sri Kresna Kepakisan moksah pada tahun 1373 M atau 1295 isaka. Beliau digantikan oleh putranya yang tertua yaitu Dalem Wayan, bergelar Dalem Sri Agra Samprangan

Silsilah Ide Bethara Dalem Tarukan.
Sumber, http://sejarah-puri-pemecutan.blogspot.com/2010/01/dalem-ketut-ngulesir-1380-raja-bali-iii.html
Sanghyang Pasupati berputra :
1. Bhatara Hyang Gnijaya
2. Bhatara Hyang Putranjaya
3. Bhatari Dewi Danuh
4. Bhatara Hyang Tugu
5. Bhatara Hyang Manikgalang
6. Bhatara Hyang Manikgumawang
7. Bhatara Hyang Tumuwuh

Bhatara Hyang Gnijaya berputra, Mpu Withadharma (Sri Mahadewa)

Mpu Withadharma berputra :
1. Mpu Bhajrasattwa (Mpu Wiradharma)
2. Mpu Dwijendra (Mpu Rajakretha)

Mpu Bhajrasattwa berputra :
Mpu Tanuhun (Mpu Lampita)

Mpu Tanuhun berputra :
1. Mpu Gnijaya
2. Mpu Sumeru (Mpu Mahameru)
3. Mpu Ghana
4. Mpu Kuturan (Mpu Rajakretha)
5. Mpu Bharadah (Mpu Pradah)

Mpu Bharadah berputra :
1. Mpu Siwagandu
2. Ni Dyah Widawati
3. Mpu Bahula

Mpu Bahula berputra :
1. Mpu Tantular (Mpu Wiranatha)
2. Ni Dewi Dwararika
3. Ni Dewi Adnyani
4. Ni Dewi Amerthajiwa
5. Ni Dewi Amerthamanggali

Mpu Tantular berputra :
1. Danghyang Kepakisan
2. Danghyang Smaranatha
3. Danghyang Sidhimantra
4. Danghyang Panawasikan

Danghyang Kepakisan berputra :
Sri Soma Kepakisan

Sri Soma Kepakisan berputra :
1. Sri Juru (Dalem Blambangan)
2. Sri Bhima Sakti (Dalem Pasuruan)
3. Sri Kepakisan (Dalem Sumbawa)
4. Sri Kresna Kepakisan (Dalem Bali)

Sri Kresna Kepakisan berputra :

1. Dalem Samprangan
2. Dalem Tarukan
3. Dewa Ayu Wana
4. Dalem Sri Smara Kepakisan
5. Dewa Tegal Besung

Mpu Tanuhun (Mpu Lampita) berputra lima, yaitu
1. Mpu Gnijaya,
2. Mpu Sumeru,
3. Mpu Ghana,
4. Mpu Kuturan, dan
5. Mpu Bharadah.
Kelimanya disebut Panca Tirta.

Mpu Gnijaya menurunkan Sapta Rsi, yaitu:
1. Mpu Ketek,
2. Mpu Kananda,
3. Mpu Wiradnyana,
4. Mpu Withadharma,
5. Mpu Ragarunting,
6. Mpu Preteka, dan
7. Mpu Dangka.
Beliau bertujuh selanjutnya, lama-kelamaan menurunkan Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi.

Saudara bungsu Mpu Gnijaya yaitu Mpu Bharadah lama-kelamaan menurunkan Para Gotra Sentana Dalem Tarukan atau dikenal sebagai Warga Pulasari. Adanya tali kekeluargaan seperti itulah yang disadari oleh Warga Pasek di pegunungan di saat beliau-beliau membantu dan menyelamatkan Ide Bethara Dalem Tarukan di pengungsian sebagaimana telah diuraikan di muka. Patutlah Warga Pulasari berhutang budi kepada Warga Pasek. Kesadaran ini pula yang mungkin mendasari ide pembangunan Pura Pusat Pulasari berdampingan dengan Pura Pasek.

Di Bali gelar "Pasek" yang berasal dari perkataan "Pacek"(= paku) pertama kali digunakan oleh Arya Kepasekan, yaitu putra Mpu Ketek yang termasuk kelompok Sapta Rsi.

Ada juga Warga Pasek yang di luar kelompok Sapta Rsi, yaitu keturunan dari Mpu Sumeru yang berputra Mpu Kamareka, selanjutnya menurunkan Warga Pasek Kayu Selem, Pasek Celagi, Pasek Tarunyan, dan Pasek Kayuan. Beliau-beliau juga sangat besar jasanya menyelamatkan Ide Bethara Dalem Tarukan.

Kesimpulannya bahwa gelarKepakisan, Paku, Pasek bermakna dan berderajat sama yaitu sebagai fungsi kekuasaan atau pemimpin di suatu wilayah tertentu atau pemimpin suatu penugasan/jabatan tertentu yang didelegasikan oleh Dalem (Kaisar = Maha Raja, atau Raja)
1.Tidak merabas pohon atau memakan buah: Jawa, Jali.
2.Tidak mengurung, membunuh, atau memakan daging burung Puyuh dan Perkutut.
3.Tidak memakan beras mentah.
4.Mayat yang dikubur atau dibakar kepalanya di arah Barat.
5.Tidak memelihara dan memakan daging Manjangan.
6.Tidak menerima sebutan/ucapan: "cai" dan "cokor I Dewa"
7.Boleh menerima sebutan/ucapan: "Jero", "Ratu", "Gusti"
8.Upacara pelebon boleh menggunakan:
• Sebagaimana layaknya seorang Raja.
• Pemereman Padma Terawang
• Pemereman Bade Tumpang Pitu
• Benusa
• Tumpang salu dari bambu “ampel” kuning
• Ulon
• Jempana
• Rurub Kajang 
• Daun Pisang Kaikik
• Bale Gumi berundak tujuh
• Bale Silunglung
• Damar kurung
• Upacara ngaskara lengkap
9.Tidak membuang atau menyia-nyiakan makanan, minuman, dan uang.

Minggu, 25 April 2021

Dharma Smerti Tattwa

Dharma Smerti Tattwa

Ong awighnam astu nama siddhi.

Kelaṡa ning nāma siddhi, dharma smerti ya jagat iti,

sarwa dewo prěsimetak, iṡwara pada kañcani.

Ikang Ida Sinuhun Siwa Putra Parama Daksa Manuaba sira maněmbaḥ mamūjā ri Ida Bhaṭāra Kawitan kalawan Ida Bhatara Mpu Gana, ring pucak ning Pundukdawa, malinggiḥ ring padma kanaka lawan meru, sarwa dewa rowang nira, makâdi namika ring hayu ning kang rāt, adidewa ewaca, ujar Bhaṭāra, ling nira.

Wṛdhawa hana ṡabdopi, wīprane sranwa padana,

daṡaṡca ca kleñca, papa wighne winaṣakala.

Anaku kita Hyang Sinuhun, kěnoh ingka patakonta ri kami, nimitta nirâtma hajöng arěngönta wuwus mami, mahāpawitra, kata wěnang manghilangakna wighna, daṡa mala pāpa trimala, haywa ta kita tan prayatna, dlěngakna tmahanta haywa salah angěn-angěnta pawarah arěngön, marapwan ndi ta wruha mêwěḥ mwang sangṡaya lāwan hala hayu ning rāt, nihan kramanya // o //

Sodarangko mahā kāla, hayu dana maka karma,

dewa yandokrama tadwa, lokaraṇa.

Kalinganya ya mahākāla, pâwak ning mahākāla, yan durbala ning kang rāt, makweḥ prang, lahru winahingyang, kawah ikang rāt donya, matangyan hilangakna de sang amawa rāt // o //

Rāja purohita samyak, sangamaām ṡuddha ṡila,

trasadyoka pujarastwa, dino ratro muniṡwara.

Akaṡa wanmapadyane, prabho dirgha yamatrake,

mananatrakna tawyato, ṡriya wisoka matonya.

Kalinganya yogya purohita ikā, sang wiku wruh ing tattwâgama, wruḥ mangaji trayi, satya ring istrī, ring mās pirak, tan mithyā ring wacana, agělěm amūjā rahina wěngi mwang latri sadākāla tan kaluban, ring ṡiwa arcaṇam, mṛārthanakěn ring hala hayu ning prabhu, sira ta yogya purohita, maka manggalyan ikang rāt, sira sawuwus nira pinintuhu, katwangana pamūjā ning mās pirak de ning sang prabhu lāwan rāt, apan ikang rāt rahayu denya, matangnyan takonana sakâpti nira // o //

Prano karma tadibhakti, pūrwane sūrya sewanām,

Madhya dana bhuta yajña, Madhya ratro ṡiwarcaṇām.

Kalinganya ulaḥ sang prabhu, yan mahyun angajöngan i rāt, pangěban ing bhuwana hujěngana ta wungwa tan kacawuhan, na walu maṡucya ta sira, tumulwi amūjā ring Sanghyang Āditya, těngah ing wwe mamūjā tatawura ring sarwa bhūta, makâdi ring Sanghyang Rāma Rāja, těngaḥ wngi mamūjā ring Sanghyang Ṥiwa // o //

Awipako mascañuda, halěpya manahayato,

ayaso pinidewatya, nahan dana ta rakṡasa.

Kalinganya yan hana mantra alpa pamana-mana ring sang paṇḍita, ampah-ampahing sarwa kārya, apangadang bhawaninya atěngěr detaya ta hilang nāgara sang prabhu // o //

Manām na pūrwa karyamo, praja nupulana kūryat,

na muni na dewa murccha, payoge bhuta sutawan.

Kalinganya tingkaḥ ning sang mantra sang ginlar senapati, tan ampag-ampag, wiwekaněn rumuhun hala hayu ning kārya, wruha ring satopaya (sakôpāya?), wruha ring sarwa karma, saduha ring sarwa mala, ṡabda kamahata, tuhu-tuhu bhakti ring Tuhan // o //

Wiwekimba pikūryate,

harananiyatin rasta,

hakangoto mata prabhu.

Kalinganya wuwus mangkana, mangkana tang don sang prabhu dulurani wiweka, niyata jaya ṡatru sang prabhu nora nirwighna // o //

Kukule muni rityatu, mastra japi wicakṣaṇa,

samnaka jiwato nawa, utpatah rāja dūrbala.

Kalinganya wih anaku listuhayu, lakṣaṇa wruh ing angaji wruh i ṡiwâgama tuhu teja janma, cewanggana lwirnya, pañjar, canadana, pangkon, angamběng, padang pasir, ṡabhā ukir, cedani wiku. Pañjar, nga, wiku wus ning yan janma, kadang aji kunang. Candananya, nga, wiku matunggu aji, canaprāsāda, susuk simpuru, brāhmaṇa ṡewa sogata, mangkana, nga. Wiku tūs ning kabayan buyut, pasimanan siman, angamběng, nga, wiku tumūt alayar, kāryan dinaṇḍa dagang, patitihan, malapasir, nga, wiku mamañcing ceda pangupadeṡa ning amalaku mās pirak, guruyaga, ṡabha wiku, nga.

Wiku magawe taya pitra ning māti, mangūrwa mās pirak, guruyaga, phala bhoya (bhoga?), mwaḥ milu kāryani suratan, ya tika wiku cedangga ngaranya. Mawe sira tīrtha ring sang prabhu mwang rahup, utsāha těměn ikā, mangunyakěn hila-hila ning sarāt tan swasta sang prabhu denya // o //

Muni sukulastranta, ṡuddha ṡila sulakṣaṇām,

ginanadi yatsonata, sulabha pūrṇa lakṣaṇām.

Kalinganya sang paṇḍita sukula, pawitra janma, ṡuddha ṡila wruḥ mangaji, matrayi, angratmajapa pūrṇa lakṣaṇa, sira asunga tīrtha rawup ring sang prabhu, mangka lpanya kunang, sira matangyan ikang rāt rahaywa, paripūrṇa swasta dīrghâyuṣa sang prabhu, sulabha lakṣaṇa tměn ikā.

Kalanace len asih, kratañcaḥ tīrtho dwapare,

angkara lila patyantu, rakṣan anacaḥ wilokasya // o //

Nihan prakāra ning krama pāt kweḥ ning yoga. Lwirnya, kṛta, treta, dwāpara, kali sanghāra. Kajarakna maka nimitta karākṣa ning rāt.

Prajana rākṣa ning kṛto, yogyṡca satya padinām,

sisudani putěndātyam, municangmaya bhaktinām.

Kalinganya ikang rāt, dudū karākṡa ni sayuga sayuta. Kunang rākṣani rāt ring kṛta pajarakna rumuhun. Nāhan karākṣani rāt ring kṛta. Yuga rahayu maka nimittani yuga, samādhi lāwan kasuṡilan, kaparamârthan, kasādhu ning sang prabhu // o //

Lokaning rakṣajikuyat, titale patinidena,

sandimat dharma lepani, janadiroma karaṇa.

Bhuwanosya wanda name, dwapare sasane kāla,

sarwa yajña samantaranām, prabhū na mūji na kuyat.

Kalinganya ikang sang prabhu, sang paṇḍita de ning amahayu rāt, ring dwāpara yuga, mahajönga maka nimitta sarwa yajña, huma yajña, dewa yajña, pitra yajña bhūta yajña, paṇḍita yajña, mānuṣa yajña, saha mantra ṡakti // o //

Parajñoning pati kalitrām, loka mukena rakṣanām,

haněka dharma kappena, wadwo rāja sahataman.

Kalinganya karākṣa rāt mêwěḥ sādhu sakweh ing agawe hala, tamaḥ satara, pinangan mwang kâbhimānan. Kunang hetu ning kaliyuga mangajönga // o //

Narêndra bhiṣekamawi, munisěna mahā kāla,

mantra kamani sěkana, samya lokasya wadwākěn.

Kalinganya bhiṣekaněn lāwan mantra nira de sang paṇḍita wiṡeṣa. Sang Prabhu wehnang aji Sanghyang Êkacakra tīrtha. Sang Mantri wehnang aji bhuwana purāṇa // o //

Pañca duṣṭana ṡilañcaḥ, muke deṡa mapagamām,

tajetnaṣa guṇalokām, bhaye nagětyadanat.

Kalinganya ring wěkasan mara yan dāna n de sang nātha gumawayakěn jagatraya, matangyan mari mūrka, pāpa měněngnya matakut sira sarwa duṣṭa, maka nimitta guṇa ni sang prabhu, matěguḥ sira ring kaṡaktyan mulahakěn dharma prakṛtin ikang rāt // o //

Sarwa guṇajire naṣa, mantrad otsaha buddhinat,

krětana lepana wadwa, kayoki yatikasada.

Ring sěḍěngnya měnděk sang nātha, guṇa ning sang prabhu, sang mantra utsāha malasakěn ikang nīti, mapa ta nggwan ing prayatna ri ṡila hayu, matmahan kṛta yuga, ikang kali sanghāra yuga // o //

Dīrghâyuṣa na sawatadhah, niroga nirupa bhrawa,

ahasya sampadañcewaḥ, hanankaboraditaḥ.

Kunang wastu ning kaliyuga, ikang rāt tan agring upadrawa, dīrghâyuṣa ikang wwang akweḥ pinangan, pari nitya dadi // o //

Dana ratna suwarṇām, prakirnañca sabrěta,

lokekana dirghawaca, malo paṇḍita ṡuddhanaḥ.

Nāhan ikā cihna mwaḥ kang mās pirak, wartakahmanya denya, maka nimitta de ni kweḥ ni hudan, de ning pūjāni sang paṇḍita // o //

Wrěkṣo pipala sakinah, praṇampya pradisanta,

sūrya tejo nandahingkanām pakṣi mṛgo mahasukām.

Kalinganya ikang kayu-kayu sarwa nitya phala mawoḥ, tan knêng laws, ikang nanda kweḥ wkanya, teja Sanghyang Āditya tan apanas dahat, de ni megha nitya sumangsang ring ākāṡa // o //

Sarwa gamanta duksadwām, paja suklo karakṣanat,

brāhma wdak tranedade, ṡaraṇatwan acatur warṇa.

Ênak ta wijilan ing sarwa gama, maka nimitta rākṣa ni rāt, maka kāraṇa dewa mantra gěgönya de sang catur warṇa mwang catur jadma. Nihan lwir nya catur jadma, brāhmaṇa, kṣatriya, waiṡyā, ṡudra, dwija, pusi (Ṛṣi?) ṡewa sogata, brāhmaṇa ikā.

Prakadan catur ajanmanām,

brāhma gětya danaraṇa.

satriya, nga, prabhu rāja putra, kadang aji, kṣinatriya ikā, Waiṡyā, nga, tūs ning kabayan buyut, wwang tani, kulinya ring deṡanya, yêkā waiṡyā, nga. Ṥudra, nga, adagang, ampuhawang, apatitihan, amangka, nga, yêkā ṡudra, nga. ikā pāt mijil saking ṡarīra n Bhaṭāra Brahmā // o //

Ga brāhamaṇa paṇḍani,

tundani calaṡcewaḥ,

dṛṣyane bhuwana toha.

Kalinganya tiga tikang puruṣa, tan mijil sakêng ṡarīra Bhaṭāra Brahmā, lwirnya, pañcaka mahasta daṡa canala (cāṇḍāla?), mleccha, sadtwa // o //

Kṛta gadga mala gañca, citra karo murawañcaḥ,

nguṣadhani kamām, dharma yuddha canduraněḥ.

Kalinganya ikang Pañca Karma tan tūt ing catur janma tan tumūt cāṇḍāla. Kunang tinūtnya dharma yuddha. Kṛta kadga, nga, paṇḍe wěsi. Pala gañca, nga, paṇḍe ḍaḍap. Citrakāra, nga, anglukis, murawañcaḥ, nga, juraheng, uṣadhā, nga, surâtman, yêkā panca Karma, nga. // o //

Aneka candela wuktah, wṛkṣabih gata karaṇa,

tāstra malaning atañcaḥ, prakodayan pranantaḥ.

Bandaro ratna candañcaḥ, trimidaho jala graham,

sarwa datuni dandañca, toya kañcana sanggrahā.

Raktatuta krasranām caḥ, tělakriyakuñca karya,

dyatahetawa jatana, drawyasi brāhmāsta daṡa.

Kalinganya waluwlas kweḥnya cāṇḍāla krama, lwirnya, uṇḍagi, amalantěn, agungge, ajagal, abrakis, acwamani, akaris, apaṇḍe mās, manglimbang, ihanggabag, amědil, ikā ta kabeḥ, aṣṭa daṡa cāṇḍā karma, ngaranya // o //

Padha mleyo mṛta domlědo, kita danūya padina,

dharmana siddhā sidyasaḥ, sad sakya suta sanggrahā.

Něm kweh ning mleccha, lwirnya, agending, angawayang, amrak igěl, makidung, amula-mula, anika // o //

Tudany sadwiya yanaṡcaḥ, yanado duṣṭa sawana,

kiñcanakaḥ kling masangkya, sawaḥ monita daranaḥ.

Něm kweḥ ning cuta jadma, lwirnya, amandang, kuming, amurěng, angalor, tan dawūk // o //

Catur warṇanām, bedayanaṡca daṡajña,

brāhmaṇa baya maha mṛṣṭo, satriya deṡa sṛdaṡcaḥ.

Kalinganya tingkah ing catur jadma, lwirnya, brāhamaṇa, kṣatriya, waiṡyā, ṡudra. Bheda krama nira sowang-sowang, maka nimitta dudū katonya, saking ṡarīra Bhaṭāra Brahmā, dudū ngaran ira dūk sěḍěng niwasāna // o //

Jataweda karakṣya, brāhmaṇaṣya mahajanām,

kṣatriya mahopadyām, brāhmaṇa dewakaneṣya.

Sang brāhamaṇa mijil saking muka Bhaṭāra Brahmā. Kṣatriya mijil saking bāhu Bhaṭāra Brahmā // o //

Weṡya samani mitrahuḥ, huroanggawa hanangṣya,

pradapate ṡudrasya, hamapinta dyatmanya.

Ikang waiṡyā mijil saking pupu Bhaṭāra Brahmā. Ṥudra mijil saking Bhaṭāra Brahmā // o //

Brāhma ṡāstra sataṡcaḥ, kṣatriya lokakanām,

weṡya kṛti walas sewaḥ, ṡudra pitusadewara.

Kalinganya dharma ning sang brāhmaṇa, wruḥ ring ṡāstra sarwâgama, aglěm amūjā satlas ing sarwa trayi. Mangrākṣi tang rāt, mapagěḥ ring kaprabhun, wruḥ ring rasa ning bhuwana purāṇa, dharmâji ring waiṡyā, magaga sawaḥ, mangun ing kanali dawuhan, sumuluhana tamwi kaniṣṭa madhya mauttama, atěguha ring mānuṣa sāsana, dharma ning ṡudra angarěpakěn sarwa kārya rāt mayuhakna pasar, mangěyakna kitriyasa puṇya. Mwaḥ malěpasana dana pirak, sewaka ring sang prabhu, bhakti ring sang paṇḍita, pagěha ring katuladanya, matěngěta ring waraḥ sang paṇḍita // o //

Niṣṭa makṣayoyaḥ, musiko makarasonaḥ,

krimiho manakaṡcewah, na bhuktiye narêdra ya.

Nihan kaniṣṭa mānuṣa tan wěnang taḍahěn de sang prabhu, lwirnya, tikus, kadal, ula, ulěr, wiyung // o //

Niṣṭa mangsa tabakṣanataḥ, maloka ṡatru wamena,

hinakayām dutaṡcaḥ, agoyusrām bhumi kṛmpa.

Nihan tingkah ing sang prabhu, kāla yan ajěněk aniṣṭa mangsa, makweḥ doṣa ni rāt, sang wruḥ mangawa manaḥ hina ṡakti, ilěk, prang makweḥ, usik nikang rāt // o //

Kām subhakti mahamangsām, mitawaraho mragaṡca,

matipipakpi brāhmari, wrasabo prabhu nasuwi.

Nihan sinangguḥ mangsa rahayu, kataḍaḥ de sang prabhu, lwirnya, iwak tasik, bawi burwan, mesi, wahingsa, tawon, itik, ayam, antiga // o //

Triyayo sinarning prano, dyanisawe mahabakṣo,

dewa pudyakta rasamyak, pramaṡūnya lakṣaṇām.

Tingkaḥ sang prabhu yan pataḍaha, sôpacāra pangudětan, malinggiha ring pataraṇa, pahênakěn de nira běněngěn hiḍěp ira, mwang buddhi nira, rěgěpěn i karma ni kaprabhon, mamūjā ta sira rumuhun, maswara ring dewa mwang ring sarwa bhūta, nyata manggiḥ suka sira, wīrya magöng // o //

Kanta rājaswala iti, sanggama sparmasañca,

ndrěpaṇa wikaraṇat.

Ri sěḍěng istrī brahmahatya prawaning kunang, tan wěnang sira sanggamaha. Ila-ila těměn ikā, bwat magawe wighna // o //

Twām karma sanggamām rāja, budya nirmala ya bhogyām,

nirarya subhakṣanām, pawitra karma pujām tām.

Kunang sang prabhu yan hayun prasanggamaha lāwan binihaji sakala weḥ hayu ring hěning buddhi nira kaliḥ, pawitra těměn ikā, sākṣāt mamūjā ring Sanghyang smara ikā, yan mangkana // o //

Sanggrahā prabhodanasya, akisjinda loka durbala,

makinaka wadaṡcawaḥ, agniki wimala wadět.

Sang prabhu lah anggaměla pirak, durbala ikang rāt, makweḥ pañcawala, akweḥ mala ni rāt // o //

Bhumite rapitatṛṣṭa, cakṣyuḥ sadanam ewasya,

ṡāstra waktaḥ prabhu lakṣaṇām.

Ulaḥ ira sang prabhu, tuminghala juga sira, hulun ira kakaprasadaya de ning anggaměli pirak, mangkana tang lakṣaṇa yukti // o //

Prabho mrago pakṣi asta, mukěna astakami,

loka wyangisti rogana, yuddhe sanema kenena.

Sěḍěng mahima mrěga pakṣi sang prabhu, paka ṡaraṇa ng tang anda ning mūrka nira, denya tang manggiḥ hala ni rāt // o //

Wyakti majakěn i mās pirak, těkana sakâpti nira, marapraṇan sang prabhu manmak êkacatra. Nihan guṇa ni sang paṇḍita, widhi akārya mahābhāra, tan hana lěngka rāt de nira, tan kawnang sira de ning saptopada. Matangyan sira sang widhi, pati sira tangisana, sěkungěn sira de sang prabhu, ndan mêwěḥ rāt marohara, upadrawa de ning hyang ri makweḥ sang paṇḍita, widhi patita nghing samana nambanana satan sang prabhu. Haywa lamba sewaka dharma ring sang paṇḍita karuhun balantra nira. Māsa ning tang rāt kabeḥ, paḍa prajñanya wruḥ ring sapta upāya, catur parikṣa, ngasamakanan ḍanganya, tan wruḥ ring kamahābhāran tuhun sang tětěs. Wruh ing tattwa ning bhuwana hala hayunya, sira sang paṇḍita widhi pati juga makweḥ prang, marohara tang bhuwana // o //

Hamacaro mahapati, trusbrata hayu lakṣanām,

lokena tunayanapi, pralatmanaḥ kewalaḥ.

Yan tan pacaraha sang nātha mahala-hala āmběk ring wwang kabeḥ, sama hala ring āmběk marohara tang bhuwana // o //

Bhupati pralaya samya, sarwa caro rakṣa dagdha,

hanocara wipracawi, niyata bhumi nimalaḥ.

Prayatnaha sang prabhu, prayatna ikā rāt, mapan anūt tingkaḥ sang prabhu, manutur ing āmběk yukti, apagěḥ ring dharmanya sowang-sowang, ênak tingkah ing rāt kanāna katalutuḥ ring bhuwana // o //

Bape bhakti maha paṇḍita, suwarṇa dakadiyakti,

buktwanaya wilipato, sarwa karyahām sambhawām.

Tumūt ulaḥ sang hyang sinuhun siwa putra parama daksa manuaba lāwan mantra nira, bhakti sira ring kawitan sang paṇḍita, widhi pata purih ing upadeṡa ṡāstraha ngaranya, sakumaya alah i kita, udāsīna ngaranya, aji guṇanya irikā tan wruh ing sarwa guṇa, mangigěl aṡramaha maněmbaha, kandaga, curiga, itiwa mandi, ṡucya ta sira, ṡūra ring raṇa, satya wacana, bhaktya ring sang prabhu, guṇa graham, dharma buddhi, hana pangawruḥ sira, irikā sira wadwa ngaran ira, wruh ing nāgarâṡrama, mêngěta sahilaning sang prabhu, hana wwang mūrccha, pratilya. Atwang mūrka ngaranya ring nahasya de sang prabhu tinulaknya, tan ikā tinakonakěn, irikā winarahakěnya, wetasya, ngaran makweḥ sawurnya yan pangura, wruḥ ndātan panglingkara de nira wruḥ. Matangyan sang prabhu sira haywa tan padṛwya wiku widhi pati, matangyan sih êkacakra warti. Tělas // o //

Sulinggih Pegatwangsa

Nyambung Rah Mengentaskan Sulinggih Pegatwangsa
Parama Daksa Tattva

Hana hyun Bhathara Dalem Tangsub amrêdihakên Putro Kadharman Parama Daksa Manuaba, maputro brahmana sakti, maka wênang mratistha jagat, mijil ikang kukus ring urddhà ning raga nira, mahor agni murub sagunung tiba ring têlaga noja matêmahan kundi manik mésì amrêttha kamandalu, pinrayogga dé bhatharà matêmahan ONG ngkara sandi.

Malih pinrastistha dé Bhathara Dalem Tangsub kaping sapta, mijil wong raré mêné hana mijil, héñjang héñjing luhur, brahmana rupa, maparab Parama Daksa. Mwah Bhathara Dalem Tangsub ri sêdêng ginunitta ring brahmaloka, tan pasah làwan antên ira Jro Iti, marêk ring jêng Bhathara Brahma Wisnu Iswara, hinastwakên dé bhathara, padha rumaksa jagat, raksa rumaksa bhathara, padha kanugrahan amratisha bumi, kanugrahan dé Bhathara Guru salwiring sastra sarodrêsthi, manggêh angamêl jagat.

Siwa sasanà, wrêti sasana, brati sasana, rêsi sasana, brahma pùrwwana tatwa, brahma pùrwwangsa, kutaramanawa, bramokta, slokantara, pùrwwa tatwa, makwéh yan ucapên pidartanya, samapta wruh ring kawyañana sàrwwa wéda mantra pujà puji salwiring pinujà sakti wruh ring idhêp sàrwwa jagat. Padha lumaku tan anampaksiti, ling Bhatara Dalem Tangsub ring tanaya nira makabehan.

Kinwan Hyang Sinuhun Siwa Putra Parama Daksa Manuaba juga mratistha bumi, rumaksa jagat, samangkanà niti Bhathara Dalem Tangsub, tan sinanggan wacana bhathara, pisan sadulur samapta nugraha bhathara, padha rumaksa jagat, padha mratistha bumi, maraga Sanghyang ékabwan, tunggal rasa ning gumi, tunggal panes tis ing jagat, tunggal nayà, tan byapara jagat.

Pinisinggih dé Bhathara Dalem Tangsub, ingaranan sang wiku rakawi, hana panresthian ira ping kawulu abhiseka Bhatara Hyang Sinuhun Siwa Putra Parama Daksa Manuaba Ingaranan aprayoga ing Kahyangan Dharma Smerti, padha sinung anugraha amuja-muja parikramà ning pinuja. Ri kalà sira jumênêng ring Teguhwana Bangkasa, sira Hyang Sinuhun amratistha wwang mati urip, laksana katon dé nira sang wiku rajakrêtha sàrwwa atma angucap-ucap ring sang guru.

Hana hyun Bhathara Hyang Sinuhun amrêdi putra sakti dharma pawitra, sàrwwa rum, dharma ring kaparamarthan, mapaulah ring akasa. Mwah mrêddhi putra, dharma sakti asih sàrwwa bhutha, mapaulah ring sor, mangkanà hyun Bhathara Hyang Sinuhun. 

Mwah tata kramaning satriya mét brahmàni maka strinya, yan kawêkasan kari satriya ika manak gumanak manih polih ngalap brahmana ping lima mulih dadi brahmana wangsa, pradana purusa wênang ngaba wangsa sor singgih, kadi pritiwi munggah dadi prasadhà, mangkana ilang malanya.

Yan brahmana mét pegatwangsa, tan nyambung rah, gumanak, ping , 7, ri treh ping 3, tan nyambung rah, satriya wangsa manih, têdas kabrahmananya, mangkana ling nitisastra. Parama Daksa Tatwa. Yan hana wangsà brahmàna nyambung griya, kadol, tinuku olih sudra, wêkasan mati sang nganuku, sudra ikà, tur tan pasantanà, sang katuku brahmànà ika, kumàlili réh amisésa kakarén sudra ika sami, tan misinggih samêton kalian rawosang guru wisésa, kêdêh maprih kasukan, patita wangsa, nga, brahmana ikà, têka wênang pêgatin masasana, tunggal basa parikramà, santanu putra sudra wang ika. 

Haywa andadi brahmana mwah dé sang ratu, sapratisantana nira wêkasan, yan anggénin pawitran gumi sanga ikang rat, mangkana palanya. Malih tata kramàning wiku, céda kalokéng rat, lwirnya céda tan katon ; loba moha mùrka, matsarya. Cédangga katon ; mala, kustha, ilà, kucihangga, gondong, képék, déyog rumpuh, tan wênang mratistha sawa, palanya tan kaparisuddhà lêtuh ning atma.

Manih hinênggah patita walaka, bot layaran, wanija karma, mamañjak ring pandé mas, undagi, jagal, ring wang amdêl, mamañjak ring amorong tangan, mangkana patita pegatwangsa ngaranya.

“Walaupun Sulinggih sebagai Dewaning Sekala, namun tidak menuntut kemungkinan Sulingih itu salah,” ujar Ida Sinuhun Siwa Putri Pawama Daksa Manuaba. Beliau menyebutkan harus ada tiga B-nya di antaranya Bibit, Bebet dan Bobotnya. Artinya Sulinggih itu harus datang dari bibit yang jelas (Ibu bapak dari keluarga Brahmana/Pandita). Kemudian untuk bebetnya calon Sulinggih semestinya siap sebelum melaksanakan kesulinggihannya tersebut dan bobotnya adalah dimikili setiap orang yang akan mau belajar tentang Weda ini.

Dalam Lontar Siwa Sesana diterangkan jika seorang Sulinggih tidak melengkapi hal tersebut maka dia tidak boleh melaksanakan kegiatan kesulinggihannya secara penuh. Juga jika calon sulinggih yang belum mempunyai Putra Purusa juga belum boleh muput karya agung.

Seperti apa yang dialami oleh Ida Sinuhun Siwa Putri Parama Daksa Manuaba sendiri, dalam menjalankan sasana kapurusan selanjutnya. Namun beliau memiliki adik untuk tetap nyambung griya dan atau ngelimbakang griya serta beliau juga memiliki anak yang disiapkan untuk nyambung rah. Namun beliau mengetahui hal tersebut sangat berat mengentaskan sulinggih pegatwangsa untuk menuju arah brahmana jati. Menurut beliau sesuai dengan bhisama Ida Bhatara Hyang Sinuhun Siwa Putra Parama Daksa Manuaba keduanya diperbolehkan madiksa, namun memiliki keterbatasan dan tujuan yang sangat beda antara nyambung griya dan atau ngelimbakang griya dengan nyambung rah itu sendiri.  

Dalam Wrespati Tatwa :

Ida Bhatara Wraspati punya anak bernama Sang Kaca. Sementara di dunia ada Bhagawan bernama Bhagawan Sukra. Beliau mempunyai kelebihan yakni mampu menghidupkan orang.  Bhagawan Sukra ini adalah Bhagawan-nya para raksasa. Nah untuk menjadi muridnya Sang Kaca harus bersusah payah. Entah itu disuruh nyabit, membersihkan sawah, punduk sawah dan lain sebagainya. Selama berguru ini, ternyata pihak raksasa tidak setuju alias tidak suka dengan Sang Kaca ini karena begitu ngototnya ingin belajar.

Berkali-kali Sang Kaca ini dibunuh oleh para raksasa ini, namun berkat kesaktian Bhagawan Sukra, hiduplah lagi  Sang Kaca. Berkali-kali hal ini terjadi.

Pada suatu kejadian lain lagi, upaya untuk membunuh sang Kaca ini berubah. Raksasa membuat masakan besar mebat besar dengan membuat Lawar beraneka ragam. Dan ternyata lawar ini adalah berasal dari dagingnya Sang Kaca. Karena begitu setianya dengan Sang Bhagawan maka dihaturkanlah lawar ini ke griya.

Sejak sore Bhagawan kebingunan mencari Sang Kaca ini, dan pas malam harinya, dia merasa aneh dengan lawar yang dimakannya dan ketika ditanya, ternyata memang benar Sang Kaca sudah ada di dalam perut sang Bhagawan.

Di sinilah akhirnya kesaktian Bhagawan Sukra didapatkan oleh Sang Kaca. Sang Kaca disuruh merapalkan mantra pengurip. Dan setelah hafal, dia disuruh keluar lewat perut Sang Bhagawan. Setelah mantra matang dipelajari keluarlah sang Kaca dengan membedah perut Sang Bhagawan. Sesuai amanat, Sang Kaca pun  menghidupkan Sang Bhagawan lagi.  Dari sanalah muncul kenapa sulinggih tidak boleh mabuk, dan makan daging Babi. 


SESANA SANG DIKSA DWIJATI

Diksa Dvijati utawi Wiku / Pandita / Sulinggih ring agama Hindu ring Bali pinaka rohaniawan sane dahat kasuciyang linggihnyane, dwaning kasinanggeh sampun maraga suci. 

Ngulati Kawikon punika, nenten wantah kedasarin antuk pengetahuan miwah kasulukan pikahyun utawi sangkaning pinunas sisya kemanten, nanging patut kategepin antuk sila-sila sane nyihnayang sang calon diksha patut sehat/waras jati mula/lahir bathin miwah nenten cedangga, patutbmeparilaksana sane becik, selantur ipun taler pacang ketatasan malih olih para janane / masyarakat sami. 

Sila utawi kasusilan punika wantah marupa dasar sane pinih utama, tur kategepin antuk sesana, tata susila, silakrama, keanggehang sakeng kahuripane sane serahina-rahina pinaka untengnyane. Puniki sane dados dharma tetimbang sakeng calon Guru Nabe, sadurung jagi nyuciang calon nanak utawi sisya dados dwijati. 

Ring sajeroning sesana kawikon paiketan sisya kelawan nabe wenten sesana silakrama aguron-guron sane nenten dados kepasahanang manut kecap: "swargan sisya – swargan nabe, nerakan sisya – nerakan nabe”. 

Artosnyane tan patut utawi piwal (jele / melah) pidabdab sisya, jagi mekantenan tan taler patut ring linggih nabe. 

Paiketan “paguron-guron (kapurusan miwah garis parampara) ” inggih punika bratha (disiplin) lan kepatuhan sisya punika nenten wantah ring nabe kemawon, taler patut ring Guru Patni (Istri nabe), Guru Putra (putra nabe), Guru Wesi (cucu nabe) miwah Sanak Sandekan (Semeton ring dharma nabe / para wiku seperguruan).

Padiksan punika pinaka lanturan acara Rsi Yajna sekadi : mawinten (ngadegang pemangku / ekajati); pawintenan munggah bhawati (memasuki dunia brahmana); lantur madiksa upacara madvijati (sakeng walaka dados wiku / panditha / sulinggih); ngawangun parhyangan / kusala, madana punya ring sulinggih, tegep ring ajaran-ajaran sang acharya / para sulinggih utawi calon sulinggih).

#tubaba@griyangbang#